Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Keadaan..


__ADS_3

Angkasa


"A Zaidan calon suami aku! "


Seolah di sambar petir,aku tertegun kaku di tempat mendengar pernyataan Pela.


Kini kami sedang berada di depan rumah, petang sudah tertutup oleh gelap nya malam.


Saat di cafe tadi, aku sengaja menunjukkan diri di depan Pela.


Tapi entah kenapa,sorot mata yang terpancar dari nya menyiratkan arti lain. Ada kemarahan, ada kekecewaan.


Aku sudah hafal sekali sifat nya, dia tidak bisa menyembunyikan apa yang tengah ia rasa.


"Pela..? "


"Aku udah yakin, a Zaidan bisa jadi imam yang baik buat aku Ka.. "


"Tapi umur kita baru 21 tahun Pela.. Kamu sudah siap untuk menikah? Bukankah umur kita masih terlalu muda.."


"Umur ga bisa di jadiin patokan, Aku tuh perempuan.." Ucapnya dingin.


"Aku kira.. Kamu mau nunggu aku.. Aku sedang berusaha menyelesaikan kuliah,mendekati ibu dan setelah itu mengurus perusahaan mendiang papa.."


"A Zaidan udah ngelamar aku..Dan apa kamu tau? di agama kita, perempuan yang menolak lamaran seseorang lelaki..padahal dia baik agama maupun akhlaknya,maka akan mendatangkan musibah.. A Zaidan juga sudah mau mengenal kan aku sama orangtua nya. " Lagi-lagi, Pela menjawab ku dengan nada dingin.


"Kamu bercanda kan Pela? sebenarnya kamu kenapa Pela? ada yang kamu sembunyikan dari aku kan? Kita harus ngelurusin hubungan kita..Aku minta maaf kalau salahku terlalu besar..."


"Ga ada.. Kita ga ada hubungan apa-apa..Hubungan kita hanya sebatas hubungan majikan sama bawahan..Dan kamu ga salah apa-apa,sebaiknya kita jangan berdua begini..Aku takut terjadi fitnah." Pela berlalu, dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Perkataan itu menusuk hatiku.


Apa aku sudah kehilangan harapan?


Dan salahku tak termaafkan.


Dengan langkah gontai, aku masuk ke dalam rumah. Berjalan melewati undakan tangga menuju lantai dua.


"Den Angkaaa...Punteun di panggil agan.. "


Dari bawah, ibu Pela memanggilku.


"Iyah bu.. saya mau mandi dulu ya bu, sebentar."Dengan masih memendam rasa kecewa, aku masuk ke dalam kamar dan lalu membersihkan diri.


***


"A-aka.. " Eyang memanggilku dan melambaikan tangan nya pelan.


"Iyah eyang.. " Duduk di kursi sebelah eyang.


"A-a..a..bii.. " Eyang mengeja dengan sangat susah payah.


"Eyang bilang apa? " Aku mendekat kan telinga ke dekat eyang.


"Eughh.. Eughh.. " Eyang menunjuk ke nakas yang berada tak jauh dengan tempat tidur.


Aku langsung mengerti, bahwa eyang ingin aku mengambil sesuatu di dalam laci.


Ada beberapa lembar foto dan juga sebuah flashdisk kecil, juga lembaran identitas seseorang di dalam sebuah map.


"Eyang menyuruh Angka untuk memeriksa ini? "


Eyang mengangguk pelan.Aku kembali memasukkan ke dalam map, lalu menggenggam tangan eyang erat.


Sudah sekitar satu jam, aku berada di dalam kamar eyang dan menemani eyang sambil bercerita banyak hal.


"Eyang.. Angka harus kembali lagi ke Jogja besok, Angka janji bakal bawa ibu Kinanti kesini untuk ketemu eyang. Eyang baik-baik disini bersama ibu dan Pela ya... "


Eyang mengangguk pelan.


Berselang beberapa menit,terdengar ada yang mengetuk pintu.


Tok.. Tok..


"Masuk.. "


Pintu di buka, dan terlihat Pela sedang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan yang berisi segelas air dan beberapa macam obat.


Aku tetap duduk di tempat, terlihat Pela melangkah dengan ragu-ragu.Lalu ia mendekat pada eyang dan membantu eyang untuk duduk.


Pela terlihat kesusahan karena tubuh eyang yang sedikit kaku. Aku pun berdiri dan membantu menekan tombol agar tempat tidur eyang sedikit di naikkan.


"Agan.. Sekarang waktunya minum obat dulu ya.. "


Eyang mengangguk, dan Pela dengan lembut memberikan obat yang di kelas dengan bentuk cair itu satu-persatu.


"Kalau begitu, Pela permisi ya agan.. " Tanpa melihat ke arahku, Pela beranjak. Namun eyang terlihat menggerakkan tangan pertanda agar Pela tetap duduk.


