
Angkasa
Aku mengerjap dan menyipitkan mataku,karena saat membukanya lampu terasa sangat terang menyilaukan.
Dimana ini?
Dengan setengah sadar, aku mengedarkan pandangan.
Ada seseorang yang tengah memandang ku penuh khawatir.
Laras.
"Angkasa.. Kamu udah sadar? " Suara lembut itu menginterupsi.
Aku mengangguk lemah. Dan mencoba untuk bangkit dari tidurku.
"Jangan! jangan bangun dulu! " Cegahnya sambil mendorong pelan tubuhku.
Seketika, aku ingat kalau aku belum membalas pesan dari Pela.
"Laras... Kamu lihat HP aku? " Tanyaku lirih. Sesekali meringis merasakan sakit, karena sepertinya pelipis dan kening ku terluka.
"Hhh.. " Laras mendengus, sambil menatap ku lekat. "Kamu itu lagi terluka.. Ko ingat nya HP sih! Aku juga ga tau.. Tadi aku panik banget ga inget HP kamu, jadi langsung telpon ambulans..Bisa aja mungkin HP kamu masih ada di mobil. " Katanya sedikit kesal.
"Ga apa-apa ko ini cuma luka kecil! " Kataku datar, dan menghembuskan nafasku kasar.
Padahal, aku tadi sudah merasa sangat senang karena Pela menghubungiku dan menanyakan kabarku.
"Boleh pinjam ponsel punya kamu ya Ras? "
"Ck.. Kamu itu, emang mau ngehubungi siapa sih?Tadi gara-gara kamu balas pesan.. jadi kamu ga konsen nyetir! " Laras menyerahkan ponselnya padaku sambil memberengut.
Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya.
Sambil membuka aplikasi hijau,aku mulai berpikir akan membalas salam Pela.
Tapi..
Aku lupa nomor baru Pela.
What?
Mencoba mengingat-ingat, tapi malah membuat kepalaku pusing.
"Sorry.. ga jadi Ras! " Dengan sedikit kecewa, aku mengembalikan ponsel Laras dan kembali memejamkan mata.
Kira-kira, apa yang bakalan Pela pikirkan?
Jangan sampai dia berpikir kalau aku mau membalas perlakuan nya.
Aku sama sekali ga masalah dia ga pernah membalas pesan-pesan ku.
Hanya tau dia sering kali mengunggah status saja aku sudah tenang, asalkan tau bahwa dia baik-baik saja.
"Ibu sama ayah, katanya mau kesini! " Laras memecah keheningan.
"Padahal ga usah Ras.. Ini cm luka kecil, besok juga aku udah bisa pulang! "
"Luka kecil gimana sih.. luka kamu di jahit 9 jahitan tau! Oh iya.. kamu udah lapar belum? "
"Belum.. Sebaiknya kamu pulang aja Ras, aku bisa sendiri, ini udah malam! "
"Ga mau.. aku tuh khawatir sama kamu! lagian nanti ayah sama ibu kan mau kesini, aku mau izin biar bisa jagain kamu malam ini! "
"Laras.. Besok kamu ada kuliah pagi kan? "
"Iyah sih.. Tapi gampang, aku bisa pulang subuh ini ko, kendaraan umum udah ada! "
Hhh..
Aku menghela nafas panjang, mencoba mengalah karena memang aku sendiri belum mampu untuk pulang.
Baiklah, malam ini aku akan bertahan dan beristirahat di Rumah sakit.
Tapi aku ingin tau bagaimana keadaan mobil dan barang-barang yang ada di dalam nya.
Terutama ponselku yang mana banyak sekali nomor kontak orang-orang penting terkait kasus papah dulu.
"Oh Iyah..kamu kan belum shalat maghrib sama isya Angkasa! "
"Mhhhm? aku mau wudhu dulu. " Aku pun beranjak, tapi pusing di kepala dan rasa sakit masih mendera.
"Aku bantu kamu tayamum aja ya.. Kamu shalat nya di jamak.. Soalnya baru sadar dari pingsan juga! "
Aku pun mengangguk dan Laras mulai mengajariku bagaimana cara nya ber tayamum.
Setelah itu, aku pun mulai melaksanakan kewajibanku.
__ADS_1
Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari Laras, ibu dan juga om Abi. Mereka adalah keluarga yang baik dan juga harmonis.
Meski awalnya sedikit tidak bisa terima akan kehadiran om Abi di hidup ibu sebagai suaminya. Tapi,setelah beberapa bulan dekat dan melihat keseharian nya.. beliau sangat menyanyangi ibu.
Jika sedang libur kuliah, aku pasti seharian menghabiskan waktu di rumah ibu di temani Laras.
