
Angkasa
"Biasanya kalau udah menikah itu bakalan jadi tekanan batin buat yang miskin... " Lagi-lagi Pela membahas nya.
"Keluargaku bukan salah satu yang seperti itu Pela..Dan aku juga bukan tipe orang yang mandang segala sesuatu dari materi.."
Pela terdiam, dan ia ikut menghela nafas dalam-dalam. "Mak-maksudku.. Kebanyakan nya Angka.. Aku ga bermaksud... Hhh.. Kenapa jadi bahas ini sih! Maafin aku ya... Aku belum bisa ngerubah sifatku yang kadang ga mau kalah. "
"Ga apa-apa.. Aku udah tau kamu... "
Pela terkekeh, dan ia mengepalkan tangan hendak meninju dadaku.
Namun, aku langsung meraih kepalan tangan nya dan menggenggam nya erat.
"Aku minta maaf.. Udah kabur dari masalah dan ngerasa disini akulah yang paling menderita. Ternyata kamu ga kalah menderita karena harus berjuang demi eyang aku Pel.. Makasih buat semua pengorbanan kamu selama ini... "
Pela menundukkan kepalanya. "Angka... Kita bukan makhrom, dan berpegangan tangan kaya gini juga ga boleh... " Ia melepaskan genggaman tanganku.
Aku menyunggingkan senyum, dan melihat kini ia menunduk lagi.
"Sejak kapan kamu jadi pemalu gitu Pel.. Malahan, kita pernah ngelakuin yang lebih dari pegang tangan.. Kita sama-sama tau kalau ini semua yang pertama kalinya buat aku dan kamu... "
Pela mendongakkan kepala dan membulatkan matanya, kini ia sedang memelototiku. "Jangan bahas itu..Kamu ga malu disini banyak orang yang lalu lalang! "
"Hahaha.. kamu lucu banget kalau lagi gugup Pel, aku kangen saat-saat kaya gini.. "
"Selama 2 tahun.. Aku berpindah-pindah tempat.. Nyari informasi tentang ibu hanya dari beberapa informasi di berkas dan selembar foto. "
"Jadi kamu juga ga kuliah? "
Aku menggelengkan kepala. "Mana mungkin bisa kuliah sementara pikiran sama hatiku cuma pengen nyari keberadaan ibu.. Akhirnya, beberapa hari lalu.. informan ku memberitahu tentang sahabat ibu bernama tante Dinar, setelah bertemu.. tante Dinar ngasih alamat ibu di Jogja. "
"Alhamdulillah... jadi kamu udah ketemu ibu kamu Angka? " Dengan mata berbinar, ia meraih tangan ku tanpa sadar.
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali menarik tangannya. "Ehhh.. Maaaf! " Katanya sambil tersipu malu.
"Ketemu..Tapi ibu ga mengenaliku.. Benar kata tante Dinar, ibuku kehilangan ingatannya Pel.. Setelah melahirkan aku, ibu koma beberapa bulan dan hilang ingatan. Akhirnya aku di rawat oleh mama Mira... "
"Angka... "
"It's Ok.. Aku udah bisa menerima semua ini, yang terpenting aku udah ketemu ibu dan akan berusaha mendekati nya.. Bagaimanapun caranya! "
"Apa yang bisa aku bantu Ka? "
"Aku minta tolong kamu lagi untuk merawat eyang.. Sementara ini aku belum bisa pulang ke Bandung, ini... pegang ini! "Aku mengeluarkan dompet dan mengambil salah satu kartu dan memberikannya pada Pela.
__ADS_1
"Tapi Angka.. "
"Kamu pasti butuh ini untuk biaya perawatan eyang.. Ambil sebagian untuk kamu simpan sebagai ganti biaya selama ini.. "
"Aku ga mengharapkan itu Ka.. Aku ikhlas merawat eyang kamu karena beliau udah aku anggap seperti nenek aku sendiri. "Lalu ia terdiam sejenak dan sepertinya sedang berpikir.
"Tapi.. Baiklah.. Aku ga mau menampik, aku memang butuh ini.. Tapi hanya untuk agan! Aku bukan nya materialistis.. Tapi realistis.. Semua biaya memang ga murah.. "Ia pun memasukkan kartu itu ke dalam tas nya.
Aku mengangguk. Sambil melihat kembali gantungan kunci yang setia menggantung di tas itu selama ini.
"Kamu ga ada rencana kuliah? " Tanyanya Tiba-tiba.
