
Author
Semburat kemerah-merahan itu sudah mulai hilang.
Petang yang semula terang berhias jingga dan mambang kuning juga ungu, perlahan pudar di telan gelapnya malam.
Sang Mentari bergulir, Indurasmi lah yang mengganti.Tahta di bumantara bumi, Rembulan lah kini yang menempati.
Meski ia mendapatkan sokongan cahaya dari sang energi tertinggi.
Namun, tetap saja.. Rembulan selalu mendapatkan kesan mendalam bagi setiap insan yang menatapnya.Ia selalu menjadi harapan, menjadi penerang kala makhluk berjalan dalam kegelapan.
Landai pantai yang tenang, menghadirkan keheningan.Hanya suara detak kencang yang bertalu, juga manik-manik yang memandang takjub cahaya di atas sana.
Asa mereka terpaut, pada indahnya semesta.
Dua insan itu kini duduk di dermaga,
Menikmati kerlap kerlip bintang di langit yang bersinar layaknya mutiara.
***
Selesai menunaikan kewajiban ibadah shalat isya, Pelangi tengah menyiapkan makan malam yang tadi di antar oleh seorang staff ke kamar mereka.
Seharian tadi, ia begitu bersemangat dan bersenang-senang melakukan snorkeling untuk melihat bahwa kehidupan di bawah laut juga luar biasa indah.
Tak ada yang tak indah di alam semesta ini, sekarang adalah ajang tadabur alam bagi Pelangi.
"Kamu udah ngantuk? " Tanya Angkasa, sambil membantu menyimpan piring bekas makan mereka dan mencuci nya sendiri.
Tumben.
Oke.. Angkasa yang sekarang memang sudah mau berubah.Di mulai dengan hal kecil, akan mengantarkan nya pada perubahan besar selanjutnya.
"Belum.. " Jawab Pelangi, sambil ikut menyusul suaminya untuk membantu mencuci piring.
"Masih mau liat bintang? " Tanya Angkasa lagi dan di jawab oleh anggukkan.
Pelangi duduk di kursi balkon sambil membawa dua cangkir susu cokelat panas yang ia buat.
Entah mengapa, detak jantung nya kian bertalu semenjak petang tadi.Ada gelenyar aneh yang sudah dengan lancang merasuki sanubari.
"Setelah kita pulang dari sini, aku mau menemui om ku di Jakarta." Angkasa memulai obrolan, untuk membicarakan sesuatu yang kini ia anggap penting untuk ia diskusikan bersama istrinya.
"Untuk apa? "
"Meskipun sampai sekarang hidupku tergolong enak dan serba ada, tapi aku mulai berpikir untuk kerja. " Kali ini, Angkasa menarik tangan Pelangi dan mengecupnya lembut.
"Do'ain aku yaa... Aku jadi nyesel, dulu ga pernah dengerin omongan kamu buat langsung nerusin kuliah..Aku lelaki, Lulusan SMA sepertiku mungkin akan sulit mendapatkan pekerjaan.. Jadi aku bertekad buat ngambil alih perusahaan papa yang di Jakarta dan nerusin kuliah."
Pelangi hanya mengangguk, ia berkali-kali di buat kagum akan perubahan lelaki yang dulu menyebalkan ini.
"Aku selalu do'ain kamu.. " Ucap Pelangi tulus, sambil menampilkan senyuman indah di bawah terangnya sinar rembulan.
__ADS_1
"Makasih.. Maafin aku, selama ini sering nyakitin kamu.. "
"Ngga.. Aku nya juga keras kepala, gampang emosian.. Aku ga bisa kaya cewek lain yang lemah lembut. "
"Justru itu yang aku sukai dari kamu.. Ga manja, dewasa, mandiri.. Juga cantik! " Puji Angkasa, dan berhasil membuat pipi Pelangi merah merona.
"Apalagi sekarang.. Kamu jadi makin cantik pakai pakaian tertutup gini, kamu berubah banyak dan aku jadi makin kagum.. " Angkasa merubah posisi duduk nya, dan menarik Pelangi untuk duduk di pangkuan nya.
Ia menghirup aroma hijab Pelangi dalam-dalam, membenamkan wajah di dada sebelah kiri istrinya. Dengan sangat jelas ia bisa mendengar detak jantung Pelangi nya sekarang.
Ritme jantungnya berdetak semakin cepat, menandakan bahwa istrinya itu sedang mengalami kegugupan.
Pun ia juga merasakan hal yang sama. Tanpa banyak bicara, ia beranjak dan menggendong Pelangi masuk ke dalam kamar.
Pelangi terperanjat, dengan refleks ia pun mengalungkan kedua lengan di leher suami nya.Mereka pun saling menatap dengan lekat, Saling mengunci tatapan dalam.
Memang,
Menikmati heningnya malam bertabur gemerlap bintang gemintang,bukan untuk yang pertama kalinya bagi mereka.
Tapi yang istimewa adalah,desir angin yang berhembus menusuk pori membuat relung hati mereka terusik.Menggelitik keinginan dan rasa penasaran.
Jika saat ini adalah tempat terindah yang baru pertama kali mereka jamah bersama.
Bagaimanakah rasanya melihat keindahan surga?
Bagaimanakah, rasanya merasakan keindahan nirwana?
Tanpa takut lagi akan dosa, mereka saling membenamkan wajah dengan berjuta gelora.
