Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Bosscha..


__ADS_3

Angkasa


Setelah dari curug Pelangi, kami kini sedang berada di curug tilo opat dan di bebaskan untuk outbond disana. Tapi aku sedang tidak mau, jadi aku memutuskan untuk diam di bale warung yang berada di sekitar area.


Kira-kira, apa yang menarik di sekitar sini? Hampir semua daerah Lembang merupakan objek wisata yang padat di kunjungi.Tapi ..Apa yang bisa membuat Pela tertarik ya?


Aku lihat, dia kurang bersemangat.


"Pel... Pelaa... "


"Apa? "


"Kamu mau lihat sesuatu yang kamu suka ga? " Aku memperlihatkan layar ponsel.


"Haaaah? ini di Bosscha kan? " Ia membelalakan mata.


"Hmm.. Kamu mau kesana? "


"Mauuuu.. mau banget..tapi kan kita lagi ikut kegiatan PA! "


"Kita kabur! "


"Gilaa kamu! kabur gimana? nanti mereka pasti cari-cari kita! "


"Kecil.. serahin sama aku! kamu pura-pura ga enak badan aja. Tuh muka kamu juga pucat! "


"Ini karna aku flu! "


"Kamu tunggu disini! aku mau ngomong sama kang Raka."


Aku meninggalkan Pela yang sedang duduk beristirahat.


Setelah mendapat izin dari kang Raka, diam-diam aku menarik tangan si bebek. Dan keluar dari rombongan yang berpencar dan kini sedang sibuk berfoto di berbagai spot di dekat curug.


"Angkaa... Angka.. tunggu! nanti kalau temen-temen kamu cari kita gimana? itu.. aku bilang Andi atau Rangga dulu! "


"Ga perlu! aku udah bilang ke kang Raka kalau kita mau balik ke villa.. Ayo kamu ikut aku aja! "


Dan Pela pun pasrah, mengikutiku dari belakang.


"Kita naik angkot jurusan Ciroyom – Lembang..."Kataku sambil sibuk melihat layar ponsel.


"Kamu bisa naik angkot? "


Aku mengernyit,"Bisalah.. emang kamu pikir gimana? "


"Yaa.. biasanya kalau orang kaya tuh ga mau naik angkot! "


"Aku ga kaya.. itu semua milik eyang! "


Salah satu angkot berhenti di depan kami. Dan aku membiarkan Pela masuk duluan.


Ternyata muatan angkot sudah penuh dan aku kebagian di pinggir pintu. Sedangkan Pela duduk di kursi artis dan menghadap padaku.


Di sepanjang perjalanan, sesekali aku mengulum senyum.Pasalnya si bebek terlihat mengantuk dan memaksakan diri buat terus menegakkan kepala.


"Masih jauh ya?" Tanyanya saat tersadar dan terperanjat kaget.


"Nanti kita turun di pertigaan Jalan Raya Lembang, Peneropongan Bintang Bosscha.."


"Terus dari sana udah langsung nyampe? " Tanyanya lagi, mungkin mengalihkan perhatian agar tidak mengantuk lagi.

__ADS_1


"Dari sana jalan kaki atau naik ojek...soalnya jaraknya lumayan jauh sekitar 1,2 Km.."


"Kiri... kiri mang! " Seseorang menyetop angkot. Ia pun turun di ikuti temannya. Dan kursi ujungpun kini kosong.


"Pindah ke ujung Pel! " Kataku, dan ia langsung beranjak lalu pindah ke ujung dekat kaca. Karena aku paling malas di perhatikan, aku ga mau duduk di kursi artis. Akhirnya aku pun pindah ke samping Pela.


Perjalanan yang sudah kami lalui mungkin sekitar 30 menit, karena bepergian memakai angkot memang pasti memakan waktu lebih lama.


Bugggh.


Tiba-tiba,Pela menyandarkan kepala di bahuku.Dia sepertinya sangat mengantuk, sampai ga bisa lagi menahan nya.


Aku pun membiarkan nya dan kembali melihat ruas jalan Lembang yang berkelok-kelok.


Sesekali ku lihat, penumpang yang berada di dalam angkot menahan senyum melihat aku dan Pela.


"Pel.. bangun Pel... " Aku mengguncangkan bahuku, dan Pela pun terperanjat.


"Hah.. Angka! aku.. aduuuh.. aku ngantuk banget! udah dimana? " Tanyanya sambil mengucek-ngucek mata.


"Bentar lagi nyampe.. "


Sekitar 5 menit, aku langsung menyetop angkot.


"Stop mang.. "


Aku pun turun dan Pela mengikuti dari belakang.


"Meuni so sweet... "


"Cucok.. "


Ku dengar, dari dalam angkot beberapa orang penumpang berceloteh dan terdengar di telingaku.


"Waaahh.. akhirnya... aku bisa kesini... " Saat turun dari ojek, Pela pun berseru.


Kami pun segera mendekat, tapi tunggu. Mengapa di tutup?


"Jang.. mau kemana? " Seorang bapak paruh baya mendekati kami.


