
.
.
.
"I love you, Rain. I love you... Eemmm... Rain... Kemarilah... Rain... "
"Azz, bangun. Bangun, Azz. "
"Hemm... Kemarilah, Rain. Aku ingin menciummu. "
"Heh! Bangun! Mimpi apa kamu?! "
"Rain... Jangan pergi... "
"Azz!! BANGUN!!! "
Ace bangun dengan gelagapan. Dirinya benar-benar linglung. Bahkan seorang perempuan yang sedang melotot di depannya pun tak ia sadari.
"Ini dimana? Ya ampun... Kepalaku sakit sekali. " Ace memijit keningnya.
"Apa dari semalam kamu tidur disini? "
Ace kini sadar akan kehadiran perempuan itu.
"Mama? " Ace menggaruk kepalanya dan kembali berbaring di sofa. "Aku ketiduran disini, Ma. "
Ibunya melihat ke meja. Disana terdapat beberapa kertas yang menunmpuk. Dia menghela nafas panjang lalu menyuruh Ace untuk segera membersihkan diri dan sarapan.
Ace POV
Dia sudah duduk disana seperti biasanya. Duduk di meja untuk sarapan bersama kami. Namun tatapannya masih membuatku galau. Tatapannya tidak se berwarna biasanya. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, dia tampak lebih pendiam.
Entah kejadian seperti apa yang dia alami sampai membuat dia berubah dingin. Bukan cuek seperti biasanya. Dia benar-benar berubah.
Aku duduk di meja makan berhadapan langsung dengannya. Walau dia terlihat berbeda, tapi untuk masalah pekerjaan masih dia yang menanganinya. Dia benar-benar bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Aku rasa, keluarganya bahkan tidak tau apa yang terjadi padanya. Ibuku bilang, kondisi tubuhnya sangat baik. Dia tak mengalami cedera apapun. Ibuku sampai heran mengetahui hal itu. Mengingat bagaimana kacaunya dia saat datang bersama para bawahan ibuku.
Tapi ternyata hal yang menghawatirkan bukan kondisi tubuhnya. Melainkan sikapnya sekarang ini. Dia selalu berkata bahwa dia baik-baik saja dan ingin menenangkan diri.
Tapi dia hanya terlihat baik jika berhadapan dengan ibuku. Siapapun selain ibuku akan dihindari nya walaupun di depan ibuku secara langsung. Itu termasuk Kana dan mbak Sari.
Aku tidak tau pasti dengan teman-temannya di cafe. Sudah kukatakan bukan, meskipun keadaannya seperti itu, tapi dia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Azz, makanlah. Kenapa kamu melamun? "
Aku menoleh pada ibuku. Dia terlihat tidak baik-baik saja. Aku tersenyum padanya dan mulai makan. Sesekali ku lihat Rain namun gadis itu masih saja diam menunduk.
Aku ingin sekali bisa dekat dengannya. Sesuatu yang sulit untuk bisa terjadi saat ini. Bahkan aku sampai berkali-kali memimpikannya. Mimpi itulah yang bisa menghiburku.
Terkadang mimpi itu sangatlah liar. Aku tidak tau apakah aku seburuk itu. Mimpi itu datang sendiri seiring rasa rinduku akan dirinya yang berada dekat denganku.
Apalagi jika aku teringat dengan tanda merah di lehernya kala itu. Aku benar-benar panas dibuatnya. Siapa yang melakukan itu? Apakah para penculik itu? Sungguh aku tidak rela dia dijamah lelaki lain. Walaupun statusku bukan apa-apa baginya.
Ku banting sendokku ke meja tanpa sadar. Ibuku dan Kana menatapku terkejut. Tapi Rain masih makan dalam diam, seolah aku tak pernah melakukan apapun.
Aku menyandarkan tubuhku ke kursi. Kenapa rasanya menyesakkan sekali diabaikan olehnya seperti ini? Lihatlah aku, Rain...
Rain POV
Aku terkejut saat dia membanting sendoknya. Duduk bersandar ke kursi lalu menghembuskan nafasnya kasar. Dia tampak frustasi. Aku tidak tau pasti penyebab dia seperti itu. Aku pun tidak peduli.
Aku merasa semua laki-laki itu sama saja. Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikan perasaan ku. Mungkin karena aku kecewa dengan Arza dan ditambah lagi dengan segerombolan orang yang menyerang ku beberapa hari yang lalu.
Aku tau Ace dan Kana tidak salah apapun. Tapi aku ingin menghindar dulu dari yang namanya laki-laki. Aku ingin membatasi diriku pada siapapun. Aku tidak ingin siapapun menjadi korban. Tapi bu Intan berbeda. Aku tetap dekat denganya. Aku tidak tau kenapa aku bisa merasa tenang dan nyaman bersamanya.
Bu Intan menegur Ace karena sikapnya. Tapi sepertinya laki-laki itu sedih. Aku menatapnya dan saat itu dia juga menatapku. Aku memandanginya dalam diam.
__ADS_1
Entah cuma perasaanku atau memang iya. Ace sedikit tersenyum lalu dia meminta maaf pada ibunya dan lanjut makan. Dia makan sambil senyum-senyum. Aku mengerutkan keningku karena bingung dengan sikapnya.
.
.
.
.
