Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Berdua


__ADS_3

Author POV


Rain bergegas berlari mengejar seseorang yang dia yakini adalah orang yang sama yang berdiri di kegelapan beberapa hari yang lalu.


"Tunggu! " Rain meneriaki orang itu yang berlari sangat kencang. Tubuh kecilnya seolah sangat ringan berlari meninggalkan Rain.


Pak Djaja dan Arka yang keluar dari rumah tapi tidak melihat Rain di luar, mereka bergegas menyusul Rain mengikuti suara teriakan Rain.


Rain kehilangan jejak orang itu. Sudah cukup jauh dia berlari mengejar orang itu sampai dia tak sadar kalau sekarang dia sudah jauh dari rumahnya. Rain berhenti dan terengah-engah sambil mengawasi sekitar. Dia berada di antara rumah-rumah yang besar dan mengawasi kegelapan berharap bisa melihat orang yang sedang dikejarnya.


Sementara itu dalam kegelapan, seseorang tengah bersembunyi dan merapatkan tubuhnya ke dinding rumah yang tak berpenghuni.


Rain akhirnya menyerah. Dia berbalik dan saat itu juga dia melihat kakak dan ayahnya sedang berlari menghampirinya. Pak Djaja tertinggal di belakang. Dia berlari tergopoh-gopoh sambil memegangi sarung yang dikenakannya.


Mungkin kalau bukan dalam situasi seperti ini, Rain akan menertawakan Pak Djaja yang terlihat konyol. Tapi saat ini Rain hanya bisa menatapnya datar dan membuang nafasnya kasar.


Ya ampun... Bapak. Batinnya.


"Ada apa, neng? " Ucap Pak Djaja sambil mengatur nafasnya.


"Tadi ada orang yang mencurigakan, Pak. Bapak gak usah lari-lari gitu, Pak. Nanti kalo bapak 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘳𝘪𝘮𝘱𝘦𝘵 sarung gimana?" Ucap Rain tampak khawatir.


"Bapak khawatir sama kamu, neng. Kalo nanti ada apa-apa gimana? "


Rain menghargai sikap ayahnya. Tapi Rain tau kalau ayahnya pasti takut kalau dirinya akan melukai orang lain.


"Ya udah. Ayo kita pulang. Gak usah di peduliin orang tadi. " Ucap Arka sambil menggiring adiknya pulang.


Mereka pun akhirnya kembali. Sosok yang sedang bersembunyi itu menampakkan dirinya. Tatapan matanya penuh kebencian menatap tiga orang yang sedang berjalan menjauh itu.


"Kebersamaan kalian tidak akan lama lagi akan berakhir. Kalian akan menderita sama seperti yang aku rasakan. " Ucapnya lirih, menggertakkan giginya kemudian dia pergi.


.


.


.


\=\=\=\=\=**\=\=\=\=\=


.


.


Suatu sore di sebuah taman....


"Loe apaan sih liatin gue kayak gitu? Serem tau." Rain cemberut melihat Arza yang terus menatapnya dengan aneh. Arza hanya tersenyum dengan posisi miring menghadap Rain dan satu tangannya bersandar pada kursi.



"Loe bilang ada yang penting. Ini gue udah sempatin dateng tapi loe malah cuma bengong."


"Gak tau terima kasih banget sih loe. " Arza mengalihkan pandangannya dan terlihat kesal.


"Lho.... Kok gitu? Waktu di sekolah kan gue udah bilang makasih. Di resto juga sama. Terus gue kasih loe menu spesial, gratis lagi. Loe sendiri kan yang bilang kalo loe gak mau gue bayar? Kenapa sekarang jadi gini? " Rain tampak terlihat sedih. Entah apa yang ada dipikirannya dengan sikap Arza ini.


Arza menatap Rain yang menunduk dan terlihat sedih. "Baperan amat sih loe. " Rain menatapnya tajam.


"Terus mau loe apa?! " Rain sedikit membentak.


"Gue mau loe temenin gue lagi. "


Rain membuang nafas kasar. "Loe tau gak? Kemarin gue kena omel sama Pak Broto. Terus gue di interogasi sama temen-temen gue. Loe mau gue kayak gitu lagi? "


"Siapa juga yang bilang kalo loe harus temenin gue di sana? " Arza menatap Rain yang tampak berpikir.


"Eh?! I-iya juga sih. Terus loe mau apa? "


"Gue mau loe makan berdua sama gue. Tapi bukan di resto itu. "


"Oh... "


Tok... Tok.... Tok.. Tok.....


