Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Dompet


__ADS_3

Author


Angkasa kembali di landa kegamangan, emosi nya memang sudah memuncak. Namun ia urung untuk bertindak dengan gegabah.


Ia masih tidak percaya dengan semua bukti yang telah di berikan padanya.


Berapa kali pun di putar rekaman serta bukti-bukti di hadapan nya.


Suami ibu nya tidak kelihatan seperti orang yang tega mencelakai Pandu sahabatnya, yaitu papa dari Angkasa.


Yang ia lihat beberapa bulan ini, Om Abi terlihat sangat menyayangi ibu nya. Bahkan terlihat sangat tulus.


Drrrt.. Drrrt..


Terdengar ponselnya berbunyi, saat ini ia sedang memperhatikan potret-potret ibu nya sewaktu muda dulu.


Dengan cepat, ia membuka aplikasi berwarna hijau itu.


Runtutan pesan yang kirim oleh Pelangi berhasil menyita perhatian nya saat ini.Sejak tadi mereka bertukar pesan.


Gadis itu mengirimkan beberapa design gaun.Angkasa memaksanya agar Pelangi membuat gaun untuk pernikahan mereka.


Angkasa tahu, bahkan sangat tahu. Kalau Pelangi bukan tipe perempuan yang akan menuntut ini dan itu.


Tapi ia juga ingin, hari dimana ia akan menghalalkan pujaan hati nya itu. Menjadi hari yang bersejarah bagi ia dan Pelangi.


Pelangi : Ga usah di rayain, aku mau nya sederhana aja.Cuma ijab qabul juga udah cukup. Masa kita ngadain acara di saat agan terbaring lemah?


Pelangi : Yang terpenting itu bukan acaranya, tapi halal nya.


Angkasa mengulum senyum. Membaca kata halal, otaknya yang sudah tidak polos itu jadi travelling kemana-mana.


Ia sangat ingat bagaimana hari-hari yang dulu ia lewati bersama Pelangi, membuat kedekatan mereka menjadi sangat intim dan hampir beberapa kali khilaf melakukan kesalahan.


Hhh..


Dia menggeleng kan kepala nya,ia rasa ia sudah gila.Entah mengapa hanya dengan memikirkan nya saja,hawa tubuhnya menjadi panas.


Ia pun mengucap istighfar beberapa kali, dan kembali memperhatikan potret ibu nya yang sangat cantik.


***


"Laras... "


"Eh.. Iyah? " Laras yang sedang menyapu halaman depan rumah nya merasa terkejut. Karena Angkasa tiba-tiba sudah ada di depan nya.


"Bisa bantu ngerjain tugas ga Ras? "


Dengan mata berbinar, Laras langsung saja mengangguk mengiyakan.


Tak berselang lama, kedua nya kini sedang duduk di atas karpet di ruang tamu.


Angkasa mengedarkan pandangan nya, mencari-cari sosok ibu Kinanti.


"Ibu sama ayah kamu kemana Ras? " Tanya Angkasa basa-basi.


"Ibu ada di kamar, tadi katanya agak ga enak badan. Kalau ayah tadi bilangnya mau ngurus pekerjaan. "


"Ohh.. Aku boleh ikut ke toilet bentar ga? "


"Boleh dong.. Kaya ke siapa aja kamu! "


Angkasa pun segera berjalan menuju ke arah kamar mandi, namun saat akan berbelok.


Ia menangkap suara is akan tangis yang begitu lirih.


Karena rasa penasaran yang membuncah, akhirnya Angkasa membelokkan badan nya ke arah sumber suara.


Pintu itu sedikit terbuka, dan ia mendapati ibu yang sudah mengandung nya itu sedang menangis sambil memegang sebuah baju bayi.


Isakan itu begitu pelan dan lirih, apakah mungkin ibu nya memang selalu seperti itu?


Menyembunyikan kesedihan di hadapan semua orang?


Angkasa segara beranjak dari keterpakuan nya, ia berniat kembali ke ruang tamu dan mengurungkan niat untuk masuk ke kamar mandi.


"Hei.. Ko kamu ngelamun? " Laras melambaikan tangan di depan wajah Angkasa.


"Ga ada apa-apa. "


"Maaf Ras.. Kalau boleh tau, pekerjaan Ayah kamu itu apa? " Tujuan Angkasa mendekati Laras hari ini, memang ia ingin menggali informasi tentang Om Abi.


