Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Petrikor


__ADS_3

Pelangi


Gluuddddug.


Suara petir dan kilat saling menyambar juga bertautan, pertanda akan datang nya hujan.


Duuuuh... kenapa tadi aku bilang bakal hujan badai ya? Gara-gara si badger, aku jadi suka ngedumeul dalam hati!


Tik... Tik... Tik....


Hujan mulai turun menyirami bumi.


Kemana sih si Angka nyebelin itu ? ko shalat bisa lama sampe setengah jam gini. Ohh mungkin wirid nya banyak...


Kalau nanti kehujanan gimana?


Bodo akh.. buat apa juga aku mikirin dia!


Mana aku lapaar banget, belum ada tukang jualan yang lewat lagi. 2 cilok ga cukup untuk membuat perutku kenyang. Kebiasaan Angka dari kecil suka main comot makananku.. apa dia ga jijik makan makananku juga?Tapi kan aku juga sama!


Mhhm..


Tumben banget a Zaidan belum datang.


Aku memainkan ponselku, sambil sesekali melihat air jatuh membasahi tanah.Awalnya berjarak namun lama kelamaan semakin deras tak tertahan.


Wangi tanah menyeruak memenuhi rongga hidungku, dan aku sangat suka wangi ini. Menenangkan...Aku pun menghisap dalam-dalam aroma itu, lalu menghembuskan nya perlahan.


Inilah yang kurindukan saat pertama kali air turun ke tanah. Yaitu bau tanah saat pertama kali hujan.


Aku jadi mengingat banyak sekali kenangan masa kecil yang indah dan menyenangkan.


Sambil tersenyum kecil, aku mengingat betapa bapak dulu sangat menyayangiku. Waktu itu aku minta payung, tapi bapak membelikanku jas hujan Winnie the pooh berwarna pink.Aku yang dulu tak menyukai warna itu sedikit merasa kecewa.. Tapi mana mungkin aku mengeluh dan merengek gara-gara jas hujan bukan?


Angka yang tau bahwa aku tak menyukai warna itu menghiburku, ia sengaja meminta bapak untuk membelikan nya jas hujan juga berwarna biru.


"Pela... kalau lambang perempuan itu kan memang warna pink.. dan laki-laki biru... ini liat aku juga punya! "


Kata Angka, menghiburku waktu itu.


Pernah juga, disaat hujan deras dan Angka mengajakku untuk bermain perahu kertas kembali. Dia sengaja menyetok kertas warna warni.Kami pun membuat puluhan perahu kertas dan diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan mamah nya.


Dengan riang gembira, kami berdua melajukan perahu-perahu kertas itu. Membiarkannya mengalir hingga jauh.


Tapi tebak, apa yang terjadi selanjutnya?


Tak lama setelah hujan reda, pak RT di komplek kami mendatangi dan marah-marah.


"Ini anak ibu sudah menyebabkan selokan di depan sana tersumbat, dan mengakibatkan banjir! banyak ibu-ibu mengeluh pada saya! "


Begitu kata pak RT saat itu.


Alhasil.. Selain sekolah, kami berdua di hukum tak boleh main keluar rumah,selama 1 minggu.


Dasar aku dan Angka! hukuman itu sama sekali tak mempan. Masih saja melanggar. Karena mamah nya Angka sibuk menulis di ruangan nya dan ga menyadari kalau hukuman ga kami jalani.


Tiap pulang sekolah kami suka iseng membunyikan bel di depan gerbang rumah pak RT.Saat pak RT keluar.. kami sembunyi di balik pohon,tak jarang pula karena keisengan kami.. Anjing peliharaan tetangga menggonggong dan mengejar kami.


Lalu setelah itu pasti menyelinap diam-diam untuk main dengan anak-anak sebaya kami di RT sebelah.Karena di komplek Angka umumnya anak-anak tidak di ijinkan untuk bermain di luar seperti kami. Mereka lebih banyak di fasilitasi mainan mahal dan gadget.

__ADS_1


Aku dan Angka sangat suka sekali bermain sepeda, bermain layang-layang, petak umpet dan banyak lagi permainan anak-anak lain nya.


Dulu itu, Angka juga yang mengajariku bermain sepeda.


Angka dulu sangat ceria, ia senang berbaur dan tak pernah membeda-bedakan teman.


"Pelaaa...! "


Aku terperanjat. Lamunanku buyar seketika.


"Eh.. a Zaidan."


"Kamu ngelamun? saya liat kamu sering ngelamun, kenapa? " A Zaidan menyimpan jaket dengan menggantungkan nya di belakang pintu.


"Aku ga ngelamun a.. cuma lagi inget masa kecil waktu hujan.. suka hujan-hujanan sama teman aku! Aku juga ini seneng banget nyium wangi tanah yang terkena air hujan.. "


"Bau tanah itu disebut petrikor. Petrikor adalah salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering. Istilah petrikor diciptakan dari kosakata Yunani oleh dua ilmuwan Australia, Bear dan Thomas. Pada tahun 1964 dalam


jurnal ilmiahnya." Kata a zaidan,sambil memeriksa daftar di kertas.


"Oh jadi namanya petrikor yaa.. kenapa bisa wangi gitu a? "


"Penyebab utamanya berasal dari bakteri actinomycetes. Bakteri ini berkembang dan melepaskan spora ke tanah di saat kondisi kering. Pada saat hujan turun, spora-spora yang ada akan rusak lalu sebagian molekulnya akan lepas ke udara. Peristiwa spora lepas ke udaralah yang menghasilkan bau khas setelah hujan.."


"Konon, aroma petrikor ini bisa seolah-olah menjadi mesin waktu agar kita bisa mengenang masa lalu."