Ting.... Ting.... Ting... Ting....


"Cilok cilok cilok..... "


"Abang!! " Rain berteriak.


Arza "..... "


.


.


Krik... Krik.... Krik.... Krik....


Arza dengan sekantong cilok di tangannya.

__ADS_1


"...... "


"Nyam nyam nyam.... Makan tu. Malah bengong. " Rain asyik mengunyah tanpa peduli dengan ekspresi Arza.


"Ntar mubazir lho. Udah gue bayarin juga. Katanya mau makan sama gue terus gak di resto. Kenapa sekarang malah diem? "


"Gak gini juga kalik. Asem loe. " Arza kemudian melahap cilok yang ditusuknya dengan kejam.


Rain terkekeh. "Gue pait kalik. "


Arza akhirnya makan walaupun wajahnya selalu dia tekuk. Tapi Rain merasa senang dengan sikap Arza yang seperti ini daripada Arza yang hanya terus diam menatapnya.


.


.


Mereka telah menghabiskan makanan mereka.


"Za. Masalah Pak Ramli itu udah selesai? "


"Udah lah. Gue udah gak ikut campur lagi. Udah di urus ama pihak berwajib. "


" Oh... Ngomong-ngomong, kok loe bisa diterima gitu aja sih gabung ama pihak sekolah? "


"Ya nggak lah. Gue juga pake cara. Membuat kita dipercaya ama orang tu gak gampang. "


"Ya. Gue juga tau itu. Gue cuma penasaran aja. Gimana sih caranya loe deketin mereka? "


"Loe gak perlu tau. Yang penting cara gue baik. Gak kayak si tersangka yang mendekati kepala sekolah dengan cara licik. Sampe dia fitnah penjaga sekolah yang lama biar dia bisa diterima di sana. "


"Loe tau banyak? Terus apalagi?"


"Gak banyak sih. Soalnya Pak Kepsek juga gak banyak cerita. Yang gue tau, ini bukan kasus pertama untuk si tersangka. Lalu anaknya juga sudah beberapa kali ikut dalam aksi ayahnya. Mereka berdua sering berganti identitas.


Anaknya itu sebenarnya udah lulus SMP dua tahun yang lalu. Mereka juga ada anggota lain di luar dan di dalam sekolah. Gue gak pengen tau siapa mereka. Gak penting buat gue. "


"Oh.... Gitu. " Rain terdiam.


Arza menatap temannya yang hanya diam.


"Kenapa? "


"Gak pa-pa. Pulang yuk! Dah hampir sore juga nih. " Rain berdiri.


Arza yang tampak berat hati hanya mengatakan, "Ayo." Dengan lirih.


Mereka menaikki motor mereka masing-masing.


.


.


Rain berada tepat di belakang Arza.


Tiba-tiba, sebuah motor melaju kencang dari arah belakang. Rain yang tidak punya pikiran aneh tetap melajukan motornya dengan santai.


Pengendara motor itu menendang motor Rain hingga motor yang dikendarai Rain oleng dan akhirnya jatuh. Rain melompat ke arah rumput di pinggir jalan. Motornya menabrak trotoar dengan keras.


Arza yang mendengar suara keras motor jatuh pun segera menghentikan motornya dan menengok ke belakang. Arza terkejut melihat Rain yang merintih di pinggir jalan dengan motor yang sudah ambruk.


Arza dan beberapa orang yang lewat segera menghampiri Rain.


"Loe kenapa? Kok bisa jatoh? "


"Tadi ada orang yang tendang motor gue, Za. Tapi orangnya putar balik terus kabur. "


Arza termenung sambil membantu Rain berdiri. "Loe bisa jalan gak? "


"Bisa. Cuma kaki gue sakit nih. Tangan gue perih kena batu." Rain mengibas-ngibaskan tangannya.


Arza menatap tangan Rain yang tampak lecet.


"Wah, Mbak. Motor bagian depannya agak rusak nih. Tapi bisa jalan gak ya? " Ucap seseorang yang membantu memperbaiki posisi motor Rain. Orang itu melihat-lihat badan motor sambil menggerak-gerakkan setang motor.


Terdengar bunyi gemericik pada bagian depan saat motor itu digerakkan. Motor itu tidak bisa lurus walaupun posisinya sudah diluruskan. Setang dan ban depan tidak lagi searah.


"Dibawa ke bengkel aja dulu, mbak. Kayaknya gak jauh dari sini kok. Daripada nanti kenapa-kenapa di jalan." Ucap yang lain.