"Ayah? Hmm.. Setau aku ayah punya perusahaan konstruksi, ayah juga pernah cerita dulu membuat perusahaan berdua sama sahabat nya.. Tapi ga tau juga sih.. Aku ga pernah kepo, kemarin sih aku liat ayah marah-marah waktu di telepon. " Tampaknya Laras yang polos itu sama sekali tak curiga.

__ADS_1


"Marah? marah kenapa? "


"Ga tau.. HP nya aja di banting sampe hancur, tumben ayah kaya gitu.. Biasanya ayah tuh lembut, ga pernah kasar. " Laras bersungut-sungut.


Ia merasa mempunyai teman bercerita atas keheranan nya.


"Ayah kamu memang bilang apa aja waktu di telepon? "


"Aku sih denger nya ada kata pecat segala, trus bilang barang berharga gitu deh.. Ga tau, ga jelas. "


Angkasa terdiam, tak berusaha lagi mengorek informasi. Tampaknya ia pikir cukup bertanya tentang om Abi. Takut Laras curiga.


"Oh iya.. Aku mau ambil minum dulu yaa.. bentar! " Laras berlalu meninggalkan Angkasa menuju dapur, dan setelah beberapa menit kemudian, kembali membawa nampan berisi 2 gelas jus dan cemilan.


Namun ada yang berbeda, wajahnya memberengut dan tersimpan kesedihan.


"Kamu kenapa Ras? "


Ia menggelengkan kepala, namun sedetik kemudian berujar. "Aku kadang sedih kalau udah liat ibu, ibu itu pasti menangis kalau ayah sedang pergi.Pasti berlama-lama mandangin baju bayi dan terus di pelukin sambil nangis. "


"Seandainya, anak ibu masih hidup.. mungkin ibu ga akan sesedih itu.. "


Lagi-lagi Laras keceplosan, ia bukan tipe orang yang suka ghibah ataupun senang membicarakan masalah keluarganya pada orang lain, namun entah kenapa.. tanpa di minta, ia begitu saja menceritakan pada Angkasa.


Satu jam berlalu, Angkasa pun berpamitan pada Laras karena hari sudah menjelang malam.


"Ada nak Angkasa toh? " Tiba-tiba ibu keluar dari kamarnya menggunakan kursi roda.


"Eh Iyah bu.. Saya meminta bantuan Laras mengerjakan tugas kuliah.. Ini juga mau izin pamit, sebentar lagi udah mau maghrib.. "


"Lho.. shalat maghrib disini aja nak, imam-in kami ya.. Ayah nya Laras sedang pergi ke luar kota.. " Pinta ibu, dan langsung di tanggapi dengan bahagia oleh Angkasa.


Dia bisa berlama-lama dengan ibu nya.


Selesai menunaikan ibadah shalat maghrib bersama, Angkasa di minta untuk ikut makan malam bersama.


Lalu setelah itu pamit untuk pulang.Karena terdengar banyak panggilan dan pesan di ponselnya.


Ia pun segera berpamitan dan pulang ke kost-an.


Tanpa ia sadari, dompet nya tertinggal dan tergelatak begitu saja di karpet ruang tamu. Laras yang mengetahui kalau dompet Angkasa ketinggalan, dengan cepat berlari keluar rumah.


Tapi Angkasa tampaknya sudah masuk ke dalam kost-an. Karena ini sudah malam, ia pun memutuskan mengembalikan dompet itu nanti pagi.


"Dompet nya Angkasa ketinggalan bu.. Tadinya Laras mau langsung kasih kesana, tapi ga enak karena sudah malam. "


"Ya sudah besok pagi saja sayang.. "


"Iyah bu.. Laras antar ibu ke kamar ya, biar dapur nanti langsung Laras bereskan setelah megantar ibu.. "


Gadis cantik dan baik itu memang sangat menyayangi ibu nya. Dengan pelan Laras mengantarkan ibu nya ke kamar.


***


Laras


Aku bahagia sekali, tadi Angkasa berjam-jam menghabiskan waktu di rumah.


Dan yang membuat aku lebih bahagia, ia menjadi imam shalat kami.


Akhir-akhir ini, aku melihat Angkasa banyak berubah. Apa yaa.. Aura nya keliatan adem banget.


Ia banyak sekali bertanya tentang masalah agama. Ya aku sih, hanya menjelaskan yang menjadi kapasitas ku saja.


Aku pun menyarankan agar ia mencari referensi dari buku-buku dahulu, baru setelah itu mencari seorang guru ngaji.


Apakah ia sedang belajar menjadi seorang imam yang baik?


