
***\=\=\=***
.
.
Beberapa waktu telah berlalu. Tanpa kuhitung waktu, entah berapa lama itu sudah berlalu. Hingga aku tak merasa sesuatu telah terjadi dalam hidupku. Sebuah kata-kata yang membuatku mematung. Sebuah kenyataan yang mungkin bisa menyadarkanku tentang siapa diriku.
Aku bahkan tidak tau seperti apa perasaanku. Aku hanya bisa merasakan kekosongan dalam hati dan pikiranku.
Ku ingat kembali kata-kata Kana. Kata-kata yang kini hanya membuatku terdiam.
"Aku menyerah, kak. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Kita hanya akan menyakiti banyak orang. Aku ingin berubah. Aku ingin kembali pada kodrat ku sebagai laki-laki. Maafkan aku. Maafkan aku jika aku menyakitimu. Aku tidak berniat begitu, kak. Ku mohon agar kakak mengerti."
Itulah kata-katanya dua hari yang lalu. Setelah berkali-kali dalam waktu yang berbeda menceritakan kekagumannya pada Rain. Kana seolah menganggap Rain adalah pahlawannya karena Rain selalu menolongnya disaat dirinya direndahkan dan diganggu oleh orang lain.
Apakah perubahannya juga disebabkan oleh Rain? Secepat itu Rain bisa merubah sikap Kana yang sudah bertahun-tahun hidup bersamaku. Dia dapat merubahnya hanya dalam beberapa bulan. Padahal aku pun selalu melindungi dan membelanya.
Tapi kenapa aku tidak merasa marah? Malah aku sendiri tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Bukankah seharusnya aku kecewa karena Kana telah melupakanku?
Tapi justru malah hanya ada perasaan aneh yang kini kurasakan.
Aku berdiri di balkon sambil memandangi riak air di kolam yang tertiup angin. Tapi pikiranku berkelana entah kemana. Seakan riak air di kolam itu menghanyutkan pikiranku.
Tak lama dapat ku dengar suara langkah kaki di bawah sana, di dekat kolam. Dari suara tawa yang mereka keluarkan, sepertinya itu adalah Kana dan Rain.
Ini bukan lagi hal yang mengejutkan. Kana kini sering bersama Rain. Mereka sering bersama dan mengabaikanku yang mematung setiap melihat kebersamaan mereka. Walaupun sebenarnya yang mereka lakukan bukanlah hal yang buruk.
Bahkan sekarang sikap Kana tidak seperti dulu. Mungkin dia telah benar-benar menjadi seorang laki-laki.
Sebenarnya ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Sebagai seorang kakak, tentu aku senang dengan perubahan baiknya.Tapi, entah kenapa aku merasakan hal yang lain. Bukan pada Kana. Dan perasaan aneh ini membuatku tidak nyaman.
Meskipun aku tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di bawah sana, tapi aku tau mereka sedang bercanda seperti biasanya. Dan lagi, itu bukanlah hal yang buruk.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari balkon, tak ingin mendengar suara tawa mereka yang membuatku semakin tak nyaman.
.
.
.
.
Malam yang dingin tapi terasa hangat dengan adanya beberapa tamu. Orang tua Kana datang lagi setelah beberapa minggu yang lalu mereka pertama kali bertemu dengan Rain. Ada pula dua saudara Papa dari kota Semarang yang datang berkunjung.
Rencananya mereka akan pergi berlibur karena kebetulan Papa sedang pulang dari dinasnya di pedalaman. Saudara Papa datang dari sana untuk menjemput Papa dan juga menjenguk kami yang sudah lama tak bertemu dengan mereka.
Orang tua Kana ingin membawa Kana ke rumah baru mereka di Tangerang. Sebelumnya mereka tinggal di Singapura dan kalau ke Indonesia mereka akan ke rumah saudara mereka di Surabaya. Tentunya juga ke rumah ini.
Mereka sebenarnya sudah lama ingin membawa Kana ke sana. Tapi Kana masih sibuk dengan kuliahnya. Jadi besok Kana akan tetap ikut walau hanya dua hari dia di sana.
Sementara orang tuaku mungkin sampai satu minggu di Semarang. Itu berarti pekerjaanku akan bertambah karena menggantikan posisi Mama sementara di kantornya.
Aku tidak keberatan dengan rencana mereka. Mereka juga butuh liburan. Apalagi Papa yang jarang sekali di rumah. Lagipula saudara kami di sana pasti sangat merindukan Mama dan Papa
.
.
__ADS_1
.
.
Aku mengantar kedua orang tuaku sampai di depan gerbang. Menatap mobil yang membawa mereka perlahan menjauhi rumah ini. Kana dan orang tuanya sudah pergi lebih dulu.
Aku menghela nafas sebelum kembali masuk ke rumahku. Berjalan perlahan karena aku juga tidak sedang terburu-buru. Aku ingin bersantai hari ini.
Di ruang tamu aku berpapasan dengan Rain yang sepertinya akan berangkat ke cafe. Dia memang terbiasa pergi lebih pagi di hari sabtu dan minggu.
Rain menatapku sekilas sambil masih berjalan. Tak ada emosi apapun di matanya. Wajahnya datar seperti biasa. Aku pun tetap melanjutkan langkahku menuju kamarku.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara motor Rain menjauhi pekarangan rumahku.
