
Angkasa
"Ini siapa! "
"Angkasa bu.. " Laras menjawab pertanyaan dari seorang ibu di depanku.
Seorang ibu berparas ayu, berhijab syar'i warna hitam. Menatap ku dengan iris kecoklatan yang berbinar.
"Teman Laras bu.. Tadi kami berkenalan di depan, waktu ibu sedang di therapi.. "
Ibu itu tersenyum, persis seperti senyum yang melingkar di foto lawas di dalam dompetku.
Aku tertegun.
Menatap sosok yang 20 tahun ini belum pernah ku temui sebelumnya. Hatiku berdebar, detaknya semakin tak terkendali saat beliau mengulurkan tangan nya untuk ku salami.
Aku pun meraihnya dengan penuh harap, salur asa..bendungan rasa cinta mengalir lewat kecupan di punggung tangan ibu.
Menyampaikan isi hati,ini aku anakmu bu.
Tapi bukan, bukan seperti itu cara nya.. Mulai sekarang aku harus belajar untuk tidak egois dan memikirkan diri sendiri. Ibu sangat lelah, terlihat pekikan yang tidak terucap dari indera pengecap nya.
Namun jendela hatinya menyiratkan bahwa ibu kini tengah kelelahan.
Mungkin menjalani therapi beberapa jam membuat tenaga nya terkuras banyak.
"Nak Angkasa tinggal dimana? " Tanyanya, suara lembut yang syahdu keluar begitu merdu.
Aku merindukan suara ini, suara yang mungkin dulu saat aku sedang berada di dalam alam kandungan. Selalu ku dengar di setiap detik nya.
"Saya tinggal di Bandung bu.. Disini sedang ada keperluan sambil refresing.. Juga untuk mencari universitas yang cocok.. Saya berencana melanjutkan kuliah.. " Ucapku dengan refleks, kalimat itu keluar tanpa di rencanakan.
"Kamu rencana kuliah disini Angkasa? " Laras menimpali.
Aku menganggukkan kepala.
"Kampus aku aja.. Swasta sih.."
"Lho.. di Bandung kan banyak sekali PTN bagus nak Angkasa.. " Pria paruh baya yang tadi memperkenalkan diri sebagai suami dari ibu, dan ayah dari Laras berseloroh.
"Iyah Om.. Saya waktu lulus sekolah ga langsung mengupayakan untuk langsung kuliah .. " Aku menggaruk tengkuk salah tingkah.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang sudah mulai mengupayakan kan? kuliah di PTN ataupun PTS,kalau di jalani dengan sungguh-sungguh.. Bisa menorehkan prestasi yang bagus..Masa depan yang cemerlang." Ucap Ibu, sambil tersenyum padaku.
Ucapan ibu itu, memberiku sedikit harapan baru.
"Kalau begitu, saya permisi duluan ya bu.. Om.. Laras.. " Pamit ku, saat ini kami sedang berada di parkiran.
"Iyah nak Angkasa.. "
"Assalamu'alaykum.. "
"Wa'alaykumusalam.. "
Aku sengaja berpamitan dan pulang duluan,agar mereka tidak curiga.
Yang terpenting aku sudah mengetahui alamat rumah ibu di sini, karena tadi Laras bilang.. selama therapi mereka tidak akan dulu pulang ke desa.
***
Dua hari kemudian..
Pelangi
Aku dan Wulan baru saja tiba di bandara Husein, dan akan check-in sebentar lagi.
Sambil menunggu, aku sengaja mencari tahu di internet tentang bagaimana rasanya naik pesawat. Tentu saja, aku sedikit gugup karena ini adalah yang pertama kali nya untukku naik pesawat terbang.
__ADS_1
Btw..
Aku baru menyadari betapa Allah menciptakan otak manusia dengan begitu sempurna.
Atas izin Allah..Manusia bisa menciptakan transportasi udara yang menyerupai burung.
Ketika ditanya siapakah manusia pertama yang berhasil menerbangkan pesawat, sejarah dunia mencatatkan nama Wright Bersaudara, yakni Orville Wright dan Wilbur Wright sebagai tokohnya.
Mereka menggunakan pesawat rancangan sendiri bernama Flyer, Wright Bersaudara sukses mengudara di sekitar Amerika Serikat pada 1903.
Namun jika ditelisik kembali, jauh sebelum Wright Bersaudara menerbangkan Flyer, terdapat tokoh lain yang telah berhasil mengudara.
Ia adalah Abbas Ibn Firnas, seorang intelektual dan ilmuwan muslim asal Qutuba Al-Andalus (Cordoba, Spanyol).
Pada 875 Masehi, ia menciptakan sebuah pesawat kayu sederhana, kemudian menerbangkannya dengan dia sebagai pengendali atau pilotnya.Pesawat kayu itu dilengkapi dengan kedua sayap yang dirajut dengan sutra dan bulu-bulu.
Abbas Ibn Firnas tak mampu menciptakan pesawat lain dengan desain yang lebih sempurna. Hal itu disebabkan kondisi kesehatannya yang kian memburuk pascagagalnya uji coba pesawat perdananya. Akhirnya ia pun meninggal pada 887 Masehi, 12 tahun setelah insiden uji coba pertama nya.
Meski begitu, pengalaman atau uji coba penerbangan yang dilakukan Abbas Ibn Firnas menjadi bahan pelajaran dan kajian bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya. Gagasannya terkait pesawat pun terus dipelajari.
Bukan hanya itu, begitu banyak ilmuwan besar muslim yang mempunyai andil besar dalam peradaban. Seperti Al-Khwarizmi dalam bidang matematika, astronomi dan banyak lagi. Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran modern dan, Al Zahrawi adalah bapak ilmu Bedah Modern. Ia berhasil mengenalkan catgut (benang) sebagai alat untuk menutup luka.
