
Pelangi
Saat Angka menyetel lagu Maudy Ayunda yang berjudul Perahu Kertas,aku menarik sudut bibir dan mengulas senyuman tipis. Karena teringat saat masih kecil dulu, kami berdua hujan-hujanan dan membiarkan puluhan perahu kertas yang kubuat itu melaju mengikuti arus air yang mengalir.
Dulu sewaktu kecil..
Warna-warni pancarona, ternyata bisa membuat hati Angkasa membaik.
Warna bianglala, yaitu warna Pelangi mampu melukis senyuman dan mewarnai kelabu nya hati Angkasa.
Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada
Di antara miliaran manusia
Dan ku bisa
Dengan radarku
Menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku, cintaku padamu
Taap.
Angka mematikan audio.
"Lho.. kenapa di matiin? belum selesai lagunya! " Aku melirik ke arah nya dan mendelik.
"Ga konsen nyetir! "
"Angka.. kamu masih inget ga? kita waktu kecil sering banget bikin bikinan perahu kertas kalau lagi hujan...dan mamah kamu ma....upps!"
Mampuuus! aku lupa!
Aku langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
"Aku ga mau denger apapun tentang masa kecil.. " Ucap Angka,masih tetap fokus menyetir.
"Maaf.. " Lirihku pelan, aku benar-benar lupa. Kenangan masa lalu itu yang membuat Angka dingin pada perempuan.
Bahkan,bisa di bilang.. Angkasa Dirgantara itu kalau di lihat dari kacamata perempuan, ia memiliki segala kesempurnaan.
Tapi, selama kami bersekolah disini.. aku tak pernah sekalipun melihat ia dekat dengan perempuan. Berbicara dengan siswa lain pun secukupnya.Ia hanya bergaul dengan ketiga temannya, yang kusebut mereka F4.
Perjalanan pun berakhir, dan kini kami sudah sampai di depan gerbang rumah eyang Angkasa.
Netraku lekat memperhatikan rumah mewah berlantai tiga itu.Rumah berisikan banyak kenangan indah bersama bapak. Rumah tempat aku dan Angkasa bertumbuh bersama.
Kulihat, disana ada sosok ringkih sedang membukakan pintu gerbang dengan sekuat tenaga. Iyah.. sosok ringkih itu ialah ibu.
Raut wajah yang tak pernah menampakkan kesedihan itu sedang tersenyum ke arah kami. Tanpa aba-aba, aku membuka pintu mobil dan lalu berlari menghamburkan tubuh, mendekap sosok yang sangat ku rindukan itu sangat erat.
"Ibuuuu.... "
"Pela... anak ibu nu geulis! " Ibu mengusap-usap rambutku lalu mengecup keningku berulang-ulang.
"Ibu sehat? " Tanyaku, sambil memperhatikan raga ibu yang terlihat semakin kurus.
"Alhamdulillah... "
Tiiiinnn... Tiiiiinnnn...
Aku terlonjak, lupa kalau Angka sedang menunggu gerbang terbuka secara sempurna agar ia bisa masuk dan memarkirkan mobilnya.
"Aden... damang? " Tanya ibu saat Angka melintas di depan kami, tanpa menjawab.. ia hanya menganggukan kepalanya.
"Ck.. " Aku berdecak, merasa sedikit kesal dengan sifat Angka yang memang sedikit angkuh pada oranglain.
"Ga boleh gitu.. bagaimana pun dia itu majikan ibu, Kamu harus membiasakan diri untuk berperilaku yang selayaknya.." Kata ibu sambil mengelus tanganku.
"Ayo masuk.. agan sudah menunggu di dalam, katanya ingin ketemu. "
Aku dan ibu berjalan beriringan di belakang Angka.Dan ku lihat Agan sedang duduk di kursi rodanya di ruang tamu,sambil merentangkan tangan.. Agan menyambut Angka dan langsung memeluknya.
"Cucu eyang.. makin ganteng! " Sambil masih memeluk Angka, agan memberikan kode agar aku mendekat pada beliau.
