Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Dia dan Beberapa Rahasia


__ADS_3

Author POV


Rain tersenyum menatap perempuan yang menyapanya itu walaupun pikiran nya kini sudah berkecamuk. "Ya. Apa kabar, Anih? "


~~


Rain masih berdiri di tempatnya sementara Anih berjalan pelan mengelilingi Rain. Tatapan yang tenang namun juga tajam membuat Rain sedikit bergidik. Mata Rain bergerak mengikuti pergerakannya.


"Apa kamu mengira kalau kita akan bertemu di sini? " Rain tidak menjawab.


"Aku rasa tidak. Sungguh kamu membuat kesalahan karena membiarkan dirimu sendirian di sini sementara kamu sudah tau kalau dirimu dalam incaran. "


"Walaupun aku sendirian tapi aku tidak takut. "


Anih berhenti dan menatapnya dengan senyuman. "Tidak takut? Tapi kenapa aku merasakan ada ketakutan di matamu?Haha... Rain, perlu kamu tau, ini adalah saat yang aku tunggu. "


Rain mulai menatapnya tak suka. Anih tertawa kencang dengan sangat mengerikan.


"Kenapa sikapmu tidak seperti dulu? Kemana perginya Rain yang angkuh dan menganggap dirinya tidak terkalahkan? "


"Aku tidak seperti itu. "


"Tentu saja tidak. Keangkuhanmu datang dengan sendirinya dan tanpa kamu sadari, benar begitu? "


"Tidak."


Anih tertawa. "Aku datang ke sini dengan tujuan baik, tujuan ku untuk melepaskan beban darimu. Tapi sebelum itu, aku ingin memberitahu mu beberapa rahasia. Kamu mau dengar? " Rain masih setia dengan kebisuan nya.


"Kamu tidak peduli? Tapi kamu akan peduli setelah kamu mendengarkan ini. "


"Bicaralah. Apa yang membuatmu seperti ini dan datang padaku? "


"Aku datang untuk membalaskan dendam. "


"Membalaskan? Aku mengerti dengan dendam, tapi kata-katamu tentang membalaskan, aku tidak mengerti. "


"Karena dia sudah mati. Kamu faham?"


Deg


"Mati? Siapa yang mati? " Rain mulai tidak tenang. Mengira bahwa dirinya yang menyebabkan kematian seseorang.


"Tentu saja suamiku, dan aku datang kesini untuk membalaskan dendamnya. " Anih menatapnya dengan benci. Rain benar-benar berpikir dirinya penyebab kematian Danang.


"Apa kamu tau siapa yang menyebabkan kecelakaan pada ayahmu? " Anih tersenyum sinis menatapnya.


Rain tampak marah dan berjalan mendekatinya. "Jadi kamu yang membuat kecelakaan pada mereka?! "


"Tentu saja, iya. Apa kamu mau dengar hal yang lain? Hal yang sebenarnya terjadi. " Rain tidak menjawab. Rahangnya mengeras menahan amarah.


"Aku menganggap diamnya kamu sebagai jawaban iya. "

__ADS_1


Anih berjalan lagi mengelilingi Rain dengan perlahan. "Aku ikut andil dalam setiap kejadian yang menimpa keluargamu. Aku tidak menyangka kamu memiliki banyak musuh. Tapi saat ini, sainganku dan para pelindungmu tidak bisa ikut campur. "


Rain bertambah marah."Apa yang kamu lakukan pada mereka? "


"Tenang saja, keluargamu saat ini aman. Mereka masih berada di rumah mu, tapi tidak dengan tuanmu. "


Rain terpikir dengan Intan dan keluarganya. "Kalau sampai kamu menyentuhnya, aku tidak akan melepaskanmu. "


"Apa kamu pikir aku takut? Aku bukanlah Anih yang dulu. Perjalanan hidupku membuatku lebih berani walaupun menghadapi kematian. Dan yang tidak akan dilepaskan adalah kamu, bukan aku yang akan kamu cengkram."


"Apa kamu tau, bagaimana nasibku setelah kami terusir dari tempat tinggal kami? Aku menderita,Rain. Dan kamulah penyebab semua itu!"


"Suami mu lah penyebab utamanya, bukan aku. " Sebenarnya Rain tidak tau menau dengan apa yang dilakukan warga pada Anih dan Danang saat itu.


"Hah! Tapi kalau kamu tidak membuatnya lumpuh, kehidupanku tidak akan sesulit ini. "


"Yang harus kamu salahkan adalah suamimu. Apa keinginan mu adalah aku membiarkannya menyakiti adikku? " Anih mengeratkan tulang pipinya tanpa menjawab.


"Kamu tau suamimu bersalah tapi pembelaan mu padanya terlalu berlebihan. Bukan hanya keluargaku yang menjadi korban, tapi banyak orang. Apa kamu pikir perbuatannya adalah suatu kebenaran?"


"Apapun alasannya, kamu tetap bersalah. Dia selalu menyiksaku, dia tidak menerima apa yang terjadi padanya dan aku yang menjadi sasaran! Dia memperlakukan ku seperti binatang! Dan itu semua salahmu!" Anih terengah-engah menahan amarah.


Rain menyeringai. "Itu bukan salahku. Cinta butamu yang membuatmu dalam kondisi seperti itu. Tidak salah kalau kamu menyerahkan dia pada polisi. Warga masih peduli padamu sehingga tidak melakukan hal yang lebih pada suamimu. "


"Tapi apa yang terjadi? Aku semakin menderita! Tidak ada yang peduli pada ku! "


"Lalu kenapa kamu tidak melepaskannya dan malah mempertahankan dia? Bukannya orang-orang sudah memberikan pilhan? Demi apa kamu bertahan? Demi pengabdianmu yang tak pernah dia anggap?"


