
Rindu
Tadi malam,aku bertemu dengan cowok polos yang baru pertama kali nya masuk club.
Awalnya, karena di suruh oleh bos.Aku di perintahkan untuk mendampingi nya yang sudah mabuk hanya dengan meminum 3 gelas saja.
"Temenin.. Dia bisa jadi mangsa! "
Begitu kata bos ku, saat melihat cowok itu mulai meracau tak jelas.
Saat mendekat padanya, Tiba-tiba ia mendekapku erat.
Aku benar-benar terkejut, dan dengan refleks aku lalu menampar nya sekuat tenaga.
Sungguh malang, tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas ia kesulitan tak bisa berdiri dan kehilangannya konsentrasi.
Akhirnya, karena kasihan. Aku pun berbalik dan menghampiri nya setelah dia pingsan.
Aku memeriksa jaketnya dan ternyata yang ku temukan hanya kunci mobil. Langsung saja aku meminta tolong pada temanku agar ia mengemudikan mobil itu menuju kost-an ku.
Braaak.
Aku dan temanku melepaskan tubuh tinggi tegap itu ke lantai, tapi ia masih tetap pingsan dan tak sadarkan diri.
Setelah temanku pulang, aku membuka sepatu dan jaket cowok rehe ini.
"Uweeeeekk.... " Semburan cairan menjijikkan beberapa kali keluar dari mulutnya. Dan mengenai hampir seluruh jaket dan kaos yang di kenakannya.
"Sial** ni cowok! nyusahin aja lo! kenal juga kagak! untung ganteng lo.. " Aku terkekeh sendiri, di saat kesal pun. Aku masih menelisik wajah tampan cowok di hadapanku ini.
Aku menyambar salah satu kaos berlengan panjang dan melingkar kan nya di wajahmu untuk menutupi hidung.
Jangan di tanya bau nya seperti apa.
"Hehh.. bangun lo! " Aku mengguncangkan badan nya kasar.
"Euugh.. Tolongin aku! " Ia melenguh dan mulai meracau kembali.
Aku pun mengambil gelas di dalam rak dan menyicikan air panas yang ku campur dengan dingin hingga hangat dari dispenser.
"Nih minum dulu! " Dengan cepat, aku membantunya untuk minum. Dalam keadaan matanya masih terpejam.
"Pusing Pel.. "
"Apaan Pel.. ngepel? " Tanyaku asal.
"Pel.. "
"Arrrggghhh.. mimpi apa gue semalem dapet musibah berlapis begini sih! "
Sambil mengomel, aku melepaskan jaket dan juga kaos yang di pakai oleh nya.
Setelah itu mengambil air hangat untuk menyeka tubuhnya.
Aku terpaku di tempat.
Pemandangan dada bidang dan perut six pack di depan ku mengingat kan aku pada oppa Korea yang main dalam drama.
Aku pun menahan saliva, sambil sesekali memejamkan mata dan menyeka wajahnya.
"Sungguh kesabaran ku sedang di uji. "
Setahun putus dengan pacar lamaku.. Aku betah menjomblo, dan sudah lama bertahan dengan statusku itu.
__ADS_1
Bukan, aku bukan cewek binal atau nakal.
Tapi sebagai cewek normal, aku merasakan kulitku sedikit meremang saat bersentuhan dengan kulit halusnya.
Sungguh mengherankan,ini cowok kulitnya bahkan lebih halus dari kulitku.
Eh?
Apa kamu gilaa Rindu?
Aku pun segera beranjak, menyadari bahwa aku sudah berpikir berlebihan.
Bruuugh.
Ia menarik tanganku. "Jangan pergi! " Ucap nya, sambil menggelengkan kepala.
"Sadar lo! gue ga kenal sama lo! "
"Please! bentar aja aku pengen peluk kamu! "
Deg.
Seketika, debaran di dadaku berubah menjadi-jadi.
Apa-apaan dia ini?
Dengan erat, ia memelukku dan tangan nya mengelus tanganku lembut. Lalu pindah menuju tengkuk ku.
Sesaat kami pun saling berpandangan.Hingga kemudian..timbul keinginan aneh dalam diriku untuk membenam kan wajah pada wajah tampan nya.
"Pela... aku sayang kamu Pel.. Maafin aku! "
Lalu ia kembali terkulai.
"Breng*** ni cowok... Udah bikin gue kepancing, eh malah mainin gue! "
Awas aja lo..Gue kerjain!
Dan yang lebih gila nya lagi aku membenam kan wajah di lehernya. Membuat beberapa tanda merah.
