Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Menjadi Alasan


__ADS_3

"Kalo loe sampe berani nyentuh dia, gue bakalan buat loe memilih mati! "


"Haha. Mati? Loe pikir loe siapa? Gue gak takut sama loe. Coba aja, lebih cepat mana loe sama pisau ini. "


Duarrr!!


Terdengar bunyi ledakan dari luar. Kelima orang yang menonton aksi bosnya tampak kebingungan. Kesempatan itu digunakan Rain untuk menyerang laki-laki itu.


Laki-laki itu terkejut karena dia bahkan tidak bisa menghindar saat kepalan tangan Rain memukul wajah dan dadanya.


Laki-laki itu terjatuh dengan keras. Berteriak kesakitan dengan suara yang serak. Meringkuk dan memegangi pipinya yang memerah.


Rain segera membuka tali yang mengikat tubuh adiknya. Ia lakukan pula hal yang sama pada Vanya, Rasty dan supir pribadi Vanya.


Orang-orang suruhan Intan sudah membekuk lima orang yang tersisa. Mereka bahkan tidak sempat melawan.


Rain menarik kerah baju laki-laki itu, membuat tubuh yang terbaring itu sedikit terangkat. "Loe harusnya tau loe berhadapan dengan siapa. Dasar anak ingusan! " Rain melepaskan pegangannya dengan keras, membuat laki-laki itu meringis karena tubuhnya membentur lantai. Laki-laki itu diam menatapnya dendam.


Rain segera membawa Zee dan yang lainnya keluar. Zee tak bisa menahan tangisannya dan itu membuatnya tak mampu bicara.


Rain terus memeluknya dan menenangkannya. Vanya dan Rasty pun tampak masih ketakutan.


Pak supir yang terlihat lemah dengan banyaknya lebam diwajahnya terlihat lega. Dia segera dibawa ke rumah sakit.


Mereka masih disana saat laki-laki yang sedang digiring itu dibawa keluar. Laki-laki itu berontak dan terlepas dari pegangan. Berlari cepat ke arah Rain dan menendang gadis itu dari belakang.


Dia terkejut karena Rain masih berdiri kokoh. Dan lebih terkejut lagi saat Rain berbalik dan menatapnya dengan wajah yang menakutkan.


"Apa maumu, anak kecil? "


Laki-laki itu tercengang dengan suara yang dikeluarkan oleh Rain. Nyalinya kini menciut saat Rain berjalan ke arahnya. Laki-laki itu mundur dengan perlahan sambil terus menatap Rain.


"Sudah bagus aku tidak membunuhmu. Tapi kenapa kamu tidak bersyukur?"


Laki-laki itu mengeratkan tulang pipinya dan memberanikan diri. "Tidak pernah ada yang berani melawanku, begitu juga kamu. Tidak ada yang bisa melawan ku. Tidak ada yang bisa mengalahkan ku! "


Rain menatapnya dengan aneh. "Kamu benar-benar bocah ingusan. Kenapa orang dengan pikiran sepertimu bisa menjadi ketua? "


"Hahaha... Karena aku kuat. Aku tidak terkalahkan! AKAN AKU TUNJUKKAN PADAMU! HIYAAAA.... "


Krak


"Kakak!! "


Dor!!


"AAARRRGGHHH!!! "


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Ibu udahan ya cemasnya. Zee udah ketemu dan pelakunya juga udah ditahan, " bujuk Rain pada ibunya.


Hastini tersenyum, berusaha tenang walaupun sebenarnya kejadian hari ini masih membuat hatinya resah. Lega karena anaknya ditemukan dan juga keadaannya baik-baik saja. Hastini mencoba mengendalikan pikirannya yang kalut. Ia tak ingin anak-anak nya bersedih dengan kekhawatirannya.


"Iya, ini sudah tenang, kok. Kamu udah bilang Bu Iin kalau kamu bermalam disini? "

__ADS_1


"Saya sudah bilang sama bu Intan kok, Bu. Jadi dia gak akan khawatir karena saya bermalam di sini, " jawabnya


"Tadi itu ngeri sih sebenernya. Untung tadi kakinya dia di tembak polisi, kalau tidak... " Zee tidak meneruskan kata-katanya. Kedua tangannya memegang pipi dengan mata yang membulat.


"Kamu sudah baik-baik saja sekarang? Sudah tidak takut lagi? "


"Kalau punya kakak seperti kak Rain, aku gak akan takut. Walaupun kakakku perempuan, tapi kakakku hebat, " jawab Zee dengan senyum yang merekah.


"Jadi gak bangga sama abang? Abang kan gak jago kayak Rain, " canda Arka dengan wajah yang dibuat memelas.


"Bangga juga kok sama abang..." Zee merangkul Arka dengan manja. Arka menarik pelan hidungnya.


"Eh tapi tangannya kakak beneran gak pa-pa? Tadi kan dia tarik sampe tangannya kakak bunyi kayak patah tulang. "


Keluarganya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Rain hanya tersenyum.


"π˜›π˜¦π˜―π˜΅π˜Ά 𝘴𝘒𝘫𝘒 𝘡π˜ͺπ˜₯𝘒𝘬 𝘒𝘱𝘒-𝘒𝘱𝘒, 𝘬𝘒𝘳𝘦𝘯𝘒 𝘺𝘒𝘯𝘨 𝘱𝘒𝘡𝘒𝘩 𝘡𝘢𝘭𝘒𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘒𝘯 𝘒𝘬𝘢. "


.


.


