Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Malaikat Penolong..


__ADS_3

Angkasa


Aku sedang berada di depan rumah ibu, dan memandang halaman depan yang sedikit berubah.Taman yang dulu di hiasi oleh bunga-bunga warna-warni bermekaran, sekarang tampak sedikit layu dan tak segar.


Mungkin, tumbuhan penghasil oksigen itu tahu.. Bahwa pemilik nya tengah jauh dan tak lagi merawat mereka.


Sambil menghela nafas, aku masih berdiri enggan. Mengingat raut khawatir ibu dan Pela.


"In syaa Allah, aku akan merawat dan menjaga ibu Kinanti seperti ibuku sendiri Ka.. Kamu baik-baik disana ya! harus kembali dengan cepat kalau urusan nya udah selesai dan kita bisa wujudin mimpi kita.. "


Begitu kata Pela, saat aku berpamitan untuk pergi subuh tadi.


"Tolooong.... "


Aku terperanjat, mendengar samar-samar ada suara yang meminta tolong.


Suara nya berasal dari rumah ibu.


Dengan segera aku berlari menuju ke rumah itu, karena aku hafal suara yang meminta tolong itu adalah suara Laras.


Braaak.


Ku buka pintu tanpa mengucap salam, dan ku dapati Laras sedang bersusah payah menahan bobot tubuh om Abi untuk berjalan.


"Ras.. Om Abi kenapa? "


"Angkasa... Alhamdulillah... Tolong aku, bawa ayah ke rumah sakit.. " Dengan panik, Laras meminta tolong sambil terisak.


"Ayo Ras.. Aku bantu! " Dengan cepat aku merangkul tubuh yang kemarin-kemarin masih gagah dan tegap itu berjalan menuju ke mobilku.


Untuk beberapa saat, aku hanya mendengar isak tangis pilu dari Laras.


Aku pun masih begitu kaget melihat kondisi om Abi yang terlihat sangat lemah itu, hingga tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut ku selama di perjalanan.


Setelah masuk ke pelataran rumah sakit, Laras bergegas keluar dari mobil dan berlari ke ruang IGD,meminta bantuan petugas untuk membantu menggotong tubuh om AbiAbi dan membaringkan nya di brankar.


***


"Angkasa... Ayah ga akan kenapa-kenapa kan? " Laras berjalan mondar mandir di depan ruang IGD sambil terus menekan pelipisnya.


"Sabar Ras.. Sebenarnya sejak kapan om Abi sakit? " Tanyaku, sambil menarik bahu Laras dan mendudukkan tubuh mungil itu untuk duduk di bangku besi ruang tunggu.


"Ini udah seminggu lebih.. Awalnya demam beberapa hari, tapi makin kesini ayah malah benar-benar menolak untuk makan dan minum.. Aku.. Aku ga tau harus bagaimana Angkasa..Ayah selalu menolak di bawa ke rumah sakit.. Padahal aku tau, kalau ayah kesakitan.. " Sambil menundukkan kepala Laras menceritakan kronologi awal sakit nya om Abi.


"Aku juga ga berani tanya tentang masalah yang sedang di hadapi oleh ayah dan ibu.. Sampai ibu ninggalin ayah seperti ini.. "


Aku terdiam, mendengarkan semua keluh kesah Laras. Ingin tahu apa saja yang di ceritakan oleh om Abi kepadanya.


"Ayah.. Ayah tuh ga bilang apa-apa Angkasa.. Ayah cuma terus bilang kalau ayah itu bodoh, terus mukulin diri sendiri.. Terus.. ayah bilang ibu pergi sama kamu... Apa itu benar? " Kali ini Laras mendongakkan wajah ke arahku, masih dengan mata berlinang ia seperti memohon penjelasan yang sebenarnya tak ingin aku ungkapkan.


"Angkasa... Kasih tau aku kenapa ibu bisa pergi? ap-apa pemikiran aku aja yang salah.. atau memang benar ibu ninggalin ayah gara-gara kamu? " Ada nada tuduhan yang terlontar dari pertanyaannya.


"Kenapa? " Tanyanya lagi.Sambil memilin ujung kerudung nya yang sudah kusut.


Aku menghela nafas kasar. "Karena aku adalah anak ibu Kinanti.. " Kataku , sambil memandang nya lekat.


Laras tertegun, ia membolakan kedua mata nya ,mulut nya yang ternganga sengaja ia tutup menggunakan tangan kanan nya.


"Ga mungkin... " Ia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.


"Kenyataan seperti itu Ras.. "


"Teruus.. Kenapa.. kenapa justru ibu ninggalin ayah Angkasa? Dan ayah.. Dan ayah sekarang seperti depresi di tinggal ibu... " Laras berdiri dan ia lagi-lagi hanya menangis.


"Om Abi mentalak ibu.. Pada waktu itu aku sedang berdua dengan ibuku, dan om Abi menyangka kalau kami berdua... " Aku berhenti bicara karena aku paling ga tahan melihat perempuan yang sedang menangis.


"Angkasa... Aku ga tau harus gimana.." Tubuh mungil itu luruh ke bawah.


