
Pelangi
"Pela... "
Aku sudah berjalan lumayan jauh dari tempat angkringan.
Karena Angka terus mengejarku.
Akhirnya,aku memutuskan untuk mendengarkan penjelasan nya.
Takut-takut seperti sebelumnya, terjadi kesalahpahaman dengan waktu yang lama.
Meski hati masih terasa perih.
"Kenapa kamu selalu pergi kaya gitu tanpa mau dengerin dulu penjelasan aku Pel? " Angka mendekat.
"Bercanda kamu sama dia itu ga lucu! hal yang kaya gitu bukan hal sepele Ka..Dia dengan mudah bilang begitu.. Apa ga malu di depan banyak orang? "
"Ini salah aku karena ga jujur sama kamu! "
"Kamu belain dia? "
"Ga gitu Pela.. Kalau aku jujur sama kamu dari awal, ya masalah nya ga akan jadi kaya gini. Sini... Aku mau minta maaf! "
Lagi-lagi, Angka ingin meraih tanganku.
"Maaf Ka.. Sebaiknya kita ga usah sambil ada kontak fisik! " Aku menepis tangan nya pelan.
"Tapi Pela.. Cuma pegang tangan doang! emang itu juga dosa? "
Aku mendelik ke arahnya, "Dosa! mendekati Zina!Karena dari pegangan tangan nanti kesananya malah di anggap biasa..Terus.."
"Hhh.. " Angka menghela nafas panjang."Ok.. Aku ga akan sentuh kamu! "
"Aku di bawa ke kost-an nya karena aku pingsan, waktu beberapa menit kemudian pas aku sadar dari pingsan.. Yang aku liat itu kamu Pel! I'm swear! trus aku memang pengen banget meluk kamu waktu itu... Aku down! terpuruk dan ngerasa ga punya siapapun."
"Aku berani sumpah.. Kita ga ngelakuin apa-apa! Rindu juga tidur di kamar sebelah..Di kamar temen nya. "
"Terus kenapa dia bilang kamu mau tanggung jawab? "
"Pagi-pagi nya dia ngerjain aku.. Terus aku minta nomor dia dan aku janji bakalan tanggung jawab kalau emang aku udah berani macem-macem. "
"Jadi? "
"Lama kelamaan.. Aku sering komunikasi dan dia ngebantu aku nyari informasi dan akhirnya dia jujur kalau kita ga ngapa-ngapain! "
"Bener? "
"Exactly... I'm sure! "
Kami berdua terdiam, dan Angka menarik ku untuk duduk di sebuah bangku taman di sekitaran Malioboro.
Kami berdua duduk,melihat ramainya orang berlalu lalang berjalan di seputar jalan.
"Aku kangen kamu Pel.." Tiba-tiba, Angka membalikkan badan nya dan menarik bahuku untuk menghadap nya. Ia menautkan lagi jemari kami dan aku ga bisa menolak. Ada perasaan membuncah yang tak bisa ku ungkapkan.
"Jujur aku kangen saat-saat kita bareng kaya dulu.. Aku juga ga nyangka bisa ketemu kamu disini.. "
Aku benar-benar ga bisa berkata apa-apa.Hanya bisa menatap netranya lekat.
Suasana terasa aneh.. Aku ga tau kenapa Angka berubah menjadi orang yang melankolis seperti ini.
Ini jelas bukan dia!
Krruuuk.
Perutku berbunyi, tadi aku belum sempat makan di angkringan.
"Kamu lapar? "
"Iyah.. Tadi kan aku ga sempat makan, keburu temen kamu itu bilang macem-macem! " Gerutuku, ingat lagi kata-kata yang di ucapkan oleh Rindu yang membuat hatiku panas.
"Jangan cemberut gitu dong! ayo kita makan.. Kamu mau beli apa?"
"Trus temen kamu gimana? " Aku teringat pada Rindu yang tadi sangat lahap menikmati hidangan.
"Udah jangan mikirin dia! dia mah bisa sendiri! "
"Nanti dia cariin kamu! bukannya ke Jogja juga karena pengen ketemu kamu? "
"Ngga.. " Angka menyeret ku dan aku pun berjalan mengikutinya dari belakang.
Kami pun masuk ke dalam sebuah tempat angkringan lain yang masih berada di sekitar Malioboro.
Kali ini, aku memesan menu yang memang ingin aku makan dan sesuai dengan seleraku.Makan sambil mengobrol banyak hal dan menceritakan semua yang kami berdua alami selama 2 tahun ini.
