
Pelangi
"Assalamu'alaykum.. " Dengan nafas terengah, aku sampai di depan rumah pukul setengah 9 malam. Karena pulang bekerja pukul 8, itupun pulang cepat dan mendapat kompensasi waktu dari a Zaidan.
Apa besok jangan pakai sepeda ke tempat kerja ya? Rasanya badanku remuk. Lelah sekali. Mengayuh sepeda di malam hari ternyata sama berkeringatnya dengan siang hari.
"Wa'alaykumusalam.. teteh udah pulang, Alhamdulillah.. " Fajar tengah menungguku di depan pintu dengan wajah cemas nya.
"Iyah Jar.. maaf ya pulang malem, pulang sekolah langsung ke tempat kerja.. soalnya hujan, jauh kalau teteh pulang dulu. "
"Gapapa teh.. kasian teteh! " Ucap adikku itu nada bicaranya pun menjadi sendu.Ia memang memiliki rasa empati yang begitu tinggi.
"Nih.. teteh punya apa buat kamu! Kasian adik teteh pasti belum makan ya? " Aku mengambil kantung keresek yang ada di dalam keranjang sepedaku.
"Apa itu teh? "
"Taraaaa... Nasi padaang... special teteh bungkus buat adik teteh yang paling soleh.. "
"Haah? beneran teeh? Ya Allah.. Alhamdulillah... Fajar mimpi apa kemarin malam teh.. mau makan enak sekarang. " Fajar pun mengambil keresek yang ada di tanganku.
Alhamdulillah, meskipun belum bisa bungkusin 2 bungkus kaya yang kemarin aku janjikan.. Tapi Allah langsung ijabah do'aku, tadi siang Rangga memborong rotiku.Jadi aku bisa beliin nasi padang untuk adikku tersayang.
Adikku itu langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur untuk membawa piring.
"Hayu teh.. makan nya berdua aja, disini atau Fajar pisahin ke piring lain? " Tanyanya antusias.
"Teteh mah kenyang udah makan ko Jar.. tadi di counter di beliin.." Kataku berbohong, padahal saat a Zaidan pergi sebentar untuk pulang ke rumahnya. Aku melihat emang-emang tukang cilok lewat dan aku langsung beli 5 biji pakai bungkus plastik.
"Beneran teh? ini sebanyak ini buat Fajar sendirian? Ya Allah... mhhhmm.. enak banget ya teh.. ini berapa sebungkusnya? teteh dapet uang dari mana bisa beli nasi padang pake rendang? " Sambil makan dengan lahap, Fajar manggut-manggut menikmati betapa nikmatnya makanan yang tengah ia makan.
"Alhamdulillah.. tadi ada yang borong roti teteh.." Aku tersenyum sendiri melihat adikku itu seperti belum makan 3 hari,ia bersila dengan piring di tangan kiri.. tangan kanan nya menyuap nasi. "Pelan-pelan Jar.. ga akan ada yang abisin.. kamu kenapa ga pake sendok aja makan nya. "
"Kata pa ustadz, semasa hidupnya.. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat untuk makan menggunakan tiga jari tangan kanan.Sampai sekarang,makan pake tiga jari jadi sunah yang bisa dilakukan umat muslim teh.. "
"Menurut penjelasan Imam Al-Ghazali, makan pake tiga jari dapat menghindarkan seseorang dari sifat lupa dan dapat mengukur porsi yang cocok untuk seseorang."
"Dan menurut ilmu kedokteran, Makan pake tangan juga lebih sehat, dibanding pake sendok. Lantaran, dalam tangan ada Enzim Rnase yang bisa menekan aktivitas bakteri pathogen dalam tubuh.mhhhhmmm..enak ya Allah... " Ucap Fajar bersungut-sungut, sambil tak berhenti berdecak menikmati makanan enak.
"Oh iyaah ya Jar.. teteh lupa.. abis teteh mah malas cuci tangan! kamu cuci tangan dulu ga tadi sebelum makan? " Tanyaku sambil menaikkan alis.
"Eehh.. iyah.. lupa teh.. biarin lah.. vitamin!Teh..teteh ngerasa ga sih kalau Allah sayang banget sama kita? Tadi Fajar pas abis shalat maghrib berdo'a, karena perut lapar ga ada apa-apa.. "
"Berdo'a apa emang Jar? "
__ADS_1
"Berdo'a di kasih makanan enak... Alhamdulillah Allah langsung kasih.. bener kata pa ustadz, kalau kita sering berdo'a.. pasti Allah kabulin. Makanya Fajar mah mau ngedo'a supaya ibu pulang trus ga kerja lagi.. kasian teh..Fajar liat ibu teh kaya yang sakit. " Ia kembali menikmati nasi yang tinggal tersisa sedikit lagi.
"Aamiin Jar.. Mudah-mudahan do'a kita terkabul. "Aku tak kuat menahan air mata, ku seka sudut mataku dan berpaling dari pandangan adikku.
"Teteh mau istirahat ya Jar... besok subuh mau ke pabrik trus mampir ke pasar beli sayuran. " Aku beranjak, dan berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Untuk seka badan, mencuci wajah dan menggosok gigi. Kalau mandi harus bikin air panas, sayang gas.