"Ras.. Kamu jangan kaya gini! Ibu bilang.. "


"Keluarga bapak Abimanyu.. " Tiba-tiba suara seorang suster menginterupsi kami, aku dan Laras menengok ke arah nya serentak.


"Saya suster.. " Dengan cepat Laras beranjak dan menghampiri suster itu. "Ayah.. Ayah saya kenapa suster? "


"Sebaiknya mbak temui dokter Rudi di ruangan ayah mba sekarang.. "


Tanpa pikir panjang, aku mengikuti Laras dan mengekor nya di belakang.


"Bapak Abimanyu mengalami depresi mayor (major depressive disorder/MDD). Sehingga beliau sama sekali kehilangan nafsu makan dan mengalami kondisi malnutrisi.. " Dokter tersebut menerangkan kondisi om Abi dengan rinci pada Laras.


Aku pun keluar ruangan dan memutuskan untuk menunaikan ibadah shalat maghrib terlebih dahulu.


***


"Ayah harus di rawat disini selama beberapa hari... " Tiba-tiba Laras memecah keheningan di antara kami.

__ADS_1


Pikiranku sedang menerawang pada sosok yang tak lama lagi akan ku persunting.Aku pun menoleh ke arah Laras yang sedang duduk di samping ayah nya.


Aku bingung, bagaimana harus menyampaikan pesan dari ibu. Sementara Laras sedang dalam keadaan membutuhkan pertolongan seperti sekarang.


Meskipun aku masih belum bisa menerima kenyataan tentang kejahatan yang di lakukan oleh om Abi di masa lalu. Namun, nurani ku sebagai seorang manusia tak bisa begitu saja membiarkan dan meninggalkan orang yang selama puluhan tahun merawat ibuku itu.


Juga, aku merasa kasihan dengan Laras, seperti nya ia sangat menyanyangi om Abi.


"Uang tabunganku ga cukup untuk membayar biaya rumah sakit.. " Sambungnya lagi sambil terisak. Matanya kini sudah bengkak dan merah.


"Aku kangen ibu.. Bagaimana bisa aku jauh dari ibu, selama beberapa hari di tinggal ibu dan harus merawat ayah sendirian, bener-bener ngebuat aku sedih.. Ibu sehat kan Angkasa?" Manik itu menatap ku lekat, seolah menyampaikan bahwa ia kini memang sangat terluka.


"Alhamdulillah ibu baik.. Kalau untuk masalah biaya rumah sakit kamu ga perlu khawatir. Aku bisa bantu.. Tapi, ada hal yang harus aku sampaikan sama kamu.. "


"Hmmm.. Apa? "


"Ibu.. Berharap kamu bisa hidup dengan baik.." Aku bingung, apa harus mengatakan yang sejujurnya pada Laras atau tidak.


"Hmm Iyah.. " Ucapnya sendu.


"Bagaimana kalau seandainya, ibu meminta kamu untuk tinggal di Bandung bersama ibu? " Akhirnya, terucap juga amanat yang ingin aku sampaikan dengan ragu.


"Hah? Apa boleh Angkasa? " Sinar yang tadinya redup itu, kini sedikit memancarkan cahaya.


"Iyah.. Ibu bilang begitu.. "


Graap.


Tiba-tiba Laras menarik tanganku dan menggenggam nya.


"Angkasa.. Aku mau.. Aku mau ikut kamu ke Bandung dan bertemu ibu.. Tapi... "


Aku tersenyum kecut, memperhatikan kedua tanganku yang ingin sekali aku lepaskan.


Bisa gawat kalau Pela sampai tahu kan? Terus, rencana indah kami gagal gara-gara kesalahpahaman.


Jangan sampai itu terjadi!


Dengan cepat aku berusaha melepaskan tangan Laras dan mengusap punggung tangan nya pelan.


"Kamu bisa ke Bandung setelah om Abi sehat..." Hibur ku, seraya benar-benat melepaskan tangan nya.


"Eeh.. Maaf... Maafin aku.. Aku terlalu seneng! " Ucapnya sedikit tersipu, lalu menyembunyikan kedua tangan ke balik hijabnya.


"Aku harus segera pulang ke Bandung, seperti nya aku akan kembali menetap disana.."


"It's ok.. Aku ga akan melanjutkan, justru sekarang kamu juga harus memikirkan kuliah kamu juga.. pasti udah berapa hari bolos kan? "


"Iyah.." Lirihnya.


"Jangan sedih lagi ya Ras.. Om Abi pasti sembuh dan sehat seperti sedia kala.. Kamu juga harus semangat! oh Iyah.. sudah makan belum? "


Laras menggeleng kan kepala nya.


"Kalau gitu aku beli dulu makanan ya, tunggu sebentar.. jangan lupa sebentar lagi masuk waktu isya! " Sambil beranjak, aku tersenyum dan mengusap kepala Laras yang tertutup hijab.


Kini ia adalah adikku, dan mustahil aku tega membiarkan ia begitu saja.Aku memutuskan beberapa hari lagi untuk menemani nya melewati kesulitan ini hingga om Abi pulih dan lebih baik.


