Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
11 sisi lain


__ADS_3

.


.


.


Hari-hari ku berlalu seperti biasa. Zee setiap hari tampak senang karena dia dan semua teman sekolahnya sudah tidak pernah di bully lagi.


Arza sudah menemukan bukti dan tinggal menunggu waktu saja untuk membongkar semuanya.


Zee melewati hari-hari akhir sekolahnya dengan ceria dan itu sangat membuatku bahagia...


Ibu terlihat lebih tenang dan tidak pernah mengungkit apapun tentang aku dan Arza, apalagi ibu tau kalau Arza lah yang membantu menyelesaikan masalah di sekolah Zee.


Meskipun aku masih merasa kalau ibu masih khawatir karena tidak tau siapa Arza sebenarnya. tapi aku selalu meyakinkan ibu kalau Arza adalah orang yang baik.


Aku sepertinya tau siapa yang bertugas sebagai mata-mata itu, tapi aku bersikap seolah aku tidak tau apa-apa.


Aku merasa senang dengan perhatian yang ibu berikan untukku, bapak bilang...


"Ibu selalu memperhatikanmu lebih dari memperhatikan kedua saudaramu" Itu dikatakan bapak beberapa hari yang lalu.


Pasti ibu khawatir aku akan melakukan tindakan kasar pada Arza, aku tersenyum mengingat itu.


Ibu takut kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku seperti dulu, tapi tenang saja, aku sekarang sudah lebih dewasa, aku tidak pernah lagi emosian seperti dulu,


ya... masalah maling itu... itu adalah yang terakhir... yang dilihat langsung oleh mata ibu dan aku ingat ibu sampai kejang melihat aku membuat lumpuh seorang maling.


Aku tidak mungkin menyakiti temanku sendiri, kalaupun dia salah, aku akan menegurnya dengan caraku sendiri.


\=\=\=\=***\=\=\=


Author POV


Suatu sore di sebuah taman...


dua orang sahabat tengah duduk dalam diam. menerawang jauh ke dalam pikiran mereka masing-masing...


Mereka adalah Rain dan Arza, mereka duduk berdampingan di bangku taman.


Rain tampak termenung dengan seulas senyum samar yang terlihat di wajahnya.


Sedangkan Arza, laki-laki itu tampak terlihat lelah, tatapannya sayu.


"Haahh.... " Arza mendesah.


Rain tersadar dari lamunannya dan menoleh pada temannya.


"Kenapa? " tanyanya.


Arza hanya menggeleng.


"kalo gak papa, kenapa mukanya kusut begitu?"


"gue belum mandi, makanya kusut" jawabnya lemas. Rain berdecak.


"kenapa sih? ceritalah sama gue"


"loe gak mungkin bisa ngerti masalah gue" jawabnya datar.


Rain mengerutkan dahi. Baginya Arza agak aneh akhir-akhir ini. mungkin pekerjaannya yang rumit itu penyebabnya.


Rain mengedikkan bahu, acuh.


"ya udah"


Arza menoleh pada Rain karena reaksinya itu.


"gak perhatian banget sih loe jadi temen, hibur gue kek? " wajahnya merengut.


"loe bilang gue gak mungkin ngerti masalah loe, terus gue musti gimana dong? "


"ngehibur orang kan gak perlu harus tau masalah orang itu" nada suaranya berubah merajuk. Rain mengangkat sebelah alisnya merasa aneh.


ni cowok lebay amat, batinnya.


"gimana kalo loe ikut gue ke resto, nanti gue masakin yang spesial buat loe, mau gak? "


"boleh dech kalo loe maksa"


Rain merengut. gue gak maksa kalik. batinnya.


Rain tidak berkata apa-apa lagi, takut perkataannya salah lagi dan membuat laki-laki disebelahnya merengek lagi.


mereka pun pergi ke resto menaiki motor mereka masing-masing.


sebelum ke resto, Rain singgah di masjid terlebih dahulu menunggu adzan maghrib, jarak masjid dan resto tidak jauh, jadi tidak ada masalah jika Rain singgah dulu di tempat itu.


Arza mandi di kamar mandi masjid dan keluar dengan memakai baju yang sama.


.


.


\=\=\=**\=\=\=

__ADS_1


"loe jangan bilang kalo loe temen gue" Rain mewanti-wanti Arza setelah sampai di depan resto.


"iya... gue inget. loe bawel! gue disini sebagai pelanggan VIP" Arza melenggang masuk setelah mengatakan itu.


Rain ikut masuk dan bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.


.


.


\=\=\=\=**\=\=\=\=


"Pelayan!" Arza memanggil seorang pelayan perempuan.


"Ya, Tuan. mau pesan apa? "


"saya mau pesan menu spesial yang di masak oleh koki termuda di sini" ucap Arza sedikit angkuh.


"oh ya, baik. mohon di tunggu. "


Pelayanan itu beranjak.


"Oh ya! saya mau koki itu yang mengantarkannya langsung ke meja saya" suaranya sedikit keras.


pelayan itu berbalik dan menatap Arza dengan heran. "ya... baik" jawabannya lirih.


Pelayan itu sampai di dapur dan menyampaikan pesan yang di minta oleh Arza.


Para seniornya menatap Rain penuh tanya.


Rain tidak memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Ya, tunggu sebentar. kamu bisa lanjut"


Pelayan itu berlalu.


Padahal pelayan itu tidak mengatakan kalau pesan itu di tujukan untuk Rain.


Rain merasa kalau dia sedang di perhatikan, Rain menoleh ke arah para seniornya.


Rain mengerjap bingung.


"Ada apa? "


"Kok kamu langsung yang setujui, baru kali ini loh ada pelanggan yang pesan kayak gini." kata senior itu dengan tatapan curiga.


