Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Walaupun Bukan Anakku


__ADS_3

.


.


.


Intan tampak kelimpungan melihat kondisi Rain. Gadis itu masih diam walaupun tidak seperti tadi. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Ditanya pun dia sudah mau menjawab.


Intan memanggil dokter ke rumahnya. Kini dia sedang menunggu dokter itu datang sambil menemani Rain.


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶? 𝘋𝘪𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘪𝘣𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘯𝘢𝘬. "


"Ma, dokter Rendra sudah sampai, " ucap Kana menyadarkan ibunya.


Intan lekas berdiri untuk menyambut dokter itu. Saat bertemu Intan, Rendra tampak menunjukkan ekspresi permusuhan. Namun Intan tak peduli dengan hal itu.


"Ren, tolong dia, " ucap Intan dengan sedihnya.


Beberapa saat berlalu. Rendra selesai memeriksa Rain. "Dia harus dibawa ke rumah sakit. Sepertinya bukan hanya luka fisik yang dia terima. Dia terlihat trauma. "


"Aku sudah menyuruh supir membawanya ke rumah sakit tadi. Tapi dia menolak dengan keras, " jawab Intan dengan sedih.


Rendra menghela nafas pelan. "Aku ingin bicara denganmu. " Lalu dia pergi ke luar. Intan mengikutinya.


"Ace, Kana. Kalian jaga dia, ya. "


"Baik, ma, " jawab keduanya serempak.


Di luar...


"Intan... "


"Aku akan menerima apapun ucapanmu untukku. Aku memang ceroboh. Aku tidak menjaga dia dengan baik. " Intan menunduk sedih.


Rendra berdiri agak jauh darinya. Menatap ke arah langit yang hitam. "Kamu memang pantas disalahkan. Aku sudah memperingatkanmu untuk membiarkan dia pergi, tapi kamu egois! Lihat apa yang terjadi padanya sekarang?"


"Aku memang salah. Tapi keselamatan pegawai ku di cafe tidak bisa aku abaikan. "


Rendra menatapnya bingung. "Apa yang terjadi? "


"Hari ini, ada beberapa masalah di kantor yang membuatku tak bisa fokus. Aku bahkan belum pulang saat terjadi keributan di cafe karena ada orang yang datang membuat kacau sambil membawa alat peledak. Aku menyelesaikan masalah di sana terlebih dahulu.


Aku mendapatkan kabar dari orang yang ku percayai untuk mengawasi Rain. Mereka bilang, Rain mampir ke rumah temannya. Aku sedikit tenang tapi tetap meminta mereka mengawasi. Aku sibuk dengan urusan di cafe saat mereka bilang Rain sudah pulang. Tapi entah kenapa perasaan ku tidak tenang.


Karena mereka bilang dia sudah pulang, aku meminta mereka untuk datang membantuku di cafe. Setelah urusanku selesai, aku menghubunginya, namun dia tidak merespon. Aku menghubungi orang di rumah. Namun mereka bilang, Rain sana sekali belum pulang. Aku sudah merasa sangat khawatir. Aku melacak keberadaannya dan hasilnya membuat aku terkejut.


Aku segera memerintahkan orang-orang ku untuk mendatangi tempat itu dan sepertinya Rain sudah berkelahi sebelum mereka datang. Mereka mengatakan, keadaan Rain sudah kacau saat mereka tiba."

__ADS_1


Rendra terlihat tak suka mendengar itu."Apa dari orang-orang mu ada yang berhianat? "


"Aku rasa tidak. Mereka bahkan merekam saat orang yang mirip dengan Rain masuk ke jalan menuju rumahku."


Intan menghela nafas kasar. "Sepertinya, Rain memiliki musuh tersendiri. Dan sepertinya orang itu sudah mengawasi Rain sejak lama. Aku tidak tau apakah ini semua sudah direncanakan. Karena, orang-orang ku sudah menyelidiki dengan pergerakan lawanku dan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Aku rasa, kejadian di cafe bukanlah suatu kebetulan hingga terjadi bertepatan dengan apa yang terjadi pada Rain."


Rendra memandangi wajah Intan sambil mengerutkan dahi. "Apa kamu sudah menyelidiki siapa anak itu sebenarnya? "


"Aku sudah menyelidikinya dan tau seperti apa dirinya. Tapi aku tidak tau kalau dia mempunyai musuh. Aku tidak berpikir dia memiliki musuh yang berbahaya. Dan untuk keluarganya, aku juga sudah menyelidiki semuanya. Mereka sama sekali bukan siapa-siapa. Aku sudah melihat wajah kedua orang tuanya. Bahkan ayahnya sama sekali tidak mirip dengan Rafendra." Intan terlihat sedih saat mengucapkan itu.


