Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Paman Botak


__ADS_3

.


.


Perempuan itu menatap punggung Rain dengan wajah mengkerut.


Dan benar saja, Rain melakukan salto setelah mundur agak jauh. Kedua preman itu melihatnya dengan waspada. Tapi mereka masih diam di tempat. Setelah sampai di depan kedua preman itu, Rain melompat dan menendang kedua preman itu secepat kilat dengan dua kali putaran.


Kedua preman itu ambruk seketika. Apakah tendangan yang mendapatkan dorongan dari jarak jauh, akan berdampak lebih kuat?


Kedua preman itu hendak bangkit dengan lemah, tapi sebelum itu Rain melompat dan menjatuhkan badannya dengan keras di atas dua preman itu yang masih terlentang berdekatan.


Brukk!!


Nghek!!


( anggap saja suara yang spontan keluar dari mulut karena tertindih dengan keras)


"Uhuk! " Kedua preman itu sampai terbatuk dengan keras.


Rain melompat dan berdiri dengan tegap.


"Ayo kita bermain lagi paman! " Ucapnya dengan suara seperti anak kecil. Kedua preman itu membelalak tak percaya.


"Aku bahkan belum menunjukkan tinjuku pada kalian. Seperti yang kalian lakukan tadi. " Ucapnya lagi dengan suara yang sama.


Orang-orang yang menonton saling pandang bingung mendengar suara anak kecil dari tubuh yang tinggi itu.


Kedua preman itu mundur dengan tubuhnya yang setengah berbaring.


"Cukup mainnya. Ini! Ambillah tas ini. Aku tidak mau melihat tinjumu. " Ucap preman botak dengan terengah.


Wajah Rain nampak datar dan mengambil tas dari samping preman itu dengan kasar.


"Makanya jangan jadi maling! Dasar botak! Heuh! " Ucap Rain dengan suara aslinya.


Kedua preman itu memejamkan matanya dan menutup wajah dengan tangan saat Rain mengangkat tangannya seperti hendak memukul.


Si perempuan pemilik tas sudah tersenyum takjub dengan yang dilakukan Rain. Perempuan itu berjalan menghampiri Rain.


Rain berbalik dan hendak memberikan tas itu, tapi dia terkejut saat seorang perempuan yang dikenalnya berjalan menghampirinya.


"Loh! Bu Intan? "


Intan tersenyum dengan lebar. "Selain bisa menjadi pengisi suara, ternyata kamu juga bisa menjadi super hero dengan kemampuan luar biasamu. "


Rain berdehem sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ehem! Em... Ini tas punya ibu? "


Intan mengangguk dan mengambil tas dari tangan Rain.


"Tuh kan, bu. Saya bilang juga apa. Dia itu bukan perempuan sembarangan. " Ucap salah satu penonton.


Intan terkekeh sementara Rain menatapnya datar, seakan kesal dirinya hanya menjadi tontonan.


"Oh ya, bapak-bapak. Bisa bawa dua orang ini? Daripada nanti jadi masalah lagi. " Ucap Rain sambil melihat dua preman yang sedang terduduk. Rain heran juga, kenapa mereka tidak cepat pergi? Malah duduk santai di situ.

__ADS_1


Orang-orang itu pun menghampiri kedua preman itu. Kedua preman itu meringis saat mereka berdiri. Sambil memegangi perut mereka yang mungkin sakit, mereka berjalan diiringi oleh banyak orang.


Para pengendara sudah bubar dengan ekspresi bermacam-macam.


"Makasih ya, Rain. Kamu sudah menolong kami lagi. " Ucap seseorang yang bahkan Rain tidak mengenalnya.


"Ehm... Iya. Tapi abang ini siapa? Kok tau namaku? "


"Saya dulu pernah kamu tolong saat gerobak jualan saya diamuk oleh temannya preman ini. Kejadiannya dulu gak jauh dari sini. Kamu gak ingat? "


Rain menatapnya bingung. Dia mengingat-ingat tentang kejadian itu. Hingga wajah bingungnya berganti dengan wajah bengong.


𝘠𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯... 𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢? 𝘒𝘰𝘬 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘩? 𝘐𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘚𝘔𝘈. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢, Batin Rain.


Orang-orang itu sudah pergi tanpa menunggu Rain yang sedang melamun.


Intan menepuk bahu Rain untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Eh! Iya, bu? "


"Kamu mau di sini aja? "


"Saya mau pulang, bu. Ibu dari mana? Kok bisa ada di sini? "


Intan mendesah pelan. "Tadi itu saya selesai belanja. Sebenarnya jaraknya jauh dari sini. Tapi preman itu larinya kesini, ya saya ikut kejar kesini juga. "


Rain manggut-manggut mengerti.


