Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Larasati Abimanyu.


__ADS_3

Angkasa


Ternyata,selama ini ibu tinggal di sebuah desa yang lumayan jauh dari pusat kota.


Sambil mengemudikan mobil, aku melihat ke sekeliling..Melewati hamparan persawahan,padi yang subur dan hijau tertampar luas seperti karpet yang membentang.


Aku sedang berada di sebuah desa wisata bernama Pentingsari.Desa ini terletak sekitar 12 km sebelah selatan Gunung Merapi tepatnya di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.


Kalau dikira-kira, jaraknya dari pusat Kota Yogyakarta sekitar 25 km. Alamnya masih terjaga, pohon-pohon yang menjulang juga masih lebat terjaga.


Katanya, kalau malam masih sering ada kunang-kunang yang berterbangan, hal itu bisa menandakan bahwa udaranya masih bersih, jauh dari polusi.


Aku jadi mengingat si bebek, saat masih kecil.. Sering sekali kami menghabiskan waktu bersama di lingkungan yang alam nya masih asri seperti ini.


Gimana kabar kamu Pela?


Maafin aku..


Selama ini menghilang dan ga pernah menjelaskan alasan sebenarnya kenapa aku pergi.


Karena penasaran dengan keadaan eyang dan Pela, kemarin aku memberanikan diri untuk menghubungi teman-teman lagi.


Tapi, Marvel dan Andi sudah tidak tinggal di Bandung lagi. Hanya Rangga yang melanjutkan kuliah di salah satu universitas negeri disana.


"Gue udah lama ga liat dia bro.. Pela selalu menghindar setiap gue deketin dia! "


Begitu kata Rangga, saat kami berbicara di telpon.


Nomor Pela yang lama pun sudah tidak aktif lagi. Sementara aku masih belum bisa untuk pulang dan menemui eyang.


Hati kecilku masih saja belum menerima kesalahan besar yang telah eyang lakukan di masa lalu.


***


Disepanjang jalan Desa Wisata Pentingsari aku banyak menjumpai masyarakat sekitar yang begitu ramah terhadap para wisatawan yang berkunjung ke desa ini.


Aku seperti melihat desa Ubud di Bali.Berjajar rapih dan tersusun rumah-rumah atau homestay yang bisa di sewa oleh para wisatawan.


Disini,aku merasakan nuansa pedesaan dengan pemandangan yang sangat luar biasa.


Aku pun memutuskan segera menyewa salah satu homestay,dan di sambut dengan ramah oleh para penduduknya.


Nanti, di setiap harinya selain keramahan dan kearifan lokal warga sekitar yang sangat begitu terasa di desa ini pasti akan membuatku nyaman untuk tinggal di sini.


Setelah proses akad penyewaan selesai, tanpa ragu aku langsung membawa koper dan masuk ke salah satu homestay.


Menelaah satu persatu material rumah yang hampir keseluruhan terbuat dari kayu.


Karena hari sudah menjelang petang, dengan refleks aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur dengan dipan yang kecil. Mengistirahatkan raga, yang sudah lelah karena konsentrasi menyetir seharian.


***


Keesokan pagi nya..


Aku memutuskan segera menemui ibu, hanya berjarak beberapa ratus meter dari homestay ku.


Hatiku berdebar, di kala saat ini.. Aku tengah mengintai dari luar rumah.


Kira-kira, apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin langsung memberi tahu ibu kalau aku ini adalah anaknya.


30 menit berlalu, tak ada tanda-tanda. Rumah tersebut ternyata sepi dan seperti tak berpenghuni.


Dengan sedikit perasaan kecewa, aku pun mendekati sebuah rumah kecil di samping rumah ibu. Kebetulan, ada seorang ibu paruh baya yang sedang menyiram bunga di depan rumah.


"Permisi bu.. Mohon maaf mau tanya, apa benar di sekitar sini ada yang bernama ibu Kinanti? " Tanyaku, sambil memperlihatkan foto lawas ibu.

__ADS_1


Ibu tersebut mengernyit, dan memandangi ku dari atas kepala hingga kaki."Adek ini siapa nya ya? kalau boleh saya tahu? "


"Saya.. Saya kerabat nya bu, dari Bandung. "


Ibu tersebut membelalakan mata."Bandung? benar adek kerabat dekat Kinan? " Tanya ibu itu lagi masih ragu.


"Betul.. "


"Kinan sedang ke kota, sedang therapi rutin.. "


"Therapi? memang nya kenapa bu? "


"Lho kamu ini piye.. katanya kerabat tapi tidak tau keadaan Kinan, Kinan itu tidak bisa berjalan selama belasan tahun.. Nah tahun-tahun belakangan, tampaknya karena kesabaran suaminya.. Kinan menampakkan reaksi saat bisa sebentar berdiri. "


Deg.


Jadi, selama ini ibu tidak bisa berjalan?


"Kalau boleh tau, di rawat nya di Rumah sakit mana ya bu? "


"Opo ya nama Rumah Sakitnya.. lupa! pokoknya yang paling besar di kota, itu lho dekat Malioboro.. "


"Oh Iyah.. Terimakasih banyak ya bu.. "


Ibu itu pun mengangguk, sambil masih memasang wajah keheranan.