"Sini Pela.. eyang kangen kamu juga! "
Dengan ragu, aku melangkah mendekati agan.. "Agan damang? " Tanyaku sambil duduk di lantai dan meraih tangan agan, lalu mencium punggung tangan beliau dengan tazkim.
"Alhamdulillah... udah eyang bilang, jangan panggil agan, eyang aja! kamu udah eyang anggap seperti cucu sendiri. " Agan pun mengelus pucuk kepalaku pelan.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum malu, aku pikir mana mungkin dengan lancang aku memanggil beliau dengan sebutan eyang..
"Gimana sekolah kalian? " Tanya agan, dan aku pun mulai bercerita bagaimana suasana sekolah yang sangat berbeda jauh dengan masa SMP. Dan bercerita tentang segala hal.
Setelah berbincang lumayan lama, aku segera berpamitan pada agan dan ibu. Karena sudah terlambat masuk kerja seperti kemarin.
"Di antar Angka saja! " Titah agan, saat aku beranjak meninggalkan ruang tamu.
Dengan cepat aku menggelengkan kepala, "Ga perlu gan.. Pela bisa sendiri, lagian Angka sedang ada keperluan.. " Aku melirik kearah Angka yang sedang acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya.
"Ya sudah.. hati-hati Pela.. " Kata agan, dan ibu mengangguk tanda mengiyakan.
"Assalamu'alaykum.. " Ucapku memberi salam dan berpamitan.
Saat akan membuka gerbang, ku dengar suara mobil sedang di nyalakan.
"Kamu mau numpang ga sampe depan? " Ajak Angka, saat kami masih berada di halaman depan rumah.
"Kamu mau kemana? "
"Mau cari makan! "
"Boleh memangnya aku ikut? "
"Ya udah kalau ga mau! buka gerbangnya yang lebar..!"
Issh.. Pemarah!
"Tunggu.. aku ikut!gapapa deh sampai pasar simpang atau terminal dago aja.. abis dari sini jauh dan susah akses angkot! " Ucapku, dengan nada sedikit di rendahkan.
"Ayo buru! "
"Iyaah.. aku masuk! "
Aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Angka.
Kalau saja akses angkutan umum dari sini gampang, aku tak akan numpang ikut mobil Angka menuju terminal dago.
Selama beberapa menit kami hanya saling terdiam, aku sendiri ga tau harus membahas apa.
Saat ini kami telah melewati terminal dago, "Stop disini aja Ka.. aku mau naik Abdul muis! " Kataku sambil membenarkan posisi duduk dan tas ku.
Angka hanya terdiam, dia tak bicara apa-apa dan hanya fokus mengemudi. Tak menggubris omonganku, dan ku anggap ia akan mengantarkanku sampai simpang.
"Angka.. kamu mau makan dimana?" tanyaku mencoba mencairkan suasana. Aku tuh suka bingung menghadapi sifatnya yang ga mudah di tebak.
"Aku antar kamu ke tempat kerja! " Katanya datar dan tanpa menoleh ke arahku.
"Kita mampir dulu di dipati ukur dulu..aku mau makan soto ayam dekat kampus sana.. "
"Kalau gitu, aku turun disini deh.. aku udah telat banget! "
"Kamu juga ikut makan!"
"Aku makan nya nanti di tempat kerja aku aja.. " Tolakku, dan bersiap-siap untuk turun.
"Harus makan! tadi eyang bilang! "
Aku merenggut, kalau agan yang bilang aku bisa apa. Angka pun membelokkan kemudi ke jalur kiri untuk berbelok dari arah persimpangan dago.
"Ini kan udah jam 2,nanti aku nyampe counter jam berapa? huuh.. " Aku terus mendengus dan menggerutu.
Saat kami sampai di tempat yang biasa mangkal para pedagang kaki lima, kami tak mendapati gerobak yang berjualan soto.