"Angkasa.. tunggu! "


"Ada apa? "


"Akh.. ga jadi deh.. Kamu hati-hati ya.. "


Akupun mengangguk dan berlalu meninggalkan ruang inap.


***


Laras


Dari beberapa hari yang lalu, ayah benar-benar menolak segala makanan yang sudah aku buat dan siapkan.


Tak jarang juga ia menepis piring dan membuat piring itu terjatuh dan pecah berserakan di lantai.


Yang ayah lakukan hanya melamun dan sering bergumam juga mengigau saat tertidur.


Siang ini, aku memutuskan untuk membawa ayah ke rumah sakit bagaimana pun caranya.


Saat hendak menekan nomor untuk memesan taxi online, ayah menghampiri dan menepis ponselku dan mengambil nya paksa.


"Kamu.. Kamu mau apa Laras? " Tanyanya dingin dan ketus.


"Laras mau pesan taxi, mau bawa ayah ke rumah sakit.. "


"Biarkan saja ayah mati.. tak ada lagi yang perduli pada ayah.. "

__ADS_1


"Laras peduli ayah.. makanya Laras mau bawa ayah ke rumah sakit! Laras pinjam ponselnya ayah! " Aku meraih ponsel yang ayah pegang dengan cepat, namun saat sudah di tangan.


Tiba-tiba tubuh ayah terkulai lemas dan luruh di lantai.


Ayah tidak sadarkan diri.


"Ayaaaah... Ayah kenapa? Ayah banguun! " Aku menepuk-nepuk pipi ayah namun ia bergeming.


"Ayah... Ya Allah.. ayah kenapa? Tolooong.... "


Aku sudah tak mampu berpikir, ponsel yang tadi ku genggam sudah tak tau dimana.


"Tolooooonng! "


Braaak.


Pintu terbuka dan ku dapati Angkasa disana. Kami pun segera membawa ayah ke rumah sakit tanpa pikir panjang lagi.


***


Selesai menunaikan kewajiban shalat isya, aku duduk kembali di kursi samping dekat dengan ayah.


Menarik sudut bibirku, merasa sedikit tenang karena Allah mengirimkan malaikat penolong untukku.


Angkasa.


Hatiku menghangat saat ia mengusap pucuk kepalaku dengan sayang, aku merasa terlindungi dan aman.


"Om Abi sudah siuman? " Angkasa membuka pintu kamar, aku terkesima melihat penampilan nya yang kini sudah lebih segar.


Mungkin karena air wudhu yang membingkai wajah tampannya, menjadi lebih bersinar.


"Eh.. tadi udah sebentar, tapi sudah makan langsung minum obat dan tidur lagi. "


"Ini aku bawain makanan.. " Ia meletakkan beberapa kantung keresek di atas nakas.


Ada buah-buahan segar dan beberapa kotak makanan yang terbungkus rapih.


"Kamu udah makan? " Tanyaku, sambil mengambil salah satu keresek dan mengeluarkan kotak yang ternyata nasi beserta gudeg dan lauk lain nya.


"Belum.. "


"Kalau gitu aku siapin dulu ya.. " Aku mengambil lagi satu kotak nasi dan sebotol air mineral,lalu menyerahkan nya pada Angkasa.


Kami berdua makan dalam keheningan.Lalu selasai malan, Beberapa kali ku lihat ia menatap layar ponsel dan mengetik pesan.


Dari siapa ya?


"Angkasa.. "


Ia terlihat masik asyik memainkan ponsel dan tersenyum sendiri.


"Angkasa... " Aku memanggilnya dengan suara yang sedikit kencang. Kali ini berhasil membuat ia menoleh dan melirik ke arahku.


"Eh.. Iyah ada apa Ras? "


"Mhhm itu.. Aku boleh minta tolong sesuatu ga? " Kataku ragu.


"Minta tolong apa? " Tanpa melihat ke arahku, ia kembali sibuk mengetik pesan kembali.


Aku jadi sebal.


"Kamu nya asyik main ponsel dari tadi.. Ya sudah ga jadi.. " Kataku kesal, berniat untuk merajuk dan ingin mengambil perhatian Angkasa dari benda pipih itu.


"Maaf Ras... Tadi ada... "


"Aku minta tolong.. Mau ga, selama ayah di rawat disini.. Kamu jangan dulu pulang ke Bandung? "


"A-apa? " Angkasa terpelanga.


"Aku.. Aku ga punya siapapun.. Aku ga tau harus minta tolong pada siapa.. Jadi.. mhhmm..Tapi.. Kalau kamu ga bisa juga ga apa-apa.. " Gagapku, merasa kaget juga kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.


Memang siapa kamu, Laras?


Dengan harap-harap cemas, aku menunggu jawaban dari nya.


Angkasa tersenyum, lalu ia mengangguk mengiyakan.


Apa itu berarti ia bersedia menemaniku?


Baiknya kamu.. Angkasa.


Dengan adanya kamu, aku yakin bisa melewati kesulitan ini dengan tenang.


Ya Allah..

__ADS_1


Terimakasih karena telah mendatangkan malaikat penolong dan pelindung yang tampan untukku...


***


__ADS_2