Tanpa menghabiskan waktu lama, aku segera masuk ke dalam mobil dan melajukan nya.


***


Kruuuk...


Terdengar suara perutku berbunyi, dari semalam aku memang belum makan apa-apa.


Ku putuskan untuk sarapan di sebuah cafe kecil di pusat kota.


"Selamat siang mas.. Ada yang bisa saya bantu? " Tanya seorang resepsionis.


"Maaf.. Adakah pasien yang bernama Kinanti disini? " Tanyaku.


"Sebentar saya cek dulu ya mas.. " Setelah beberapa menit, "Pasien bernama Kinanti banyak mas..Kalau boleh tau, anda siapa nya? "


"Saya anaknya.. ibu saya sedang menjalani therapi di rumah sakit ini.. "


"Coba anda cek ke bagian Fisioterapi.. siapa tau an.. "


"Terima kasih.. " Tanpa mendengar resepsionis tersebut selesai bicara, aku langsung saja mencari sendiri dimana ruang Fisioterapi tersebut.


Setelah mencari dan mengelilingi setiap koridor rumah sakit, akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang di tuju.


Dari luar kaca, aku dapat melihat seorang fisioterapis sedang membantu seseorang dengan alat bantu kruk.


Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena pasien tersebut membelakangi ku.


Sesekali, pasien tersebut hampir ambruk. Namun pria paruh baya yang masih kelihatan gagah berdiri di samping nya mendampingi fisioterapis untuk membantu pasien tersebut.


Kulihat, pria itu memberi semangat dan tersenyum pada arah pasien.


Apakah pasien itu adalah ibu?


Aku tak mengenalinya. Tapi entah mengapa.. Hanya melihat punggungnya dari belakang, aku sudah merasa yakin bahwa ia adalah benar-benar ibuku.


Ibu yang melahirkan ku.


Arrrgh.

__ADS_1


Aku memekik dalam hati, merasa teriris melihat betapa ibu sangat berjuang untuk bisa kembali berjalan.


Pria di samping nya memegang tangan ibu erat.


Aku iri.. Ingin sekali berada di sampingnya saat ini. Sekedar memberinya semangat dan dukungan.


"Maaf mas.. Apa keluarga anda juga sedang therapi disini? " Seorang gadis cantik bermata sayu dan memakai hijab ungu bertanya padaku.


Aku hanya menganggukkan kepala. Menyeka bulir yang ku sembunyikan di pelupuk mata.


"Kalau itu... yang sedang di bantu oleh fisioterapis itu.. Adalah ibuku.. "


Deg.


Aku tertegun, mendengar penuturan nya.


Ibu?


Dia adalah anak ibu?


Gadis itu tersenyum, dan menatap ku dengan tatapan sayu nya yang menggetarkan.


Untuk sesaat aku terpana, sosok gadis di depanku ini sangat cantik.Bulu mata nya yang lentik dan kulit nya yang kuning langsat, mengingatkan ku pada si bebek.


Namun yang membedakan, jelas karakter dan sifat nya yang sepertinya berbeda. Gadis ini lemah lembut, sedangkan si bebek yang kurindukan itu memiliki sifat menyebalkan. Dia gampang tersulut emosi dan gampang marah.


Aku kemudian menggelengkan kepalaku, mencoba menetralisir perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap hatiku.


"Itu ibu aku yang terbaik..Aku sangat sayang pada beliau.. Btw, siapa yang di rawat disini mas? " Tanyanya lagilagi ramah.


"Eh.. hmm.. itu, saya hanya kebetulan lewat saja. Melihat ibu itu sedang therapi mengalihkan perhatian saya.. Saya juga punya ibu yang sedang menderita keadaan yang sama. "


"Oh begitu.. Jadi ceritanya mas nya nanti mau di praktek an di rumah ya? gimana fisioterapis itu membantu ibuku berjalan? " Gadis itu terkekeh.


Dan aku hanya membalas dengan senyuman.


"Mas bukan asli orang sini ya? kalau aku tebak sih.. "


"Saya dari Bandung.. "


"Wahh.. Anak Bandung toh.. kumaha damang? "


Aku terkekeh, mendengar celoteh nya.


"Nama saya Laras mas.. kenalkan Larasati Abimanyu. "


"Saya Angkasa.. "


Kami berdua pun terlibat obrolan yang menyenangkan seputar apa saja. Hingga aku pun berpura-pura ingin bertukar alamat dengannya.


Dengan alibi, ingin belajar bagaimana cara membantu 'ibu'ku berjalan.


Dulu aku merasa warna hidup ku hanyalah hitam.. Dan menjauhkan diri dengan makhluk yang bernama perempuan.


Tapi, ternyata ada banyak perempuan baik di dunia ini. Setelah menemukan ibu kandungku, stigma negatif tentang mereka perlahan luntur.


Mulai berdamai dengan keadaan, dan kemudian mencari cara agar bisa lebih dekat dengan ibu.


Larasati Abimanyu.


Aku yakin, gadis inilah yang bisa mendekatkanku dengan ibu ku.


Sebentar lagi..


Aku akan memeluk dan mendekap ibu seeratnya.

__ADS_1


Ibu akan mengusap pucuk kepalaku dan senantiasa berdo'a segala kebaikan untukku.


***


__ADS_2