"Kamu pengen liat bukit Bintang? "
"Emang nya ada? "
"Ada.. Ayo kita kesana! "
"Tapi ini udah malam Ka.. "
"Gapapa.. mumpung kita disini, besok kamu udah harus kerja kan? lagian ga terlalu jauh dari sini..sekitar 45 menit.."
***
__ADS_1
"Angkasa... ini? "
"Mhhmm.. Kaya di bukit moko Bandung kan? "
"Indah banget yaaa... Aku jadi kangen saat kita di atap.. "
"Juga Boschaa? " Angka tersenyum jahil, dan aku mencubit perutnya.
"Aww.. Tapi bener kan? Kamu ga akan pernah lupa..Tanggal 2 Mei,Saat kita lihat Centaurus A, galaksi bentuk unik berjarak 12 juta tahun cahaya.. Lalu setelah itu kita... "
Plaaak!
Aku memukul bahu nya, dan Angka hanya meringis sambil mengusap-usap bahu nya yang ku pukul.
"Bisa ga kamu ga kasar Pel! jadi cewek itu harus lembut.. " Sambil masih meringis.
"Ga bisa! " Kataku datar, sambil terus memandangi gemerlap nya lampu-lampu kota di bawah sana.
Suasana ini membawaku kembali ke masa dulu saat bersama si badger madu yang dulunya sangat menyebalkan ini.
Berdua duduk di pinggiran beton, sambil menikmati wedang jahe yang hangat, se hangat hatiku.Karena hilang sudah kesalahpahaman ku pada Angka selama ini.
Tiba-tiba aku teringat Wulan.
"Angka..ini udah jam berapa? Aku mau balik ke hotel.. Wulan pasti udah nunggu aku lama, kasian belum makan malam!"
"Ya udah ayo kita pulang.. Ini udah jam 11 malam.. "
"Haah? serius? ko ga kerasa banget ya? "
"Ga kerasa karena bareng aku kan? "
"Issh.. Aneh ihh.. Kamu berubah jadi bukan kaya Angka yang dulu! yang sekarang mah gombel.. "
"Aku kan udah dewasa Pel.. "
"Iyah.. Dan udah kenal banyak cewek! "
"Kamu jealous? "
"Ngapain aku jealous?! "
"Akh udah ngaku aja! "
"Ngga! "
Kami berdua pun meninggalkan bukit bintang dengan segenap rasa damai.
***
Tok.. Tok...
"Duuh gimana nih Angka! gara-gara kamu ajak aku sih.. Jadi Wulan udah tidur. Mana aku ga bawa kunci! Terus aku tidur dimana? "
Angka menyeringai, dan menatap ku lekat-lekat.
"Apa? jangan bilang aku tidur di kamar kamu! GA MAU! "
"Kalau kamu ga mau, kita check-in kamar satu lagi Pel.. "
"Tapi sayang uang nya.. Pagi-pagi banget kan aku udah harus pergi lagi! "
"Ga ada jalan lain.. Ayo kamu harus istirahat, kata kamu kaki kamu pegal kan? seharian ini jalan-jalan! " Angka menarik tangan ku, dan aku ga bisa menolak.
Aku masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Ngga deh Ka.. Aku takut! gimana kalau tiba-tiba ada yang grebeuk trus nyangka kita macem-macem? Lebih baik aku tunggu di lobby aja.. sampe subuh. "
"Udah jangan cerewet! " Lagi-lagi Angka menarik ku.
"Masuuuk! "
Angka langsung berbaring di tempat tidur dan merentang kan tangannya.
"Sini Pela! "
"Ga mau.. Aku tidur disana aja! " Aku berjalan menuju sofa kecil dan mendaratkan tubuhku disana.
"Ya udah.. Aku mau ke kamar mandi cuci muka sama gosok gigi.. Kalau kamu mau gosok gigi, ada sikat gigi yang baru di wastafel! "
Angka pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Namun, setelah keluar.. Ia membuka kaos di depan ku dengan tiba-tiba.
"Arrgh.. Angka kamu mau ngapain? " Sambil mengalihkan pandangan ke arah gorden di belakangku.
"Mau ganti baju! "
"Ngapain disini bukan nya tadi di kamar mandi sih! "
"Lupaa.. Lagian kamu udah pernah liat aku naked begini kan? "
Aku mengambil bantalan sofa dan melemparkan nya tepat di wajah nya.
Buugh.
Namun meleset, bantal itu malah jatuh mengenai televisi di atas nakas dan langsung rubuh.
"Pel.. waduuh.. Hati-hati.. Nanti kalau rusak aku yang harus ganti! "
"Eh Iyah.. maaaf.. Udah akh aku juga mau cuci muka!" Aku langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Seharian ini menghabiskan waktu di luar ruangan membuat badanku sedikit lengket.
