
.
.
Rain sampai di rumahnya ketika waktu sudah hampir maghrib. Dia segera masuk untuk mandi.
Keluarganya tidak banyak bertanya melihat Rain yang tampak buru-buru.
.
.
.
Malam hari, Rain dan ibunya sedang duduk bersama di ruang keluarga sambil menonton TV. Rain ingin menyampaikan apa yang menjadi keinginannya. Rain menatap ibunya ragu.
"Bu... "
"Apa? " Hastini mengalihkan pandangannya dari TV.
"Saya mau kerja sama bu Intan di Jakarta. Dia ada tempat baru. Katanya kerjaannya sama dengan di restonya Pak Broto. Apa ibu mengizinkan? "
Rain tampak gugup. Hastini menatapnya serius. "Boleh saja sih, ibu mengizinkan. Apalagi kamu juga senang dengan pekerjaan itu. Tapi apa kamu mau pulang pergi juga? Atau mau ngekos di sana? Tapi kalo ngekos, ibu sedikit ragu. Ibu kurang tenang kalo kamu ngekos. Apalagi kalau sendirian. "
"Ehm... Itu, bu. Saya juga mau masak di rumahnya bu Intan. " Rain menelan ludahnya. Ia merasa takut.
Hastini tidak langsung menjawab.
Rain yang menunduk memberanikan diri untuk menatap ibunya. Hastini diam tanpa ekspresi.
"Bu... " Rain memanggilnya dengan ragu.
"Jadi? "
"Jadi saya akan tinggal di rumahnya bu Intan. "
Hastini melotot. "Tapi bukannya Bu Iin punya dua anak laki-laki? Masa iya kamu mau tinggal sama mereka? "
𝘛𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘯... 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶. Batin Rain.
Rain mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Bu... Bukannya saya mau membuka aib orang, tapi kedua anaknya bu Intan itu ada kelainan. "
"Kelainan? Maksudnya? " Hastini mengerutkan dahinya.
"Mereka berdua tidak menyukai perempuan. "
Hastini melongo. "Hah? "
Mereka saling terdiam dalam waktu yang lama.
Arka datang entah dari mana dan mengejutkan mereka berdua.
"ASSALAMU'ALAIKUM!!!! "
Hastini dan Rain terperanjat kaget.
Arka hanya terkekeh ketika ibunya memarahinya. Rain menatapnya datar dengan detak jantung yang masih berlomba. Suara Arka yang menggema seakan masih tertinggal di telinganya.
Rain mengalihkan perhatiannya. "Zee mana, bu? Kok dia gak keluar? " Rain merasa heran karena waktu belum terlalu malam tapi adiknya tidak ikut bergabung bersama mereka.
Hastini tampak bingung untuk menjawab. Rain menangkap ada yang aneh dari diamnya ibunya.
Rain berdiri dan berjalan menuju kamar adiknya. Hastini mengikutinya dari belakang.
Rain tetap berjalan dan mengetuk pintu kamar Zee. Tidak ada sahutan dati dalam.
"Mungkin dia sudah tidur. Tidak usah diganggu." Ucapan ibunya tidak dia dengarkan.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak buka, maka sampai besok pun kamu tidak bisa keluar! " Ucap Rain dingin dan hendak pergi meninggalkan kamar itu.
Tak lama pintu itu pun terbuka. Tamapklah Zee dengan wajah gugup keluar dari sana.
Rain menatapnya datar. "Kenapa kamu sembunyi? "
Zee tidak menjawab dan hanya menunduk.
Rain mendekatinya dan mengangkat dagu adiknya. Terlihat jelas warna merah di pipi Zee. Rain sudah tampak emosi.
"Siapa yang melakukan ini? "
Masih tidak ada jawaban.
Rain membuang nafas kasar kemudian merogoh kantung celananya dan mengambil benda pipih dari dalam sana.
"Halo... Arza. Coba loe cek rekaman CCTV di sekolahnya Zee hari ini dan beberapa hari yang lalu. Gue tunggu kabarnya. " Rain menyimpan benda itu kembali dan menatap adiknya.
"Ayo kita bicara di depan. "
Mereka pun kembali ke ruang keluarga dan duduk di sana. Arka menatap mereka dengan heran. Lalu matanya membelalak melihat pipi adik bungsunya yang tampak merah.
"Pipi kamu kenapa, dek? "
"Kayaknya ada masalah lagi di sekolahnya. " Rain yang menjawab. Arka menatap Rain dan Zee bergantian. Kemudian raut wajahnya terlihat sangat sedih.
"Aku bahkan tidak tau. Padahal aku di rumah. Apa yang bisa diandalkan dariku. "
"Udah lah, bang. Si kecil ini aja yang terlalu pintar menyembunyikan. Lagipula kenapa ibu membantunya menyembuhkan ini, bu? " Kini Rain menatap ibunya curiga.
Hastini terlihat bingung. Lalu dia menatap Zee yang hanya menunduk.