"loh aku kan memang koki termuda di sini, kalau bukan aku lalu siapa? masa gitu aja aku pake tanya dulu. " terdengar nada percaya diri dari Rain.


Rain memang paling muda disitu.


"kamu gak ada curiga gimana gitu? " tanya senior yang lain.


dalam hati Rain sudah tau itu pasti Arza. Rain hanya menggeleng. Para seniornya jelas penasaran, apalagi yang memesan adalah laki-laki.


Mereka bisik-bisik dan berniat untuk mengintip nanti.


.


.


\=\=\=**\=\=\=


"silahkan dinikmati hidangannya, tuan" Rain membungkuk setelah meletakkan hidangan di meja Arza.


"duduk! " perintah Arza sambil mulai makan.


Rain menatap Arza bingung. Rain melihat sekeliling, melihat teman-temannya yang melihat Rain dengan tatapan curiga.


Rain tidak ingin mendapatkan pertanyaan yang macam-macam dari teman-teman kerjanya.


"gue mau lanjut kerja" Ucap Rain berbisik.


"gue bakal bayar berkali-kali lipat sama bos loe langsung, kalau loe mau temenin gue di sini"


Rain berdecak kesal.


"loe gak tau bakal gimana reaksi temen-temen gue kalo mereka lihat kita duduk sama-sama di sini. "


Arza mengedikkan bahu.


"gue bisa sumpel mulut mereka, gampang kan." Rain menatap Arza dengan kesal.


"kok loe nyebelin gini sih." Rain duduk dengan kasar. Arza tetap asyik makan tak peduli dengan Rain yang kesal.


"Hai, Rain! " sapa seorang perempuan sambil melambai dari arah pintu masuk.


Rain menoleh ke arah orang itu.


penyelamatku. batinnya sambil tersenyum.


Arza mengikuti arah pandang Rain. seorang wanita paruh baya yang terlihat elegan yang ia lihat. Arza mengerutkan dahi penasaran.


siapa orang ini? batinnya.


"Bu Intan " Rain dengan senyum yang mengembang menghampiri Intan. Rain sudah tidak sadar dengan kehadiran Arza.

__ADS_1


Intan memeluk Rain erat, Rain membalas pelukan perempuan itu dengan senang.


Arza yang merasa di lupakan menatap dua perempuan itu dengan kesal.


Rain menuntun Intan menuju meja yang bersebelahan dengan meja Arza. Rain baru sadar Arza duduk disana.


Saat itu ada banyak pengunjung yang datang, ada beberapa laki-laki yang asyik mengobrol sambil berjalan berlalu di belakang Rain.


Rain yang masih berdiri bersiap untuk duduk, tiba-tiba tegang seketika saat ada sebuah tangan yang menempel pada area belakang tubuhnya dan bergerak dengan gerakan sedikit membelai.


Rain berbalik dengan kaku dan menatap tajam si pemilik tangan itu.


"Tuan, harap anda kendalikan tangan anda. kalau anda tidak bisa, biar saya ajari bagaimana caranya." suara Rain terdengar menakutkan.


Si pemilik tangan diam terlihat kaku. temannya menyenggolnya pelan karena dia hanya terdiam.


"m-ma-maaf. " ucapnya tergagap lalu menunduk.


Rain kesal bukan main dan masih menatap orang itu, dalam hatinya bergejolak panas.


Arza berdehem dan seketika itu menyadarkan Rain dan orang-orang itu.


"maaf. saya kira tadi teman saya yang berdiri di posisimu, sekali lagi saya minta maaf."


orang itu masih diam di posisinya. Rain menghela nafas pelan mencoba mengatur emosinya.


"ya, silahkan anda mencari tempat yang nyaman. " suara Rain berubah kembali ke suara aslinya. orang-orang itu menatapnya bingung.


"silahkan." Rain mengulangi kata-katanya dengan nada yang dingin.


orang-orang itu berlalu dari hadapan Rain.


Arza tersenyum miring.


Intan, wanita itu termangu dengan yang baru saja di lihatnya. Rain memiliki sisi lain yang belum diketahuinya. dan suara Rain yang bisa berubah menjadi suara perempuan dewasa yang dingin membuat Intan sedikit terkejut.


Rain menatap Intan dan Arza bergantian. kedua orang itu diam tampak berpikir.


"Bu, apa ibu mau pesan sesuatu? "


"hah? " Intan linglung.


"Ibu mau makan apa? " Rain bertanya dengan lembut.


"ehm... seperti biasa saja." jawabnya dengan senyuman yang kaku.


Rain pergi ke dapur.


"ehm... pelayan! " Intan memanggil seorang pelayan perempuan yang lewat setelah Rain benar-benar tak terlihat.


"ya, bu. "


"sini" Intan berbisik setelah pelayan itu dekat.


"kamu kenal Rain? "


Pelayan itu menatap Intan bingung dan mengangguk pelan.


"ya, tentu. dia juga bekerja di sini. "


"boleh saya bertanya sedikit tentang dia sama kamu? "


pelayan itu merapat ke kursi di dekat Intan.


"boleh."


"Rain itu orangnya bagaimana sih? "


pelayan itu bertambah bingung, tapi dia sudah tau siapa Intan. jadi menurutnya mungkin tidak apa-apa jika dirinya mengatakan beberapa hal tentang Rain pada Intan.


Arza makan dengan perlahan mencoba menguping apa yang akan di bahas oleh dua perempuan di sebelahnya.


bersambung.....


.


.


.


.


.


hah....


akhirnya bisa up juga.


maaf dengan ceritanya yang agak kurang jelas...


itu hasil ide berhari-hari 😌😌


harapanku semoga yang membaca bisa menyukainya...


walaupun selera setiap orang berbeda.

__ADS_1


salam dari yuya....


__ADS_2