Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Terpisah Jarak


__ADS_3

.


.


Wanita paruh baya itu segera menghubungi anaknya, namun panggilannya tak kunjung mendapatkan jawaban. Dia menghubungi Rain, tapi ponsel gadis itu malah tertinggal di cafe.


Intan panik. Dia terus menghubungi anaknya. Dalam panggilan ke tiga, akhirnya anaknya menjawab. Namun dengan suara yang serak dan nafas yang tersengal-sengal. Pikiran ibu itu sudah kemana-mana. Namun dia mencoba untuk tidak mencurigai anaknya.


.


.


.


"Tunggulah aku. Aku pasti kembali, " ucap Ace saat berpamitan pada Rain.


" Aku pasti menunggumu. " Rain berusaha menahan air matanya dengan tersenyum. Ace tau akan hal itu. "Jangan menangis. Kamu akan membuatku tak tenang di sana."


Rain tersenyum hingga ke matanya. "Aku tidak akan menangis. Baik-baiklah di sana."


Mereka saling bertatapan dan tersenyum.


Beberapa orang yang berlalu lalang melihat mereka sambil menahan senyum. Bagaimana tidak, sedari tadi mereka berhadapan dengan tangan yang terus bertautan. Ditambah lagi tatapan mereka yang membuat orang lain ikut tersenyum.


Beberapa orang yang lewat terdengar berbisik-bisik tapi tidak mereka hiraukan. Mereka masih saja disana sambil tersenyum. Lagipula siapa juga orang-orang itu?


"Mereka pasti tidak pernah jatuh cinta, " ucap Ace. Rain hanya tersenyum.


"Aku pergi. "


"Pergilah."


Tapi Ace masih diam di tempat. "Tapi aku tidak ingin pergi. "


"Lalu mau bagaimana? "


"Ini salahmu karena terlambat menyadari cintamu padaku. "


"Ish... Apaan sih ngomongnya. Sudah sana pergi. "


Ace tersenyum manis. "Aku pergi. Jaga hatimu baik-baik. Karena aku juga akan menjaga hatiku. Kamulah gadis pertama yang membuatku sadar. Kamu juga gadis pertama yang aku cintai. "


"Kamu juga laki-laki pertama yang aku cintai," ucap Rain malu-malu.


Ace terus berucap, "Aku pergi. " Namun dia tak kunjung beranjak. Akhirnya Rain mendorongnya pelan sehingga laki-laki itu berjalan menjauh.


Mereka masih saling melempar senyum sampai Ace tak terlihat lagi.


Rain menghembuskan nafasnya pelan. "Akhirnya dia pergi. Walaupun berat, tapi aku harus rela melepasnya. Baik-baiklah di sana, Ace. Aku akan menunggumu. "


.


.

__ADS_1


.


Rain melamun sepanjang perjalanan dari bandara. Terkadang gadis itu terlihat sedih tapi kadang juga dia tersenyum bahkan sampai tertawa. Membuat sang supir melihatnya bingung.


"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘭. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪? 𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯. "


Rain menyandarkan tubuhnya ke kursi. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. "


Rain teringat saat setiap kali Ace memandangnya tapi Rain tak mengacuhkannya. Rain menutup mata dengan semua yang dilakukan Ace untuknya.


Namun saat Intan menceritakan rencana kepergian Ace, saat itulah perasaannya berubah. Rasa tak rela dengan kepergian Ace membuatnya gelisah. Namun gadis itu masih bertahan dengan kebisuan nya.


Tapi saat hari ini tiba, Rain benar-benar tak bisa menahannya lagi. Gadis itu mengakui dirinya tak ingin ditinggalkan. Tak ingin dirinya diabaikan.


Gadis itu menyadari bagaimana perasaan Ace selama ini. Itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya. Laki-laki itu benar-benar mencintainya. Itu membuatnya merasa bersalah.


Rain menyadari bahwa dirinya memiliki perasaan yang lebih untuk Ace. Namun dia berusaha menutupinya. Tak ingin membuat perasaan itu bertambah besar dan akhirnya membuatnya kecewa. Rain juga tentunya tak ingin menyakiti laki-laki itu saat dirinya hilang kendali. Namun ternyata sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Ace membuatnya membuang pikiran itu.


