
Rangga
Surely..
Aku terpesona pada sosok Pela saat ini,ia sangat memukau.
Dengan balutan gaun simple dan rambut tergerai, ia peris seperti titisan dewi..
Arggh.. Am I crazy?
Baiklah.. Aku takkan menyerah. Meskipun rintangan nya berat.
Karena Angkasa selalu ada di antara kami.
Aku pengen banget menepis pikiran dan pertanyaan tentang kecurigaanku pada perasaan Angkasa pada Pela.
Meski berulang kali mereka bilang kalau mereka cuma sahabat, tapi aku menangkap sesuatu yang berbeda.
Pela bisa dengan leluasa nya memperlakukan Angkasa seenaknya, sementara padaku tidak.Dan Angkasa tidak pernah dekat dengan cewek manapun selain dengan Pela.
Aku mengerti, mereka kenal dan dekat dari kecil. Tapi.. Aku yakin, Angkasa menyukai Pela.
Sedikit merasa kecewa setelah mendengar MC memanggil mereka berdua menjadi king dan queen prom. Memang hanya masalah kecil.. bukan perkara yang besar. Tapi aku merasa cemburu, melihat Angkasa menggenggam tangan Pela saat naik ke panggung.
Kini ku lihat, Pela berjalan menuju arah yang berbeda. Aku menyusul ia dari belakang dan ternyata ia hendak masuk ke toilet.
"Gue mau bicara berdua sama lo bro.. " Aku menghampiri Angkasa dan menepuk bahu nya, ia masih berdiri terpaku menatap kepergian Pela.
Kami pun berjalan ke belakang area,aku mengeluarkan bungkusan rokok mild dan menawarkan nya pada Angkasa.
Ia menggeleng, dan kini tengah tetunduk lesu.
"Gue tau men.. lo suka sama si Pela, " Sambil menghisap dalam-dalam rokok di tanganku, aku memulai percakapan.
"Lo ga perlu sembunyiin itu dari gue.. gue ga buta.. Lo udah ngomong sama dia kalau selama ini lo suka? "
"Belum.. "
"Kenapa? "
"Setiap kali gue mau ngomong, dia selalu mengelak.. dan berusaha ngejauh dari gue.. "
"Kenapa dulu lo bilang kalau kalian cuma sahabat? " Tanyaku, penasaran.
"Dulu gue belum yakin.. lo tau sendiri background dan masa lalu gue kan? mamah ninggalin gue dan papah demi pria lain.. semenjak itu gue ga percaya sama yang namanya cewek.. gue pikir mereka semua sama. "
"Pelangi beda.. Jujur gue juga sama dia, kalau emang lo ga juga ngungkapin perasaan lo ke dia secepatnya.. jangan nyesel bro! "
Angkasa membisu.
"Kita berempat emang taruhan buat ngerebut in si Pela.. Dan gue akui, lo pemenangnya! "
"Angkasa... " Tiba-tiba, Nina teman Pela mendekat dan memanggil Angkasa. "Aku.. mau ngasih ini.. " Dan ia menyerahkan sesuatu pada nya.
"Makasih udah mau meluangkan waktu kamu buat ngejemput dan bersamaku selama acara berlangsung. "
Angkasa hanya mengangguk, dan aku menatap getir raut wajah Nina yang menyiratkan kekecewaan.
Aku tau, selama ini Nina sangat menyukai Angkasa.
"Sepertinya lo sama Pela butuh waktu buat ngobrol berdua.. " Sambil menepuk dadanya.
"Kalau kali ini lo ga bisa juga jujur tentang perasaan lo sama si Pela. Jangan menyesal,kalau suatu hari lo kehilangan dia.. " Dengan berat hati aku meninggalkan nya sendirian.
***
Pelangi
Aku sama sekali ga pernah menyangka, akan di nobatkan menjadi queen di acara prom ini.
Padahal dulu, sebelum mereka tau kalau aku bersahabat dengan Angka. Banyak dari mereka memandangku sebelah mata.
Apa ini berarti, kita di liat dari siapa yang menjadi teman kita?
Angkasa memang memiliki reputasi yang cukup populer di sekolah.Dan setahun ini, kami memang menjadi lebih dekat.
Bisa di bilang dua pertiga waktuku dalam satu hari... Aku selalu bersama dengan nya.Mulai dari bangun tidur.. hingga mau tidur kembali.
Jantungku berdetak dengan sangat kencang, saat Angkasa bicara di depan banyak orang.
Breath-taking?
Ia tadi memujiku?
Kalau boleh jujur.. aku memang berbunga-bunga.Seorang Angka menggandeng tanganku hingga atas panggung dan gak malu di liat banyak audiens di bawah sana.
Tapi tadi kulihat di sudut itu..meskipun remang-remang,Nina sedang menatapku sambil tersenyum kaku.Seketika itu juga dengan refleks aku menjawab, kalau aku dan Angka hanya sahabat.
Ku langkah kan kakiku menuju toilet. Untuk meredam perasaan campur aduk, dan memenangkan hati.
Ayolah Pel..
