
Pelangi
"Angka.. aku sendiri aja,naik angkot ya.. dari sini cuma tinggal naik sekali ko.. " Dengan ragu, aku turun dari mobil dan menyelendangkan tas ku.
"Ikut aku! " Angka menarik tanganku dan menyeretku hingga depan lift.
"Ishh..lepas! aku bisa jalan sendiri! "Aku berusaha melepaskan tangannya.Dan kami pun masuk ke dalam lift.
"Kamu bisa ga bersikap manis kaya cewek, ga usah bar-bar dan banyak ngeyel! " Angka menghardikku, hingga aku hanya diam tak bicara apa-apa.
"Aku udah telat Ka.. ini udah jam 3,kemarin hari pertama udah telat.. masa hari kedua juga!" Keluhku, sambil menyenderkan kepala ke samping.
"Tadi eyang bilang, ga usah kerja! "
"Tapi aku kasian sama ibu.. ibu masih punya banyak keperluan, nah.. biaya di sekolah kita kan ga sedikit.." Keluhku lagi, memukul-mukul tangan sendiri bergantian.
"Aku punya kerjaan buat kamu! "
"Haah? apa? " Tanyaku penasaran, tapi belum sempat terjawab karena pintu lift sudah terbuka.
Ting.
Angka melangkah keluar lift dan mulai berjalan dengan langkah besar nya. Aku mengikuti ia dari belakang dengan sedikit mempercepat langkah.
Ternyata, Angka sekarang sangat tinggi. Beberapa tahun ke belakang, kami masih sepantaran. Tapi sekarang jarak tinggi antara aku dan dia sangat jauh sekali. Ujung kepalaku hanya sebatas bahu nya.
"Kamu mau kemana? "
"Ikut aja! " Dia pun memasuki sebuah toko baju dengan berbagai ragam model remaja yang sedang hits.
Wuuus.
Satu baju ia lempar ke kepalaku,dan aku sempat terlonjak karena kaget.
Wuuus.
Baju kedua juga ia lemparkan ke arahku, untung saja aku langsung bisa menangkapnya.
"Angka.. ini buat siapa? "
"Kamu! " Katanya singkat, sambil terus memilih -milih dress,kaos,sweater dan celana yang berjejer rapih di gawangan dan melemparkan nya satu-persatu ke arahku.
"Buat apa? "
"Kamu cobain! baju kamu butut semua.. udah usang sama bladus! "
"Apa hubungannya sama kamu?ada masalah? mau baju aku jelek kaya gembel juga bukan urusan kamu! "
"Jangan banyak tanya, coba sana di ruang ganti! "
"Terus Aku harus tunjukkin ke kamu gitu setiap baju yang aku coba? kaya di drama-drama? ahahhahah.. " Aku tak bisa menahan tawa, pasalnya aku merasa seperti geum jandi di drama Bbf,atau cewek-cewek first lead di drama yang sedang di make over.
"Yang aku butuhin itu baju seragam, bukan baju buat sehari-hari, lagian ini harga 1 baju bisa buat 4 atau 5 baju yang biasa aku beli.. boros tau ga! " Aku merengut, sambil menumpukkan baju-baju itu di tangan Angka.
"Beneran kamu ga mau? "
"Ogah.. ga mau, bagi aku baju itu bukan kebutuhan primer... Ayo kita keluar dari sini! " Aku pun beranjak, meninggalkan Angka yang masih terduduk.
"Pelaaa... "
"Apalagi Angka?kamu sebenarnya kenapa sih? kamu suka sama aku ya? aku buru-buru! kalau kamu berencana ngebuat aku suka sama kamu.. kamu salah target! aku tuh bukan tipe cewek yang bisa meleleh dengan di beliin barang-barang begitu! " Candaku, melontarkan kata-kata asal.
"Pede banget kamu! yang ada cewek di luar sana antri mau jadi pacar aku! aku cuma kasian ngeliat kamu pake baju lusuh dan itu-itu aja! "
"Ahahahha..... " Lagi-lagi aku tak bisa menahan tawa, memang ada benar nya juga sih, banyak yang suka sama dia,termasuk sahabatku Nina.
