Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Biasa Aja


__ADS_3

.


.


Intan memperkenalkan Rain pada rekan-rekannya. Mereka terlihat menyukai Rain. Beberapa dari mereka bahkan sangat senang melihat Rain yang akan menjadi koki di cafe itu.


Acara pun berlangsung dengan semestinya.


Para tamu dipersilahkan untuk mencicipi berbagai hidangan yang tersedia. Intan juga memperkenalkan makanan yang dimasak oleh Rain dan mempersilahkan mereka untuk mencicipi itu.


Para tamu itu nampak menikmati hidangannya. Mereka bahkan lebih menyukai makanan yang dimasak oleh Rain. Hanya saja makanan itu tidak banyak tersedia, jadi mereka harus berbagi agar yang lainnya juga dapat mencicipi.


Rain merasa senang karena orang-orang itu bisa menerimanya dan makanan yang dimasaknya. Tapi itu semua juga tak luput dari bantuan Intan.


Saat Intan sedang duduk santai dengan Rain di sampingnya, seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki dengan rambut yang sudah memutih datang menghampirinya. Mereka terlihat akrab dengan Intan.


Seseorang menghidangkan minuman pada mereka ketika mereka sedang asyik berbincang. Rain yang merasa haus mengambil minuman itu dan mulai meneguknya sedikit demi sedikit.


"Kokinya cantik, ya, bu. Boleh dong kalo jadi mantu saya. " Ucap wanita paruh baya itu.


Rain hanya meliriknya sekilas. Intan terkekeh dengan ucapan wanita itu. "Jangan dong, bu. Dia ini sudah jadi calon mantu saya. " Ucap Intan sedikit berbisik.


Rain masih bisa mendengar itu. Dia terkejut sampai dia tersedak minumannya.


"Uhuk... uhuk... " Rain memukul dadanya pelan. Ketiga orang itu menatap Rain khawatir.


"Kenapa? Pelan-pelan minumnya, " Ucap Intan.


"Nggak pa-pa kok, bu. Saya permisi dulu. "


Rain beranjak dari sana setelah ketiga orang itu mengangguk. Mereka sedikit terkekeh melihat tingkah Rain.


"𝘏𝘢𝘩𝘢... 𝘈𝘥𝘢-𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯. 𝘊𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘶? 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢? 𝘚𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. " Batin Rain tak habis pikir dengan ucapan Intan tadi.


Rain duduk di kursi paling belakang tanpa ada seorang pun di sampingnya. Rain mengambil ponsel dari dompetnya dan menghubungi seseorang.


"Hai kakak!! " Terdengar suara Zee yang nyaring dan riang. Rain sampai meringis menutup mata dan telinganya. Beberapa orang melihat ke arahnya. Rain tidak peduli akan hal itu.


"Suaramu itu loh, dek... Sampe budek kakak. "


"Maaf." Zee nyengir. Tapi sedetik kemudian terlihat wajahnya antusias.


"Wah... Ini kakak lagi di acaranya? Cafenya keliatannya bagus. Mukanya kakak mana sih? "


"Udah... Lihat aja suasana di sini. Buat apa lihat mukanya kakak. " Sebenarnya Rain tidak ingin adiknya heboh melihat penampilannya. Zee mengangguk kemudian dia banyak sekali mengoceh. Rain tetap sabar dan telaten meladeni ocehan adiknya itu.


"Kakak... Yang mana sih Kana sama Ace itu? Aku mau lihat loh... "


Rain mengarahkan ponselnya pada orang yang ditanyakan oleh Zee, tapi dengan hati-hati supaya tidak ketahuan oleh dua orang itu.

__ADS_1


"Itu yang tinggi yang namanya Ace. Yang badannya kurus kecil itu yang namanya Kana. " Zee manggut-manggut.


"Ace mukanya sangar gitu. Kayaknya orangnya galak. " Rain mengernyit dengan ucapan Zee.


"Terus itu Kana yang kakak bilang menawan? "


"Hu'um."


"B aja tuh. "


Rain terkekeh. "Setiap orang kan punya sudut pandang masing-masing. Bagi kamu biasa bagi kakak lebih dari itu. " Zee berdecak.


"Coba di zoom lagi dong, kak. " Rain menuruti keinginan adiknya.


"Tuh, kan. Kana tu biasa aja. Kalo liat dari matanya sih cakep. Tapi senyumnya itu loh... Lucu... Haha.. " Zee tergelak.


