
Intan membawa Rain masuk ke kamar gadis itu dan mengajaknya bicara. Wanita itu tak ingin melihat Rain termenung sedih dan seolah tak sadar dengan sekeliling nya. Rain selalu tersenyum saat Intan bercerita dan bertanya padanya. Rain pun tak ingin terlalu larut dalam kesedihan nya dan membuat masalah yang dihadapinya semakin berat.
Ia harus kuat walaupun bayang-bayang Anih dan kenyataan tentang siapa dirinya membuat pertahanan nya melemah. Selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Selalu terpikir bagaimana ia akan menjelaskan semua ini pada keluarga nya. Jujur ia merasa takut. Ia bingung harus berbuat apa. Ia yakin keluarga nya tak akan mudah untuk menerima semua kenyataan ini.
Dalam hati Rain menangis."𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘭. "
Walaupun Intan mengajaknya bicara, namun kenyataannya Rain tetap teringat dengan semua masalah itu. Dia terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Tak menjawab bahkan tidak merespon apa pun yang dikatakan Intan. Itu membuat Intan khawatir.
"Rain sayang, " panggil Intan lirih sambil mengelus lembut rambut panjang Rain.
Rain semula masih diam, namun saat Intan menepuk bahunya, Rain seketika tersadar dan menatap cepat ke arah Intan. Rain menatap nya bingung tanpa bertanya.
Intan tersenyum. Rain merasa bersalah. "𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪? 𝘔𝘢𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪." Rain membuang nafas pelan. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘬𝘶. 𝘒𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶𝘪𝘬𝘶. "
"Maafkan saya, bu. Saya sungguh merepotkan ibu. " Rain menunduk sedih.
Intan tersenyum dan mengelus rambut Rain. "Kalau kamu merasa tak enak dan menganggap kamu merepotkan ibu, berarti kamu menganggap ibu orang lain. Walaupun memang ibu ini bukan siapa-siapa bagimu, tapi ibu mohon, jangan anggap ibu orang lain. Anggap lah ibu seperti ibumu sendiri."
Rain menatap Intan yang tampak ingin menangis. Rain mengangguk dan tersenyum untuk menenangkan wanita itu.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢?"
Lain cerita di ruang tamu. Ace terlihat tidak tenang saat duduk menemani ayahnya. Pemuda itu terus melihat ke ruang keluarga. Seperti menunggu seseorang untuk keluar dari sana.
Ayahnya hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ia yakin, Ace ingin sekali bertemu dengan gadis itu, Rain.
"Ekhem! "
Ace menoleh saat mendengar deheman ayahnya. "Kenapa, pa? "
"Kamu benar-benar sudah berubah sekarang. "
Ace mengerutkan dahi mendengar ucapan ayahnya yang ia tak tau apakah itu pertanyaan atau pernyataan.
"Emm, ya. "
"Kamu benar-benar mencintai gadis itu? "
__ADS_1
Kali ini, Kana yang sedari tadi hanya terdiam, ikut menatap ayahnya dan Ace bergantian.
"Iya, pa. "
"Kamu serius sama dia? "
"Jelas aku serius lah, pa. Memangnya kenapa? "
"Papa harap, kamu bisa menjaga dia dengan baik, apalagi dia tinggal serumah denganmu. Papa senang dengan perubahan baikmu, tapi kalau Papa mendengar dan melihat kamu berbuat yang tidak-tidak, maka Papa tidak akan segan menghukum kamu, " ucapnya panjang lebar dan melirik Kana sekilas.
"Kamu ngerti kan maksud Papa? "
Ace mengangguk ragu. "Iya, aku ngerti. "
"Bagus. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu saat bersamanya kalau kamu benar-benar mencintai dia. Cinta tidak selalu tentang hasrat. Kalau kamu mencintai nya, kamu pasti bisa mengendalikan itu dan menjaganya. Itulah cinta yang sesungguhnya. "
Ace semula merasa heran, tapi ia mengangguk mengiyakan nasihat ayahnya. Karena itu semua benar. Hanya saja, ucapan ayahnya seolah-olah menghakiminya. Seakan-akan ayahnya tau apa yang sudah dilakukan nya pada gadis itu. Walaupun bagi Ace hal yang dilakukan nya tidak sampai kelewat batas. Tapi ia sadar, itu bukanlah hal yang baik.