"Ada.. Aku mau kuliah disini, biar bisa dekat dengan ibuku. Rencananya tadi aku mau nyari Kost-kostan yang dekat dengan rumah ibu dan Rumah sakit tempat ibu therapi.. "
"Therapi? kenapa harus di therapi? " Tanyanya heran.
"Ibu aku ga bisa berjalan selama belasan tahun Pel.. Dan beberapa tahun ini, katanya ibu menunjukkan tanda-tanda bisa menggerakkan kembali kaki nya. "
"Ma syaa Allah... Alhamdulillah. "
"Makanya aku ingin pelan-pelan mendekati nya.. "
Pela mengangguk. "Jangan khawatir Ka.. Aku bakal jagain eyang kamu.. Tapi menurut ku, apa ga lebih baik kalau kamu ke Bandung sebentar untuk menemui eyang.. Dan minta maaf.. "
"Aku janji.. Aku bakalan pulang ke Bandung kalau aku udah bisa dekat dengan ibuku Pela.. Kasih aku waktu 3 bulan.. Setelah itu aku bakalan pulang sebentar ke Bandung. "
"Lalu apa? "
"Kamu mau tinggal selama nya di Jogja? "Pela terlihat sedang memutar-mutar botol air mineral nya.
"Memangnya kenapa kalau aku tinggal disini? Kamu kehilangan aku ya? " Godaku, dan ia hanya mengedikkan bahu nya."Ngomong-ngomong Pel.. Kamu masih simpan gantungan kunci itu? " Aku menunjuk ke arah tas nya.
"Memangnya kenapa kalau aku masih simpan?"
"Aku juga masih simpan.. Nih.. " Aku mengacungkan gantungan kunci yang melekat di kunci mobilku. Dan menarik ujung tas Pela.
"Mau ngapain kamu? "
"Mau nyatuin gantungan ini.. Ini kan sepasang.. Kunci hati kamu ada di aku Pela... "
"Haah? " Pela terperangah.
"Kamu ga bakalan ke mana-mana karena udah aku kunci! "
"Iih.. Apaan sih! lebay! "
__ADS_1
Aku pun terkekeh, menertawakan kelakuanku sendiri.
"Hehh..Tau ga! Jangan samain hati dengan gantungan kunci seenaknya sendiri dan berbuat sesuka hati. Kalau kunci aja ada batas pemakaian bagaimana dengan hati sudah pasti terombang ambing kesana kemari.. Kalau ga ada kepastian! "
Aku menatap lekat Pela. "Kamu butuh kepastian Pel? tentang apa? "
"Ehh.. Tentang.. Apa? menurut kamu.. memang hubungan kita apa? "
Dia itu memang selalu bisa memutar balikan pertanyaan.
"Kamu pengen hubungan kita seperti apa? "Aku menyunggingkan senyum, senang sekali menggoda si bebek yang wajahnya sudah merah itu.
"Ekhhhhem... " Tiba-tiba, dari arah belakang Wulan berdeham dan menghampiri kami berdua.
"Aku udah mulai bosen nih foto-foto terus, Kira-kira udah ada 100 foto selfie lebih, udah selesai belum kangen-kangenan nya? " Wulan menyeringai.
"Iish.. kamu apaan! Siapa yang kangen-kangenan! " Bantah Pela, sambil beranjak berdiri. "Ayo Angka! ini udah siang.. bentar lagi pasti adzan dzuhur.. "
"Ayok.. " Aku pun ikut beranjak, mengikuti mereka dari belakang.
Menaiki undakan tangga dan sesekali kami beristirahat untuk minum dan ber swafoto bersama.
Ddrttt... Ddrttt..
Ponselku bergetar.
"Hallo.. Rin.. Ada apa? "
"Angkasa.. Sore ini gue berangkat ke Jogja, penerbangan setelah maghrib. Nanti jemput gue di bandara yaa! "
"Hah.. Ngapain? " Aku mengerutkan kening.
"Gue pengen ketemu nyokap lo.. Sekalian mau refreshing liburan weekend ini.. gue cuma 2 hari disana.. "
"Mhhmm.. "
"Ko jawaban lo cuma hmmm.. Lo ga suka gue temenin nemuin nyokap lo? yang pasti gue punya cara biar lo bisa deket sama nyokap dengan mudah! "
"Serah lo Rindu... " Teriak ku, lalu aku pun mengakhiri panggilan.
Namun.. Pela menatap ku dengan heran.
Dia mengernyitkan alis.
"Siapa Rindu..? "
__ADS_1
***