__ADS_1
Hidup itu ga sebatas hanya tentang perasaan.
Usia masih 18 tahun dan masih banyak hal yang belum aku tau.
Aku merapihkan rambutku yang tergerai dengan jariku.
"Pel.. "
"Nina.. Aku baru mau keluar nyari kamu, eh.. gimana? udah ngobrol sama Angka? trus.. trus gimana tanggapan dia? " Akting ku, di depan Nina.
Nina menarik sudut bibirnya kaku.. Lalu menggeleng kan kepala sambil menunduk lesu.
"Selamat ya Pel.. Kamu jadi queen of the day... yeaaay! " Aku tau, Nina mengalihkan pembicaraan.
"Mhhmm.. Ga penting juga sih.. bukan aku yang pantes dapetin gelar ini.. hehhe.. " Aku terkekeh. Dan di balas dengan senyuman oleh Nina.
"Kamu sakit Nin? muka kamu pucat! mau aku antar pulang? "
"Ga usah Pel.. mang dudu udah stay di depan ko.. Mhhmm.. itu, aku mau tanya sesuatu. "
"Apaan sih Nin.. tumben kamu ragu-ragu gitu sama aku.. Kita ke rooftop yuuk, ngobrol nya disana. Mumpung acara masih belum kelar. "
"Disini aja Pel.. bentar lagi aku mau pulang ko, aku agak ga enak badan.. "
"Kamu ga bawa blazer? " Tanyaku, semakin khawatir.
"Blazer aku ada di mobil. "
"Ya udah.. tunggu disini.. aku ambilin! "
"Ga perlu.. Aku cuma pengen mastiin sesuatu." Nina menarik tanganku pelan. "Apa Angkasa pernah nyatain perasaan nya sama kamu Pel? "
"Haah? nyatain perasaan apa sih Nin.. orang kita cuma sahabatan ko.. "
"Apa kamu pernah curiga, kenapa akhir-akhir ini Angkasa dan teman-temannya jadi lebih dekat sama kamu? "
"Hmm.. Iyah juga sih.. dulu aku sempet mikir gitu.. Tapi mereka baik kan? "
"Tapi Pela.. kamu pernah cerita, kalau dulu Angkasa sempat cuekin kamu dari kelas 10,sejak tragedi roti itu... Dia jadi deketin kamu. Bahkan bukan cuma dia.. temen-temennya yang lain juga. Sampe Evelyn segitu bencinya sama kamu gara-gara Marvel ketauan deketin kamu juga. "
"Aku ga berpikir kesana Nin..Mereka emang cuma aku anggap teman..sebenernya ada apa sih? kamu nyembunyiin sesuatu dari aku? "
"Aku tau, ga seharusnya aku bilang ini ke kamu... Tapi kamu sahabat yang aku sayang. "
"Ihhh Nina.. kenapa jadi mendadak melow gini coba? "
Nina menyerahkan ponselnya padaku, dan memutar salah satu video.
"Kita berempat emang taruhan buat ngerebut in si Pela.. Dan gue akui, lo pemenangnya. "
Tiba-tiba saja, aku merasakan nyeri di ulu hati.
Melihat adegan Rangga yang sedang bicara pada Angka.
"Taruhan? "
"Mhhmm.. Aku juga kaget dengernya, tadi aku lagi video in suasana haru temen-temen yang lagi pada pelukan, ngucapin salam perpisahan.. Aku nyari Angkasa dan mau ngasih sesuatu sama dia.. Tapi Pel.. itu yang ke rekam cuma sedikit karena aku langsung matiin kamera.. "
Hhh..
Aku menghela nafas dalam-dalam.
Aku pikir, tak mungkin Nina berbohong karena sudah jelas di video itu adalah Angka dan Rangga.
"Aku harus buat perhitungan Nin... "
"Tapi Pel... Aku ngeliatin ini ke kamu, ga bermaksud buat ngerusak hubungan kamu sama Angkasa.. Aku.. Aku.. justru ga mau kamu terus di bohongin, dan ga tau apa-apa. "
"Ngga Nina.. Aku berterima kasih sama kamu karena ini... Liat aja Angkasa.. " Dengan penuh emosi, aku melangkah meninggalkan Nina di toilet.
"Pelaaa.. "
Aku tak menggubris panggilan sahabat baikku, dan dengan sedikit berlari mencari-cari sosok menyebalkan itu.
Angka..
Kenapa kamu tega?
Jadi selama ini kamu cuma anggap aku, taruhan?
Kenapa?
Apa salah aku?
Berbagai pertanyaan bermunculan di benakku, dan hatiku sungguh berkecamuk.
Aku mencari nya di area poolside tapi tidak ada, di dekat panggung pun tak kelihatan batang hidung nya.
Byuuuurrr....
Tiba-tiba tubuhku limbung dan terhempas.
__ADS_1
Ada seseorang yang sengaja mendorongku hingga aku terjatuh di kolam.
Bukk... Buuuk... Buuuk..
Aku menahan nafas dalam air dan segera mengumpulkan kekuatan untuk menggerakkan tubuh melaju di air.
