
Pelangi
"Pelaaa.. Alhamdulillah kita udah dapet tempat, lagi di renovasi dan design ulang interiornya.. mungkin sekitar 2 mingguan lagi udah bisa di tempati Pel.. "
Begitu kata teh Ayung, saat aku menghubungi nya lewat telpon.
Aku pun sudah mengajukan surat resign dan sedang proses acc oleh pemilik cabang SPBU di tempatku bekerja, karena katanya.. kalau ingin resign harus mengajukan dari jauh-jauh hari.
Agar sebelum resmi keluar, sudah ada yang menggantikan posisiku.
Banyak yang menyayangkan aku keluar dengan cepat, padahal omzet disini sudah melebihi omzet SPBU lain.
Selain daripada jalur utama angkutan umum, disini juga merupakan jalur lain menuju tempat wisata Lembang yang banyak di kunjungi wisatawan saat weekend, selain jalur setiabudhi.
Hatiku sudah bulat memutuskan untuk menerima tawaran teh Ayung saja.Selain aman karena jadwal kerja hanya sekitar 7 jam dari pagi hingga sore hari, aku juga bisa belajar ilmu agama pada teh Ayung.
Selama ini, hidup aku datar-datar saja. Shalat jika memang waktunya shalat, mengaji hanya kadang-kadang jika sempat dan puasa jika datang bulan suci.
Hari ini karena libur, rencana nya aku akan membeli beberapa potong kerudung di pasar kaget.
Aku malu, masa aku kerja di gallery yang mengusung tema syar'i tapi bajuku masih ****.
Benar, kata teh Ayung memang harus di paksakan. Nanti juga akan terbiasa.
"Teh Pela.. Mau kemana? pagi-pagi sudah rapih begini? " Fajar menghampiri ku, saat aku sedang menyematkan jarum pentul di bawah dagu.
Aku bertekad, ingin belajar pakai kerudung mulai dari sekarang.
"Mau ke pasar kaget Jar.. Mau beli kerudung! "
"Ma Syaa Allah.. bener teh? teteh mau belajar pake kerudung? "
Aku mengangguk.
"Alhamdulillah...Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:'Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih adalah wanita yang tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahram.'.. "
Aku tertegun sebentar, aku memang pernah membaca azab tentang wanita yang tidak menutup aurat nya, tapi hanya selintas meresapi nya dan setelah itu mengabaikan nya.
"Ada sedikitnya 15 azab bagi wanita yang ga menggunakan hijab selama hidup di dunia teh... " Fajar kembali mengeluarkan suara.
"Iyah Jar.. teteh tau.. Udah jangan di jabarkan.. teteh ngeri! " Kataku, enggan mendengar apa yang akan di katakan adikku itu karena menurutku sangat mengerikan.
"Yang paling serem tuh bakal kekal di neraka teh.. Selama itu juga bakal di gantung dengan rantai neraka sampai ke ubun-ubun, memakan badan sendiri.. buta mata dan telinga... "
"Fajaaaaaar.. STOP! teteh udah pernah baca Jar.. jangan di terusin plis! Ini teteh kan lagi belajar Jar.. jangan menghakimi! "
"Yeee.. Siapa yang menghakimi sih? Fajar hanya mengingatkan teteh.. sebagai adik yang baik dan sayang sama teteh nya, karena Fajar sudah besar.. jadi wajib bagi Fajar buat ingetin. Fajar ga mau kelak di akhirat berpisah sama teteh.. " Fajar menunduk.
"Eh Iyah.. maaf.. maaf.. Maksud teteh bukan gitu.. Makasih ya adikku sayang.. Udah ingetin teteh mu yang sering khilaf ini! Fajar pinter banget sih.. Udah besar mau jadi ustadz ya? " Kataku bercanda. Karena melihat raut wajah adikku yang sedikit memberengut.
"Aamiin.. Iyah Fajar pengen jadi pengemban dakwah.. Suatu hari Fajar ingin kuliah di Kairo Mesir! " Ia pun berlalu meninggalkan kamarku.
"Aamiin Jar..Ternyata kamu serius..Semoga mimpi kamu terkabul, in syaa Allah teteh akan berusaha untuk memperjuangkan mimpi kamu. " Aku berkata lirih, sambil merapihkan kerudung yang sedari tadi susah untuk ku bentuk.
Baiklah Pela..
Awali semua dengan Bissmillah...
***
Hari ini adalah Grand Opening, atau acara pembukaan Gallery wo nya teh Ayung dan A Senja yang mereka beri nama 'Embun Wedding Planner'.
Rencana nya, papa teh Ayung ingin agar acara di selenggarakan dengan meriah.
__ADS_1
Tapi tentu saja, teh Ayung dan A Senja menolak.
"Lebih baik dana nya di alokasikan untuk membangun mesjid atau di salurkan pada yayasan saja. "
Begitu kata mereka, aku mendengar percakapan beberapa hari sebelum hari ini datang.