"Agan sudah ga nyaman?Ingin berganti pakaian? Oh sebentar, ternyata infus nya sudah habis.. Pela ganti dulu ya. "


Aku memperhatikan gerak gerik Pela saat merawat eyang. Saat ini, ia tengah mengganti infus dengan sangat hati-hati.


"Agan ingin buang air? Pela bawa diaper sebentar ya.. "


Eyang lagi-lagi hanya mengangguk, namun ku lihat dari sudut matanya.. eyang kini sedang berkaca-kaca.


"Sebaiknya kamu keluar dulu.. " Masih dengan nada dingin nya, Pela menyuruhku untuk keluar dari kamar eyang.


"Eyang.. Angka tunggu di luar ya.. " Aku pun berlalu, dan berjalan menuju ruang tamu. Menunggu hingga Pela selesai membersihkan eyang.

__ADS_1


Pela dan ibu nya sungguh sangat berjasa bagi keluarga ku, mana mungkin ada orang yang mau dengan tulus merawat dan mengurus eyang seperti mereka.


Tanpa rasa jijik,bahkan Pela ternyata mau membersihkan kotoran eyang.Karena ku lihat, eyang buang air kecil menggunakan selang kateter.


Setengah jam berlalu, aku sedang asyik memainkan ponsel dan pintu kamar eyang akhirnya terbuka.


"Di panggil eyang.. " Katanya ketus, tanpa menyebutkan namaku.


Sebenarnya dia kenapa? Terlihat seperti benar-benar membenciku.


"Aa.. A.. Kaa.. " Aku menggenggam tangan eyang.


"Laa... la.. " Lalu Pela melakukan hal yang sama.


Dengan susah payah dan sangat pelan, eyang menyatukan tangan kami.


Eh?


Kami berdua terperanjat.


Aku dan Pela sama-sama kaget dengan apa yang di lakukan eyang.


Tiba-tiba eyang menangis, tanpa mengeluarkan kata.


Aku dan Pela hanya tertegun, dan sesekali Pela mengusap air mata yang mengalir di pipi eyang.


Apa maksud dari eyang?


Apa ini berarti, eyang menginginkan agar aku bersama Pela?


Aku melirik ke arah Pela, dan ku lihat ia hanya terdiam.


Ia menarik tangan nya. "Agan.. Sebaiknya agan istirahat, sudah malam.. Nanti tengah malam Pela kembali kesini ya.. untuk mengganti diaper agan. Pela boleh kembali ke kamar sekarang? "


Eyang mengangguk, namun air mata nya masih tetap luruh.


"Aku pamit.. " Ucap Pela, sambil berlalu meninggalkan aku dan eyang.


Setelah yakin Pela sudah menutup pintu dengan rapat.


Aku memeluk eyang dan menyandarkan kepalaku di dekat tangan eyang yang di tusuk jarum infus.


"Apa eyang merestui hubungan aku sama Pela?" Tanpa beranjak, aku bertanya tanpa menoleh.


Eyang mengusap kepalaku.


"Tapi.. Pela menjauh dari Angka, Angka emang udah pernah ngelakuin kesalahan dan meminta maaf berulang kali, tapi kayanya Pela masih ga terima. Pela juga sudah punya calon suami..eyang."


"Apa yang harus Angka lakukan? Angka udah sayang banget sama Pela.. eyang liat dan merasa sendiri kan, kalau Pela itu special.Dia juga tulus sayang banget sama eyang.."


Aku menoleh ke arah eyang, dan eyang tersenyum.


"Angka mau tidur disini, di samping eyang. "


***


Alhamdulillah..


Cucu kesayangan ku Angkasa telah pulang dan memaafkan nenek tua renta ini.


Aku telah bersalah.


Mungkin sudah sepantasnya memang penyakit ini adalah sebagai hukuman bagiku. Karena telah memisahkan cucuku dengan ibu kandung nya.


Ia kini sedang tertidur sambil duduk di sampingku.


Maafkan eyang mu ini sayang, selama ini eyang sudah berusaha untuk mencari ibumu. Dan mencari penyebab papa mu kecelakaan.


Setelah kamu pergi, pak Baskoro sudah mengetahui siapa dalang di balik semuanya.


Eyang berharap sebelum Allah mengirim kan malaikat untuk mencabut nyawa eyang, ibumu memaafkan eyang.


Eyang do'akan semoga Angka selalu di beri kemudahan dalam segala urusan.


Eyang juga berharap Angka berjodoh dengan Pela.


Selama ini Pela dan Asih sudah mengorbankan semuanya demi eyang dan keluarga kita.


***


Pelangi


Aku menyandarkan tubuhku pada pintu kamar, memejamkan mata dan menyesali kebohongan yang sudah ku buat.