Hahhh... Hahhh..
Aku pun mengambil udara sebanyak-banyaknya. Dan mendongakkan kepala. Bayangan Evelyn terlihat jelas sedang menertawakan ku bersama teman-teman nya.
"Upppss... Sorry! ga sengaja.. Makanya jangan sok-sok an pake heels deh... Biasanya juga pake sandal jepit.. iyah kan... "
Tanpa menghiraukan mereka, aku naik ke permukaan dengan terlebih dahulu melepaskan heels ku.
"Dasar miss-queen!! hahhaha... "
Langkahku terhenti, Marvel menghadangku. "Pelaa.. kamu gapapa? "
Aku tak menjawab pertanyaan Marvel, teringat akan video yang Nina perlihatkan tadi. Emosiku bahkan sekarang semakin tinggi.
"Eve.. kamu keterlaluan! aku udah sabar selama ini dengan tingkah kamu! "
"Baby.. aku ga sengaja... Dia terkilir. "
"Aku liat semua nya... lo..gue...end Evelyn... we are broke up now! "Teriak Marvel, di depan semua orang. " Pela.. aku antar kamu pulang ya! "
"Ga usah.. dimana Angkasa? " Tanyaku ketus.
"Dia lagi di rooftop, tadi di panggil Andi. "
Aku melangkah dengan penuh amarah, ingin segera meluapkan kekesalan pada si badger Angkasa yang sangat sangat menyebalkan.
Dingin nya udara yang menusuk kulitku tak aku hiraukan. Gaun yang melekat pun menjadi basah keseluruhan. Make up? jangan di tanya.. sudah pasti eyeliner ku luntur dan aku mungkin udah seperti zombi sekarang. Di tambah lagi, aku berjalan melewati tiap koridor tanpa alasan kaki.
Semua orang yang berpapasan denganku, melihatku dengan keheranan.
"Jadi... Kamu dapet apa dari taruhan ini? " Tanpa basa-basi, aku mendekat pada Angka yang sedang duduk sendiri menatap ke arah langit.
Ia mengeryit.
"Kenapa? kamu pikir aku ga tau hh? " Dengan mata berkaca-kaca, aku mendorong dada Angka dan membuat tubuhnya terjerembab ke belakang.
"Pel.. kamu kenapa? kenapa baju kamu basah?" Ia tak membalasku, tapi malah mendekat dan merentang kan tangan nya.Hendak memelukku.
"Kamu kedinginan Pel.. ini pakai tux aku! " Dengan cepat, ia melepaskan tux nya dan berniat memakai kan nya pada ku.
"Ga usah.. " Aku menepis tangan Angka, dan tux nya pun terjatuh di lantai. "Aku cuma butuh penjelasan kamu! Sekali lagi aku tanya.. kamu dapat apa dari taruhan ini? "
"Aku ga ngerti Pel.. "
"Jangan bohong! aku tau.. kalau kamu sama temen-temen kamu itu bikin taruhan kan? Kenapa kamu tega sama aku Ka? Aku bukan cewek bodoh yang bisa dengan gitu aja nerima di permainkan kaya gini... Aku ga Terima! emang kamu anggap aku apa? " Sambil memukul-mukul dadanya, aku meloloskan bendungan air di pelupuk mata. Dia mendekapku erat, tapi aku meronta dan berhasil lepas dari dekapan nya.
"Pela.. denger dulu penjelasan aku! aku ga bermaksud jahat Pel.. "
"Cukuuup! itu berarti memang benar kan kalian taruhan? cukup tau aja... Dengerin ini Angka! Aku benci kamu! aku pikir kita ini sahabat.. dan kamu tulus buat temenan sama aku! "
"Pelaa.. "
"Aku kira kamu beda...ternyata kamu sama aja kaya mereka! AKU BENCI KAMU ANGKASA! " Tanpa pikir panjang,dan dengan derai air mata..aku berlari meninggalkan nya.
Angka..
Aku kira, aku bisa menyimpan perasaan ini di lubuk hatiku yang paling dalam sendirian.
Sejak kecil Angka, aku sayang kamu sejak kecil. Perlakuanku yang kadang kasar dan melawan, adalah wujud peralihan agar aku bisa menghilang kan rasa itu.
Karna bagiku, cukup menjadi sahabat kamu. Udah menjadi kebahagiaan terbesarku.
Entah mengapa..Sekarang, aku marah,kecewa dan ga terima. Karena orang yang selama ini aku sayang, ternyata tega mempermainkan aku.
Aku bisa maafin Rangga dan yang lain..
Tapi ngga buat kamu.
Kamu udah mengkhianati persahabatan kita.
Angkasa Dirgantara..
Kamu memang tinggi dan ga akan pernah terjangkau olehku.Seharusnya dari dulu aku sadar dan tau diri, bahkan untuk menjadi sahabat kamu pun aku ga pantas.
Aku yang bodoh.
Pelangi bodoh!
***
-
-
-
__ADS_1
Ada yang pernah mengalami, menyukai orang yang sama dengan sahabat sendiri?
Rasanya nyesek juga.. 😁