"Iya, Pak. Nanti biar saya bawa. Makasih bantuannya. " Rain menganggukkan kepalanya sopan pada orang-orang yang sudah membantunya itu.


Orang-orang itu pun berlalu karena melihat Rain yang baik-baik saja.


Rain menelpon temannya yang berada di bengkel. Karena hari masih belum terlalu sore, Rain yakin bengkel itu masih buka.


Setelah menunggu lama, akhirnya temannya datang membawa mobil untuk menjemput Rain dan motornya.


"Loe gak ikut gue? " Ucap temannya, orang dari bengkel setelah selesai menaikkan motor itu.


"Gue dianter sama temen gue ini. Loe bawa aja motornya. Besok gue tengok ke sana. "

__ADS_1


"Oh, ok! Loe berdua hati-hati. Kalo sakit banget dibawa ke rumah sakit aja dulu tuh. "


"Gak usah. Gue gak pa-pa. Makasih ya."


"Sip! Gue duluan. " Teman Rain itu pun berlalu pergi melajukan mobilnya.


Arza bergegas mengantar Rain pulang karena hari sudah semakin sore.


.


.


Arza dan Rain disambut oleh Pak Djaja dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.


Rain turun dari motor dan berjalan dengan sedikit pincang. Ekspresi Pak Djaja berubah khawatir dan segera menghampiri Rain.


"Kamu kenapa, neng? " Tanya Pak Djaja sambil berjalan memapah anaknya.


"Tadi jatuh dari motor, Pak. Motornya sekarang dibawa ke bengkel. Tapi saya gak pa-pa kok. Cuma agak ngilu aja ni kaki." Ucap Rain sambil berjalan.


"Gak ada yang luka? "


"Nggak. Cuma lecet di tangan dikit aja, nih." Rain menunjukkan tangannya lalu duduk.


Pak Djaja melihat tangan Rain kemudian menatap Arza.


Seolah tau dengan tatapan ayahnya, Rain pun menjelaskan, "Ini temen Rain, Pak. Dia yang tolong saya tadi."


" Oh... Mampir dulu, dek. Makasih ya udah bantu anak saya. " Ucap Pak Djaja sudah tampak ramah.


Arza tersenyum dan duduk di kursi teras.


"Ibu sama Zee mana? "


"Mereka lagi keluar belanja di warung depan. "


Rain menghembuskan nafasnya lega. Untung mereka gak di rumah. Batinnya.


Pak Djaja bertanya penyebab Rain sampai jatuh. Rain pun menjelaskan apa adanya tentang kejadian di jalan.


Arza dan Pak Djaja tidak banyak mengobrol.


Karena hari sudah mulai gelap, Arza pun pamit pulang.


Rain dan Pak Djaja mengantar Arza sampai ke luar teras. Rain terus melihat kepergian temannya itu. Pak Djaja sudah duduk meninggalkan Rain.


Rain berbalik dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat wajah yang merengut tepat berada di depannya.



"Ya ampun, bang.... "


Arka dengan ekspresi yang sama menatap Rain penuh curiga.


"Kenapa tu muka, bang? "


"Siapa tadi? " Tanya Arka dingin.


"Abang kemana aja sih tadi? Sampe ketinggalan kabar berita. " Rain terkekeh dan berlalu meninggalkan Arka.


Pak Djaja menceritakan tentang yang terjadi pada Rain. Arka tadi sedang mandi, jadi dia tidak tau kalau ada orang yang datang.


"Udahlah, bang. Dibikin santai tu muka. Jangan ditekuk gitu terus. Ntar jodohnya kabur lho... "


"Jodoh abang gak mungkin kabur karena abang selalu buat dia meleleh klepek-klepek. " Ucap Arka jutek.


"Hiys... Sombong amat si abang. Iya dia juga meleleh liat muka garang abang. "


"Iya lah." Arka mengangkat dagunya. Nampak terlihat lebih sombong wajah itu.


"Meleleh rontok bang liat muka abang. Hilang deh rasa klepek-klepeknya dia. Hahaha... "


Wajah sombong itupun kembali ditekuk.


"Kakak!! Hihi... " Zee berlari menuju rumah sambil tersenyum sumringah.


Haduh, perasaan gue gak enak nih. Batin Rain.


.


.


bersambung....


.


.


semoga kalian suka...

__ADS_1


salam dari yuya 😘😘😘


__ADS_2