Ace POV
"Ma, apa tidak bisa orang lain yang pergi ke sana? "
"Tidak bisa, Azz. Kamu ini anak mama. Lagipula cuma kamu yang Mama percaya untuk memantau orang-orang disana. Tenang saja, ada beberapa karyawan yang akan menemani kamu di sana. "
"Hah... Tapi aku tidak ingin pergi, Ma. "
"Apa karena Rain? "
Aku menatap ibuku tanpa menjawab.
"Dia sedang tidak bisa diganggu. Mungkin malah akan memperburuk hubunganmu dengannya jika kamu tetap tinggal sekarang ini."
"Mama tau? "
Ibuku tersenyum. "Tentu saja Mama tau. Kamu sudah berubah dan dialah yang mengubahmu. Mama ikut senang. Tapi dia butuh ketenangan sekarang ini. Kamu pasti tau kalau masalah ini bahkan tidak diketahui keluarganya."
Aku menunduk lesu. Aku akan pergi? Bahkan waktunya bukan sebentar. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa dekat dengan dia lagi?
"Percayalah sama Mama, kalau memang dia jodohmu, dia tidak akan pergi kemanapun. Mungkin perpisahan ini akan mengawali kisah kalian yang sesungguhnya. Karena Mama yakin, Rain juga memiliki perasaan terhadapmu. Tapi saat ini dia masih belum bisa menerima keberadaan laki-laki dalam hatinya. "
"Kalau dia menyukaiku, harusnya aku ada disana dan sikapnya tidak seperti itu."
"Mengertilah, Azz. Dia sedang ingin menenangkan diri. Percayalah sama Mama, dia akan merindukanmu. "
.
.
.
Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana aku akan pergi meninggalkan kota ini. Kupandangi sekeliling rumahku saat aku menuruni tangga. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas dengan kepergianku ini.
Di bawah, ibuku dan Kana sudah menunggu. Kana tampak senang dengan kepergianku, sial!
Dia menang sekarang. Tapi belum tentu dia bisa mendekati Rain seperti dulu. Aku sedikit lega mengingat hal itu.
Aku duduk di depan mereka namun mataku masih berkeliling mencari sesuatu, lebih tepatnya seseorang.
"Dia sudah pergi ke cafe, " ucap ibuku seperti tau siapa yang aku cari.
Aku menghembuskan nafas panjang.
Padahal aku ingin sekali melihat dia. Pada saat-saat terakhir begini pun aku tak bisa bertatap muka dengannya.
Aku pikir beberapa hari sebelum kepergianku aku bisa memiliki banyak waktu bersamanya. Namun semua cuma angan-angan ku saja. Dia tidak pernah ada waktu. Mungkin bukan tidak ada, tapi dia sebenarnya menghindar.
"Berangkatlah. Mama sudah menceritakan tentang kepergianmu ini padanya. "
Aku menatap ibuku karena perkataannya. Jadi dia sudah tau kalau aku akan pergi? Tapi dia bahkan sepertinya tidak peduli.
Mungkin kenangan manis itu tak berarti apa-apa baginya. Aku yang terlalu banyak berharap. Sikapnya yang kadang-kadang terlihat malu-malu membuatku mengira kalau dia menyukaiku.
"Baiklah, Ma. Aku akan pergi sendiri. Mama ada keperluan hari ini bukan? " Ibuku mengangguk.
Aku menyalaminya dan mencium keningnya. Lalu aku berpamitan pada Kana.
"Sehat-sehat disana ya, kakak. Hati-hati dalam perjalanan. Semoga selamat sampai tujuan," ucapnya dengan senyuman yang seolah mengejekku.
__ADS_1
Dulu aku selalu senang melihat senyumnya. Tapi sekarang rasanya ingin aku remas wajah sok baiknya itu.
"Aku akan pergi bersama Mama, jadi aku juga tidak bisa mengantar kakak ke bandara."
"Aku juga tak ingin diantar olehmu, " jawabku ketus. Dia tertawa dan membuatku bertambah geram.
"Sudah. Berangkatlah. Hati-hati, ya. "
"Iya, Ma. "
Aku pun pergi tanpa menoleh lagi..
.
.
.
Salahkah kalau aku menunggunya? Berharap dia akan datang walaupun mungkin itu mustahil. Aku berharap bisa bertatap muka dengannya sebelum kepergian ku.
Mungkin aku bisa dibilang berlebihan. Tapi aku sungguh menginginkan dia datang sebelum aku pergi. Karena kegiatanku disana tidaklah sebentar. Ini sama saja tugasku dipindahkan ke sana. Jadi mungkin berbulan-bulan aku tidak bisa melihat dia.
Rain...
Ku mohon datanglah...
"Hah... Mungkin percuma aku menunggunya. Tidak mungkin dia mau datang, " ucapku bermonolog.
Aku pun beranjak dari tempatku. Menyeret langkahku dengan berat. Ingin rasanya aku tetap tinggal. Tapi sepertinya itu juga percuma.
Aku menoleh lagi ke belakang berharap bisa menemukan dia diantara banyaknya manusia. Kenapa rasanya aku ingin menangis karena tidak juga melihat dia.
Sudahlah...
Aku berjalan lagi.
Namun...
"Ace!!! "
Suara itu menghentikan langkahku. Aku tidak salah dengar kan?
Aku menoleh dengan cepat. Mencari sosok dari suara itu.
Itu dia...
Aku tidak berhalusinasi kan?
Dia berlari ke arahku...
Dia datang...
.
.
.
.
bersambung....
.
.
..
salam dari Yuya 😘😘😘😅😅
__ADS_1