
Pelangi
Tadi, aku dan Angka selesai melaksanakan kewajiban untuk shalat subuh. Dengan Angka sebagai imam nya.
Entahlah.. bacaan nya sudah benar atau tidak.
Aku lupa, kemarin.. shalat maghrib dan isya terlewat begitu saja.
Karena aku dalam keadaan sangat lemah, dan tak bisa apa-apa. Kalau dalam kondisi begitu.. Apa boleh shalat ku di jamak? Atau bagaimana?
Hhhh.
Aku tersadar, bahwa memang pengetahuanku tentang agama sangat kurang. Bagaimana mungkin.. begitu saja aku tak tau! Hafal hadist juga dari Fajar.
Kan bisa cari lewat internet!
Iyah sih.. memang benar banget. Tapi ponselku itu udah pengen di lem biru. Di lempar beli yang baru.
Aku terus saja mencari pembenaran, karena belum menemukan seseorang yang bisa aku mintai nasehat ataupun pelajaran.
Seketika, aku menjadi ingat teh Ayung. Pasti kalau curhat ke teh Ayung tentang ini... Ia ga akan mencibirku atau memandangku sebelah mata.Karena yang aku tau, pasti teh Ayung punya banyak pengetahuan tentang agama.
Jujur saja aku malu.. Setiap kali belajar tentang agama, begitu saja lewat hanya sebentar di kepala. Tapi kalau menyangkut pelajaran yang lain.. Aku begitu antusias dan bisa berlama-lama membaca buku nya.
Aku sedang terdiam, memandang ke arah luar jendela kaca. Melihat ke bawah sana... ada pemandangan yang menyegarkan mata. Lalu aku pun berjalan keluar balkon kamar...
Sejuk dan segar... Udara pagi ini sangat alami tanpa polusi, mungkin karena kami sedang berada di kawasan yang tinggi, meskipun hawa dingin menyeruak membuat kulitku meremang.Tapi suasana seperti ini sungguh membuat tenang dan damai.
"Pela... " Angka memanggilku. Tapi aku pura-pura ga mendengar. Masih malu dan ga tau harus bagaimana bersikap di depan dia.
"Kamu di panggil ko ga jawab? " Ia menghampiriku, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.Aku menoleh ke arah nya.
"Maaf.. aku udah ngerepotin kamu! " Kataku lirih, teringat bagaimana merepotkan nya aku tadi malam. "Nanti aku cuciin baju kamu deh.. "
"Kamu minta maaf cuma karna baju atau ada yang lain? " Katanya, sambil mengepulkan asap yang keluar dari mulut nya.
"Memang apalagi? "Aku mendelik, mengibas-ngibaskan asap agar menjauh dariku.
"Kamu bener-bener lupa? " Kali ini, ia memandang ke arahku dengan tatapan yang tajam.
"Ehh.. Emang apa yang terjadi? Aku ga tau.. aku bener-bener lupa! " Kilahku, sambil memutar badan dan berjalan ke arah kamar.
"Eiits! Kamu mau pura-pura lupa? Mau aku ingetin apa yang kamu lakuin tadi malem? " Ia menghadang langkahku,dan berdiri tepat di hadapanku. Hingga aroma mint yang berasal dari rokok yang ia hisap,seketika menyeruak hingga masuk ke dalam hidungku melalui hembusan nafasnya.
Aroma yang sama.
Akh.. Bodoh Pela! Kenapa tadi malam harus ngelakuin hal absurd seperti itu?
Tapi tadi malam,aku benar -benar seperti sedang bermimpi.Awalnya sedih karena rekaman kejadian saat bapak meninggal tiba-tiba berputar lagi dalam ingatan.
Dan di dalam mimpiku, Angka menghiburku dengan mendekapku erat. Aku, yang merasa kehilangan sosok pelindung seperti bapak.. merasa nyaman saat Angka datang dan melindungiku.
Iyah.. si badger menyebalkan itu, berubah menjadi perhatian akhir-akhir ini.
Dalam keadaan lemah seperti tadi malam, segala perasaan bercampur menjadi satu. Melihatnya di depan mataku.. dan merawatku dengan sabar, sungguh membuatku bahagia.
"A-apa sih maksud kamu! " Aku menyangkal.
__ADS_1
Angka mematikan rokoknya, dan membuang rokok itu ke dalam tempat sampah.
"Pela... " Tiba-tiba, ia memegang kedua bahuku dan menatapku dalam.
Aku pun, terkesima.
Menatap kedua iris mata nya yang cokelat, juga alis tebalnya yang menarik.
"You are my first... Dan aku pengen tau, apa alasan kamu ngelakuin itu! "
"Hhh? " Aku pun pura-pura.Dan hendak meronta.