"Ga ada Angka.. ayo kita sambil jalan aja, lagian kamu orang kaya makan nya di pinggir jalan.. bukan nya kalau orang kaya itu biasanya makan di restoran mahal ya? " Ledekku sambil masih menengok ke kanan dan ke kiri,masih mencari tukang jualan soto.
"Aku bukan tipe orang kaya yang begitu.. bagi aku makanan sama aja. Asal bersih ya aku makan! "
"Gimana kalau makan di imam bonjol aja, terus aja maju ke depan belok ke kanan. Itu lho yang deket baby shop yang terkenal di Bandung.. " Saranku, dan Angka balas dengan anggukan.
Kami pun telah sampai di depan foodcourt/pujasera di imam bonjol, dan aku mengikuti langkah Angka untuk masuk ke dalam nya.
"Kamu mau makan apa? " Tanyanya, sambil mengedarkan pandagan ke segala arah, mencari-cari makanan apa yang akan ia makan.
"Apa aja terserah kamu.. "
"Kita kesana! " Tunjuknya, ke tempat yang berjualan aneka jajanan bakso. Namun yang terkenal adalah lomie nya.
Kami berdua duduk sambil berhadapan. Angka memesan semangkuk lomie dan es campur, aku memesan bakmie dan es teh manis.
Angka sibuk memainkan ponsel, sedangkan aku sibuk mengedarkan pandangan ke segala penjuru pujasera. Saat makanan sudah tersedia di meja,ia memasukkan ponselnya ke saku kemeja.
***
Angkasa
Eyang menyuruhku untuk mengantarkan si bebek ke tempat kerja nya, meski pada awalnya eyang bilang kalau dia ga usah kerja lagi karena ibu nya sekarang sudah ada di Bandung.. tapi dasar si bebek yang keras kepala, ia dengan alibi panjang lebar nya meyakinkan eyang bahwa ia bisa sekolah sambil bekerja. Katanya ia sedang belajar untuk mandiri.
__ADS_1
Eyang, yang sangat menyayangi nya seperti cucu sendiri akhirnya menyetujui.
Bukankah ia masih di bawah umur? kalau di laporkan ke komnas perlindungan anak, apakah bos tempat ia bekerja, termasuk melanggar hukum karena memperkerjakan anak di bawah umur?
Aku sengaja mengajak dia untuk makan siang dulu, karena kami memang belum makan siang.Utama nya, agar ia di keluarkan dari tempatnya bekerja.
Kami sedang berada di sebuah pujasera di Bandung yang lumayan ramai pengunjung nya.
Entah kenapa, aku jadi ga tau harus bagaimana saat ini. Ini adalah pertama kalinya aku makan berdua dengan seorang perempuan.
Ya meskipun aku ga pernah menganggapnya perempuan dari kacamata seorang lelaki,selama ini aku bahkan tak pernah menyukai lawan jenis apalagi berpacaran.
Saat sibuk memainkan ponsel, makanan yang tadi kami pesan pun datang.
Kulihat mata si bebek berbinar, seperti belum pernah makan bakso saja.
"Waaah... sepertinya enak ya Angka! " Katanya antusias, sambil tersenyum menampilkan sederet gigi rapih nya.
Aku hanya menarik sedikit bibir dan menggeleng perlahan, dia itu memang sangat polos dan jujur jika mengutarakan apa yang ada di pikiran nya.
Saat memotong bakso yang berukuran besar, ia hanya menggunakan sendok saja. Kenapa ga pake garpu untuk membantu menahan bakso itu? dasar Pelangi.. cari susah sendiri.
Pluuuk.
Bakso itu melayang ke seragam sekolahku, aku tertegun sejenak.. menatap kemeja putihku yang berlumuran noda saus dan kecap.
Tadi aku memang tak sempat berganti pakaian karena asik mengobrol dengan eyang.
Aku pun menatapnya dengan tatapan yang tajam, tapi mencoba meredam emosi ingin mengumpat.
"Astagfirullah... Angkaaa... maafiin aku! " Dia beranjak,mengambil beberapa tissue dan berniat membersihkan noda di kemejaku.