"Nak Angkasa, menyukai anak ibu ndak? Ibu senang lho kalau seandainya suatu hari punya mantu seperti Angkasa! "
Begitu kata ibu, suatu hari saat aku membantu nya membersihkan buah-buahan di dapur.
Aku hanya tersenyum menanggapi nya, tak memikirkan dampak apa kedepannya jika memang ibu telah salah paham padaku.
Ibu pasti menganggap,bahwa aku sedang mendekati Laras.
Meski saat pertama kali melihat Laras di rumah sakit..Aku mengakui sempat terpesona,Laras itu cantik dan lembut.Terlihat terjaga dengan pakaian Muslimah yang melekat di tubuhnya.
Anggun dan rapih juga halus tutur kata nya.
Namun perjumpaan ku dengan Pela di hotel itu yang untuk pertama kali nya setelah 2 tahun tak bertemu.Membuat perasaanku semakin kuat.
Aku sungguh merindukan Pela.Senyumnya.. Matanya.. Ketus nya.. Semuanya.
Kesalahan dan khilaf, juga dosa terindah yang kami lakukan malam itu.
Justru membuat hatiku tersadar. Terselip rasa kagum yang teramat sangat, setelah ia dengan mantap ingin berhijab dan berhijrah.
Aku bisa dan aku harus memperbaiki diriku agar suatu hari bisa datang padanya.
***
Keesokan pagi nya.
Pelangi
Malam tadi aku benar-benar tak bisa tidur. Aku terus saja memikirkan Angka.
Sudah banyak beristighfar dan berdo'a di sujud sepertiga malamku.
Tapi rasa gundah ini terus mendera.
Sebenarnya, ada apa dengan Angka ya?
Aku coba menelponnya, tapi nomor nya sudah tidak aktif.
Apa ia benar-benar marah padaku?
Tapi ini demi kebaikan kita.
***
"Pel.. Itu tuh pengagum kamu udah stay di luar dari tadi! Kasian tau.. beberapa hari ini kamu nolak terus di ajak pulang bareng! " Wulan sedang membereskan kain-kain yang berserakan di meja sambil menunjuk ke arah luar kaca.
"Aku ga mau nimbulin fitnah Lan.. "
"Ya tapi kan cuma anter pulang aja! lagian ga ngapa-ngapain kan? " Wulan malah menaik turunkan alis nya, menggodaku.
"Ga boleh berkhalwat! janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua."
"Eh.. Iyah deh Iyah.. hehhe.. Tapi aku kasian ngeliat nya Pel.. Masa kamu ga tertarik sama doi sih? bukan nya calon peneliti, atau bisa aja jadi guru besar Pel.. Kalau misalkan a Zaidan karier nya melesat, apalagi kerja di pemerintahan! " Dengan panjang lebar, Wulan bersungut-sungut.
Aku hanya menyunggingkan senyuman, melirik ke arah a Zaidan yang sedang santai duduk di mobil. Menunggu ku.
Memang, sudah beberapa bulan ini a Zaidan terus mendekati ku.
Apalagi ia bilang, kalau aku akan ia bawa ke rumah nya untuk di perkenalkan pada orangtuanya.
Hhh..
Aku bingung.
Sedangkan ada 'dia',nama yang selalu ku sematkan di setiap sepertiga malamku.
Dan selalu kusebut kan jika saat aku sedang bermunajat padaNya.
"Pela.. Wulan.. Kalian belum pulang? " Teh Ayung keluar dari ruangan nya.
"Ini lagi beresin dulu ini teh.. Sebentar lagi kita pulang.. "
"Oh Iyah.. itu siapa yang tiap hari nunggu kamu di tempat parkir Pel? " Tanya teh Ayung penasaran.
"Mhmm.. Itu.. a Zaidan teh.. mantan bos aku dulu waktu kerja di counter pulsa. " Jawabku seadanya.
"Ohh.. Gitu.. Oh Iyah, besok kamu jadi ya hari pertama kursus nyetir. Nothings to worry..supirnya perempuan! Dan kamu Lan.. Kamu juga lho jangan lupa, teteh udah daftarin kursus jahit! "
"Iyah teh... Makasih teh Ayung.. " Jawab Wulan malu-malu.
"Makasih teh Ayung.. "
__ADS_1
"Ya udah.. teteh pulang dulu ya.. Semangat ya buat kalian! " Teh Ayung pun berlalu, a Senja sudah menunggu dengan setia di depan pintu.
Bekerja di gallery teh Ayung itu memang sangat menyenangkan.
Selain di latih dan di beri banyak ilmu dengan 'on the job training'.Semua karyawan juga di berikan kesempatan untuk memilih bidang mana yang di minati dengan memberikan les atau kursus.
Awalnya aku menolak, saat teh Ayung bilang kalau aku harus belajar menyetir sendiri karena pekerjaan ku memang mobile.
