
Hembusan angin malam menerpa kulitku, menyibakkan rambutku yang kubiarkan tergerai. Kubiarkan dinginnya menusuk kulitku yang hanya terbalut baju yang tipis, berharap dinginnya bisa menghilangkan sejenak rasa sakit ini. Berharap rasa sesak ini terbang bersama angin.
Ibu...
Kenapa jadi seperti ini? Siapa sebenarnya dirimu, ibu? Siapa sebenarnya aku? Kenapa banyak sekali orang yang menginginkan nyawaku? Siapa juga Bapak yang selama ini aku kenal?
Aku tertawa dalam kesedihanku. Tersenyum bahagia namun juga terluka.
Ibu...
Apakah engkau masih mengingatku? Apakah mungkin kita bisa bertemu lagi? Apakah masih ada kesempatan untuk ku?
Aku termenung sendiri di sini, di sebuah taman yang sepi dan aku hanya duduk seorang diri. Aku ingin melepaskan sejenak perasaan sesak ini walaupun rasanya tak bisa hilang.
Ku pandangi liontin itu, liontin yang terdapat wajah kedua orang tuaku. Ku pandangi wajah ibuku, wajah yang kini sangat aku rindukan.
Sekarang, aku ingin sekali memimpikan dia. Padahal dulu aku ingin sekali dia tidak hadir dalam mimpiku.
Aku ingin bertemu dengannya walaupun saat ini hanya dalam mimpi, aku tak mengapa. Karena bertemu dengannya mungkin malah membuatnya dalam bahaya, seperti kata ibu.
Apakah aku ini anak pembawa sial?
Kenapa nenekku membenciku? Kenapa orang-orang ingin aku mati?
Pikiran ku terus berkecamuk. Bahagia ku datang namun bersama itu pula kesedihan menemani kedatangannya.
Ku ingat lagi perkataan ibu di rumah tadi. "𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘜𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘢𝘺𝘢 𝘞𝘪𝘥𝘫𝘢𝘫𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢."
Baru kali ini ibuku berkata seperti itu. Dia pasti benar-benar menghawatirkan ku. Tapi dia juga pasti sudah tau siapa diriku ini. Aku yakin, identitas bapak sudah mengalami perubahan, tapi ibu menyembunyikannya dariku.
Ibu hanya bilang ibu kandung ku bernama Rani, anak dari seorang pengusaha di Kalimantan bernama Wati. Kalau begini, bisakah aku menemukan keluargaku? Informasi tentang keluarga ku hanya segitu. Dalam buku yang diberikan ibu pun tidak bisa memberikan banyak jawaban.
Tapi bagaimana pun juga aku harus menemukan mereka untuk ibuku namun aku juga aku harus menerima resiko kehilangan nyawaku saat bertemu nenekku. Sungguh kehidupan keluargaku sangat membingungkan.
Aku yakin Ibu tidak salah dan punya niat jahat. Aku yakin dia bukan ingin menjelekkan keluargaku. Buktinya dia rela berkorban untuk ku.
Ibu sangat baik walaupun dia adalah ibu tiriku. Dia rela menahan kesakitan dan merasa ketakutan demi aku. Dia rela ikut ke sana kemari bersama bapak demi aku.
Siapa yang akan menyangka kalau dia adalah ibu tiriku? Kasih sayangnya tulus bahkan melebihi kasih sayang nya pada kedua saudaraku. Dia sangat menyayangiku.
Begitu juga dengan bang Arka. Dia sama sekali tak pernah mengeluh dengan pelarian kami, padahal dia sudah tau kebenarannya.
Mungkin aku memang anak pembawa sial. Bersamaku, orang-orang terdekat ku menderita. Mereka harus mengalami kesulitan karena melindungi ku.
Bapak bahkan sampai mengalami kecelakaan yang parah dan membuatnya kehilangan wajah aslinya. Tetangga ku di tempat yang kami singgahi juga kesulitan karena aku.