"Kana..."
"Papa menunggu kabar baik juga darimu." Kana terdiam dan menunduk lagi. Sesungguhnya dirinya merasa geram karena Ace lah yang mendapatkan hati Rain, dengan mudahnya. Disaat dia ingin berubah dan sudah melupakan perasaan pada Ace, tapi malah Ace lah yang mengikat Rain terlebih dulu. Walaupun mereka belum menikah, tapi dirinya sudah merasa kalah.
"Tetaplah pada jalanmu. Papa yakin, suatu hari nanti akan ada seseorang yang berarti untuk mu dan bersedia menemanimu. Menerima setiap apapun yang ada padamu."
Ace menatap Kana yang menunduk diam. Hatinya merasa iba, hanya itu. Perasaannya kini benar-benar seperti seorang kakak. Karena cintanya hanya untuk Rain.
Ace tau bahwa Kana juga menyukai gadis yang ia sukai, itu pernah dikatakan oleh Kana dulu. Tapi, Ace sendiri tak bisa menepis bahwa dirinya jatuh cinta pada Rain. Walaupun itu melukai Kana yang sudah rela berubah. Tapi kenyataan nya Rain pun tidak melihat Kana seperti melihat dirinya. Mau bagaimana? Keadaan dulu tidak seperti sekarang. Ia pun tak tau kalau dirinya akan memiliki hubungan dengan Rain.
Ace kemudian menatap ayahnya yang sedang menyeruput kopinya. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘯𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨? 𝘈𝘵𝘢𝘶𝘬𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯? "
Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis dengan tatapan anak-anaknya. Ia tidak pernah menyangka kalau Rain bisa dengan mudah mengubah jalan kedua anaknya. Tapi walaupun dia merasa senang dan bersyukur, entah kenapa ia merasa kedekatan Rain dan istrinya terlalu berlebihan.
Selalu terbesit rasa di hatinya yang ia sendiri tidak mengerti. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa Intan menyayangi Rain karena menginginkan gadis itu menjadi menantu nya. Siapa juga yang tidak senang dengan gadis yang sudah membawa perubahan baik untuk anak-anak nya. Tapi, hatinya seolah merasa cemburu. Cemburu karena istrinya menyayangi anak lain selain anak-anak nya.
.
.
__ADS_1
.
Suasana di meja makan sangatlah tenang. Hanya terdengar bunyi dentingan sendok yang saling beradu. Lima orang yang duduk di meja makan tampak biasa-biasa saja. Namun sebenarnya setiap dari mereka memiliki pikiran yang berkecamuk dari setiap tatapan mereka.
Ardian selaku kepala keluarga di rumah itu hanya menatap anggota keluarga nya dengan tenang. Tapi tidak pada seorang gadis yang sudah setahun lebih ini tinggal di rumahnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪? 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘶? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪? 𝘋𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪? "
"Pah, " panggil Intan pada suaminya yang hanya terdiam sementara yang lainnya sudah menghabiskan makanan nya.
Ardian mengerjap bingung. "Ya? Ada apa Ma? "
"Papa kenapa? Kenapa gak dihabiskan makanan nya? "
"Emm... Papa udah kenyang," jawab Ardian mencoba menghindar dari tatapan curiga istrinya.
Intan menatapnya datar seolah tau jika suaminya sedang berbohong. "Oh... "
"Papa duluan ke atas, ya? Papa masih ada kerjaan. "
Intan mengangguk dan menatap kepergian suaminya. Tatapan nya terlihat tidak bersahabat. "𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶. "
.
.
.
.
bersambung....
.
.
salam dari Yuya😉
__ADS_1