"Iyah teh... emang teteh ga ada PR? "
"Udah teteh kerjain tadi di counter.. sambil nunggu pembeli. "
"Oh iyah atuh.. nuhuun ya teh nasi padang nya..Euuugh.. Alhamdulillah kenyang... nikmat! "
Aku menengok ke arah Fajar, ia sedang menjilat ketiga jarinya.
"Heheh.. apa teh? ini.. " Ia menunjukkan jari yang sudah dijilat, "Kata pak ustadz.. Rasulullah.... "
"Menjilati jari ketika selesai makan bertujuan untuk menjaga keberkahan dari makanan itu sendiri, sebab manusia tidak tahu letak keberkahan dari makanan yang dimakannya." Aku memotong ucapan Fajar dan menebak apa yang akan di ucapkan nya.
"Hehhhe... " Kami berdua terkekeh, aku sudah sangat hafal adikku itu memang sangat pintar. Ia sudah tau banyak hal di usianya yang masih 8 tahun.
"Jangan lupa kunci pintu ya Jar..! "
"Iyah teh... "
***
Aku merebahkan diri di tempat tidurku yang sama sekali tidak empuk.
Bagaimana tidak, tempat tidurku ini terbuat dari kapuk dan bukan dari busa ataupun spring bed yang nyaman seperti orang-orang.
Alhamdulillah... aku masih bisa bersyukur, meskipun tinggal di rumah yang kecil dan dengan atap reyot dan bolong-bolong. Tapi aku masih bisa merasakan bagaimana nyamannya tidur di rumah.
Sempat khawatir bila hujan deras seperti tadi, atap akan bocor dan rumahku akan di genangi air. Tapi ternyata Fajar sudah sigap ,kulihat ember berjejer dimana-mana untuk menampung air hujan.
Seketika pikiranku menerawang ke kejadian tadi siang, melihat betapa antusias nya anak-anak jalanan itu mendapat roti.
Mereka banyak yang putus sekolah, malahan.. anak umur 4 tahun sudah di beri tanggung jawab oleh orangtua nya untuk meminta-minta.
Mereka di biarkan tidur di pinggir jalan untuk menarik simpati dan kasihan orang-orang.
Kita semua pasti tahu atau pernah bahkan sering melihat anak-anak usia sekolah yang seharusnya belajar tapi malah mengemis di simpang lampu merah.
Sebenarnya saat itu mereka sedang belajar, iyah..belajar menghadapi hidup yang begitu keras dan sulit yang mereka jalani.
__ADS_1
Anak-anak berusia dibawah 6-15 tahun yang mengemis di jalan itu memiliki nasib yang ga seberuntung kita.
Pada faktanya anak-anak pengemis ini memang tidak sekolah, karena mereka mengemis di saat jam orang-orang pergi sekolah dan kerja. Ada yang mengemis setengah hari saja, ada pula yang seharian hingga malam hari.Bahkan dalam keadaan cuaca apapun, mereka tetap tak bergeming.Tidur di jalanan meskipun kehujanan dan kepanasan.
Di lihat dari segi nurani dan kacamata kita, memandang perbuatan mereka yang meminta-minta memang negatif. Tapi.. setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana riang nya anak-anak itu dengan hanya mendapatkan roti. Sungguh pintu hati ku sangat terketuk..
Bukan mau dan ingin nya mereka untuk mengemis, bukan mau da ingin nya mereka untuk meminta-minta... karena pasti mereka juga ingin bersekolah, ingin makan makanan enak.. ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Ingin di sayang oleh orangtua juga di manja.. di belikan mainan juga pakaian bagus ataupun jalan-jalan ke tempat wisata.
Apa daya.. Tangan-tangan kecil dan mungil itu, badan kurus dengan kulit gelap dan pakaian lusuh. Rambut acak-acakan tak terawat dan kaki yang terluka juga berbelah akibat sandal jepit yang sudah usang juga salingsingan.
Bukan salah anak-anak itu menengadahkan tangan pada setiap pengendara ataupun para pejalan. Kebutuhan... tuntutan.. kesulitan.. dan kekurangan yang menuntut mereka untuk menjalani dan memikul beban dari orangtua mereka yang tidak mampu.
Atau bahkan mungkin, mereka sudah tidak mempunyai orangtua?
Atau mungkin perlakukan dan tindakan kekerasan adalah dalang dari ini semua?
Entahlah..
Satu hal yang pasti, mereka juga ingin tumbuh dengan baik..Ingin mendapatkan perlindungan yang layak, juga kasih sayang yang melimpah.
Aku mengusap dada, menetralkan hati yang begitu pilu tapi juga bahagia mengingat tadi bermain dan banyak bercerita dengan mereka.
Ternyata.. hidupku jauh lebih beruntung di banding mereka.
Pela..
Ayo semangat berjuang..
Singsingkan baju dan gapai semua angan, jika saat ini adalah saat dimana titik terendah dalam hidupmu. Maka suatu hari kau akan berada di puncak paling tinggi.. berhasil meraih mimpi.
Hilangkan kelabu hidupmu dan warnai hati dengan indah warna-warni ..
Sesuai dengan namamu Pelangi..
Bersyukurlah.. Masih ada ibu yang senantiasa mengasihi, membalutmu dengan jutaan do'a do'a nya..
Ibu...
Do'akan anakmu ini..
Karena hanya dengan do'amu, aku bisa menghadapi dunia.
***
__ADS_1