Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Apa Kabar Angka?


__ADS_3

Angkasa


Kenapa aku jadi tidak berani menunjukan diri di depan Pela?


Ku lihat ia sedang tertawa berdua bersama teman nya, duduk di sebuah bangku ruang tunggu.


Aku sedang berada di balik pilar di bandara, memandang Pela dari kejauhan.


Hhh..


Beberapa kali menghela nafas panjang.


Mengurungkan niat untuk bicara tentang kami.Dan memutuskan untuk melihat dari sini sampai pesawat nanti yang ia tumpangi lepas landas.


Melihat ia dari kejauhan seperti ini, membuatku merasa menjadi penguntit..


Karena sebenarnya ingin nya mendekat, tapi ragu dan tak berani.


Aku jadi merasa jauh dengan nya.


Ia seperti menjadi sosok yang lain hari ini.Bukan lagi Pela yang dulu sering bertengkar denganku gara-gara masalah kecil... Ataupun Pela yang ketus juga marah-marah saat aku menjahili nya.


Ia sekarang begitu berbeda.


Dan tak terjangkau.


Beberapa menit berlalu, ia dan teman nya pun masuk dan sebentar lagi akan menaiki pesawat.


Hingga akhirnya pesawat pun lepas landas, dan aku masih berdiri disini menatapnya.


Sampai jumpa Pela..


Semoga suatu hari kita bertemu lagi di saat aku benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik lagi.


Untuk saat ini, aku belum bisa menjadi seperti yang kamu mau.


Sematkan selalu namaku dalam do'a mu, agar suatu hari aku bisa berubah dan bisa menjadi seorang imam yang baik.


Dan semoga Tuhan mempersatukan kita.


***


Pelangi


Aku menatap ke bawah, dari ketinggian ratusan km aku bisa melihat pijar dan gemerlapnya lampu kota Jogja.


Kota tempat pertemuan ku dengan Angka yang tanpa terduga.


Sebuah kota istimewa yang menyimpan kenangan.


Bersama Jogja, segala kenangan tersimpan rapi. Sesederhana saat berjalan berdua bersama dia melewati Malioboro dan duduk makan di angkringan.


Menatap takjub jutaan kerlip bintang di angkasa dan pijar lampu kota.


Sampai jumpa Jogja, Lampu-lampu kota di tiap sudut mu menjadi saksi nyata bahwa kau berhasil membuatku bahagia.Namun juga terluka.


Bukankah katanya memang Jogja begitu? Dimana cinta dan benci bisa jadi satu.


Teruntuk Jogja kota istimewa, terima kasih sudah menjadi tempat untuk aku dan cinta pertama ku bersua.


Angka..


Bukan nya aku tak tau.


Di balik pilar kamu sembunyi dariku.Aku sangat tahu sosok kamu.


Hhhh..


Dulu aku mengira, kalau menggapai kamu itu adalah sesuatu yang mustahil.


Tapi sekarang..disaat aku ingin berubah, kamu tiba-tiba datang lagi dan bilang kalau perasaan kita sama.


Berat sekali.. Memilih di antara 2 pilihan.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi Angka..


Kalau memang kita berjodoh, pasti kita di pertemukan.


***


Author


Keesokan hari nya,mereka kembali melanjutkan aktivitas nya masing-masing.


Pelangi dengan semangat baru nya kembali merajut harapan akan masa depan, ia berharap bisa menjadi muslimah yang lebih baik.


Pun Angkasa juga demikian, ia kembali menyusun rencana untuk bisa dekat dengan ibu nya. Dan mulai semangat untuk merangkai masa depan dengan memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta.


Lain hal dengan Rindu, yang masih menahan kesal saat pulang ke kota asalnya Jakarta. Angkasa tidak begitu merespon apapun. Hingga menimbulkan sedikit penyakit hati di dalam diri nya akan Pelangi.


***


Beberapa bulan kemudian.


"Pelaaa... "


"Iyaah teh... " Pelangi berjalan mendekati Lembayung dengan tergesa.Ia lanjut sedikit berlari sambil memegang rok nya.


"Jangan lari ihh.. kamu mah kebiasaan ati-ati tuuh rok kamu nyangkut ke sudut meja lagi.. hehhe. " Lembayung terkekeh,merasa lucu saat memperhatikan tingkah karyawannya yang bernama Pelangi yang satu itu. Pasalnya,Pelangi itu memang tomboy dan sedikit ceroboh juga.


Karena ia tidak terbiasa memakai rok.. membuat ia sedikit kesulitan dan sering sekali terjatuh.Di sebabkan rok nya menyangkut di meja atau apa saja yang ada di depan nya.


"Hehhe.. iyah teh.. bisi penting jadi aku cepet-cepet.. ada apa teh? " Pelangi terkekeh sambil melinting ujung pasmina nya yang panjang.


Pasmina plisket berwarna sage green yang membuat ia semakin kelihatan manis.


Ditambah lagi, sekarang Pelangi sudah mulai belajar untuk merawat diri.


Sapuan bedak halus dan lipbalm sudah biasa terlihat di wajah nya.


"Ini Pel... mba Chintya udah fitting gaun belum?" Tanya Lembayung.


"Ada yang di renov ga? "


"Cuma kebesaran sedikit da, paling di kecilin 2 cm.. " Terang Pelangi,sambil membawa jurnal dan membukanya.


