Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Mengajak Zee Pergi


__ADS_3

Pagi ini aku terbangun di rumah ku, ya karena aku kemarin tidak kembali ke rumah bu Intan. Aku sengaja bermalam di rumah ku agar paginya aku bisa ke asrama. Aku ingin menjenguk Zee di sana. Rasanya aku sangat merindukan dia. Aku harap, dia juga merindukan ku.


Aku lebih bersantai karena ini juga hari minggu. Lagipula, aku sudah meminta izin pada bu Intan untuk libur kerja dua hari ini. Aku harap, aku juga bisa berlama-lama bersama Zee nanti. Ada sesuatu yang harus aku katakan padanya. Ya, hal yang sama dengan sesuatu yang aku katakan pada ibu.


Zee lebih sensitif. Kadang dia juga lebih tempramental dari biasanya. Sikapnya juga tidak seperti ibu. Aku takut, kalau aku menyimpan ini darinya, dia malah akan membenciku. Sebenarnya, aku tidak ingin apa yang aku katakan ini membebani nya dan membuat proses belajarnya terganggu. Tapi, akan lebih membuatnya terganggu bukan kalau dia tau sendiri suatu saat nanti? Iya kalau setelah dia lulus, kalau dalam waktu sebelum itu bagaimana?


Mungkin aku terbilang egois, tapi belum tentu dia bisa dihadapi saat aku sudah menyimpan jauh masalah ini. Aku tidak ingin berbohong. Aku tidak ingin menutupi kebohongan dan berakibat aku berbohong lagi. Terserah kalau aku dianggap terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah ini.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu berlalu dan kini aku sedang berdiri mematung di depan asrama. Nyaliku tidak sebesar tadi. Sekarang aku bingung harus bagaimana menghadapi Zee. Aku bingung bagaimana harus memulai semuanya. Aku takut dia merasa kecewa.


Dalam kebingungan ku, seseorang datang menghampiri ku dan membuatku terkejut. Ternyata itu adalah pemilik asrama. Kehadirannya membuatku memiliki semangat baru.


Aku bercakap-cakap cukup lama dengan perempuan yang usianya tidak jauh dari ibuku itu. Bukan hanya percakapan biasa, tapi aku juga meminta izin padanya untuk membawa Zee pergi seharian ini. Pemilik asrama mengizinkan ku karena alasan yang aku buat sangat pas dan aku rasa, dia juga tak bisa menolaknya.


.


.


.


Aku membawa Zee keluar dari asrama itu setelah Zee menyelesaikan pekerjaan dan tugasnya. Tak lupa, aku berpamitan pada pemilik asrama. Zee awalnya bingung, namun setelah aku menjelaskan aku akan membawanya kemana, adikku ini langsung diam.


.


.


Kami sampai di sebuah pemakaman umum. Hanya berdiri mematung, itulah yang kami lakukan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan. Tidak ada percakapan diantara kami dan tidak ada siapapun yang melewati tempat ini.


Setelah lama, akhirnya aku mengajak Zee untuk menghampiri makam bapak. Kami berjalan perlahan dan tenang. Namun aku tau, pikiran Zee tidak setenang sikapnya saat ini.

__ADS_1


Kami berjongkok di samping makam bapak. Mendoakannya seperti biasa seperti ketika kami datang. Namun kali ini rasanya berbeda dengan yang biasanya. Zee tampak murung dan aku sendiri memang sedang banyak pikiran. Kami banyak diam setelah selesai mendoakan bapak.


Cukup lama kami terdiam hingga aku berniat untuk memulai obrolan dengan Zee sambil mengusap nisan bapak. Rasanya aku tidak tega untuk mengatakan ini. Melihat Zee yang tampak sedih membuatku semakin bingung.


"Kak, kalau ada yang mau dibicarakan, kakak bilang aja, " ucap Zee tiba-tiba. Aku menatapnya sekilas lalu kembali melihat nisan bapak.


Zee pasti sudah tau dengan kegelisahan ku. Tapi, apakah dia tau aku akan bicara apa? Tidak mungkin kan kalau dia tau? Rasanya, aku telah menjadi kakak yang egois. Hah... Bagaimana ini?


"Kakak... " Zee memanggilku lirih sambil mengusap punggung tanganku.