.
.
.
Malam ini aku merasa kesepian. Hanya duduk menonton TV sendirian. Tak ada yang menemaniku karena pekerja di rumahku tidak ada yang menginap. Ya, kecuali Rain. Tapi dia masih di cafe saat ini.
Para penjaga pun tidak tidur di rumah ini. Mereka hanya bergantian berjaga tanpa memasuki rumah ini. Sebagian berjaga di depan dan sebagian lagi akan berjalan sesekali untuk mengitari rumah ini. Seperti itulah biasanya.
Beberapa kali ku lihat ponselku. Tak ada satupun pesan masuk. Orang tuaku sudah sampai dari tadi siang dan langsung menghubungiku. Jadi saat ini mereka mungkin sedang sibuk mengobrol dengan orang-orang di sana.
Pesan dari Kana pun tidak ada. Bahkan dia tidak mengabariku ketika dia sudah sampai di rumahnya tadi. Hanya orang tuanya yang mengabari ku.
Kana sudah benar-benar berubah. Apa sebenarnya dia marah padaku?
Apa mungkin Rain menghasutnya? Kenapa sikap Kana berubah drastis?
.
.
.
Pagi hariku terasa aneh. Aku merasa canggung karena hanya sarapan berdua dengan Rain. Sesekali ku lirik dia yang hanya menunduk sambil makan dengan tenang.
Dia mau duduk untuk sarapan di sini padahal tidak ada orang lain selain aku dan dia. Sebenarnya kalau dia mau, aku juga tidak keberatan sarapan sendiri di sini. Lagi pula aku tidak akan melaporkannya pada Mamaku.
Ya. Dia pasti takut ditegur oleh Mama.
Selesai makan, Rain mengambil piring kotor bekas makanku. Dia hanya menunduk. Apa dia takut padaku? Kenapa dia terlihat seperti itu?
"Ekhem! Aku akan pergi setelah ini, " Ucapku membuyarkan suasana hening ini. Sebenarnya tak perlu juga aku bilang padanya.
Rain menatapku dan menjawab, " Hem. " Lalu dia kembali membersihkan meja.
Aku sedikit kesal dengan jawabannya. Sudah ku baik-baiki tapi reaksinya malah begini?
Rain beranjak ke dapur. Tapi dia berhenti dan menoleh sekilas padaku. "Kemana pun kamu pergi, hati-hatilah, " Ucapnya lirih lalu dia melanjutkan langkahnya.
Aku tertegun dengan sikapnya. Tapi tanpa sadar aku sudah tersenyum karena itu. Kenapa aku merasa senang?
.
.
__ADS_1
.
Orang akan mengira aku gila saat melihatku yang senyum-senyum sendiri. Aku mengurungkan niatku untuk pergi dan malah duduk di balkon sambil terus tersenyum. Entah mungkin memang aku sudah gila.
Aku merasa senang dengan ucapan Rain tadi. Padahal hanya beberapa kata itu saja yang keluar dari mulutnya.
Saat aku sedang berusaha santai, aku mendengar obrolan dua orang perempuan. Itu adalah Rain dan mbak Sari. Suara mereka menggema saat mereka melewati kolam.
"Mbak Sari bisa berenang gak? "
"Walah... Gak bisa saya. Lah kamu bisa nggak?"
"Sama. Aku juga gak bisa. "
Lalu mereka tertawa.
Sesederhana itu. Tapi kenapa sepertinya menyenangkan?
Ini lebih dari jam tujuh. Tapi kenapa Rain belum berangkat ke cafe?
Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil keluar dari pekarangan rumahku. Mungkin itu pak Hendra yang mengantar mbak Sari belanja. Karena dia biasanya selalu pergi di hari minggu.
Aku turun dan berjalan-jalan mengelilingi rumahku. Bosan dengan itu, aku pergi ke taman di dekat kolam. Tapi sebuah suara membuatku terdiam.
Mencoba mendengarkan kalau itu memang suara Rain.
Dia mengaji? Pagi-pagi begini?
Aku mendekati kamarnya yang memang tidak jauh dari taman dan kolam. Mendengarkan lagi suara yang tidak merdu tapi enak didengar.
Aku duduk di lantai untuk mendengarkan. Sesekali Rain seperti mengoreksi bacaannya. Aku bahkan tidak tau itu benar atau tidak.
Aku semakin tertarik dan lebih mendekat. Ku lihat tirai kamarnya terbuka. Aku mencoba melihat lebih dekat walaupun aku takut dia melihatku.
Dia berhenti mengaji. Apa dia tau aku di sini? Jantungku berdegup kencang karena aku merasa gugup. Takut ketahuan kalau aku di sini.
Tapi tak lama dia mengaji lagi. Aku merasa lega. Aku sedikit melihat dari jendela kamarnya, dia sedang duduk menunduk membaca Al-Quran, memakai mukena putih. Aku menarik ulur langkahku agar bisa melihat dia.
Tapi mungkin aku sedang sial. Aku tidak melihat langkahku dan karena kecerobohanku, aku terpeleset dan jatuh ke kolam.
.
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
.
__ADS_1
salam dari yuya 😉😉😘😘