Tanpa kata,dan yang ada hanyalah rasa. Tanpa aba, maupun paksa. Taluan detak itu berpadu menjadi satu.
Di bawah sinar Rembulan.. Desir angin dan semilir malam, Asa itu larung dan hanyut dengan sengat melenakan.
Sungguh indah asmaraloka.
Dua daksa...Mencoba melebur menuju nirwana dunia.
***
Angkasa
"Pela... " Sebenarnya aku tak tega untuk membangunkannya sekarang. Aku yakin ia lelah, karena aku juga merasakan hal yang sama.
Pela masih tertidur pulas, surai nya kini menutupi sebagian paras manis itu. Sambil mengibas helaian nya, aku memandang penuh kekaguman.
"Makasih Pel.. Sudah menjaga semua yang memang sepantasnya terjaga.. Meskipun dulu kita sama-sama pernah khilaf dan hampir melakukan kesalahan, untung saja iman di dada masih ada. Makasih juga udah selalu ingetin aku tentang dosa..Ternyata melakukan setelah menikah jauh lebih mendebarkan dan sangat istimewa..Semoga Allah meridhoi setiap langkahmu,yang ingin taat padaku sebagai suami kamu. " Aku mengucapkan kalimat panjang di samping telinga nya, meskipun ia tidak mendengarnya.
Mengecup pucuk kepala nya berkali-kali, lalu beranjak untuk membersihkan diri.
Sebentar lagi akan masuk waktu subuh,dengan pelan aku mengusap pipinya. "Bangun sayang.."
Ia melenguh, lalu menatap ku dengan tatapan yang tak terbaca. Sedetik kemudian, ia menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah.
"Aku udah siapin air hangat.. Kamu mandi dulu ya..bentar lagi adzan! "
__ADS_1
Karena kami tak berpengalaman, menghabiskan waktu semalaman dan membuat banyak kesalahan hingga berulang kali mengaduh lucu.
Lututku kelu, dan juga linu.
Wajar saja kan..Ini adalah yang pertama kali nya untuk kami. Justru sepenggal kisah ini akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
***
Mentari di ufuk timur sudah menunjukkan eksistensi nya, sebuah fenomena yang di namakan 'arunika'.
Menikmati sunrise bersama orang yang ku sayangi, memberikan sensasi yang berbeda.
Puluhan kali melihat sunrise saat masih suka menjelajahi bumi pertiwi, tak seindah menikmatinya bersama istri.
"Masih sakit? " Tanyaku pelan, melihat ia sedikit meringis saat mengubah posisi duduknya, "Maafin aku yaa... Dan makasih banyak untuk semuanya.. " Mengusap pelan kepala nya yang tertutup oleh hijab.
Ia menggelengkan kepala, "Udah menjadi kewajiban aku sebagai istri... " Ucapnya pelan, sambil tersenyum dan membenamkan kepalanya di dadaku.
Kruuuuk.
Tiba-tiba terdengar suara perut kami yang keroncongan, kami pun saling melempar tawa dan memutuskan untuk beranjak.
Meninggalkan balkon kamar dan menunggu staff untuk membawakan sarapan.
"Habis sarapan kita mau kemana? " Tanya Pela, sambil menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutku.
"Kalau lihat di jadwal, kita bisa ke Mata air Belanda.. Tapi, kalau kamu masih capek, kita nikmatin suasana disini aja.. "
"Aku ngantuk.." Jawab Pela, mata bawahnya memang sedikit menghitam. "Kalau besok aja kita explore nya gimana? aku udah seneng ko cuma bisa duduk di balkon dan liat air jernih di bawah.. Kamu bisa snorkeling lagi, kalau kamu mau! " Pela mengambil piring yang sudah kosong, lalu berjalan menuju wastafel dan mencucinya.
"Ya udah.. Kamu istirahat aja, aku nanti mau keliling sebentar.. Liat spot mana yang bagus buat snorkeling lagi.. Tapi, ga jadi deh.. Aku pengen nemenin kamu tidur aja.. " Aku menarik tubuh Pela dan membawa nya menuju tempat tidur.
Pela menyandarkan kepalanya di bahuku, aroma shampoo yang menguar masuk ke dalam indera penciuman ku.Membuatku tak tahan untuk dengan cepat mendekap nya dengan erat.
"Pel.. "
"Mhhmmm.. " Jawabnya pelan, matanya sudah mulai terpejam.
"Ngantuk banget? "
"Mhhmmm.. "
"Ya udah.. Ayo kita istirahat dulu. "
Walaupun baru saja sarapan, aku tak peduli.. Ku rebahkan tubuhku dan Pela.Akhirnya,kami berdua pun tak kuasa untuk terlelap,untuk mengistirahatkan sejenak raga.
3 jam berlalu,aku terbangun dan mendapati istriku tengah menatap lekat.Ia tersenyum padaku.
Saat pandangan kami bertemu, entah sudah naluri atau insting lelaki. Ku benamkan wajahku bertubi, demi mendapati manik Pela yang kini sudah kian berkabut.
Hingga terjadinya apa yang seharusnya terjadi. Seharian ini kami berdua hanya mengurung diri di kamar tanpa beranjak kemana-mana.
Biarlah kami mendulang pahala,agar pernikahan ini senantiasa berkah..dengan saling menyelami hati, dan melebur bersama agar kami bisa menggapai ridha Illahi.
***
__ADS_1