
Ibu Kinanti
"Saya mau pamit pulang dulu ke Bandung bu.. "
"Lho nak Angkasa udah mau pulang? " Aku menghampiri anak lelaki tampan di depan pintu yang sekarang sedang berjalan ke arahku.
"Iyah bu.. Eyang saya sedang kritis, dan sudah lama sekali saya ga pulang ke Bandung. "
"Kalau gitu hati-hati ya.. Kapan-kapan, ajak Laras juga.. Katanya dia pengen banget main kesana! "
"Baik bu..Kalau begitu saya permisi.. Assalamu'alaikum. " Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tanganku takzim.
Hhh..
Aku menghembuskan nafas, kembali menarik nafas lagi panjang.
Ada getaran yang tak tergambar kan saat berada dekat dengan anak itu.
Aku seperti menemukan anakku..
Anakku Dirgantara..
Yang ku kandung selama 9 bulan dan ku lahirkan.
Dari pertama kali melihat sosok nya, perasaan hangat tiba-tiba menjalar ke hatiku. Sorot mata nya saat menatapku mengandung arti.
Sungguh dalam.
Bagaimana kabar keluarga di Bandung?
Mas Pandu, maafkan aku yang tak bisa menemani di saat-saat terakhirmu mas.
Aku tahu, aku sungguh berdosa pada mas Abi karena belum bisa melupakan mu.
Selama ini, ia lah yang dengan sabar menjaga dan merawatku hingga sekarang.
Semoga mas Pandu dan juga anak kita tenang disana.
"Ada apa Kinan? " Tiba-tiba mas Abi sudah berdiri di depanku.
Ia berjongkok dan menarik tanganku dan menggenggam nya erat.
Aku menggelengkan kepala.
"Tapi kamu seperti habis menangis. " Selidiknya, dan aku tersenyum hambar.
"Aku ingat anakku mas.. " Dengan lirih, aku mencoba menekan perasaan.
"Kinan.. Sudah ratusan kali mas bilang, anak kamu pasti sudah tenang disana.. Jangan bersedih dan menangisi orang yang sudah lama meninggal. "
"Iyah.. Maafkan aku.. " Lagi-lagi, mas Abi hanya berkata demikian jika aku membahas tentang anakku.
Ratusan kali ia bilang begitu, tapi sebanyak itu pula entah kenapa aku sangat yakin kalau anakku masih hidup.
Selama ini, dengan segala keterbatasan ku ini. Sangat sulit sekali bagiku untuk mencari tahu informasi tentang keluarga di Bandung.
Mas Abi seperti menutup semua akses agar aku tidak tahu apa-apa.
Ya Allah Sebaik-baik Penolong.
Tolonglah hambaMu ini agar di beri kesempatan untuk bisa sekali saja mendapatkan kabar tentang keluarga di Bandung.
Satu-satunya orang yang aku kenali hanyalah Dinar, sahabat kecilku.
Tapi ia tak pernah bercerita tentang apa-apa, seolah juga ingin menutupi semua.
Mas Abi memang baik, bahkan sangat-sangat baik. Sebagai sahabat dari mas Pandu.. ia dengan ikhlas menjadikan ku sebagai istrinya setelah beberapa tahun kepergian mas Pandu.
"Kinan.. Mas sangat berharap kamu dengan secepatnya bisa sembuh.. Mas sangat rindu.. "Mas Abi mengelus tanganku dengan lembut.
__ADS_1
Aku hanya menyunggingkan senyuman kaku, sangat tahu dan hafal bagaimana tersiksa rasanya menjadi dia. Seorang suami yang tak pernah sekali pun menyentuh istrinya.
Dari awal aku sudah menolak permintaan nya untuk menjadikan aku sebagai istri nya. Tapi ia bersikeras dan berjanji akan selalu menerima aku apa adanya.
"Sabar mas.. Aku pun ingin segera sembuh, ga mau terus merepotkan mu.. " Kataku tak enak hati.
"Kamu bicara apa? Mas sama sekali ga merasa di repotkan.. " Mas Abi mendorong kursi roda ku menuju ke arah sofa.
"Mas lihat tadi nak Angkasa seperti berpamitan.. "
"Iyah mas.. Dia mau pulang ke Bandung, katanya eyangnya sakit. "
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja Laras dengan Angkasa? " Usul mas Abi, dan aku tanggapi dengan senang hati.
"Waah.. Aku setuju sekali mas.. Aku menyukai anak itu, dan sepertinya mereka memang saling menyukai. "
"Tapi nanti saja, kita tanya kedua nya dulu.. Jangan kita paksa! "
Aku mengangguk mengerti, dan kami berdua duduk di sofa sambil menyalakan televisi.
***
Angkasa
Jujur saja, aku sudah sangat ingin sekali untuk pulang ke Bandung.Tapi 2 bulan ini jadwal kuliahku sangat padat.
Untung saja, bulan ini ada tanggal merah menyambung ke weekend. Aku menyempatkan diri pulang ke Bandung untuk 2 hari.