__ADS_1
Aku benar-benar pengen mandi. Tapi mana mungkin aku mandi disini kan? Gila aja Pela!
Tapi aku sungguh ga kuat kegerahan.Aku akan menyeka badanku saja tanpa mandi. Kebetulan aku menyimpan kerudung dan kaos bersih di tas ku.
Dengan ragu, aku melangkah pelan berniat membawa tas.
Kulihat Angka sudah tertidur dan memejamkan matanya.
Setelah merasa cukup segar,dengan cepat aku duduk di sofa tadi dan merentang kan kaki yang terasa pegal.
Memperhatikan sosok itu dengan seksama.
Ada kerinduan di dalam hatiku.
Dengan Impulsif, aku mendekat ke arahnya dan jongkok di sebelah tempat tidur.
Kalau di lihat begini, Angka memang terlihat semakin dewasa.Dan agak kurusan.
Tumbuh jambang tipis di sekitar rahang dan kulitnya sedikit menggelap.Tak serapih dan terurus seperti dulu.
"Apa yang kamu kerjain selama 2 tahun ini Ka? sampe kamu jadi kurus gini! rambut kamu juga panjang ga keurus.. " Aku mengusap rambutnya pelan.
Aku ternyata masih sayang padanya,tak lepas dari sifatnya yang menyebalkan.Dan juga aku memang bukan tipe cewek romantis yang bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku.
"Night.. night Angka... " Aku beranjak, namun tiba-tiba Angka menarik tangan ku hingga aku jatuh terhuyung di atas tubuhnya.
"Eh.. Ka-kamu belum tidur? " Kataku gugup, aku ga menyangka ternyata dia masih terjaga.
"Kamu kangen juga sama aku kan Pel? "
"Si-siapa yang begitu? " Aku menarik tanganku dan berusaha untuk bangun.
"Sebentar aja Pela.. Aku pengen peluk kamu! "Ia merapatkan dekapan dan aku semakin meronta.
"Angkaa.. Lepasin!"
"Aku sayang sama kamu Pela.. "
Aku tertegun, mencerna apa yang di katakan Angka.
Merubah posisi menjadi duduk di sebelahnya.
"Kamu bercanda? " Aku memukul bahu nya pelan.
"Aku ga bercanda.. Aku udah mau bilang saat malam prom dulu! "
"Angka.. Tapi.. "
Deg.
Angka menangkup kedua pipiku dan membenamkan wajahnya singkat. Aku hanya diam terpaku.
Merasa aliran darah dan detak jantungku berhenti berdetak.
Desiran aneh menjalar seketika dan membuatku tak bisa berpikir, bergerak atau sekedar mengedipkan mata.
Hanya bisa menelisik dan menatap netra Angka lekat-lekat.
"A.. Aku... "
Kedua kali nya, Angka membenamkan wajah. Aku terhanyut dan sedetik kemudian membalas perlakuan lembutnya.
Untuk beberapa saat, netra kami saling bertatapan lama. Angka mengelus indra pengecap ku lembut dan sebelah tangannya menarik pinggangku.
"Kamu sayang aku juga kan Pel? " Netranya tak lepas mengikatku dengan tatapan sayu nya.
Entah mengapa..aku seperti tersihir terhipnotis, dan ku anggukan kepala pelan.
Tangan Angka mulai menarik pasmina yang ku kenakan.
Aku hanya diam,dan memejamkan mata. Namun sekelibat bayangan teh Ayung saat menyerahkan paper bagian berisi kerudung dan menasehati dengan tutur nya yang lembut.
"Hijabmu senantiasa membantu menjaga segala pandanganmu, dan menjaga hal yang memang seharusnya tidak kamu lakukan.."
Kata-kata itu.
Seketika menyadarkanku, bahwa saat ini yang sedang ku lakukan adalah perbuatan dosa.
"Astaghfirullah.... " Aku membuka mata, dan Angka sudah menyimpan pasmina di tempat tidur.
Surai panjangku kini terlihat lagi di hadapan bukan mahkromku.
Ya Allah... Maafin aku!
"Angkaaaa... A-apa yang akan kamu lakuin Ka! " Dengan cepat, aku meraih pasmina dan melingkatkan nya kembali di kepala.
"Pel.. Pela... A-aku.. "
"Astaghfirullah.. Angka yang kita lakuin ini dosa Ka! "
Aku menangis, dan beranjak berdiri. Membetulkan dan merapihkan baju yang sudah hampir terbuka.
Mengambil tas dan keluar dari kamar dengan berlari segera ingin sampai di kamar Wulan berada.
Ya Allah... Maafin aku Ya Allah...
Aku khilaf!
***
__ADS_1