"Kamu sendiri dari mana? "


"Dari bengkel, bu. Sekarang saya kerja di sana."


"Iya. Gak pa-pa kok, bu. Pak Broto juga udah bilang kalo ibu lagi diluar negeri. "


Intan terlihat tak tenang.


"Ibu kesini sama siapa? "


"Sendiri. Mobil saya masih di sana lagi. "


"Ya udah. Saya antar ibu sekarang. Lagipula hari sudah semakin sore. " Intan mengangguk dan tersenyum.


Rain dan Intan sampai di depan toko tempat Intan belanja tadi. Rain memandangi toko itu.


Toko furniture.


"Ibu ada keperluan untuk perusahaan baru ibu. Jadi ibu datang langsung ke sini. " Ucap Intan seakan mengerti dengan tatapan Rain. Rain hanya diam saja.


"Ya sudah, bu. Saya mau pulang dulu. " Rain hendak pergi tapi Intan menghentikannya.


"Ibu mau bicara dulu sama kamu. "


Rain menatapnya datar. Sebenarnya hatinya sangat merindukan Intan. Tapi dia tidak ingin membuat perasaannya menjadi semakin berlebihan.


"Iya. Ada apa memangnya, bu?"


"Kita duduk dulu di sana. " Intan menunjuk pada sebuah bangku yang terdapat di depan toko.

__ADS_1


Mereka duduk di sana.


"Ibu ada pekerjaan buat kamu. Tapi lokasinya tidak di sini. Pekerjaannya sama dengan di restonya Pak Broto. Hanya saja tempatnya tidak sebesar itu. " Ucap Intan perlahan.


Rain diam tampak berpikir.


"Ibu hanya ingin membantu kamu. Ibu tau saat ini kamu membutuhkan banyak biaya. Bukan ibu sok tau, tapi kalau kamu mengelola usaha ini, pendapatannya pasti lebih banyak dari tempat kerjamu sekarang. " Intan masih terus menatap Rain, menunggu jawaban.


Tak bisa dipungkiri, Rain memang membutuhkan banyak biaya sekarang. Kalau ada pilihan yang lebih baik, tentu saja dia sangat senang. Tapi bagaimana dengan keluarganya?


"Itu lokasinya dimana, bu? "


"Di Jakarta Pusat. Tidak jauh dari rumah saya."


Rain mendesah pelan. "Gimana ya, bu? " Rain tampak berpikir. Mungkin dia akan mengambil pekerjaan ini dan menyewa kos di Jakarta. Kalau harus pulang pergi, sepertinya akan melelahkan. Lagi pula alasan dia pulang pergi dari kuliah dulu adalah pekerjaannya di resto.


Sekarang apa alasannya? Resto itu sudah tidak ada. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Apakah mereka akan mengizinkan Rain tinggal sendiri di Jakarta?


"Sepertinya saya harus bicara dulu sama ibu saya. Kalau beliau mengizinkan, saya akan segera mengabari ibu."


"Ya. Kamu memang harus meminta pendapat ibumu. Ibu akan menunggu. " Ucap Intan tersenyum.


"Satu lagi. " Ucap Intan.


"Kamu bisa tinggal di rumah ibu. " Lanjutnya tersenyum tenang. Rain menatapnya tak percaya. "Hah? Maksud ibu? " Rain tersenyum miring.


"Ya kamu tinggal di rumahnya ibu. Tinggal di sana bersama keluarga ibu. Apa kata-kata ibu kurang jelas? "


Rain menggelengkan kepalanya. "Itu lebih tidak mungkin, bu. Ibu gak tau gimana sifat ibu saya."


"Kamu bisa memasak di rumah ibu. Itu sama saja kamu kerja di sana. Daripada kamu ngekos. Kan uang buat kosnya bisa di pake buat yang lain. Alasan itu juga bisa meyakinkan ibu kamu. Percaya deh sama ibu. " Intan tampak percaya diri.


Rain masih tampak bingung. "Ahm... Itu akan saya pikirkan lagi. Saya bicara saja dulu sama ibu saya. Itu pasti akan lebih baik."


"Ya, sayang. Sekarang pulang lah. Ini sudah mau gelap. "


"Oh.. Iya. Heheh... Saya pamit, bu. Assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam." Intan tersenyum melihat kepergian Rain. Dia merasa gemas dengan ekspresi Rain yang tampak kebingungan.


"Ibu sudah yakin kalau pilihan ibu akan menang. Kamu akan tinggal bersama ibu, anak baik. " Ucap Intan dengan senyum yang tidak juga pudar.


.


.


.


.


bersambung....


.


.


.

__ADS_1


semoga kalian suka...


salam dari yuya...


__ADS_2