"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘭𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶."


.


.


.


Intan meneliti Rain dari atas sampai bawah saat gadis itu turun dari mobil. Rain pun menatapnya dengan bingung.


"Ibu sudah pulang? "


Rain menganggukan kepalanya mengerti.


Intan kembali meneliti penampilannya. Bahkan melihat dengan seksama ke arah leher gadis itu. Tidak ada apa-apa di sana.


Intan meyakinkan dirinya bahwa tidak terjadi apapun antara Rain dan Ace. Entah kenapa, Intan lebih menghawatirkan Rain daripada anaknya sendiri. Mungkin karena Rain adalah anak gadis orang yang harus dijaga nya.


"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘻𝘻. "


Rain berpamitan pada Intan untuk pergi ke cafe lagi. Gadis itu menaikki motor matic nya dan melaju meninggalkan Intan yang masih dalam keheningan.


Intan memang sengaja mengirim anaknya keluar kota. Bahkan luar pulau. Dia sengaja ingin memisahkan Ace dan Rain agar keduanya sama-sama mengerti dengan perasaan masing-masing.


Intan tidak ingin anak sulungnya yang keras kepala mendekati Rain yang masih trauma. Jujur Intan menghawatirkan keduanya.


Apalagi saat Rain diantar oleh orang-orangnya dalam keadaan yang kacau. Intan melihat dengan jelas bagaimana kondisi gadis itu. Intan tidak mau anaknya melakukan kesalahan dengan mendekati Rain dalam masa ini.


Namun apa yang terjadi hari ini? Intan seperti ingin tertawa dalam keterkejutan nya. "𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪... 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘏𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘻𝘻 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. "


.


.


.

__ADS_1


Waktu demi waktu berlalu. Berbulan-bulan Rain terpisah jarak dengan Ace. Namun justru itu membuat hubungan mereka bertambah dekat. Hampir setiap hari mereka bertukar kabar disela-sela kesibukan mereka.


Rain selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan kuliahnya. Itu semua ia lakukan agar dirinya tak hanya merenung memikirkan Ace yang jauh dari pandangannya.


Begitupun hal yang dilakukan Ace. Dia selalu menyibukkan diri. Melakukan pekerjaannya dengan baik agar semuanya cepat berlalu.


Laki-laki itu berusaha tegar setiap kali bertukar kabar dengan Rain. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu. Ingin pula rasanya dia segera pulang. Tapi ibunya melarangnya pulang dalam waktu dekat.


Ibunya meminta dengan sungguh-sungguh agar Ace bertahan di sana dan menyelesaikan semua pekerjaannya. Ibunya selalu menghiburnya. Ibunya tau bagaimana kerinduan mereka saat ini.


Intan ingin membuat mereka lebih kuat dan dewasa. Lebih serius lagi dengan hubungan mereka. Tapi tentu saja alasan Intan juga adalah karena ingin membatasi kontak fisik antara Rain dan anaknya.


Intan belum yakin anaknya bisa menjaga gadis itu. Karena Intan tau betul bagaimana sifat anaknya. Mengingat bagaimana hubungan kedua anak laki-lakinya dulu.


.


.


.


Sore itu Rain sedang beristirahat diruangan khusus di cafe. Duduk sendiri di dalam namun dia tersenyum tanpa henti.


Rain sedang bertukar kabar dengan Ace. Mereka hanya saling mengirim pesan. Rain sengaja melakukan itu. Ia hanya ingin mengerjai Ace.


Dari pesan yang dikirim Ace, Rain bisa tau bagaimana ekspresi wajah laki-laki itu saat ini.


"𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯𝘮𝘶."


Rain tertawa melihat pesan itu. Apalagi setelahnya Ace mengirim banyak sekali emot menangis.


Rain mengirim foto yang baru saja diambilnya. Lalu dia berpamitan pada Ace tanpa menunggu laki-laki itu membalas.



Ace yang kesal karena diabaikan hanya bisa pasrah. Namun dia tersenyum sambil mengelus dengan sayang foto yang dikirim oleh Rain.



"Tunggu aku, Rain. Aku akan langsung melamarmu saat aku tiba," ucapnya mantap dengan wajah serius.


.


.


.


𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨...


.


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya😘😘😘


__ADS_2