"Dia bilang dia mau kasih tau sendiri sama kamu. Dia butuh menenangkan diri dulu. Dia takut kamu kehilangannya kesabaran kalau melihatnya dalam keadaan rapuh. "
Rain membuang nafas kasar.
"Aku gak mau bikin kalian tambah pusing lagi. Kakak udah sibuk dan capek sama kerjaannya. Kalau aku kasih tau, beban pikirannya kakak pasti bertambah. " Ucap Zee tertunduk lesu.
"Terus, kalo masalah ini di biarkan, emang bisa selesai? Yang ada tambah besar dan akan bertambah membuat pusing. Kamu itu adik kami, tanggung jawab kami.
Kalau tidak pada keluargamu ini, mau sama siapa kamu mengadu? Apa ada orang lain yang bisa menyelesaikan masalahmu. Apa kamu bisa selesaikan sendiri?" Rain tampak geram.
"Gak usah kayak dulu lah. Jangan karena masalah kecil, kamu membiarkan itu terus terjadi. Akhirnya, apa? Sangat sulit kan menyelesaikannya? " Lanjutnya.
Zee masih menunduk. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rain. Rain membukanya.
Alisnya bertaut ketika melihat layar ponsel itu. 𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘢𝘫𝘢. Batinnya.
"Ini. Kita lihat sama-sama. " Rain menaruh benda itu di meja.
Sebuah video yang memperlihatkan Zee dan beberapa temannya sedang asyik duduk di kantin. Tiba-tiba saja seorang siswi yang entah dari mana datangnya, menjambak dan menampar pipi Zee dengan keras.
Siswi itu masih menjambak rambut Zee. Beberapa temannya mencoba melerai, tapi teman siswi yang mengamuk itu juga ikut menjambak teman Zee.
Akhirnya terjadi perkelahian di kantin tersebut. Bahkan Zee melawan orang yang menamparnya. Zee yang terlihat sangat marah membalas perlakuan orang itu.
Video pun berakhir.
"HAHAHA!!!. " Tawa Rain membuat keluarganya terkejut bukan main. Mereka sampai melotot melihatnya.
"Wah... Adiknya kakak ini sudah ada kemajuan ternyata, ya? " Seringaian di wajahnya membuatnya terlihat lebih menakutkan.
Zee menelan ludahnya. Arka dan ibunya tampak was-was.
"Loh... Kenapa kaku begitu ekspresinya? "
"Kakak marah sama aku karena aku berantem?"
__ADS_1
"Tidak. " Zee terlihat lega.
"Tapi kakak kesal sama kamu. Apa tujuanmu sembunyi tadi? Takut ketahuan kalo kamu berantem? "
"Maaf." Zee menunduk.
"Apa masalahnya? Kenapa cewek ini ngamuk?"
"Dia bilang aku ini rebut cowoknya. " Wajah Zee cemberut. Rain mengangkat satu alisnya dan menatap ibu dan kakaknya bergantian. Mereka pun terlihat bingung.
"Hadeuh... Masalahnya karena cowok gitu? " Zee mengangguk.
"Terus, yang dituduhkan cewek ini bener apa nggak? " Arka yang bertanya.
"Ya nggak lah! Mana ada aku rebut cowoknya. Kenal aja nggak." Jawab Zee dengan cepat. Dia terlihat kesal.
Rain masih tampak tak tenang walaupun kenyataannya adiknya tidak dibully seperti dulu.
Malam sudah semakin larut. Suasana sekitar sudah sangat sepi. Tapi Rain masih duduk termenung sendirian di kursi teras.
Hastini datang menghampirinya.
"Kok kamu belum tidur? "
"Belum ngantuk, bu. "
"Belum ngantuk apa belum ngantuk? "
Rain mendesah pelan. "Saya bingung,bu. Gimana kalo Zee di sekolahnya di bully lagi? Padahal saya mau pergi. "
"Pergi? "
"Iya. Bukannya ibu udah izinin saya buat pergi?"
"Ibu masih berat lepas kamu ke sana. "
Rain menatapnya bingung.
"Mungkin kamu berpikiran ibu berlebihan. Tapi ibu merasa sangat khawatir. "
"Bu... Rain bisa jaga diri, kok. Rain butuh pekerjaan ini. Ibu jangan berpikiran terlalu jauh"
"Ya, Ibu tau. Tapi kita tidak tau kemungkinan yang akan ada di depan sana. "
"Kita serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Yang penting niat kita baik.Saya tau dengan kekhawatiran ibu, tapi kalau begitu, sama saja kita berpikiran buruk terhadap orang. Saya benar-benar ingin bekerja. "
Hastini tampak pasrah. Dirinya tak mungkin melarang anaknya untuk bekerja. Sementara dirinya sendiri tak bisa mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Dirinya tak boleh terlalu berpikiran buruk terhadap orang lain.
"Ya sudah lah. Kamu pergi dan tinggal di sana. Ibu mengizinkan. Kamu gak usah khawatir sama adikmu. Kamu bisa lihat sendiri dia sudah bisa melindungi diri. "
Rain hanya diam.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari yuya 😊😊
__ADS_1