"Teh.. ada testimoni nih dari mas Reza dan mba Syahnaz.. trus ada juga komplain dari Teh Mia.. katanya kemarin makanan nya kurang banyak, harusnya prepare juga.. tapi kan kita mah ya nyediain pesenan dia aja kan teh? "


"Iyah gapapa... udah biasa komplain yang kaya gitu mah, kita juga harus terima masukan dari klien Pel.. biar kedepan nya lebih baik. " Lembayung tersenyum, sambil sibuk melihat jurnalnya.


"Iyah teh... Pela ijin pulang cepat boleh ga teh? ibu lagi sakit.. ga ada yang jaga, ade aku lagi sekolah.. " Wajah Pelangi berubah sendu.


Ibu nya sudah beberapa hari ini sakit, dan ia bergantian dengan adiknya Fajar untuk merawat.


"Sakit apa ibu Pel? "


"Kecapean kayanya teh.. makanya Pela suruh berhenti kerja.. tapi ibu nya keukeuh.. katanya udah puluhan taun kerja disana, kasian agan juga ga ada yang merawat beliau se telaten ibu.."


"Tapi ibu harus merhatiin kondisi kesehatannya juga Pel.. kamu ajak ibu kamu ke dokter yaa.. nanti teteh transfer biayanya.. "


"Ga usah teh.. Pela ada da uang mah, kan kemaren baru gajian.. "


"Gapapa.. jug geura pulang, kasian ibu! "


"Iyah teh.. nuhuun.. Pela siap-siap dulu yaa teh.."


***


Pelangi


Dengan perasaan kalut, aku segera mempercepat langkah karena tadi saat di jalan.. suster yang membantu merawat agan menelpon ku.


Aku sengaja, meminta agar ibu ada yang membantu merawat agan. Karena dana nya bisa mengambil dari tabungan yang di berikan Angka sewaktu di Jogja.


Saat sampai di rumah, Ibu sedang terbaring lemah di tempat tidur nya.


Raut yang tak lagi muda itu sedang melihatku dengan netra nya yang sayu.

__ADS_1


"Teh Pela udah pulang? ini kan masih siang? " Ucap Ibu lirih, mencoba menyembunyikan sakit yang ia derita. Namun aku tau, ada sesuatu yang ibu sembunyikan.


"Lebih baik kita ke rumah sakit yuk bu.." Ucapku, sambil meraih punggung tangan ibu dan mencium nya takzim.


"Ga usah teh.. Ibu ga apa-apa, ibu cuma butuh istirahat sebentar. "


"Ibu jangan khawatir masalah biaya bu.. teteh kan kemarin baru gajian.. "


Tapi ibu menggeleng dengan cepat, "Ada sesuatu yang mau ibu ceritain ke teh Pela.. "


"Tentang apa bu? "


"Tentang den Angkasa.. "


Aku terdiam, berpura-pura tidak tau apa-apa tentang Angka di depan ibu.


Ibu pun menceritakan setiap detail kejadian masa lalu, hampir sama seperti apa yang di ceritakan Angka saat ibu nya mengalami koma.


"Ibu minta tolong.. Tolong teteh temui mamah den Angka, agan ingin bertemu dan meminta maaf.. "


"Tapi teteh ga tau harus cari dimana bu.. "


Lalu ibu mengambil sesuatu di bawah bantal dan menyerahkan secarik kertas padaku.


"Ini alamat neng Mira.."


Ibu terlihat menghela nafas panjang. Netranya lurus menatap ke atas seperti sedang banyak berpikir.


"Agan sudah tidak apa-apa sekarang teh..Perasaan Ibu ga enak, beliau terus memanggil nama neng Kinanti, neng Mira sama den Angka. Meskipun ga jelas.. Tapi ibu mengerti apa yang di maksud agan. " Kata ibu sambil menangis, lalu menggenggam tanganku erat.


" Teteh tau dimana den Angka sekarang? "


Aku terhenyak, meskipun aku berusaha menutupinya. Aku yakin ibu mengetahui kalau aku tau dimana Angka.


Aku mengangguk pelan. "Tau bu.. "


"Kenapa teteh ga pernah bilang? teteh tau kan kondisi eyang nya den Angka bagaimana sekarang? "


"Tapi bu.. Angka sendiri yang bilang, dia mau pulang ke Bandung ko bu.. "


Ibu menggeleng kan kepala. "Teh.. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan agan sebelum den Angka kesini? "


"Nanti teteh hubungi Angka bu.. " Aku tak bisa mengelak, karena ibu sudah memberi perintah agar aku segera memberi tahu Angka keadaan agan.


Apakah aku harus jujur tentang Angka yang sudah bertemu ibu Kinanti pada ibu?


Tapi Angka bilang jangan dulu memberi tahu siapapun tentang ibu Kinanti.


Tapi ini mendesak kan? aku harus menghubungi dia duluan!


Tapi nanti apa yang akan dia pikirin tentang aku?


Bukan nya dulu aku yang memutuskan untuk menjauhi nya?


Segera aku ambil ponsel, dan dengan ragu mengetik pesan..


Pelangi: Assalamu'alaikum.. Apa kabar Angka?


***


-


-


-


Assalamu'alaikum readers..


mohon maaf bbrp hari ini ga up, di karenakan author sedang uzur sakit.. Qodarullah..


Pengen up, tapi ga memungkinkan..


Jangan lupa jaga kesehatan ya...semoga para readers disini di beri kesehatan dan sll dlm lindungan Allah yaa.. 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2