"Mau kedalam pak.. "


"Upami dinteun minggon mah tutup jang.. keudah reservasi... "


Ku lihat, Pela menghela nafas panjang.


"Oh begitu pak.. makasih info nya ya pak.. " Kataku dan aku langsung menarik lengan Pela.


Dengan langkah yang lunglai, ia mengikuti langkahku dan kami berdua terduduk di rumput.


"Yaah gimana dong Angka.. kenapa kamu ga cek dulu sih buka atau ngga nya! "


"Aku ga tau.. kirain hari minggu juga buka. "


"Ya udah kita pulang aja yuk ke villa... "


"Tunggu.. kita istirahat duduk dulu disini!" Aku pun menjelajah internet. "Nanti.. kita reservasi dulu.. ini ada kunjungan malam Pel.. kita liat di malam hari aja, pasti lebih indah.. "


"Kebetulan dari bulan April sampai Oktober di buka untuk malam hari juga.. "


"Oh ya? beneran ya Angkaaa.. kamu reservasi buat tanggal berapa? "

__ADS_1


"Aku buat janji tanggal 2 Mei.. jum'at depan.."


Ku lihat Pela pun kembali tersenyum. Ia merentangkan kaki dan mendongakkan wajah ke langit cerah.


"Kamu tau ga kenapa di sebut Observatorium Bosscha? "


"Karna dulu yang bikin nya nama nya Bosscha! " Tebakku asal.


"Hmm.. bener banget...  Karel Albert Rudolf Bosscha.seorang Belanda keturunan Jerman...juragan perkebunan teh.. pemberi dana terbesar buat pembuatan observatorium ini. Juga ngebuat sekolahan buat anak-anak ga mampu di daerah sekitar... Hehhe kalau denger kata Belanda tuh pasti identik sama penjajahan kekerasan, kerja paksa.. Tapi ternyata ada juga yang peduli sama rakyat pribumi.. "


"Karel ini juga pelopor berdiri nya Technische Hoogeschool te Bandoeng...sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung...juga berkontribusi dalam pembangunan Gedung Condordia alias Gedung Merdeka...."


"Oh ya? " Aku menatap Pela lekat.


"Hmmm.. Tapi ia meninggal taun 1928,belum sempat melihat indahnya benda-benda langit. Padahal.. dulu tuh katanya teleskop paling besar yang ada di Bosscha ini harga nya mahal banget.. Karel ini sengaja beli ke Jerman buat beli teleskop. apa sih namanya... ziies gitu? aduuuh apa sih aku lupa! " Pela menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat.


"Ahaaa..Teleskop Zeiss.. Tuh kan Angka.. aku jadi ga sabar pengen liat! "


Aku menarik sudut bibirku, melihat antusiasme Pela terhadap astrologi ataupun astronomi.


"Lulus kuliah kamu pengen masuk universitas apa Pel? kayanya ke ITB juga kamu mah bisa masuk! " Ujarku, sambil mencabut satu persatu rumput hijau.


"Ga tau lah Angka.. Kalau masuk sana, biaya nya juga darimana! "


"Kamu bisa ikut program beasiswa kan? "


Pela malah menggendikan bahu."Kalau aku ga bisa kuliah di ITB.. aku mau kerja aja, sambil nabung juga ngumpulin uang buat kuliah fashion design.. atau paling mentok les jahit... "


"Hahh? aku ga salah denger?cewek kaya kamu jadi designer? " Aku mencibir.


Pela mengerucutkan bibirnya, "Tuh kan.. kamu pasti ngeledek! Aku tuh suka gambar.. kamu aja yang ga tau! "


"Gambar gunung sama sawah, terus di atasnya ada matahari,awan sama burung-burung lagi terbang... Hahaha..."


"Terserah kamu... " Dia beranjak. "Ayo kita pulang! "


"Jangan dulu pulang Pel.. masih siang, kamu mau jalan-jalan lagi? kalau kita ke Tangkuban Parahu gimana? "


"Hmm? " Pela membalikan badan nya.


"Kita naik angkot lagi.. gimana? "


"Dari kecil, kamu tuh suka banget bikin aku galau..Aku ga bisa nolak kalau kamu udah ngajak aku ke tempat yang emang pengen banget aku kunjungi..Dulu kamu inget ga ngajak aku ke sungai cikapundung yang ada di curug Dago?pulangnya malah kita nyasar! dikejar-kejar dogi komplek pas kita baru nyampe naik tangga seribu... "


"Hahaha.. Tapi kamu seneng kan? "


Ia pun berjalan duluan,dan aku menyusulnya dari belakang.


Bermain sama kamu emang menyenangkan Pela.. Seperti biasa, kamu ga bisa nolak ajakan aku. Karena aku paling tau.. apa yang jadi kesukaan kamu.


***


-


-


-


Maafkan author yang bolong2 up..


Jadi,kmrn2 padat bgt kerjaan di real life sampe migrain.. Hehhe.

__ADS_1


Terimakasih masih setia membaca Pela dan Angka ya readers.. maafkan juga kalau agak membosankan... Alur nya sengaja di buat datar dulu... 😁😘


__ADS_2