
Hastini tersenyum melihat Ace yang gugup. "Boleh, kok. Bicara saja. "
Ace masih terlihat bingung sementara Rain terlihat senyum-senyum.
"Silahkan, " ucap Hastini lagi karena Ace hanya terdiam.
"Ehm... Itu... "
Hastini tertawa pelan. "Maaf, ya, kalo ibu jahil. Kami keluar dulu. Kalian bicaralah dulu." Mereka berdiri dan bersiap untuk keluar. Ace merasa lega.
" Tapi, " ucap Hastini tiba-tiba dan membuat Ace gugup lagi.
"Kenapa, bu? " tanya Rain yang juga kebingungan.
"Baik-baik, ya. Jangan nakal. Kalian udah besar, kan? " Ditatap nya Ace dan Rain dengan tajam. Intan benar-benar ingin tertawa melihat wajah ketakutan anaknya.
"I-iya, bu, " jawab Ace terbata. Rain jadi salah tingkah. Mereka akhirnya benar-benar pergi.
"Huft... Serem juga, ya? " celetuk Ace yang membuat Rain mengerutkan keningnya.
"Apanya yang serem? "
"Calon mertua, " jawab Ace sambil tersenyum dan duduk di samping Rain.
"Emangnya ibuku apaan? " Rain cemberut padahal sebenarnya dia senang karena kata-kata Ace barusan.
"Ibu kamu jagoan, sama kayak anaknya, makanya aku takut, " jawab Ace dengan senyuman yang tak pudar.
Namun ekspresi wajah Rain yang terlihat sedih membuat senyuman nya lenyap. "Ada apa? " tanya Ace khawatir.
Pikiran Rain berkelana lagi. "𝘈𝘯𝘢𝘬? "
"𝘐𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘰𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘭𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘫𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘬𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶? "
Rain menangis dan membuat Ace gelagapan. "Hei, ada apa? Kok nangis? Aku salah, ya? Maaf kalau ada kata-kataku yang membuat kamu tersinggung. "
Ace berusaha menenangkan Rain, namun gadis itu menggeleng dan masih saja menangis. "Kamu gak salah apa-apa, Ace."
"Lalu ada apa? "
__ADS_1
Rain menggeleng dan kali ini tidak menjawab. Ace menggenggam tangannya, berharap bisa menenangkan Rain. Namun gadis itu malah menunduk sambil masih menangis, seolah ingin menyembunyikan kesedihannya.
"Rain, sebenarnya ada apa? " tanya Ace setelah beberapa saat dia membiarkan Rain menangis.
Rain mengangkat wajahnya dan menatap Ace dengan sendu. "Aku gak bisa jelasin sekarang, hal ini terlalu rumit. Yang pasti, ini semua gak ada hubungannya sama kamu. Aku cuma sedih karena sampai sekarang aku belum bisa membahagiakan Ibu. "
Ace membuang nafas kasar dan hanya terdiam. Ia memang tidak tau permasalahan apa yang sedang terjadi, tapi dia yakin, yang membuat Rain menangis bukan lah sesuatu yang seperti gadis itu katakan.
Ace mengusap-usap bahu Rain pelan sambil berkata, " Jangan pendam masalahmu sendiri, kita selesaikan sama-sama. Siapa tau aku bisa membantu. Kamu percaya sama aku, kan? "
Rain menatap kedua mata Ace sambil mengingat perkataan Hastini. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘮𝘶. 𝘜𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. "
Rain membuang nafas nya panjang dan menunduk.
"Kamu gak percaya sama aku? " tanya Ace sambil menyentuh dagu Rain agar gadis itu menatapnya.
"Bukan begitu. " Rain memalingkan wajahnya.
"𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘤𝘦 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘈𝘤𝘦 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘶. "
"Lalu kenapa? Lihat aku, Rain. "
Ace membuang nafas kasar dan melihat ke arah lain. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘺𝘢? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶. "
"Baiklah kalau kamu lebih tenang seperti ini. Tapi jangan sungkan saat kamu butuh bantuan. Jangan pula sembunyikan masalah yang bisa saja membuatmu dalam bahaya. Aku tidak akan memaafkan kamu kalau sampai itu terjadi, " ucap Ace serius.
Rain tersenyum lembut. "Ya. Terima kasih. " Mereka pun terdiam.
Suasana hening karena mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai Ace memanggil Rain yang menunduk dan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? " tanya Rain, sedikit bingung melihat raut wajah Ace.
Ace menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajah bingungnya, ia tidak menatap Rain.
Rain mengerutkan dahi dan bertanya lagi, "Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Iya, " jawab Ace tanpa menatapnya.
"Apa? Bilang saja, siapa tau aku bisa jawab. "
__ADS_1
"Itu... emm.. " Ace masih terlihat kebingungan.
Rain yang tidak sabar dengan sikap Ace pun menarik lengan baju lelaki itu dan membuat Ace menatap nya.
"Ada apa sih? Kok bingung begitu? "
"Kamu... " Ace menggantung kata-kata nya.
"Ya, aku. Aku kena- "
"Kamu gak kangen sama aku? " tanya Ace cepat, memotong kata-kata Rain.
Rain mengulum senyum dan duduk sedikit menjauhi Ace. Merasa lucu dengan sikap lelaki itu. "𝘒𝘰𝘬 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶? "
"Kok malah senyum-senyum gitu? Hah... " Ace membuang nafas berat.
"Menurut kamu? "
Ace menatap Rain sekilas. Sebenarnya dia tau Rain juga merindukan nya, namun Ace bingung untuk memulai, apalagi dari tadi Rain bersikap biasa, tidak ada bahasa tubuh yang Rain yang bisa ia sambut untuk melepas rindu.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘰𝘣𝘢𝘵𝘪? 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪? "
"Hei, kok malah bengong sih? " Rain tertawa pelan melihat Ace yang melongo menatapnya. "Kok kamu jadi lucu gini, sih? "
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
__ADS_1
salam dari Yuya😘😘😘