"Bukan begitu yang benar Pel.. Tapi begini.... " Angka mendekatkan wajahnya, dan seketika itu juga aku terpaku. Hampir saja terbuai dan memejamkan mata. Tapi kemudian aku tersadar...
Buuugh.
Aku mendongakan wajah, dan lalu membenturkan dahiku pada dagu nya.
"Arrrghh.. Bebek! Apa yang kamu lakuin? "Angka meringis, ia pun memegang dagu nya dan aku berlari menuju kamar mandi.
Kabur.
"Pelaaa.. Awas kamu Pel!Keluar kamu! " Angka menggedor-gedor pintu sambil meneriakkan namaku.
"Ga mauuuu..! "
"Kamu tuh aku tinggal lho disini... pulang sendiri! "
"Biarin.. aku bisa pulang sendiri, aku punya ongkos buat pulang! "
"Hahahaaa... bebek ! Aku bawa tas kamu biar kamu ga bisa pulang! Oooh ini dompet kamu.. "
"Angkaa jangan ambil tas aku.. please! Aku mau pulang.. pasti ibu cari aku Ka.. "
"Kalau gitu buka pintu nya! "
"Kamu jangan disitu! "
"Iyah.. " Beberapa menit berlalu. Tak terdengar lagi suara Angka, lalu aku membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan. Sudah aman.
Aku pun menghela nafas penuh kelegaan.
"Kena kamuuu! "
"Arrrrghhh... " Angka menghimpit tubuhku hingga pintu. Mengapitkan tangan kanan nya di leherku dan menjitak keningku dengan keras.
"Sakiiiit tauuuu! " Aku pun mengusap-ngusap keningku yang pastinya merah.
"Makanya jangan mesum! " Kata Angka sambil tersenyum jahil. "Tadi di wajah kamu ada sesuatu.. Kamu nya aja yang kepedean.. Memang kamu pikir aku mau ngapain hhh? "
"Ehh.. mmhmm itu... Aku.. " Kena kau Pela!
Wuuuush.
Angka melemparkan syal dan cardigan tepat di kepala ku.
"Kamuuu... "
__ADS_1
"Cepet pake! bentar lagi kita pulang! " Dia berjalan menuju balkon, dan kembali menyulut rokok yang baru.
Perkiraanku salah...
Aku kira Angka akan mengulang apa yang aku lakukan tadi malam.
Hhh Pela... sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan!
***
Angkasa
Aku penasaran.
Apa si bebek benar-benar lupa apa yang terjadi? Tapi.. Aku mendengar dengan sangat jelas kalau dia menyebut namaku meskipun lirih.
Apa dia memang sedang mengigau?
Aku menghabiskan sisa kepulan asap, dan mematikan kuntung rokok lalu membuangnya ke tempat sampah.
Memandang ke segala arah, pemandangan perkebunan teh yang hijau membentang luas. Udara pagi yang sejuk dan bersih.. Membuatku ingin berlama -lama menghabiskan waktu disini.
"Angkaaa.. Jadi hari ini kita bolos sekolah? Gimana ini... nilai aku nanti jelek dong.. ketinggalan pelajaran. Terus bentar lagi juga mau ujian.. " Pela yang sudah bersiap mendekat ke arahku.
"Ga akan keburu.. sekarang aja udah jam 7..perjalanan butuh sekitar satu setengah jam."
"Ibu pasti khawatir... Kamu udah nelpon eyang? "
"Udah tadi malam.. "
"Terus kata eyang gimana? marah ga Angka? "
"Ngga.. Eyang malah nyuruh aku bawa kamu ke rumah sakit.. "
"Ihhh ga mau.. Aku ga sakit... Kemaren cuma kecapean.. Hayu atuh kita pulang aja sekarang! "
Aku pun menurut, memeriksa barang apa saja yang kemarin di bawa.
Saat melangkahkan kaki menuju lobby, aku seperti melihat sosok yang sudah bertahun-tahun ini menghilang.
Bukan.. Mungkin bukan.
"Angka.. Kamu udah pesen taxi nya?Kamu liat apa sih?" Pela menepuk bahu ku,dan memutus kontakku terhadap sosok tadi.
"Ini mau.. " Aku merogoh ponsel,memesan taxi online.
Sambil menunggu taxi datang, aku berbincang dengan si bebek di kursi lobby depan.
Sesekali aku memandangi nya.. Saat ia tertawa, saat ia bercerita.
Inilah kami...
Kadang bisa akur seperti ini.. Tapi semenit kemudian tiba-tiba bertengkar. Udah seperti Tom and Jerry.. Tiada hari tanpa kejar-kejaran.
Pela... Just be with me.
As a Jerry stays with Tom,
__ADS_1
Always fighting but still cannot live without each other.
***