Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Reynaldi Zhang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun Intan masih terjaga. Wanita itu duduk berdiam diri di sisi ranjang. Sesekali melirik suaminya yang sudah terlelap.


"Apakah aku bisa menemukan jawabannya? Aku benar-benar sendirian sekarang. Jikalau mereka masih hidup, apakah aku bisa melindungi mereka dari orang-orang itu?


Om Gerald, maafkan aku. Maafkan keluargaku. Karena kami, kau dan Rey menderita dan harus terpisah. " Intan menghela nafas panjang.


Flashback On


Beberapa saat setelah Intan pergi bersama Hastini dan Arka untuk mengganjal perut, Intan kembali ke ruangan dimana Rain dirawat, berniat mengajak anaknya pulang.


Namun langkahnya terhenti saat ia melihat dua pemuda yang berdiri di depan ruangan itu. Intan menghampiri mereka. "Kenapa gak masuk? " tanyanya ramah.


Kedua pemuda itu menoleh. Mereka melihat Intan dengan tatapan yang berbeda.


"Emm... Anu, bu, " ucap salah satu dari mereka terlihat kebingungan. Laki-laki itu melirik dengan canggung ke dalam ruangan.


"Kalian kan datang mau menjenguk. Diketuk dulu gak pa-pa, " saran Intan masih ramah.


"Tidak perlu! " bentak pemuda satunya dengan kesal. Laki-laki itu tampak tidak baik-baik saja.


"Ayo pulang, Amar! "


"Tapi, Za... " Amar tidak meneruskan kata-katanya karena Arza sudah pergi meninggalkan mereka.


Amar segera berlari menyusul Arza. Intan pun menyusul mereka. "Tunggu! " panggil Intan pada mereka setengah berteriak.


Amar berhenti namun tidak dengan Arza. Pemuda itu tampak benar-benar marah.


Sebenarnya Arza marah ketika melihat Rain yang begitu dekat dengan Ace. Dirinya merasa cemburu. Saat dia merasa marah, malah dia bertemu dengan Intan, wanita yang ia benci namun wanita itu juga melindungi Rain, gadis yang dicintainya. Arza jadi serba salah.


Arza masih berjalan dengan langkah besar saat Intan memanggilnya.

__ADS_1


"Rey! "


Arza terpaku. Tubuhnya diam mematung seketika saat mendengar nama itu disebut oleh Intan. Karena hanya orang-orang yang benar-benar tau siapa dirinya yang memanggilnya dengan nama itu.


Arza sedih, senang, tapi juga marah. Kenapa harus Intan yang memanggilnya seperti itu?


Tubuh Arza sedikit bergetar menahan tangis. Matanya nampak berkaca-kaca. Amar menghampiri nya dan terkejut karena melihat Arza seperti itu.


"Kamu pergilah dulu, ada sesuatu yang harus aku urus. "


"Baiklah." Amar pergi tanpa bertanya dan tanpa menoleh.


Arza masih diam saat Intan menghampirinya. "Bibi tau itu kamu, Rey. Bibi juga tau kalau kamu mengenali bibi, tapi kenapa kamu menghindar? "


Arza tersenyum sinis. "𝘊𝘪𝘩! 𝘉𝘪𝘣𝘪? "


"Maaf, saya sama sekali tidak mengenali Anda. Saya hanya tau kalau Anda adalah Intan Atmarani, wanita karir yang sukses dengan berbagai perusahaan nya. Saya tidak tau lebih jauh. Lagipula, saya yakin, saya bukanlah orang yang Anda maksud. Saya tidak merasa memiliki hubungan darah dengan Anda, Nyonya. Jadi kenapa Anda menyebut diri Anda 'Bibi'? "


Arza menjadi emosi dan melupakan pertahanan nya untuk berpura-pura tidak mengenali Intan. "Hah?! Berusaha? Seperti apa usaha yang Anda maksud? Anda adalah orang berpengaruh, namun mencari dua orang yang masih tinggal satu negeri dengan Anda pun Anda tak bisa! Lalu, apa saya harus percaya dengan kata-kata Anda, Nyonya? "


"Rey."


"Jangan sebut nama itu! Anda sama sekali tidak pantas menyebutnya. Anda adalah orang luar. Kita sama sekali tidak saling mengenal. Biarkan saya jalani hidup saya dengan tenang, jangan mengganggu kami. "


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu membenci bibi? "


Arza berbalik dan menatapnya penuh amarah. "Kenapa Anda masih bertanya? Apakah Anda tidak tau kenapa kami pergi? Anda sudah pasti tau siapa yang menyebabkan kami seperti ini. "


"Ya, bibi tau. Tapi ibunya bibi sudah lama meninggal, jadi kenapa kalian masih menghindar? "


"Karena kami masih dikejar! Kami diburu! Dan siapa lagi kalau bukan Anda, Nyonya? Kalau ibu Anda sudah meninggal, lalu siapa yang memburu kami dan ingin melenyapkan kami kalau bukan Anda?! " jelas Arza menggebu namun masih bisa mengendalikan suaranya karena dia masih sadar dirinya berada dimana.

__ADS_1


"Siapa yang memburu kalian? Bibi mencari kalian karena ingin bertemu, bukan untuk membunuh. "


"Tapi kenyataan nya tidak seperti itu, Nyonya." Arza tersenyum getir. "Kalian memang jahat, kalian egois! " Arza menangis.


Intan mendekatinya. "Berhenti disitu, Nyonya. Jangan dekati saya. Karena keluarga mu lah kami menderita. Karena keluarga mu lah papa meninggal! Bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, tapi malah aku bertemu saat dia sudah menjadi mayat. Apa kamu peduli? "


Intan membelalakkan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Dimana kamu saat itu? Apa yang kamu lakukan?! Papaku melindungi keluarga mu, tapi malah penghianatan yang ia dapatkan. Kamu kejam! Dan sekarang kamu datang dengan santainya dan berkata merindukan kami? Hah! Kamu hanya ingin tau bagaimana kabar sebenarnya tentang anakmu. Tapi jangan harap kamu mendapatkan jawaban itu. Biar kita sama-sama menderita! Agar kamu tau bagaimana menderita nya aku! " Arza terengah-engah dan terdiam sejenak.


Air mata Intan sudah mengalir dengan derasnya.


"Ini semua juga karena anakmu. Aku bersumpah, jika aku menemukannya, jika dia masih hidup, aku akan menyiksanya dan membuatnya menderita. Karena dia lah semua bermasalah ini terjadi. Dan sampai kapanpun, aku akan membenci kalian. Kalian keluarga iblis! Aku tidak terima kalian memperlakukan papaku seperti itu. Kamu akan mendapatkan balasan atas semua penderitaan kami, Nyonya Atmarani! Jangan harap kamu bisa bertemu dengan anakmu. Ini adalah hukuman untukmu! "


Arza pergi dengan langkah besar, meninggalkan Intan yang menangis dan rapuh. Wanita itu terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Menangis sedih dengan nasib orang-orang terdekat nya.


Flashback Off


.


.


.


bersambung....


.


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya😉😉😉


__ADS_2