"Hus! Jangan keras-keras. Lagian kamu itu muji apa ngejek? " Rain sedikit berbisik. Zee hanya tertawa.


Ace melihat ke arah Rain yang sedang mengangkat ponselnya. Ace merasa curiga dan menghampiri Rain. Rain tidak sadar ketika Ace mendatanginya. Dia masih saja asyik mengobrol dengan Zee.


"Eh, kak! Ace kayaknya mau datangin kakak tu." Ucap Zee tiba-tiba dengan suara yang keras. Padahal Ace sudah sangat dekat. Rain gelagapan dan menurunkan ponselnya tanpa mematikannya.


"Ngapain loe? " Tanya Ace penuh curiga.


"Gua lagi vicall sama adek gue. Kenapa emang? Kepo banget sih jadi orang. " Jawab Rain ketus.


Rain memandang Ace heran. "Yang ada loe yang jahat. Gue cuma telponan aja loe curiganya minta ampun."


"Kalo gitu mana hp loe. " Ace menadahkan tangannya. Rain mengernyit. "Dih! Apaan sih? " Ace merampas ponsel itu dari tangan Rain.


"Balikin hp gue! Apaan sih loe ambil barang orang sembarangan? " Rain terlihat kesal. Mereka berebut.


"Balikin! "


"Nggak! "


Ace mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Loe liat, itu tu adek gue! "


"Terserah! "


Rain melompat-lompat mencoba meraih ponsel dari tangan Ace. Mereka seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Rain menarik tangan Ace dan itu berhasil membuat tangan itu turun. Rain berhasil mengambil ponselnya tapi Ace malah meraih pergelangan tangan Rain dan menggenggamnya kuat-kuat. Rain sampai meringis karena itu.


Ace mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Rain. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi. Alhasil, gerakan itu membuat tubuh Rain tertarik oleh Ace.


Bruk!!


Rain menubruk tubuh Ace. Tubuh Ace tetap kokoh seperti siap dengan keadaan itu. Tubuh mereka menempel dengan satu tangan mereka terulur ke atas. Satu tangan Rain menempel pada dada Ace untuk menahan tubuhnya. Pandangan mereka bertemu dan mereka diam beberapa saat dalam posisi itu.

__ADS_1


Mereka dapat merasakan hembusan nafas pada wajah mereka karena saking dekatnya posisi mereka.


Suasana hening membuat mereka tidak sadar kalau semua orang sedang memperhatikan mereka. Termasuk seseorang di balik layar ponsel itu.


"Ehem! Ehem! Ehem! Uwu... Kakak... " Terdengar pekikan Zee dari balik ponsel itu. Dari suaranya, Zee kelihatannya sangat senang.


Rain dan Ace tersadar oleh suara kerasnya Zee. Rain mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ace. Tangan Rain melorot dan dia meninggalkan ponselnya di tangan Ace.


Ace menatap Rain yang menunduk lalu menatap wajah orang yang berteriak di balik ponsel itu. Tampak Zee yang sedang mencungkil sisa makanan di giginya dan wajah Ace sendiri yang merengut.


"Eh! Heheh.... Halo... " Zee tersenyum kikuk. Ace menatapnya jijik lalu dia memberikan ponsel itu pada Rain dengan kasar.


Rain gelagapan menerima ponsel itu. Tampak kesal di wajahnya dengan kelakuan Ace.


"Dasar orang aneh! Ngapain coba? " Ucapnya kesal sambil menatap Ace yang menjauh.


"Dia kayaknya suka tuh sama kakak. Xixixi... "


"Ya gak mungkin lah. " Ucap Rain sambil menetralkan emosinya.


"Apa sih yang gak mungkin? "


"Kamu tuh gak ngerti. "


"Tapi kakak deg-degan gak tuh? "


"Biasa aja. " Ucap Rain tak acuh. "Udah ya. Kakak mau siap-siap, mau pulang. "


"He'em... Iya deh gak pa-pa. Bye kakak sayang."


"Bye..." Rain menyimpan kembali ponselnya dan membuang nafas kasar. Matanya menatap orang yang baru saja membuatnya kesal. Ace terlihat baik-baik saja dan tak terlihat bersalah.


Rain tidak tau kalau sebagian orang di sana sedang membicarakan apa yang terjadi padanya dan Ace tadi.


Rain duduk kembali walau dengan wajah yang kesal. Kembali teringat kata-kata Zee barusan. "𝘚𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶? 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢. "


.


.


.


bersambung...


.


.


salam dari yuya😘😘

__ADS_1


__ADS_2