Ingin meminta maaf pada eyang, karena sebagai cucu nya.. Aku sangat keterlaluan sudah meninggalkan eyang dalam keadaan kritis.
Juga, ingin sekali bertemu dengan seseorang yang sangat ku rindukan.
Sengaja tidak memakai mobil dan menggunakan alat transportasi udara agar bisa menghemat waktu.
Aku sudah berada di Husein, dan dengan cepat menyetop taxi karena sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah.
***
Aku tak sanggup berkata-kata, melihat banyaknya selang yang menggantung di tubuh eyang.
Pela memang bilang, kalau eyang sudah tidak bisa apa-apa.
Tapi.. Aku tak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini.
Seketika ragaku luruh, aku terduduk di lantai.
"Maafin Angka, eyang.. Maafin Angka yang udah jadi cucu durhaka. " Sambil menggenggam tangan eyang yang lemah.
Eyang menggerakkan tangan nya pelan, dan membuka kedua mata dengan pelan.
"A.. A.. Ka.. " Lirih eyang sambil menggerakkan tangan nya.
"Iyah Angka disini eyang.. "
"Iii... Nan.. "
"Ibu Kinan? Angka sudah menemukan ibu, sebentar lagi Angka bawa bertemu eyang.. "
Eyang hanya mengangguk pelan. Lalu kembali memejamkan mata.
"Agan setiap hari menanyakan kabar den Angka.. " Ibu Pela menghampiri ku. "Den Angka sehat dan baik-baik saja, Alhamdulillah.. "
"Maaf saya udah merepotkan ibu dan Pela selama ini bu.. "
"Kami tidak merasa di repotkan den.. Kami sungguh menyayangi agan.. Sebaiknya den Angka istirahat, pasti kecapean.. Kata dokter juga agan tidak di perbolehkan banyak bicara dulu..Baru di beri obat dan seperti nya beliau mengantuk."
"Terima kasih bu.. " Aku pun meninggalkan kamar eyang, dan dengan cepat berjalan menuju kamarku.
Ruangan ini masih seperti dulu.. Tak ada satupun yang berubah.
__ADS_1
Merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang selama lebih dari 2 tahun ini tak ku tempati.
Pela..
Aku teringat pada Pela.
Sepertinya sekarang ia sedang bekerja.
Aku akan bertanya pada ibu, dimana tempat kerja Pela. Ingin cepat-cepat meluruskan permasalahan kami.
***
"Pela bekerja di sebuah gallery di jl. Martadinata... den Angka mau kesana menemui Pela? Tapi sepertinya sekarang masih bekerja den.. Ini masih siang. "
Begitu kata ibu Pela, saat aku menanyakan alamat tempat kerja nya.
Dengan penuh semangat, aku mengambil kunci mobil yang ada di dalam laci nakas. Mobil lain yang biasa di gunakan oleh pak Umar.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 35 menit, akhirnya aku sampai di depan gallery tempat Pela bekerja.
Sebuah gallery kecil dengan nama 'Embun Wedding Planner'.
Kata ibu, gallery ini adalah milik teh Lembayung dan a Senja..kakak kelas kami dulu.
Dari seberang, aku memperhatikan dari kejauhan.
Memutuskan untuk diam dulu di dalam mobil dan melihat situasi.
Tak lama berselang, aku melihat Pela keluar dari pintu kaca.
Memakai kerudung berwarna merah muda senada dengan gamis nya, panjang hingga menutupi dada.
Aku terpana melihat perubahan Pela yang sekarang, entah mengapa aku merasa aura kecantikan nya bertambah beberapa kali lipat dari dulu sebelum memakai hijab dan memakai pakaian syar'i seperti sekarang.
Hhh..
Lagi-lagi aku merutuki kebodohan ku pernah melepaskan hijab nya karena syahwat bejad ku.
Aku menyesal.
Nyatanya, dengan pakaian seperti itu justru membuat rasa dan asa di dalam hatiku semakin dalam dan besar.
Dan memang benar..
Hijab tak sekedar menjadi pelindung bagi perempuan,melainkan menggambarkan seberapa besar kekuatan dan keindahannya.
Aku mengusap wajahku kasar, memperhatikan gerak-geriknya sekarang yang jauh lebih anggun.
Mengerutkan dahi, karena kini Pela sedang membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Ia bisa menyetir?
Aku menyunggingkan senyum, bersiap untuk mengikutinya dari belakang.
Setelah membelah jalanan yang panas karena terik nya matahari, Pela membelokkan mobilnya di salah satu cafe yang lumayan besar.
Ku tunggu beberapa saat, agar ia bisa berjalan lumayan jauh di depan ku.
Duduk berada tak jauh dari tempat duduknya.
Ternyata, ia sedang janjian bertemu dengan klien.Karena ku lihat, ia tengah ber presentasi di depan mereka.
Sungguh, Pela sekarang berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan mengagumkan.
Ia kini sangat indah..
Ia pun terlihat seperti berlian.
Juga laksana mutiara di langit ketujuh yang terjaga.
__ADS_1
Dan aku pun, jatuh cinta semakin dalam.
***