
Angkasa
Aku bahagia, seharian ini bisa kembali mengulang kebersamaanku dengan Pela.
Si bebek yang menyebalkan kini berubah menjadi Pela yang sedikit sabar.
Meskipun tadi sempat marah setelah mendengar kata-kata Rindu, akhirnya ia mau juga mendengarkan penjelasanku.
Ada sedikit yang mengganjal di hati.
Pela sekarang memang lebih cantik dengan mengenakan hijab nya.
Tapi, aku jadi ga bisa dengan leluasa menggenggam tangan dia. Meski akhirnya ia mau, saat aku bilang kalau aku merindukan nya.
Kami berdua mengulang kisah, memandangi gemerlapnya lampu-lampu kota di kegelapan malam.Hanya beda nya,kini kami berada di kota yang berbeda.
Setelah menghabiskan waktu di bukit Bintang,kami berdua memutuskan untuk pulang ke hotel. Sebenarnya aku masih enggan melepas kebersamaan hangat ini.
***
Mau tak mau, aku mengantarkannya hingga pintu kamar.
Beberapa kali mengetuk pintu, sama sekali tak ada jawaban dari dalam.
"Duuh gimana nih Angka! gara-gara kamu ajak aku sih.. Jadi Wulan udah tidur. Mana aku ga bawa kunci! Terus aku tidur dimana? "
Aku menyeringai, dan tiba-tiba ide licik terlintas di benakku.
Awalnya Pela menolak, namun aku memaksa dan menyeretnya untuk masuk ke dalam kamarku.
Deg.. Deg.. Deg..
Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Untuk menetralisir, aku pun membaringkan diri di tempat tidur.
Pela duduk di sofa, dan aku segera membersihkan diri masuk ke kamar mandi.
Mencoba menghilang pikiran-pikiran negatif juga hasutan-hasutan setan yang tiba-tiba datang.
Batinku bergemuruh.
Sambil menatap pantulan diri, aku membasuh wajahku berkali-kali, dan memukuli kepala agar segera tersadar kalau pikiran bejad ku sebagai lelaki segera menghilang.
"Memangnya hubungan kalian sebenarnya apa sih? Lo sendiri udah pernah nyatain perasaan sama dia belum? Jangan bilang belum pernah? cewek mah paling ga suka di ghosting. "
Teringat kata-kata Rindu beberapa waktu lalu, saat aku bercerita padanya kalau aku merindukan Pela.
Aku memang dulu tak sempat bilang pada Pela,makanya aku pengen cepat bilang.Meskipun aku takut kalau Pela menolak ku.Tapi ini adalah kesempatan ku.
Arrrghhh..
Kenapa jadi mendadak cemen begini Angka! tinggal bilang padanya kalau selama ini sayang kan!
Gampang!
Aku membuka pintu kamar mandi, dan membuka kaos di depan nya.
Raut wajah Pela pun menampakkan keterkejutan.
Dia memalingkan wajahnya, dan membuatku jadi salah tingkah.
Seperti biasa kami akan berdebat kecil hingga membuat ia melemparkan bantalan sofa namun aku bisa langsung menghindar. Kulihat wajahnya bersemu merah dan dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi.
Aku merebahkan tubuh di tempat tidur dan berusaha memejamkan mata. Bukan nya mengantuk, namun bayangan wajah yang selama 2 tahun yang kurindukan itu selalu mengganggu.
Ceklek.
Pela membuka pintu, ku tebak.. Ia kini sedang mengambil tas dan kembali masuk ke kamar mandi.
Aku berpura-pura tidur.
Namun entah mengapa .. Teringat pernah sesekali menonton drama dengan Rindu, saat aku berkunjung ke rumahnya.
Drama itu bercerita tentang kisah dua orang sahabat, lelaki dan perempuan. Si lelaki seorang petinju.. dan si perempuan seorang SPG di mall.
__ADS_1
Mereka bersahabat sejak kecil. Namun seiring berjalan nya waktu, meski masing-masing dari mereka punya pacar. Tapi hubungan itu selalu gagal.
Si perempuan memang ga pernah mau di sentuh oleh pacarnya. Dan selalu di putuskan maupun cuma di manfaatkan.
Sang sahabat lelaki lah yang selalu membela dan selalu ada untuknya.
Hingga akhirnya mereka menyadari kalau mereka saling sayang.
"Kalau menurut gue, cewek yang ga mau di sentuh itu berarti dia emang ga sayang.. Lah trus ngapain pacaran kalau cuma sekedar ngobrol tiap ketemu. Ya kali lo anak kecil! "
"Skinship itu juga bisa menunjukkan dan meningkatkan rasa kasih sayang dan memperkuat hubungan. "
Itulah jawaban Rindu saat aku bertanya kenapa si cewek ga mau di sentuh oleh pacarnya.
Tapi mau jika dengan sahabatnya.
"Persahabatan laki-laki dan perempuan adalah comfort zone yang sulit bertahan secara platonik untuk waktu lama, walau bisa saja awalnya murni demikian. Perempuan pengen santai selamanya dalam comfort zone, sementara kebanyakan laki-laki justru gagal menggunakan comfort zone sebagai batu loncatan untuk ke zona-zona lainnya. Perempuan melihat kenyamanan, laki-laki melihat kesempatan. Itulah yang akan normalnya terjadi. "
Ucapan Rindu lagi-lagi terngiang di benakku.