"Terserah aku dong..yang pake kan aku, trus apa peduli kamu? "
"Kamu udah miskin, kaya duafa yang butuh di beri sedekah! tapi masih aja sombong! "
Deg.
Aku terdiam, mendengar kata-kata seperti itu memang sudah biasa di lontarkan oranglain padaku. Tapi.. mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Angka, ulu hatiku terasa sakit.
Tanpa berkata apa-apa, aku meninggalkan nya berdiri mematung di tempat.
__ADS_1
Bukan, bukan marah padanya..
Tapi entah kenapa harga diriku merasa terluka.
Padahal, aku memang miskin.. aku tak pernah malu mengakui itu pada siapapun. Tapi kenapa saat Angka berkata begitu aku terluka? padahal selama ini kami memang selalu saling melontarkan kata-kata ejekan.. Kami tak pernah mempermasalahkan karena aku anggap ia sahabat dan teman kecilku..
Tanpa terasa, air mata menetes keluar dari pelupuk mata.
Kenapa aku sedih sih?
Ini bukan Pela.
Pela itu tegar dan ga pernah malu terlahir sebagai orang miskin.
***
Angkasa
Bodoh kamu Angkasa!
Kenapa keluar kata-kata seperti itu dari mulutku!
Pelangi meninggalkanku, ia berlari ..sambil kulihat ia seperti menyeka matanya.
Aku udah bikin dia sedih.
What a stupid thing! Selama ini aku tak pernah sekalipun mempermasalahkan status atau kasta seseorang. Apalagi si bebek adalah teman kecilku. Aku sudah melukai perasaan nya.
Selama ini kami sering melontarkan kata-kata kasar atau saling mengejek. Tapi entah kenapa sekarang aku sangat merasa bersalah padanya.
Dasar mulut sial**!
Niatku baik, hanya ingin memberinya sedikit hiburan dan kebahagiaan dengan membelikan dia baju-baju baru.
Kemarin saat kehujanan, dia memakai baju murah dan tipis begitu karena sudah lusuh. Bagaimana kalau dia sakit?
Apalagi kulihat rumah tempat tinggalnya itu, sudah ga layak pakai dan harus di renovasi. Selama kami satu sekolahan, aku memang lebih sering cuek padanya.
Aku malas. Berurusan dengan perempuan itu sangat menyusahkan, mereka bisa dengan gampangnya melukai.Aku tak pernah mempercayai ketulusan mereka, bahkan mamahku yang selama ini ku anggap tulus mencintai aku dan papah.. ia pergi meninggalkanku sendirian.
Tapi kan si bebek memang bagiku bukan perempuan! seharusnya sikapku biasa aja karena dia kan sahabatku.
Buat apa juga aku peduli padanya?
Sebaiknya aku menyerah,aku ga akan ikut taruhan itu. Walau di paksakan bagaimanapun.. aku memang ga bisa menang. Aku ga bisa..
***
"Cemen lo Ka! " Sungut Marvel, saat aku bilang mundur dari taruhan ini.
"Sorry.. gue ga bisa! "
"Kenapa lo udah nyerah? " Tanya Andi, sambil menyulut rokok dalam genggaman.
"Jangan bilang lo kasian sama dia! kita ga akan macem-macemin dia Ka.. gila aja.. kita cuma taruhan siapa yang bisa jadiin dia pacar! "
"Sama aja lo mainin perempuan! "
"Ok.. gini deh.. kita batalin perjanjian kita.. kita ubah, gue pikir juga keterlaluan kalau bikin si Pela jadi taruhan. Dia cewek baik-baik, gue juga ga tega! " Rangga berseloroh. "Setelah kemarin gue sama dia bagi-bagiin roti sama anak-anak jalanan, gue berubah pikiran! dia cewek tulus..dan gue rasa gue mulai suka sama dia.. " Lanjutnya lagi.
Aku menoleh ke arah Rangga.
"Gue juga.. ngeliat sorot matanya dari dekat, gue jadi kepikiran kalau yang kita lakuin ini salah! " Andi pun ikut menimpali.
"Yah. .ga asik.. siapa yang duluan bikin taruhan, baru beberapa hari udah nyerah! " Ucap Marvel duduk di sebelahku."Tapi gue juga baru nyadar,pas gue liat si Pela dari dekat.. dia manis juga.kalau gue make over pasti ga kalah cantik sama Evelyn. "
"Huuh.." Semua mendengus.