"Rasain lo.. suruh siapa mau cium gue malah nyebut nama cewek lo! biar besok lo kelabakan sendiri! " Dengan kesal, aku menyelimuti tubuh atletis itu.
Dan pergi meninggalkan kamarku untuk menuju kamar temanku di sebelah.
Saat pagi ia pergi meninggalkan kamar kost ku, aku tak kuat lagi menahan tawa. Sambil berguling-guling.. Aku menertawakan kepolosan dan juga kebodohan cowok itu.
***
Angkasa
"What the hell done Angkasa? kenapa ga bisa ngontrol diri sendiri! Stupid! " Sambil memukul-mukul stir, aku pun berteriak di dalam mobil.
"Kita make out tadi malam! "
Begitu kata si cewek rese bernama Rindu itu, saat aku memaksanya untuk berterus terang.
Apa mungkin aku? Ga mungkin!
Aku sama sekali ga merasakan hal aneh dalam tubuhku.
Ya memang ku akui, tubuhku sedikit lelah saat ini.Tapi aku yakin.. ini hanya efek dari mabuk ku semalam.
Aku kehilangan kesadaran. Dan benar-benar ga mengingat apa yang terjadi.
__ADS_1
Tapi.. bukankah ia bilang kalau ia masih virgin?
Benar.. tadi dia bilang begitu bukan?
Sial**!
Atau dia cuma ngerjain gue?
"Kalau lo ga percaya.. gue kasih bukti ada tanda yang sama di dada gue! " Dengan berani, tadi dia berniat membuka baju nya.
Tentu saja aku menolak untuk melihatnya.
Dengan terpaksa aku merebut ponsel milik cewek rese itu dan menyimpan nomorku disana.
"Kalau ada apa-apa, hubungi gue ke no ini! gue bakalan tanggung jawab kalau emang gue udah berani macem-macem. Tapi saat ini gue ada keperluan yang sangat penting.. "
Begitu kataku saat meninggalkan nya tadi.
Sudahlah..
Yang terpenting saat ini adalah mulai mencari ibu.
Ku ambil berkas yang tergeletak di jok depan. Membaca satu persatu dengan seksama, dan seakan ga percaya... Terdapat beberapa bukti, bahwa kecelakaan yang terjadi pada Papa dan Bapak Pela adalah bukan murni kecelakaan.
Beberapa nama yang sangat familiar, berputar-putar di benakku.
Aku pun mencoba mengingat-ingat satu persatu nama itu, dan aku bertekad akan menyelidiki ini sendiri.
***
Pelangi
"Bu.. Alhamdulillah, ternyata kata pak pengacara. Beliau yang akan mengurus segala yang di butuhkan oleh agan.. Meskipun memang, harus menjual sedikit aset yang di miliki agan untuk membiayai operasi dan perawatan. " Aku sedang duduk bersama ibu, di depan ruang inap agan.
Agan masih belum bisa di ajak banyak bicara, setiap kali bicara.. beliau hanya memanggil nama Angka.
"Sebenarnya ada apa antara Agan dan Angka bu? sampai dia tega ninggalin Agan dalam keadaan kaya gini? "
"Ibu juga ga tau teh.. itu di luar kuasa ibu. "
Aku menarik tangan ibu, ku elus kasar nya punggung tangan ibu dengan lembut.
"Sabar ya bu.. Kita sama-sama rawat Agan! "
Ibu pun hanya mengangguk, lalu sejurus kemudian berlinang air mata.
"Teteh udah coba menghubungi den Angka lagi? " Tanya ibu, sambil menyeka air matanya.
"Sudah bu, tapi ga aktif.. mungkin ganti nomor." Tebak ku, karena ga mungkin kalau Angka sama sekali ga menggunakan ponsel pintar nya.
"Nanti teteh coba ngehubung temen Angka ya bu.. ibu jangan khawatir, Angka udah besar ko bu pasti dia bisa jaga diri! " Aku pun berusaha meyakinkan ibu. Padahal hatiku sendiri bertanya-tanya dimanakah Angka saat ini?
Dengan setengah ga rela, aku menghubungi Rangga dan juga yang lain nya. Tapi mereka kompak menjawab ga tau.
Mana mungkin ga tau sih? mereka kan soulmate!
Rasanya kalau Angka ada disini, ingin sekali ku bogem wajahnya hingga memar-memar.
Enak saja berani lari dari kesalahan dan membuat Agan kesakitan.
Aku benci kamu Angkasa.
Benci dengan sikap kekanak-kanakan mu.
__ADS_1
Aku janji.. kalau nanti kita ketemu. Aku ga akan segan-segan buat memberi perhitungan.
***