Rain mengerutkan kening nya. "Memang seperti itu kenyataannya. "


Anih malah tertawa dengan keras dan membuat Rain kebingungan. "Tapi karena aku mempertahankannya, aku menjadi kuat seperti ini. Aku mendapatkan pelajaran berarti sebelum dia mati. "


Rain mulai mengira bahwa bukan dirinya penyebab kematian Danang. Tapi...


"Pelajaran yang berharga bahwa menyakiti orang lain akan terasa menyenangkan. Dia mengajariku bagaimana caranya membuat orang lain menderita. Sehingga pada akhirnya aku tidak membutuhkan dia dan menggantikan dia dalam melakukan itu. "


Rain mencoba mencerna kata-katanya. "𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢? "


"Apa kamu tau apa yang aku lakukan padanya? "


"Kamu yang membunuhnya, " jawab Rain menerka.


"Haha... Kenapa jawabanmu benar? Tapi sebelum itu, aku mempraktikkan pelajaran yang diberikannya padaku. Kamu mau tau? "


Rain hanya diam.


"Kamu lihat ini? " Anih mengangkat tangan kiri nya dan tampaklah jari-jarinya yang tidak utuh. Tangan kiri itu hanya memiliki tiga jari.


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢? "


"Aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku. Aku memotong jari-jarinya, bahkan sampai tidak tersisa. Aku menjadikannya objek uji coba ku. Aku melakukan semua yang dilakukannya padaku sampai dia tidak kuat menahan itu dan akhirnya mati." Anih tersenyum dengan sangat mengerikan. Rain jelas terkejut.

__ADS_1


"Ternyata, melihat orang lain kesakitan itu menyenangkan. Mungkin karena itu dia selalu menyiksaku. " Tatapan Anih tampak menakutkan.


Rain teringat saat dulu ketika perempuan itu menangisi suaminya. "𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘯𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘨𝘶. "


"Ada apa? Apa kamu terkejut? Apa kamu mulai merasa takut?" tanya Anih sambil berjalan mendekati Rain.


"Aku jelas terkejut, tapi aku tidak takut. Kalau kamu sendiri yang membunuh suamimu, kenapa kamu menyerang keluargaku? Kamu sudah membalaskan apa yang dilakukannya padamu. "


"Karena aku ingin seperti dia. Membuat orang lain menderita dan kesakitan. Aku sudah bilang kan, melihat orang lain kesakitan sungguh menyenangkan. Aku tidak ingin pelajaran yang kudapatkan terbuang sia-sia, aku sudah mengorbankan banyak hal."


Rain tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan itu.


"Dan lagi, sangat sulit membuatmu menderita. Bahkan menyentuhmu saja aku tidak bisa. Mengerahkan orang lain pun aku tak pernah berhasil. Jadi ini adalah tantangan bagiku. "


Anih berjalan menjauhi Rain. "Sebenarnya, yang ingin ku buat celaka adalah dirimu, Rain. Bukan Arka dan ayahmu. " Rain membelalak terkejut.


"Haha... Kamu terkejut? Aku lanjutkan, ya? Saat itu aku mengira yang dibawa oleh ayahmu adalah dirimu karena sebelumnya aku melihatmu memakai jaket merah yang dia kenakan. Perawakan mu yang tinggi membuatmu hampir sama dengan Arka. Tapi aku tidak kecewa dengan kegagalan ku, toh kamu juga menderita.


Aku terkecoh lagi saat seseorang datang ke restoran tempat kerjamu, memakai jaket itu dan motor yang sama denganmu. Aku juga mengira itu kamu, jadi aku membakar restoran itu untuk membuatmu cedera, tapi lagi-lagi aku gagal. "


Pikiran Rain sudah terguncang memikirkan nasib orang-orang itu. Nafasnya tak beraturan padahal dia hanya berdiam diri.


"Walaupun aku gagal, setidaknya aku senang melihatmu bekerja banting tulang sampai tak tau waktu. Tapi aku belum puas. Jadi, aku hasut salah satu teman mu di bengkel untuk mencuri barang-barang dan uang di sana, tentu saja dengan sedikit ancaman. Tapi rupanya dia masih menjadi teman yang baik, sehingga dia ingin mengatakan semuanya padamu. Tapi sebelum itu, aku sudah melenyapkannya. Oh ya, kalau tidak salah, nama laki-laki itu adalah Adi. " Anih tersenyum senang seolah baru saja memberi kabar gembira.


Tubuh Rain menjadi lemas. Bahunya terkulai dengan kepala tertunduk. "𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶? " Air matanya tergenang dan akhirnya jatuh. "𝘓𝘢𝘨𝘪-𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢."


"Ada apa? Aku belum menceritakan semuanya tapi kamu sudah seperti ini. Hah...Tidak seru. " Anih berdecak. "Apakah karena masalah yang sedang menimpamu?"


Rain menatapnya tajam. "Sejauh mana kamu memata-matai ku?! Kenapa kamu tidak melawan ku langsung dan melenyapkan ku? Kenapa kamu membuat mereka menderita?! "


Anih mengedikkan bahu dan tersenyum. "Karena aku suka. Lagipula benar-benar sulit untuk melawan mu. "


Rain benar-benar marah dan berlari ke arah Anih dan mulai melawannya. Anih tersenyum senang dengan perlawanan Rain. "Akhirnya aku berlawanan denganmu. Aku sangat senang." Anih bersorak seolah dia memenangkan hadiah.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari Yuya😐😐😐😉

__ADS_1


__ADS_2