Aku antusias mendengarkan, "Waaah.. bener banget tuh a.... tadi aku bilang kan jadi inget waktu kecil.. " Kataku bersungut-sungut.


"Mhmm.. Bau hujan memang bisa menyebabkan nostalgia.ga cuma sekadar didukung oleh perasaan emosional aja. Hal ini nunjukkin, bahwa otak memainkan peran penting antara bau dan nuansa nostalgia tersebut." A Zaidan duduk di sebelah ku, sambil menyugar rambutnya.


"Oh iyah a? kenapa? "


"Karena terdapat bagian otak yang bertugas menyimpan ingatan jangka panjang, khususnya dari bau yang tercium.Bagian itu namanya korteks piriformis."


"Bagian itu adalah dari otak yang berperan menyimpan kenangan atau nostalgia.Tapi mekanisme ini cuma bekerja dari hasil interaksi dengan area otak lain nya. Kan proses stimulasi buatan berfungsi buat menyimpan kenangan pada otak.Memori dibuat saat saraf-saraf pada otak berkomunikasi satu sama lain melalui proses yang disebut plastisitas sinaptik."


"Aduuuuuhhh.. bahasa nya berat a... Aku belum sampe situ belajarnya.. hehhe." Aku terkekeh.


"Hahaha.. nanti juga kamu ngerti Pel! itu kan karna saya kuliah jurusan bioteknologi.. ya.. sekarang mah kan jaman makin canggih juga, bisa searching juga di internet.."


"Emang cita-cita kamu jadi apa Pel? "


"Aku? mhhhhmm.. dari kecil sih aku pengen nya jadi Fashion designer a.. " Kataku, malu-malu.


"Serius? "


"Beneran.. aku tuh suka banget gambar, tapi ga tau juga.. aku tuh orangnya cuek gini.. kata sahabat aku malahan aku cewek bar-bar.. kayanya ga cocok deh jadi designer.. hehhhe.. "


"Lha... belum apa-apa udah insecure dan under estimate duluan kamu mah! "


"Gimana ga insecure a.. buat jadi designer tuh butuh biaya yang ga sedikit, lulus SMA aja aku udah bersyukur.. "


"Jangan putus asa gitu Pela.... fighting! " A Zaidan mengepalkan tangannya.


"Hahaha... a Zaidan kaya oppa Korea aja! jangan-jangan suka nonton drakor nih, iyah kan? " Godaku, dan a Zaidan ikut terbahak.


"Drama nya sih ngga.. cuma movie nya aja! "


"Tuuh kan.. jangan-jangan Kpopers juga.."

__ADS_1


"Hahahhah.. ngga lah.. temen-temen saya tuh yang addict banget nonton Drakor, sampe-sampe hampir tiap hari begadang mantengin, buat maraton nonton.. Ckck.. " A Zaidan berdecak.


"Ya kalau udah hobby mah susah a.. aku juga kalau hp nya bagus, mungkin aja bisa nonton gitu.. tapi boro-boro, baru juga mau pencet aplikasi ig.. eh yang muncul malahan fb... hehhe.. "


Aku dan a Zaidan terus asyik mengobrol.Hingga kulihat waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat dan akan segera waktu isya.


Lho.. Angka mana ya? ko dia belum balik-balik juga?


***


Angkasa


Selesai shalat maghrib, aku memutuskan untuk mencari tukang cilok langganan Pela tadi. Kalau banyak yang beli.. kemungkinan si mamang ga akan jauh dari sini. Jadi aku pikir berjalan saja, sekalian berolahraga.


15 menit berjalan menyusuri trotoar, tukang cilok belum aja ku temukan.


Kira-kira perginya kemana ya?


Mana petir udah menggelegar, kilat juga menyambar. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan deras.


Bagaimana ini?


Kasian juga si bebek belum makan dari siang. Ya udah.. aku beli makanan lain aja.


Aku merapat ke jajaran pedagang kaki lima, disana banyak jajanan dengan beraneka macam.


Pela masih suka batagor ga ya? atau beli martabak aja? manis atau asin? Tapi itu ada nasi goreng dan kwetiau.


Aku beli martabak asin sama nasi goreng aja, kebetulan aku juga lapar.


Saat menunggu pesanan jadi..


Tik... Tik... Tik...


Hujan turun menyirami bumi.


Aku pun ikut berteduh di dalam tenda yang di pasang di gerobak.


Sambil berdiri aku merentangkan tangan, air hujan mulai menggenang.


Kalau tau bakalan hujan, lebih baik tadi aku pakai mobil saja. Gara-gara cilok, aku jadi ngerasa bersalah sama si bebek.


Aku merogoh ponsel di saku celana, melihat jam.. waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kalau aku menunggu disini hingga hujan mereda, Pela keburu pulang dan sia-sia aja aku udah berjalan sejauh ini cuma buat nyari makanan untuk dia.


Setelah membayar dan mendapatkan kembalian, aku memutuskan untuk menerobos hujan. Sambil agak membungkukkan badan untuk melindungi makanan agar tidak basah.


Baju seragamku basah kuyup, tidak memakai jaket karena jaket ku simpan di dalam mobil.


Akhirnya, gang menuju counter tempat Pela bekerja sudah terlihat. Sekitar 30 meter lagi aku sampai, saat hendak berbelok...


Deg.


Kulihat dari kejauhan, si bebek sedang tertawa bersama cowok yang dulu pernah kulihat. Jadi dia adalah bos nya si bebek?


Damned!!


Aku susah-susah nyariin dia makanan, hujan-hujanan dan dia lagi ketawa-ketiwi disana.


Aku menghentikan langkah. Dan kulihat di depan sana, ada tempat sampah.

__ADS_1


Apa sebaiknya aku buang saja makanan ini?


***


__ADS_2