Duuh.. Aku jadi semakin kagum padanya.


Aku melirik pada benda kotak yang ada di atas nakas, merasa penasaran dengan isi nya.


Bukan penasaran pada uang yang ada di dalam sana, namun lebih kepada identitas Angkasa.


Tapi kan ga sopan kalau aku sengaja membuka dompet orang lain kan?


Ga apa-apa kalau cuma pengen lihat, sedetik aja!


Ku raih dompet itu, dan perlahan membuka dengan jantung yang berdetak kencang.


Tap.


Tak jadi!

__ADS_1


Ku kembalikan dompet itu ke atas nakas.


Dan segera berbaring di tempat tidur.


Berharap malam ini aku bisa tidur nyenyak dan tidak berpikir macam-macam ataupun kembali berani untuk membuka dompet milik orang lain.


Meskipun di liputi penasaran yang sangat hebat.


***


Ibu Angkasa


Malam ini, mas Abi tidak pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya, suaminya itu belum menghubungi nya sama sekali dari kemarin.


Apa ada masalah besar dengan perusahaan nya?


Aku berusaha untuk tidak khawatir, suami baik ku itu tidak mungkin macam-macam.


Disaat sering kali aku meminta untuk ia menikah lagi, ia selalu menolak dengan alasan kalau tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan aku di hati nya.


Bukan nya aku merasa senang dan bahagia mendengar ia selalu berkata seperti itu. Tapi sebagai seorang istri, aku sadar betul. Bahwa aku masih belum bisa memberikan kewajiban ku sebagai seorang istri.


Sudah bertahun-tahun, namun ia tak berani menyentuh ku. Fisikku yang ia rasa lemah, selalu menjadi alasan ia mengurungkan niat mengambil hak nya.


"Laras... Ayo sarapan dulu nak! "


"Duuh ibu... Maafin Laras bu, Laras kesiangan tadi malam ga bisa tidur.. Nanti Laras telpon mbak Nunik ya, biar langsung nemenin ibu.. " Laras meraih tangan dan mencium punggung tanganku.


"Laras pergi dulu ya bu... Assalamu'alaikum.. " Pamitnya terburu-buru.


Hari ini, ia tidak nebeng mobil nak Angkasa. Karena jadwal kuliah mereka berbeda.


Aku pun memutar roda, dan menutup pintu rumah. Lalu berniat untuk kembali ke kamar.


Tapi, pintu kamar Laras terbuka. Aku pun memutuskan untuk masuk, dan berdecak karena kamar Laras masih berantakan.


Anak ini, kebiasaan kalau kesiangan suka lupa membereskan tempat tidurnya.


Dengan pelan aku melipat selimut yang menjuntai hampir menyentuh lantai.


Merapihkan bantal dan guling yang berserakan.


Namun, ada sesuatu yang terjatuh di lantai.


Bukankah itu adalah dompet nak Angkasa?


Karena dompet itu terjatuh sembarang, dapat kulihat selintas foto yang bertengger terselip di dalam dompet nya.


Aku mengernyit.


Lalu diam membeku di tempatku. Tertegun melihat potret siapa yang ada di dalam dompet anak lelaki yang beberapa bulan ini masuk ke dalam hidup ku.


Anak lelaki yang begitu tampan dan baik,yang entah mengapa aku sudah merasakan sesuatu terhadap anak itu.Dari sejak pertama kali bertemu.


Mas Pandu?


Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata tak sanggup lagi aku bendung.


Menatap nanar foto yang terpampang nyata di di depan mata.


Seorang anak lelaki berusia sekitar 7 tahun berdiri dengan pria yang menjadi cinta pertamaku.


Mereka terlihat mirip sekali di foto itu.


Aku menggelengkan kepalaku, dan berusaha untuk menyangkal perasaan nyeri yang tiba-tiba hinggap di dada.


Mungkin ia adalah anak mas Pandu dengan Mira.


Sambil menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak, aku menutup kembali dompet anak lelaki yang baru ku sadari memang sangat mirip sekali dengan mas Pandu.


Saat aku memasukkan kembali foto itu ke dalam dompet, karena rasa penasaran yang begitu besar.


Dengan impulsif, aku mengeluarkan beberapa foto lain yang ada di dalam nya.


Ada satu.


Foto yang belakang nya terdapat tulisan.


Me and my Dirga.


Bandung, 5 Februari


Tepat..hari dimana aku melahirkan.

__ADS_1


***


__ADS_2