Alhasil, hanya di adakan acara syukuran kecil keluarga teh Ayung dan A Senja saja yang datang. Juga beberapa karyawan baru.
"Pela.. Kamu dapat job perdana lusa, dan langsung ke luar kota Pel.. " Teh Ayung berseloroh, saat kami sedang berbincang mengenai job desk ke depan nya.
Aku terperangah, "Aku teh? memangnya kemana? "
"Kita dapat klien orang Yogyakarta, beliau memang tinggal di Bandung sekarang. Tapi ingin menyelenggarakan acara pernikahan nya di kampung halaman. Jadi lusa kita survey lokasi sama-sama.. "
Aku menggigit bibirku ragu, "Tapi teh.. Aku izin dulu ibu ya, trus ke sana nya naik apa teh? "
"Kita naik pesawat Pel.. efisien waktu.. Lagian kita cuma nginep satu malam.. Teteh juga kan riweuh bawa Embun.. "
"Sayang.. Sepertinya, kita ga bisa ikut.. Aku ada acara di kantor ayah. " Tiba-tiba a Senja menghampiri kami.
"Duuh.. gimana dong, masa Pela sendirian? ini job desk perdana dia lho.. Emang ada acara apa di kantor ayah? " Teh Ayung terlihat khawatir.
"Gampang.. Nanti aku suruh klien kita buat jemput Pela disana, hanya survey lokasi kan? pasti Pela bisa.. cuma foto-foto tempatnya aja!"
"Ya tapi kan.. kita juga perlu ketemu vendor yang disana.. Atau aku sama Pela aja berdua kesana gimana? boleh ya.. ya.. ya..! "
"Ngga.. Aku ga izinin kamu pergi tanpa Embun, dan aku juga ga izinin kalau kalian cuma berdua! "
"Kan ada Pela.. "
A Senja tetap keukeuh dan menggeleng kan kepalanya, sementara teh Ayung hanya mendelik dan mendengus pasrah.
Melihat perdebatan mesra antara mereka, aku hanya terkekeh sendiri.
"Teh.. Aku berani ko teh.. In syaa Allah. " Kataku, meyakinkan teh Ayung.
Aku menggeleng. "Ngga sih teh..Tapi aku kan bisa bertanya, masih di Indonesia teh.. "
"Jangan.. aku khawatir.. kamu kan cewek. Mending kita cancel aja klien yg ini! "
"Lho.. ko cancel sayang? " Tanya A Senja heran.
"Aku aja ga pernah jalan sendiri Pel.. jangan pokoknya! "
"Hehhe.. itu kan teh Ayung, aku mah biasa ke mana-mana sendiri teh.. Beneran! "
Lagipula, aku merasa kagok kalau misalkan kami jadi pergi bersama. Pembawaan sifat a Senja yang agak dingin membuat aku merasa agak segan.
Lain hal jika ia berhadapan dengan teh Ayung... Sepertinya seluruh anggota tubuhnya berkata bahwa teh Ayung lah satu-satunya perempuan bagi a Senja.
"Ya udah.. Gini aja,aku pokoknya pengen ada jaminan kalau Pela disana bakal terlindungi dengan baik..Temani sama salah satu SPG. " Tegas teh Ayung, dan di jawab dengan anggukan dan seringai lebar oleh suaminya.
Akhirnya, kami sepakat bahwa aku akan pergi bersama Wulan.
Setelah diskusi selesai, aku di panggil oleh teh Ayung untuk segera ke ruangannya.
"Pela.. Sini deh, teteh punya sesuatu nih buat kamu. " Teh Ayung memberikan beberapa paper bag besar padaku.
Aku mengernyit. "Apa ini teh? " Tanyaku, sambil membuka sedikit bagian atas paper bag dengan ragu.
"Hadiah buat kamu karena udah bersedia membantu teteh di gallery.. "
"Hah? Kan kerja juga belum di mulai teh.. "
__ADS_1
Teh Ayung mengendikkan bahu, dan tersenyum penuh arti.
"Sebagai penghargaan sesama perempuan yang sangat bahagia.. Melihat orang terdekat menutup aurat untuk menjaga kehormatan nya." Kemudian teh Ayung mengerling. Ia mendekat dan mendekapku ke dalam pelukan hangat nya.
"Teteh seneng dan bahagia banget Pel.. Lihat kamu pakai hijab.. "
Aku tersenyum kaku.
"Salah satu kebahagiaan seorang muslimah adalah melihat sahabatnya menutup aurat.. Kamu akan mengalami suatu perubahan besar dalam hidup kamu.. Kamu harus kuat! Disitulah letak makna hijab itu sendiri. Teteh do'a kan, semoga kamu bisa istiqomah. Merasakan bagaimana nikmatnya suatu proses dalam berhijrah.. "
"Makasih teh Ayung.. Tapi hijab aku masih belum sempurna.. " Aku menunduk malu.