Memang benar, bisa di katakan bahwa aku lah yang pertama kali menyadari kalau Pela bukan hanya aku anggap sebagai sahabatku.
Hhh..
Berulangkali aku mendengus.
Rasanya, aku tak rela harus berpisah dengan Pela esok hari.
Ingin rasanya merengkuh sosok nya erat ke dalam dekapan.
Aku masih berpura-pura tertidur. Sibuk menghilangkan pikiran dan naluri normal ku di saat seperti ini.
Tampaknya Pela sudah selesai membersihkannya diri. Meski mataku terpejam namun indera pendengaranku masih menangkap gerak-gerik nya.
ia sedang duduk di sofa, dan entah mengapa aku merasa ia tengah memandangiku.
Sejurus kemudian, dia berjalan mendekatiku dan hembusan nafasnya bisa kurasakan.
Ia sedang berada di pinggiran tempat tidur.
Deg.. Deg.. Deg..
Kenapa dia mendekat padaku yang sedang melawan keinginan liarku.
Pela.. Jangan sentuh!
Sedetik aja kamu sentuh apapun yang ada di tubuhku. Aku ga bisa menjamin kali ini aku bisa ngelepasin kamu seperti dulu Pel.
Aku sudah lebih dewasa sekarang, meskipun aku ga pernah bersentuhan dengan perempuan lain.
Tapi aku normal.
"Apa yang kamu kerjain selama 2 tahun ini Ka? sampe kamu jadi kurus gini! rambut kamu juga panjang ga keurus.. " Dengan lirih, Dia mengusap rambutku pelan dan penuh sayang.
Daaaammmm..
Kenapa dia menyentuh ku?
Ayolah waras Angka!
Jangan! Ingat dosa!
"Night.. night Angka... " Dia beranjak, namun aku sungguh tak bisa lagi menahan.
Ku tarik lengannya, kemudian tubuhnya limbung dan jatuh tepat di atas tubuhku.
"Eh.. Ka-kamu belum tidur? " Katanya gugup.
"Kamu kangen juga sama aku kan Pel? "
"Si-siapa yang begitu? " Ia berusaha menyangkal, namun aku tau bahwa hatinya berkata lain.
"Sebentar aja Pela.. Aku pengen peluk kamu! " Aku mendekap nya erat, meskipun ia terus meronta.
Aku tau aku salah, tapi aku tak kuasa.Hingga ia dengan sekuat tenaga ingin melepaskan. Aku pun merenggangkan pelukan.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu Pela.. "Akhirnya, kata itu terucap dari mulutku.
Ia tertegun sebentar lalu merubah posisi menjadi duduk di sebelahku.
"Kamu bercanda? "
"Aku ga bercanda.. Aku udah mau bilang saat malam prom dulu! "
"Angka.. Tapi.. "
Maafkan aku Pela.. Dengan begini aku cuma pengen ngebuktiin kalau perasaan ku selama ini ga salah.
Aku juga tau kalau kamu sayang sama aku.
Ku tangkup kedua pipinya dan mengecup indera pengecap nya yang selama ini selalu kurindukan.
Aku sungguh gila.
Gejolak ini tak tertahan saat berada di sampingnya.
Hingga ku benamkan lagi wajahku untuk kedua kali nya, dan ia hanya memejamkan mata.
Apa ini berarti memang kamu juga sayang aku Pel?
Darah ku berdesir, dan aku tak sanggup lagi untuk menahannya.
Tanganku menuntun untuk membuka hijab yang ia kenakan seolah lupa akan apa itu dosa.
Aku sudah gila.
Aku akui... Setan sedang bersorak melihat kami.
Harum wangi surai nya yang kusuka, menyeruak hingga memabukkan dan membuat lena.
"Astaghfirullah... " Tiba-tiba Pela membuka mata dan langsung menyambar merudung yang sudah ku simpan di tempat tidur lalu di pakainya kembali.
"Angkaaaa... A-apa yang akan kamu lakuin Ka! "
"Pel.. Pela... A-aku.. " Aku terbata dan ga tau harus bicara apa. Seperti di tampar berkali-kali saat Pela menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Astaghfirullah.. Angka yang kita lakuin ini dosa Ka! " Ia pun menangis dan membetulkan bajunya yang hampir berantakan.Membuat hatiku seketika terasa perih.
Sambil menyeka air mata, Pela berlari dan meninggalkan aku sendirian.
Plaaak!
Plaaak!
Aku menampar diri sendiri karena merasa menjadi lelaki baji****.
Maafin aku Pela..
Maafin aku..
***
"Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah ********." (HR. Muslim)
Mohon maaf sebelumnya ya readers.....
Ambil baik nya dan buang buruknya,author ingin bikin cerita Pela dan Angka related dgn kehidupan sehari-hari.
Mirisnya memang, yang kita lihat sekarang di lingkungan sekitar kita,di media sosial..dimana2.Anak-anak remaja yang pacaran seperti Pela dan Angka itu banyaak bgt.
Disini, Pela dan Angka sangat salah.. Dan mgkn readers kecewa.
But nothings perfect.. Ga semua perempuan terjaga seperti Lembayung.
Dan ga semua laki-laki badboy lgsg taubat nasuha seperti Senja.
Tapi mereka nanti bakal masing-masing belajar, tentang apa itu arti dari menjaga kehormatan diri.
Ujian mereka sebenarnya, mencari tentang arti mencintai karena Allah... 🥰🥰🥰
***
__ADS_1