Ahmad Ibn Tulun, Jabir Ibn Hayyan, Ibn Al Haytham.. Dan masih banyak lagi ilmuwan muslim yang berhasil mengubah dunia.
Ma syaa Allah..
Maha Besar Allah atas Segala-Nya.
"Pelaaa... " Wulan menepuk bahuku pelan, ia memberi tahu bahwa saat ini kami harus segera check-in.
Kami sudah berada di atas pesawat dan sedang memperhatikan pramugari sedang demontrasi di depan.
Tak lama setelah itu, pesawat pun take-off. Dengan tatapan penuh takjub, aku memandang ke arah luar.
Berada di ketinggian seperti ini, benar-benar mengajarkan arti siapa diri.
Sungguh, aku ini hanyalah God Particle yang tak kasat mata.Tak ada artinya.
Ini karena adanya perbedaan tekanan atmosphere dan ketidakseimbangan tekanan udara.
***
"Alhamdulillah.. " Aku dan Wulan mengucap syukur saat pesawat mendarat dengan sempurna.
Usut punya usut, ini juga adalah pengalaman pertama Wulan naik pesawat.
"Aku tuh berasa wong ndeso banget Lan.. " Kami berdua terkekeh, sambil berjalan berdampingan menuju pintu exit.
Kata teh Ayung, bakalan ada yang menjemput kami di bandara. Tapi, kami sudah duduk di ruang tunggu sekitar 30 menit.
Drrrt..Drrrt...
Aku merogoh ponsel di dalam tas.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaykumusalam.. Pela... Teteh minta maaf.. klien teteh ga jadi datang hari ini.. Barusan ngedadak beliau ngasih tau nya. Pas mau berangkat katanya ga enak badan.. Jadinya besok survey lokasi Pel.. "
"Oh gitu ya teh.. Jadi hari ini kita ngapain dong teh? "
"Kamu jalan-jalan aja sama Wulan.. nanti teteh bilang a Senja biar nambah ongkos +bonus deh.. Maafin ya Pelaa.. teteh lupa ngasih no klien ke kamu.. nanti teteh chat.. "
"Iyah teh.. Makasih ya teh.. belum apa-apa kita udah dikasih bonus liburan.. " Aku terkekeh.
"Rezeki kamu sama Wulan... Duh udah dulu ya.. Embun manggil terus tuh pengen maeum.. Bye Pela..Take care di sana ya.. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaykumusalam teh.. "
__ADS_1
Aku pun menyimpan kembali ponsel ke dalam tas.
"Lan.. Kita naik taxi aja yuk ke hotel, nyimpen dulu tas.. Trus udah gitu langsung cus liburan.."
Wulan melongo. "Hah? bukan nya kita mau ketemu klien? "
"Ga jadi hari ini.. Kita dikasih free.. kemon Lan.. Nanti kita cari destinasi wisata dekat-dekat sini.. " Kataku riang. Merasa bahagia mendapat rezeki liburan kali ini.
Dengan penuh semangat, kami berdua berjalan keluar bandara dan mencari taxi untuk menuju ke hotel yang sudah di booking sebelumnya oleh teh Ayung.
***
Angkasa
Dari kemarin, aku sudah mulai mencari kampus yang dekat dengan Rumah sakit tempat ibu therapi. Karena jadwal therapi tidak tiap hari, hari ini aku akan kembali mencari referensi PTS yang bagus.
Baiklah...
Setidaknya langkah ini adalah awal pendekatan, agar ada alasan untukku bisa terus memantau perkembangan kesembuhan ibu.
Kemarin juga, aku sudah membatalkan penyewaan homestay di desa. Karena sepertinya, aku harus sementara tinggal disini.
Aku harus mencari kost-kost pria yang dekat dengan rumah sakit juga.
Saat keluar dari pintu hotel tempat ku menginap, aku seperti mengenali suara seseorang.
Suara khas ketawa nya.
Dengan tergesa, aku berjalan dengan setengah berlari. Bertujuan mencari sumber suara yang ku kenali tersebut.
Semakin dekat, aku semakin yakin bahwa itu adalah suara Pela.
Suara si bebek yang ku rindukan, gelak tawanya juga.
Ku dapati, dua orang perempuan sedang berjalan sambil berceloteh membelakangi ku. Yang satu nya membawa koper kecil, sedangkan satu nya lagi membawa bagpack.
Bukankah itu backpack punya Pela?
Tapi ga mungkin, memangnya yang memakai tas seperti itu hanya dia?
Terus berjalan menyusuri koridor, aku mulai memperlambat langkahku.
Merasa tak yakin.
Tak mungkin.
Lagian, mereka memakai hijab kan?
Aku sangat mengenali sosok Pela, bentuk tubuh dan tinggi badan nya.Rambut panjang yang hitam dan legam nya...
Sedangkan perempuan di depanku ini memakai rok dan hijab yang panjang.
Sekali lagi ku tekankan. Bahwa aku salah mengira.Untuk apa juga dia ada disini? bukankah ia seharusnya sibuk kuliah di kampus idaman nya?
Hhhh..
Aku menghela nafas panjang. Mencoba berpikir logis dan kembali berpikir pada tujuan utama.
Saat akan membalikkan badan, dua orang perempuan itu masuk ke dalam lift.
Aku tertegun sebentar.. Mengerjapkan mata dan mencoba menyipitkan nya.Kali ini aku baru menyadari, pentingnya merawat kesehatan mataku.
Ku rutuki rabun jauh yang ku derita.. Meski hanya minus 2.
Samar.. Tapi dari jarak 30 meter, aku bisa mengenali.
Senyum itu...
__ADS_1
Aku sangat kenal senyum itu.
***