"Tak apa Pel.. Di hari pertama kamu mengenakan hijab, kamu pasti akan merasa sejuk.. Tenang.. Tentram dan banyak energi positif yang kamu rasakan.. Karena orang terdekat yang sayang sama kamu pasti muji kamu. "
"Setelah seminggu.. Sudah banyak orang yang mengetahui bahwa kamu kini berhijab, akan ada banyak juga pro dan kontra dari orang-orang yang ngeliat kamu. Misalkan ini ya... Mungkin bakal ada orang yang bilang : Wah udah tobat lo!... Ada angin apa lo kerudungan?..."
Aku menaikan alis lalu kemudian mengangguk.
"Naah.. Satu bulan berjalan, kamu pasti ngerasa kalau stok hijab kamu tuh monoton, itu-itu aja.. Apalagi kalau ga ada yang macth sama baju yang kamu pake.. "
"Hingga bulan ketiga berhijab..mulai deh bermunculan beragam hal yang mampu menggoyahkan keyakinanmu untuk berhijab.. Disitulah letak ujian nya Pel.. "
"Apalagi.. Seumuran kita, ngeliat temen-temen banyak yang semakin cantik karena ngikutin trend terkini.. Rambut di inilah.. di itulah.. Bakal ada perasaan pengen kaya mereka. Di dukung sama...terkadang pakai kerudung itu bikin pusing karna inner yang kita pake terlalu ketat..jadinya migrain. "
"Tapi pada akhirnya, setelah beragam rintangan yang sudah kamu lalui beberapa bulan itu, akan menjadikan kamu yakin atas jalan yang telah kamu pilih.. "
"Beragam pujian, cacian, ucapan selamat atau bahkan hinaan selama kamu berhijab, akan mampu menjadikan kamu wanita yang yakin atas jalan yang telah kamu pilih, yaitu berhijrah dan berada tetap di jalan-Nya. "
"Hijab yang kamu kenakan akan membantu menjaga atas segala perbuatan yang akan kamu lakukan.. Jadi salah besar, kalau ada yang bilang hijab in hati dulu..Memakai hijab itu kewajiban.. Bukan Pilihan! "
"Aduuuh maaf yaaa.. ko teteh jadi ceramah sih.. padahal teteh akui, kalau teteh aja masih banyak salahnya.. " Teh Ayung terkekeh.
Aku menyunggingkan senyum dengan merekah, justru aku sangat menyukai ceramahan teh Ayung.
"Ngga ko teh.. Yang teteh bilang itu betul. "
"Semua yang sedang kita jalani memang butuh proses. Termasuk keyakinan atas hijab yang kamu kenakan demi menjalankan ketentuan Islam. Selama kamu yakin atas pilihanmu, insya Allah hijabmu senantiasa membantu menjaga segala pandanganmu, dan menjaga hal yang memang seharusnya tidak kamu lakukan.."
"Teteh juga dulu pakai hijab karena memang di paksa dari kecil sama papa, sering banget protes kenapa ga seperti anak-anak cewek lain yang di bebasin sama orangtua nya.. Tapi seiring waktu dan bertambah dewasa, akhirnya teteh sadar kalau apa yang papa dan mama terapkan adalah untuk kebaikan teteh agar teteh terjaga dari kecil. "
"Makasih ya teh.. Udah banyak ngebantu dan ngasih tau, juga ngingetin aku. Aku seneng ko denger petuah teteh. Berasa punya kakak cewek..Ini banyak banget teh, semua buat aku?" Tanyaku, Masih tak percaya, pasalnya.. setelah ku lihat, paper bag itu berisi banyak sekali kerudung.. Rok dan juga gamis.
"Sama-sama Pelaa.. semoga bermanfaat ya.. "
"Pasti.. In syaa Allah teh... "
"Ya udah.. Kita pulang yuk, udah sore nih.. Pasti Embun udah gerah pengen mandi!"
"Iyah teh.. "
Kami pun berjalan menuju ruang tamu depan, semua telah menunggu termasuk Embun yang matanya sudah berbinar saat melihat teh Ayung.
"Umma.. Umma.. Ebun au es klim yaaa.. Kata baba boyeeh ko. " Sambil melompat-lompat, anak menggemaskan itu menghampiri kami.
Kami semua tertawa melihat tingkah lucu Embun yang ceria.
Satu persatu pun meninggalkan gallery dan terakhir adalah aku yang memegang kunci.
Saat menyimpan kunci ke dalam tas.Tiba-tiba gantungan kunci berbentuk hati yang menggantung di resleting tas ku terjatuh.
Dengan seketika aku mengingat Angka.
Sudah 2 tahun Angka..
__ADS_1
Sebenarnya dimana kamu?
***