"Gue kagum sama si Pela.. tadi gue nanya sama si Nina tentang dia, ternyata bapaknya dia udah meninggal.. ibunya kerja di Jakarta dan dia punya adik yang masih SD. "
"Segitu niatnya lo nyariin info tentang si Pela..Ga! "
"Hari gini liat cewek kaya dia udah langka.. serius! udah terlalu banyak cewek yang terkontaminasi sama hedonisme, bela-lain demi keliatan cantik,gaul,keren sama pengen di anggap sosialita, mereka banyak yang jadi sugar baby.. " Ucap Rangga memuji si bebek.
Andi dan Marvel manggut-manggut.
__ADS_1
Aku hanya diam, aku memang tak pernah bercerita pada siapapun kalau aku dan Pela sudah kenal dari kecil.
Yang di katakan Rangga memang benar,Pela memang lain dari cewek lain.
Itulah mengapa sampai sekarang aku tak pernah sekalipun menyukai seseorang.Mereka egois.
Bagaimana rasanya suka pada lawan jenis?
Aku tak tau.
"Jadi deal taruhan kita batalin ,ok bro..? " Tanya Rangga pada kami bertiga.
"Deal.. "
"Deal.. "
"Deal.. "
"Alhamdulillah motor gue aman. "
"Uang tabungan gue juga aman.. "
"Arloji kesayangan gue tetap dalam pergelangan !" Semua berloroh dan mengucap lega.
Memang taruhan ini tidak seharusnya terucap, itu semua adalah sikap kekanak-kanakan dan kekonyolan yang bisa berakibat fatal.
Baiklah, tak ada lagi usaha untuk mendekati si bebek Pelangi bukan?
Aku terbebas.. Ga perlu lagi melakukan hal konyol kaya kemarin-kemarin, seperti mengikutinya dan mengajaknya makan, apalagi membelikan nya macam-macam.
Mungkin bagi sebagian cewek memang akan luluh jika di iming-imingi oleh materi. Tapi Pelangi tidak.
"Lo jangan pada protes kalau gue bakalan deketin si Pela ya..!" Ucap Rangga, sambil merapihkan baju dan memakai jaketnya.
"Kemana lo? " Tanya Marvel terheran, karena baru jam setengah 8 malam tapi Rangga sudah siap-siap untuk pulang.
"Mau jemput gebetan! "
"Lo tau dimana si Pela kerja? " Tanya Andi.
"Jelas.. Siapa dulu.. Ranggaa.. "
"Wahh... udah start duluan aja lo! "
"Kasian kalau cewek kaya si Pela di biarin pulang malem-malem sendirian.. "
"Waah.. dia mah cewek strong, kemana-mana naik sepeda aja ga malu. gue bisa bertaruh doi ga bakalan mau lo jemput! " Andi bersungut-sungut. Pasalnya, ia bercerita.. tadi pulang sekolah memaksa Pela buat pergi ke suatu tempat, tapi di tolak mentah-mentah.
Aku menyunggingkan senyum, coba aja gimana susahnya ngebujuk si bebek. Lama-lama bisa naik darah.
"Cewek kaya dia jangan di paksa.. tapi deketin nya pake hati, harus tau taktik nya! "
"Sok-sok an lo! kemaren aja lo baru putus sama si Jasmine!"
"Hahaha.. gue cabut dulu... do'ain semoga doi luluh! "
Rangga pun berlalu, dari cafe basecamp tempat kami biasa nongkrong dan berkumpul.
Ternyata dia serius pengen deketin Pelangi.. Good luck, semoga kamu berhasil ngedapetin hati nya dia!
Tapi aku rasa, ga akan semudah itu.
***
-
-
-
Assalamu'alaykum readers..
Terimakasih sudah membaca Pelangi di hati Angkasa... maafkan jadwal up author yang ga tentu, seperti biasa sedang berkutat dgn real life.. hehhe.
Author juga sudah up I Walk To Remember nya Baiq Indrawati ya readers.. bagi yang berkenan silahkan mampir, tapi baru up 1 bab.
__ADS_1
Salam sayang buat para readers.... 😍😘💕💕..