Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Siasat Angkasa


__ADS_3

Pelangi


Sambil mencoba berlari, Aku mulai menghitung mundur, "10..9..8..7..6..5..4..3..2..1.... Kamu berani Pela! ayo lari! kamu kuat! "


"Angkaaaaa.... " Aku memanggil Angkasa, tapi tak juga ia menjawab.


Kemana sih dia?


Aku menarik nafas panjang, kulihat disana ada cahaya.. iyah itu pasti bibir goa.


Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju cahaya itu dan tak menghiraukan lagi dimana Angkasa berada.


Apa Angka di ganggu jin? Mungkinkah dia pingsan?atau kerasukan?


Apa aku terlalu mempercayai cerita-cerita mitos ? atau hanya berhalusinasi sendiri?


Kaki ku terasa sangat berat untuk melangkah meninggalkan lorong goa ini.Apalagi..aku pernah mendengarkan cerita di salah satu stasiun radio Bandung, yang mengusung tema tentang horor.


"Selamat malam jumat insan muda, waktunya nightmare side.. "


"Akan ada cerita pengalaman nyata insan muda, yang akan kamu dengarkan secara on air di Arban Radio barengan DidiArban.. "


"Dan selalu ingat! Jangan pernah dengerin nightmareside ini sendirian!⁣⁣⁣⁣"


Kalimat-kalimat itu terlintas di benakku, karena baru malam jum'at kemarin aku dengerin radio tengah malam dan mendengarkan cerita tentang pengalaman orang-orang tentang makhluk halus.


Sebenarnya aku biasa saja waktu mendengarkan acara malam itu,tapi berada disini benar-benar menyeramkan. Aku ga tau.. kenapa aku menjadi penakut kaya gini.


Bruuugh.


Aku tersandung dan terjatuh di sekitar bibir goa, ada sepasang tangan yang menarikku kembali ke dalam.


"Aarrgh.... toloooooooong! " Aku berusaha meronta dan mencari pegangan agar aku bisa menahan tarikan tangan itu.


"Toloooooong! " Aku terus berteriak,"Ga maauuuuu... jangan ganggu! "


Hening sejenak, dan pegangan tangan itupun terlepas.


"Hahahaha.....Ahahahhaaa.... " Terdengar suara tertawa yang amat sangat aku kenali bergema di dalam gua ini.


Aku membulatkan kedua mata, dan langsung berdiri.


"ANGKASAAAAAAAA! " Tanpa basa-basi aku meninggalkan goa dan berlari sekuat tenaga. Menahan marah,ingin menendang si Badger madu yang sangat usil. Tapi malas meladeni bercandaan nya yang sama sekali ga lucu.


Tega!


Itulah satu kata yang terlintas di benakku tentang Angkasa Dirgantara.


"Angkasa Dirgantara si badger madu... Nyebelin! Pergi sana ke ujung dunia...Dehidrasi di gurun sahara ..Hilang sekalian di segitiga bermuda..Pergi kamu keluar angkasa kaya nama kamu! Atau Hipotermia di kutub utara sama orang eskimo...Hilang di samudra antartika ketemu dan berenang sama Siren atau hiu sekalian...!" Aku menghujaninya dengan ujaran kemarahan.


"Hahahhaa... Pelaaaa.....kamu itu.. nyontek lirik lagu Gita Gutawa... "


Angka terbahak-bahak sambil berlari mengejarku dan menarik sepedanya,"Tunggu Pelaa... maafin aku.. aku bercandaa! " Katanya sambil teriak.


"Sana kamu ke angkasa aja! temen kamu tuh asteroid.. Nebula..sama meteor! ooh bukan.. bukaaan.. kamu temenan nya sama UFO makhluk astral !!! " Kataku kesal dan terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya.


"Yaah Pela... kamu gitu aja marah... katanya kamu berani! " Angka malah meledekku.

__ADS_1


"Beraninya apa dulu! kalau kamu kaya gitu aku ga mau temenan lagi sama kamu... GA LUCU! huuh.. " Aku mendelik.


"Kamu berani pulang sendiri? kaki kamu kan luka.. trus nanti lewatin semak-semak lagi! banyak ular lho disini! "


"Bodo! "


"Pelangi... tunggu...! "


Aku tak menggubris Angka dan terus saja berjalan ke depan, dia mengikuti dari belakang memakai sepedanya.


"Dek.. dek.. kalian lagi apa? " Seorang petugas menghampiri kami.


"Eh.. pak.. maaf kami ketinggalan rombongan! " Ucap Angka berbohong.


"Kalau gitu itu jalan nya sebelah sana! " Petugas itu menunjuk ke gerbang 1.


"Pel.. kita belum ke goa Belanda Pel.. "


"GA MAU! kamu sendiri sana! aku mau pulang! " Tolakku terus berjalan menuju ke gerbang yang di tunjukkan oleh petugas tadi.


Syukurlah... Aku pulang lewat jalan yang normal dan setidaknya penderitaan ku berkurang satu, ga perlu lewat jalan semak belukar lagi.


Flashback off.


***


"Assalamu'alaykum... " Aku mengucap salam, pada a Zaidan yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Wa'alaykumusalam.. lho Pela.. kamu hujan-hujanan? "


"Gapapa.. hayu masuk! kamu basah banget Pel.. bawa baju ganti? "


"Bawa a... Aku permisi dulu ke belakang ya a.. " Aku berlalu le belakang, untuk mencari kamar mandi.