Ya.. Tadi aku berbohong pada Angka kalau aku menerima lamaran dari a Zaidan.


Aku masih saja merasa sakit hati karena video itu.


Ada perasaan ingin membuat Angka cemburu.


Untuk apa?


Aku juga ga mengerti.


Tapi.. Jantungku berdebar tak karuan, semenjak tadi agan menyatukan tangan aku dengan Angka.


Apa ini berarti agan mengetahui hubungan kami?


Hubungan?

__ADS_1


Hhh..


Aku sendiri yang bilang kalau kita ga ada hubungan apa-apa kan?


Apa aku terlalu baper dan overthinking sendirian?


Berburuk sangka tanpa mau meminta penjelasan Angka.


Tapi aku enggan buat minta dan memulai membahas masalah tentang ini lagi.


Sudahlah Pela, sebaik nya shalat istikharah saja.


***


Keesokan hari nya.


"Fajar.. Ayo,ini udah jam brp! " Aku membuka pintu kamar Fajar. Ternyata Fajar sudah siap.


"Hayu teh.. Tapi.. "


"Kenapa? " Tanyaku heran, melihat Fajar yang sepertinya ragu untuk melangkah.


"Sebenarnya, Fajar pengennya ngobrol sama a Angka.. Fajar kangen teh, kemarin sempet ngobrol tapi cuma sebentar. "


"Lho.. Teteh kan udah janjian sama a Zaidan Jar.. ga enak, lagian teh Wulan pasti udah nunggu. "


"Iyah sih. yuk atuh teh.. " Fajar akhirnya berjalan mendahuluiku.


Di depan rumah.


Aku lihat, Angka sedang membersihkan mobil nya.


"Wah pagi-pagi udah rapih dan cakep gitu Jar.. " Katanya basa-basi, tapi sambil menatap ku.


Aku mendelik dan mengarahkan pandangan ke arah gerbang, menunggu a Zaidan datang.


Hari ini hari ahad, 2 bulan yang lalu A Zaidan berjanji mengajak Fajar jalan-jalan.


Namun baru bisa terealisasikan sekarang.


"Mau jalan-jalan a.. Hayu a Angka mau ikut? "


"Kemana memangnya? " Tanya Angka.


"Ga tau.. a Zaidan yang ngajak! " Jawab Fajar polos.


Angka menghentikan gerakan nya mengelap mobil, dan lalu ia menatap ke arahku seolah bertanya apakah yang di katakan Fajar itu benar.


Lagi-lagi aku mendelik.


"Ya udah.. Hati-hati ya Jar, jagain teteh kamu! jangan sampe di tinggal berdua dengan laki-laki! " Sungut nya, sambil menyimpan kanebo ke dalam kotaknya.


Ia berhenti membersihkan mobil.


Aku melotot ke arahnya, dan ia hanya mengendikkan bahu.


Ddrrt.. Drrt..


A Zaidan calling..


"Iyah a.. Assalamu'alaikum.. "


"Wa'alaikumusalam.. Pela.. saya minta maaf, sepertinya hari ini kita ga jadi lagi pergi.. Ada keperluan mendadak, uda menyuruh saya pulang ke Padang.. "


"Oh begitu a.. Iyah gapapa.. "


"Lain kali pasti in syaa Allah kita ajak Fajar yaa.. Maaf banget Pela.. "


"Santai a.. Ya udah hati-hati ya.. "


Kami menutup sambungan telepon dengan mengucap salam.


Aku segera mendial nomor Wulan.Dan memberitahukan kalau hari ini kita ga jadi pergi.


"Ayo Jar.. Kita balik ke dalam.. Ga jadi! " Dengusku, sambil berjalan tanpa menoleh ke arah Angka.


"Teteeeh tunggu! " Tiba-tiba Fajar berteriak.


Aku menghentikan langkah, dan berbalik memandang Angka dan Fajar yang seperti sedang berkompromi.


"Apa? "


"Fajar pengen kita bertiga jalan-jalan! "


"Hah? ngga.. Teteh ga mau! kalian aja berdua! "


"Tapi teteh sama A Angka dulu pernah janji mau ajak Fajar jalan-jalan! " Tak seperti biasanya, Fajar si anak sholeh yang sangat pengertian itu tiba-tiba menuntut sesuatu.


Hhh..


"Ya udah.. Ayo kita pergi! teteh izin dulu sama ibu. "


Kasian juga anak itu, selalu di paksa mengerti oleh keadaan.


Ga ada salahnya sekali-sekali membahagiakan nya.


Sudah menanti jawaban atas shalat istikharah ku, belum jua aku mendapatkan nya.


Karena pada kenyataannya. Keadaan selalu membuat kami di pertemukan.

__ADS_1


Seolah seperti takdir yang tak dapat di hindari.


***


__ADS_2