Tapi setelah di pikir-pikir,memang akan sangat efesien waktu kalau aku bisa mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat. Karena harus mengurus ini itu, bertemu klien dan vendor juga ada saatnya aku harus survey ke lokasi.
"Pela.. Ada yang mau saya bicarakan Pel.. " A Zaidan memanggilku, dan dengan cepat aku menyeret Wulan untuk ikut menghampiri nya.
A Zaidan melirik ke sebelah Wulan,memberi isyarat agar kami bisa mengobrol berdua. Wulan terlihat seperti salah tingkah. Mungkin ia bingung, harus menurut pada siapa.
"Tapi Wulan harus ikut ya a.. Aku ga mau kalau kita pergi cuma berdua. "
Akhirnya a Zaidan mengangguk. Kami pun masuk ke dalam mobil nya dengan ragu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, kami sampai di salah satu cafe yang lumayan ramai.
A Zaidan pun memberikan buku menu,aku dan Wulan hanya memesan minuman jus karena waktu sebentar lagi sudah mau maghrib.
"Pel.. Aku mau ke toilet bentar ya.. " Pamit Wulan, sambil beranjak.
"Tapi Lan.. " Aku menarik ujung kerudung Wulan refleks.
"Disini kan banyak orang Pel.. jangan khawatir, ga akan nimbulin fitnah! " Celetuk Wulan, dan aku langsung melotot ke arah nya.
A Zaidan terkekeh kecil, dan ia berdeham.
"Mmhhm.. "
Aku pun menyunggingkan senyuman kamu ke arah nya, berharap a Zaidan tidak membicarakan lagi masalah perkenalan orangtua.
"Pela... Apa kamu udah memikirkan jawaban dari pertanyaan saya tempo hari? "
"Itu.. Maaf a.. Aku harus isktiharah dulu.. aku ga bisa memutuskan karena a Zaidan sendiri sudah tau kan gimana keadaan aku, ibu.. dan.. "
"Jangan khawatir Pel.. Saya setia menunggu jawaban dari kamu.Tapi jangan larang saya buat ketemu.. Kalau memang ga boleh berdua juga kamu bisa minta di temenin lagi seperti sekarang.. "
Aku pun mengangguk dengan ragu.
"Oh Iyah Pel.. Fajar sudah pernah main outbond belum? "
Aku menggeleng,sudah lama sekali aku memang ga pernah mengajak adikku yang sholeh itu jalan-jalan.
Terakhir kali aku dan Angka pernah berjanji, akan mengajak dia ke taman Safari dan Dufan sesuai dengan permintaan nya.
"Minggu depan.. bagaimana? "
"Tapi a.. " Entah dengan alasan apa agar aku bisa menolak ajakan A Zaidan.
"Minggu depan mau kemana Pel? " Tiba-tiba Wulan sudah berdiri dan lalu duduk di sebelahku.
"Kamu ikut aja Lan.. Saya ngajak Pela dan Fajar buat outbond.. "
"Wah seru juga kayanya ya a... emang boleh nih aku ikut? " Tanya Wulan sambil cengegesan.
"Ikut! " Kataku singkat. Dan di jawab oleh Wulan dengan kekehan.
Andai ga ada Wulan, mungkin saat ini hanya keheningan yang di rasakan.
Entah kenapa, aku yang dulu merasa sangat nyaman saat mengobrol dengan a Zaidan. Menjadi sangat canggung dan ga lagi banyak hal yang ingin di bahas seperti dulu.
Semua nya berubah, saat a Zaidan dengan terang-terangan bilang kalau ia menyukaiku dan berniat serius menjalin hubungan dengan ku menuju jenjang rumah tangga.
Aku benar-benar bingung.
Aku harus bagaimana?
Dalam islam, bagi seorang wanita...cara memilih calon suami atau laki-laki untuk dijadikan pasangan hidupnya ada dua kriteria yaitu agama dan akhlaknya.
Maka apabila perempuan menolak lamaran laki-laki karena alasan calon pasangan tidak terjaga agamanya hukumnya adalah boleh.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menerangkan dalam sebuah hadits shahih bahwa menolak lamaran seseorang padahal dia telah sepadan baik agama maupun akhlaknya,maka akan mendatangkan musibah.
A Zaidan adalah lelaki baik, pintar dan secara finansial memang menjanjikan.Aku lihat juga.. agama dan akhlaknya pun baik.
Lalu bagaimana, kalau seandainya saat ini memang Allah sudah memilih kan jodoh terbaik NYA untukku?
Sedangkan hati dan perasaan ku masih berharap pada 'dia' yang ada jauh disana.
Apa yang harus aku lakukan?
Masih boleh kah berharap?
***
__ADS_1