Saat selesai berganti baju, aku langsung menghampiri a Zaidan yang sedang duduk menungguku.


"Sebentar ya.. " Dia pergi ke warung nasi padang sebelah.Dan kembali dengan membawa segelas teh hangat dan menyodorkan nya padaku.


"Minum dulu! "


"Makasih a.. " Aku pun menyeruput teh manis hangat yang di bawakan a Zaidan.Seketika hangat nya air teh meredam kedinginan, mengalir menghangatkan badan.


"Hayu sekarang a.. ajarin aku!" Kataku semangat dan di jawab anggukan oleh nya.


"Jadi kalau ada yang isi pulsa.. kamu buka aplikasi ini..... " Dengan panjang kali lebar a Zaidan menjelaskan satu persatu bagaimana caranya mengisi pulsa, data, transfer,bayar listrik dan lain sebagainya hingga aku benar-benar mengerti.


"Nanti juga ngukutin sendiri.. lama kelamaan kamu bakalan biasa. " Katanya memberi semangat. "Kalau hujan begini sih biasanya sepi Pel.. "


"Iyah a.. orang-orang kan pada males keluar rumah.. apalagi sekarang bayar ini itu bisa lewat m-banking langsung.. "


"Iyah sih Pel.. "


"A Zaidan udah lama buka counter pulsa? " Tanyaku penasaran.


"Lumayan.. udah ada 3 tahunan.. "


"Lumayan lama ya a... "

__ADS_1


Dan akhirnya, obrolan kami pun berlanjut kemana-mana. Senyaman itu bisa mengobrol dengan a Zaidan.


***


Angkasa


Si bebek memang keras kepala.. Aku udah berbaik hati mau memberi ia tumpangan, tapi malah ia tolak mentah-mentah.


Apa ia ga malu baju nya tipis begitu terus basah terkena air hujan. Dasar perempuan.. bawaan nya ribet.Apa salah nya menerima tawaran tumpangan jadi kan ga capek trus kehujanan.


Tempat dia bekerja juga masih jauh. Dia pasti bakalan kedinginan.. ga takut masuk angin?


Whatever..


Aku pergi meninggalkan nya yang terdiam menatap kepergianku. Setelah hujan reda, aku segera masuk ke dalam mobil dan melajukan nya, membelah jalanan menuju ke rumahku.


Setibanya di rumah, aku di sambut oleh Teh Ima asisten rumah tangga yang biasa membantuku membereskan rumah. Aku tinggal sendiri di rumah eyang yang dulu sempat ku tinggalkan.


Memang begitu banyak kenangan manis dan pahit di rumah ini, eyang menyuruhku untuk tinggal di Jakarta kembali bersamanya. Tapi aku ga terlalu menyukai atmosfer kota metropolitan. Aku terbiasa menghirup udara segar seperti di lingkungan rumahku ini.


Dahulu, katanya daerah sini adalah hutan. Belum banyak penduduknya.. tapi sekarang, justru komplek rumahku menjadi salah satu residence elit dan mewah di Dago pakar.


"Den Angka... punteun besok teteh ga bisa kesini, anak teteh di kampung sedang sakit.. teteh ijin ga masuk tapi belum tau kapan masuk lagi. " Teh Ima, berdiri di depan pintu sambil nada bicara nya sedikit bergetar. Matanya pun sembab terlihat habis menangis lama.


"Iyah teh gapapa.. sebentar saya ke dalam dulu ya teh.. " Aku pun masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarku di lantai dua.


Mengambil beberapa lembar uang merah yang ada di dompet dan memasukkan nya ke dalam amplop kecil.


"Teh.. ini ada biaya berobat buat anak teteh, nanti saya juga transfer ke rekening teteh ya..kalau ada apa-apa hubungi aku aja! " Kataku mengiba.


"Nuhuun den Angka... kalau begitu teteh pamit ya.. oh iyah, kalau ga ada teteh, siapa yang bersihin rumah ya? mau minta tolong adek teteh, si Mona den? "


"Iyah boleh teh.. tapi bukan nya Mona juga masih sekolah kaya aku? ga usah deh teh.. "


"Betul den? atau nanti teteh suruh seminggu sekali aja datang kesini ya den.. "


"Iyah boleh teh.. makasih. "


"Hayu atuh den.. teteh pulang dulu, mau langsung ke terminal. Assalamu'alaykum! " Pamit teh Ima, sambil membawa tas besar di tangan nya.


"Wa'alaykumusalam.. " Aku masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa sambil merogoh ponsel di dalam saku celana.


Aku ada ide.


Bagaimana kalau si bebek aja yang aku suruh bantu-bantu disini?Kira-kira dia mau atau ngga ya?


Tapi bukan nya dia udah bekerja?


Gimana caranya biar dia mau kerja disini?


Terserah bagaimana nanti, bagaimanapun caranya.. Akan ku buat dia setuju!


Sambil bersiul dan tersenyum usil, aku beranjak dari dudukku. Sungguh ide dan siasat jitu agar aku bisa mendekatinya dan memenangkan taruhan ini.


Tunggu saja kawan-kawan... Kalian ga akan ada yang bisa naklukin Pelangi. Cuma aku yang tau bagaimana dia.. Kalian ga tau siapa yang kalian lawan!


***

__ADS_1


__ADS_2