Aku langsung menepis tangan nya,"Ga perlu.. nanti seragam ini bisa aku cuci.. "
"Maaf.. " Katanya lirih, lalu kembali duduk.
"Makanya pake garpu.. kamu ini ga ngerti atau ga bisa? udah kaya orang udik yang ga pernah makan beginian! "
"Ini kan emang baru pertama kali aku makan disini Ka.. selama ini aku tuh ga pernah makan disini, beli nya bakso emang-emang keliling yang bisa beli dengan harga tujuh ribuan.. " Katanya sendu, lalu mengambil garpu,dan mulai kembali makan.
"Tadi tuh.. aku terlalu semangat, pengen cepet-cepet coba bakso nya. " Sambungnya lagi tak kalah sendu.
Ko dia malah jadi sedih begitu? Aku salah ngomong?
Aku ada ide.
Aku pun mengambil botol kecap.
Creeeet.
Aku memuncratkan cairan kecap tepat ke kemeja nya.
Seketika ia terpelanga, membulatkan kedua matanya dan menatapku tak kalah tajam.
"Angkaaa... "
Aku menggendikan bahu acuh tak acuh.
"Kamu itu jadi orang ko dendaman sih? aku kan tadi ga sengaja!aku udah bilang maaf! " Ia lalu mengambil tissue dan me-lap kemeja nya. "Tuuh kan.. jadi beleber gini.. ini gimana caranya coba ngilangin noda kecap!aku besok sekolah gimana? aku ga punya seragam ganti! "
Aku pun menghentikan gerakan tanganku, tak jadi memasukkan sendok berisi mie yang akan aku suapkan pada mulutku.
"Aku ga sengaja! " Kataku datar, "Cepet beresin makan nya! abis ini kita beli baju di mall jln. merdeka.. "
"Ga bisa gitu dong.. bukan itu masalahnya, aku ga ada waktu buat nyuci baju ini! " Katanya kesal, sambil mengaduk-aduk mangkuknya.
"Kita beli seragam baru! " Jawabku enteng dan ia mendelik lalu kembali memakan bakso nya.
"Dasar orang kaya! bukan nya minta maaf, gampang banget ngeluarin uang buat hal-hal yang kaya gini.. " Umpatnya sedikit lirih.
"Aku denger.. " Kataku, sambil meletakkan sendok dan garpu karena sudah tak selera, tapi baksoku masih tersisa tinggal sedikit lagi.
"Udah habis? " Tanyanya heran, dan aku hanya mengangkat alisku. "Sini aku habisin... ga boleh sisa-sisain makanan tau! mubazir.. Allah ga suka! " Ia meraih mangkokku dan mengsejajarkan dengan mangkoknya.
Aku kembali tertegun, Haah? Dia ga jijik makan semangkok dengan aku?
"Yaaah.. gimana dong, aku kan mau kerja! nanti aja beli seragam nya.. pulang kerja nanti aku langsung cuci aja.. mudah-mudahan subuh udah kering! " Keluhnya, sambil menyuapkan mie besar-besar ke dalam mulutnya. Ga ada jaim-jaim nya.
"Tapi gapapa sih.. kalau kamu emang niat mau beliin aku seragam baru.. itung-itung kamu ganti rugi, udah bikin seragam aku kena noda yang susah ilang!"
Setelah selesai menghabiskan makanan hingga tandas. Ia menyeka mulutnya dengan tissue dan minum es teh manis hingga tandas pula tak tersisa.
Melihat tingkahmu ini, mungkin cowok-cowok di luar sana bakalan ilfeel Pel... Apa kabar temen-temen ku yang menjadikan kamu target taruhan? Tipe cewek idaman mereka itu bukan yang seperti kamu.
Untung kamu makan nya sama aku.. Di hadapanku sudah terbiasa dari kecil kamu ga ada malu-malu nya!
Aku menyunggingkan senyum, melihat Pelangi si bebek melompat-lompat kegirangan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Liat aja bebek.. aku bakalan bikin kamu lupa kalau kamu harus kerja.
***