Rendra menatapnya. Menebak, "Rafendra?Apa kamu berharap lebih? "


Intan tersenyum dengan mata yang sedih. "Ya. Awalnya aku berharap Rain adalah anakku." Air matanya jatuh. "Tapi kenyataan mengatakan hal yang lain. Aku harus menerima kenyataan bahwa kedua mayat yang kulihat dulu adalah suami dan anakku. Aku harus melupakan harapanku untuk bertemu dengan mereka."


Rendra menengadahkan kepalanya. Menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Jadi aku mohon, Ren. Biarkan dia tinggal disini. Aku ingin bersamanya walaupun dia bukan anakku. Aku ingin menjaganya karena diluar sana mungkin dia dalam bahaya. Mulai sekarang, aku akan mengerahkan orang-orang lamaku untuk menyelidiki orang-orang yang menyerangnya dan juga menjaganya dari lawan-lawanku. "


Rendra menatapnya lagi. "Aku tidak tau apakah aku harus setuju dengan rencanamu. Aku hanya ingin anak itu baik-baik saja. Karena setiap melihatnya, aku teringat dengan Rafendra, sepupuku. "


Mereka terdiam cukup lama. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Ren, sebenarnya aku memerintahkan seseorang untuk mencari informasi tentang temannya Rain. "


"Untuk apa? "


"Gerald? Geraldi Zhang? "


"Iya. Tapi sangat sulit mencari informasi tentang anak itu. Aku yakin, jika kamu bertemu dengannya, kamu akan melihat om Gerald di masa muda. Dia benar-benar mirip. "


"Kira-kira, bagaimana kabarnya sekarang? "


"Siapa? "


"Geraldi Zhang. Semenjak kekacauan dulu, dia seolah tak pernah ada. Sesuatu tentangnya hilang bersama kepergian Rafendra dan Rara."


"Aku tidak yakin om Gerald masih hidup. Padahal dialah satu-satunya yang bisa memberikan kita jawaban tentang kebenaran itu. Tapi mencari tau hal yang bersangkutan dengannya sangat sulit sekali. Dia benar-benar ingin melindungi keluarga ku dan melindungi anaknya."


"Kamu merindukannya? "


"Tentu saja. Reynald kecil selalu bersamaku. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Dia selalu bermain bersama Rara kecil. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya karena ibunya meninggal setelah melahirkannya." Intan menghembuskan nafas pelan. "Kenapa om Gerald membawanya pergi? Sama seperti Rafendra yang membawa pergi anakku. Hah! Untuk melindungiku mereka bilang? Tidakkah mereka tau, aku sangat tersiksa dengan kepergian mereka." Intan menangis tanpa suara.


Rendra membuang nafas panjang. Dapat dia rasakan bagaimana perasaan Intan sekarang ini. "Mereka juga ingin melindungi Rara dan Reynald. Mereka hanya berencana. Tidak ada yang tau tentang kapan usia kita akan berakhir. Mereka hanya berusaha melindungi sebisa mereka."


Intan menangis tersedu-sedu.


.

__ADS_1


.


.


.


"Kamu istirahat, ya. Ibu akan tidur di kamar sebelah. Kalau butuh apa-apa panggil ibu, ya."


Rain mengangguk.


"Apa kamu benar-benar tidak apa-apa? "


Rain tersenyum. "Saya baik-baik saja, bu. Saya diam karena sedang mengatur emosi saya. Saya harus diam agar bisa meredam emosi dengan baik. Saya memang seperti ini."


"Baiklah. Tapi kamu harus mau ibu bawa ke rumah sakit besok. Tidak ada penolakan lagi."


"Kalau ibu perlu bukti, saya siap. Ibu akan percaya setelah melihatnya besok. "


Intan menghembuskan nafas panjang. "Ya sudah. Kamu tidur, ya. Selamat malam. "


Intan keluar dari kamar Rain. Rain tersenyum sampai Intan benar-benar pergi.


"Aku tidak menyangka, aku bisa menenangkan diriku tanpa keluargaku. Hanya melihat wajah bu Intan sudah cukup meredam emosiku. Pelukannya bisa membuatku tenang dan tidak takut lagi. Ku rasa dia benar-benar menyayangiku tulus dari hatinya."


.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


.


saya harap tulisan ini dapat dimengerti 😐😐


salam dari Yuya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2