Aku menunduk dan rasanya aku ingin menangis. Adikku bahkan lebih pengertian dariku. Rasanya, sikapku tidak dewasa. Rasanya, Zee lebih dewasa dariku saat ini.


"Kalau memendam sesuatu membuat tidak nyaman dan tidak tenang, mungkin lebih baik jika sesuatu itu diungkapkan. Entah apakah sesuatu itu bisa berakibat baik atau buruk. Yang penting, tidak ada niatan buruk dengan apa yang ingin kita ungkapkan. "


Aku tertegun mendengar ucapannya. Bukankah kata-katanya terdengar seperti dia mengetahui hal ini?


"Tidak ada niatan buruk tapi kalau kita tau akan ada kemungkinan hal yang buruk, bukankah itu sama saja? "


Zee tertawa pelan lalu menatap ke arah langit yang cerah. "Tidak semua hal yang kita inginkan berjalan baik bisa sebaik yang kita harapkan. Aku rasa juga seperti itu dengan hal yang buruk. Entahlah..."


Maksudnya?


"Zee, apakah ada sesuatu? " Aku rasa, dia juga sedang menyimpan sesuatu.


"Banyak? "


"Ya, dan itu membuat tidak tenang. "


"Apa bisa kakak mendengar itu? "


Zee menatapku sedikit terkejut. Lalu ditatapnya dengan lama wajahku ini. Dia juga terlihat seperti ingin menangis.


"Aku gak tau, kak, " jawabnya lalu menunduk.


"Apa kamu tidak bisa berbagi dengan kakak?"


Zee menggeleng sambil tersenyum. "Aku gak tau. " Lalu dia membuang nafas panjang. "Aku gak tau apakah ini baik atau tidak saat aku bilang sama kakak. "


"Ada apa? " Aku jelas sangat penasaran.


"Mungkin sebaiknya kakak bercerita lebih dulu. Sambil aku mengatur nafasku, " ucapnya lalu tertawa pelan.


Kini aku yang kebingungan. Haruskah aku katakan sekarang?

__ADS_1


"Kakak jangan takut untuk bicara. Seburuk apapun itu, aku akan coba terima. "


Aku menatapnya dengan pikiran ku yang kacau. Bukankah dia seperti kakakku sekarang? Dia berusaha membuatku tenang. Mungkin dia juga tau kalau sesuatu yang ingin aku bicarakan adalah sesuatu yang memiliki kemungkinan buruk.


"Kita cari tempat teduh dulu. Cuacanya akan membuat kita kepanasan kalau kita lebih lama lagi disini, " ucapku lalu berpamitan pada bapak walaupun aku tau tidak mungkin akan ada jawaban darinya. Dalam hati, aku banyak-banyak meminta maaf padanya. Mungkin aku membuatnya kecewa.


Aku berdiri disusul Zee yang berdiri dengan gontai. Kami berjalan beriringan dan keluar dari area pemakaman.


.


.


.


Aku mengendarai pelan motorku saat kami sudah sampai di tempat yang ramai. Ku edarkan pandanganku untuk menemukan cafe yang cocok untuk aku dan Zee beristirahat.


Ku tepikan motorku saat aku menemukan tempat yang tepat. Kami masuk ke sana dan memesan makanan dan minuman sewajarnya.


Ku lihat Zee masih saja murung. Aku berusaha untuk menenangkan nya dengan berbagai obrolan. Sampai ketika dia bertanya lagi padaku tentang sesuatu yang ia pikir mungkin saja ingin aku bicarakan. Aku pun hanya terdiam. Aku tidak yakin Zee bisa menerima hal ini sekarang. Walaupun entah kapan dia akan menerima jika aku ucapkan.


"Mungkin lain kali saja. Kakak gak mau kamu bertambah banyak pikiran. "


"Aku akan lebih banyak pikiran kalau kakak gak bilang sekarang. Apalagi kalau ini sesuatu yang penting. Mungkin aku akan merasa kecewa karena kakak tidak segera untuk bicara. "


Nah...


Apakah ini tidak seperti dugaanku?


"Baiklah. Tapi maafkan kakak karena bicara masalah ini. " Zee hanya mengangguk.


Aku memulai dengan kasus Anih dan Danang. Berlanjut dengan masalah yang seolah meneror keluargaku. Juga pengalamanku yang seolah diintai seseorang, dan itu kenyataannya bukan hanya seolah.


.


.


.


bersambung...


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya😁😁


__ADS_2