__ADS_1
Aku ingat saat seorang polisi melindungi kami tapi malah dia kehilangan nyawanya. Aku ingat saat Kepala Desa di daerah terpencil dilumpuhkan demi kami. Aku masih ingat semuanya. Namun dulu aku tidak tau apa yang sedang terjadi.
Banyak tempat yang kami singgahi dan semuanya meninggalkan luka yang mendalam untuk ku. Apalagi sekarang aku sudah tau kebenarannya, hatiku semakin sakit.
Apakah aku harus menyerahkan diri ku pada mereka agar tidak ada lagi orang yang menderita karena aku?
Bapak...
Apakah ini yang ingin bapak ucapkan padaku dulu? Bapak meminta maaf padaku. Tapi seharusnya aku yang meminta maaf pada bapak dan semua orang karena ini. Aku membuat mereka menderita.
.
.
.
Aku terduduk lesu dengan mata yang sembab. Hari semakin malam namun aku masih belum ingin pulang. Aku masih ingin di sini. Tidak ada yang melihatku menangis, walaupun ada beberapa orang yang lewat tapi aku mengabaikan mereka.
Ponselku beberapa kali berdering. Ku lihat nama bu Intan tertera di layar. Dia pasti sangat khawatir karena aku sama sekali tidak memberi kabar.
Ace juga berusaha mengubungi ku namun aku juga tidak meresponnya. Mereka tidak boleh tau bagaimana keadaanku sekarang.
Aku jadi khawatir pada ibu dan anak itu sekarang. Aku tidak ingin mereka menderita seperti orang yang dekat dengan kami dulu.
Ponselku kembali berdering, kali ini aku menjawabnya. "Halo, Ace. "
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak menjawab telpon ku?"
"Tidak ada. Aku hanya sedang mengerjakan tugas. "
"Benarkah? Lalu kamu dimana sekarang?"
"Aku sedang di taman, " jawabku sambil menatap sekeliling taman, semoga dia mengira aku berada di taman di halaman rumahnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku merasa tidak tenang dan teringat padamu. "
"Aku baik-baik saja. "
Ace pamit dan menutup panggilannya. Aku menghela nafas panjang. Aku membohonginya lagi. Saat kejadian penculikan Zee pun aku tidak mengabari nya.
Tak lama ponselku kembali berdering, kali ini bu Intan memanggilku. Aku menjawabnya karena aku sudah lebih tenang.
"Rain, kamu dimana? " tanyanya saat sambungan terhubung.
"Saya di taman. "
__ADS_1
"Kenapa belum pulang? "
"Motor saya mogok jadi saya bawa ke bengkel. Ini saya sudah di perjalanan dan mampir sebentar ke taman. "
Terdengar helaan nafas darinya. "Ooh, begitu. Ibu gak tenang karena dari tadi ibu telpon tapi kamu gak angkat."
"Saya gak dengar, bu, " bohong ku.
"Ya sudah, kamu cepat pulang, ya. "
"Iya."
Aku menurunkan ponselku tanpa melihat apakah sambungannya masih terhubung. Aku terdiam kembali. Padahal motorku ku tinggal di bengkel milik temanku. Aku kemari naik ojek online. Itu aku lakukan karena aku tak ingin melamun dalam perjalanan.
Aku terdiam sampai merasakan kalau suasana di taman ini sedikit berbeda. Auranya terasa mengerikan. Aku melihat sekeliling dan tidak melihat siapapun, tidak seperti tadi. Apa yang terjadi?
Aku menatap lurus ke depan tanpa peduli dengan suasana yang berubah. Sampai suara seseorang membuatku sedikit terpaku.
"Akhirnya aku menemukan mu sendirian di sini, Rain. "
Sebenarnya aku sedikit terkejut namun aku hanya tersenyum setelah melihat orang itu.
"Kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu? " tanyanya sambil berjalan perlahan ke arahku.
Mungkin dialah yang menyebabkan terjadinya suasana mengerikan ini. Aku masih diam dan tatapannya kini berubah tajam.
"Kamu masih se angkuh dulu. "
Aku masih tersenyum. Apakah dia juga ikut andil dalam beberapa masalah yang terjadi?
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya😉😉😉
__ADS_1