Rain POV


🌻🌻🌻


Kejadian penculikan yang dialami Zee beberapa minggu lalu membuatku bertekad untuk memindahkan dia dari sekolahnya. Aku tidak ingin lagi ada yang menculiknya entah karena alasan apapun.


Aku berniat untuk memasukkan nya ke asrama, tentu saja bersama kedua sahabatnya. Aku tidak ingin memisahkan mereka.


Orang tua Vanya dan Rasty sudah setuju akan hal itu,tapi ibuku masih tampak enggan untuk membiarkan Zee pergi.


Aku meyakinkannya bahwa Zee akan baik-baik saja di asrama itu. Aku mengenal dengan baik pemilik asrama itu.


"Tentu saja dia tau. Bahkan dia senang karena akan pindah bersama kedua sahabatnya."


"Oh... "


Hening.


"Dia dipindahkan ke pesantren? "


"Tidak, bu. Kalau ke sana, Vanya tidak bisa ikut," jawabku tersenyum.


"Oh, iya. Ibu lupa. " Ibu menghela nafas dan terdiam sejenak. "Ya sudah, ibu izinkan dia sekolah disana. Tapi berarti di rumah ini hanya ada ibu dan abangmu. " Ibuku terlihat sedih.


Aku menatap ibuku dengan lembut. "Mau gimana lagi, bu. Saya masih kerja. Saya juga gak tenang kalo Zee masih sekolah di sekolah lamanya. " Aku terdiam sejenak. "Nanti tiap minggu saya pulang, nengokin ibu sama bang Arka. Ibu juga kalo mau ke asrama atau ke rumah bu Intan, ibu bilang aja."


Ibuku hanya mengangguk dengan wajah sedihnya. Aku tersenyum menghiburnya.


β˜€β˜€


Zee pindah ke asrama sebelum hari libur berakhir. Karena saat masalah itu terjadi, Zee masih kelas 11 semester satu. Untung saja kejadian itu tidak mengganggunya. Padahal kejadian itu terjadi seminggu sebelum dia ujian. Dia malah senang karena pengganggu di sekolahnya sudah ditahan.


Awal tahun menjadi awal yang baru untuknya.


Kali ini aku yang mengurus semuanya. Saat bapak masih ada dulu, kami tidak pernah mengurus hal seperti ini. Selalu bapakku yang bergerak. Namun kali ini, semuanya berbeda.


Tak perlulah aku bersedih, bukan aku tak merasa kehilangan, tapi aku harus ikhlas. Ada masanya kita harus melakukan semuanya sendiri.


Aku tidak bisa membiarkan kakak lelakiku yang bergerak. Karena setelah kecelakaannya yang kedua kali, kondisi tubuhnya tidak seperti dulu.

__ADS_1


Aku sering pulang ke rumah. Mengurus kepindahan dan juga mendaftarkan Zee ke sekolah barunya membuatku harus pulang pergi. Kadang pula aku tak mengabari ibuku saat aku akan datang.


Seperti hari ini, ibuku sedang berbincang dengan teman-temannya sampai tidak sadar dengan kedatangan ku.


Aku tersenyum melihat dia yang masih saja mengoceh. Rupanya dia sedang tak enak badan, jadi teman-temannya datang menjenguknya.


Tidak sehat saja dia cerewet begitu. Hem...


"Bu, saya mau ambil KK. Mau difoto copy. Kemarinnya lupa. " Ibu masih tidak merespon ku.


"Ibu... " panggil ku sedikit keras.


"Eh iya? " Kali ini dia sadar dan menoleh padaku.


"Saya mau ambil KK. "


"Oh... Iya. Ambil di lemarinya ibu, ya. " Kemudian dia kembali bercerita pada teman-temannya.


Ya ampun...


Memang ya, ghibah itu ber damage.


Aku melangkah masuk dan berjalan menuju kamar ibu. Tidak biasanya dia membiarkanku mengambil barang itu sendiri. Biasanya, apapun yang bersangkutan dengan benda-benda itu pasti dia tangani sendiri. Mungkin karena dulu masih ada bapak.


Entahlah... Kenapa juga dia melarang ku untuk melihat Kartu Keluarga? Padahal waktu membuat KTP ku, aku melihat nya dengan jelas. Tidak ada yang aneh di sana.


Aku mencari benda itu dan tak lama aku menemukannya dalam sebuah map berwarna ungu.


Aku melihat-lihatnya sebentar. Sebenarnya aku sudah tau isinya.Tapi entah kenapa aku ingin sekali melihatnya.


Aku menyimpan KK itu ke dalam tasku, agar aku tidak lupa lagi. Aku berniat mengembalikan map itu ke dalam lemari, tapi sebuah buku kecil berwarna merah membuatku mengurungkan niatku.


Ini buku nikah?


Aku tidak pernah melihat buku ini, ya karena aku tidak pernah mengorek-ngorek isi map ini.Jangankan mengorek, melihat saja tidak boleh.


Aku membukanya. Ku lihat foto ibu dan bapak saat masih muda. Aku tersenyum sambil mengelus kedua foto itu.


Aku berniat menyudahi ini. Tapi...


Tanganku tak sengaja membuka lembaran berikutnya. Tanggal pernikahan yang terpampang itu tak sengaja aku lihat.


Akun tertegun.


"Apa ini? "


Kenapa jantungku berdegup tak karuan?


.


.


.


.


bersambung...


.


.

__ADS_1


.


salam dari Yuya☺☺


__ADS_2