
.
.
Aku menunduk untuk tidak melihatnya. Fokus dengan yang kulakukan hingga mencapai hitungan ke tujuh. Tanganku masih kuat.
Aku menatapnya yang tetap kokoh dengan kedua tangan besarnya. Seketika mataku tertuju pada kedua tangan itu. Melihat peluh kecil yang keluar dari tangan kekar tapi mulus itu.
Aku mengerjapkan mataku dan aku memalingkan wajahku. Kenapa aku ini?
Untung saja dia tidak sepenuhnya bertelanjang dada, kalau tidak, pasti fokus ku akan kacau.
"Bagaimana? Apa sudah mau menyerah? " Ucapnya angkuh. Aku menatapnya tajam.
Dia mempercepat gerakannya sehingga hitungannya melebihi hitungan ku.
"Aku tidak akan menyerah! " Tapi bukan karena tantangan itu.
Aku menatapnya tak kalah angkuh.
Aku mengatur nafasku. Berhenti sebentar kemudian lanjut lagi.
"Haha... Kamu terlihat akan kalah. " Dia menyeringai menatapku.
Aku melakukannya sambil mengatur nafasku. Mengambil udara dan membuangnya perlahan. Aku tidak menatap Ace, tapi aku masih bisa melihat gerakannya.
Saat hitunganku yang ke tujuh belas, dia tiba-tiba ambruk. Tadinya aku mengira dia berhenti sebentar. Tapi erangan keras dari mulutnya spontan membuatku melihat ke arahnya.
Aku masih menambah hitunganku saat melihatnya. Dia terlihat kesakitan sambil memegang tangannya. Kana sudah turun dari kursi dan menghampirinya. Saat hitungan kedua puluh dua, aku berhenti. Kurasa hitungan itu sudah sama dengannya.
Aku menghampirinya yang tampak kesakitan. Kana yang terlihat sangat khawatir memanggil-manggil Ace sambil memegang tangannya. Dia terlihat bingung.
"Kenapa? " Tanyaku.
"Sepertinya tanganku terkilir. " Jawab Ace datar.
Aku mengerutkan dahiku. Kok bisa?
Aku meraih tangannya dan merabanya perlahan. Bukan hanya Ace yang terkejut, tapi Kana tampak kaku ketika aku melakukan itu.
"Kalian tenanglah. Aku cuma mau membantu."
Aku menunduk tanpa melihat tangan itu. Mencoba mencari adakah urat yang tegang. Tapi kurasa tangannya baik-baik saja.
Aku menatap Ace. "Kamu yakin ini sakit? "
"Te-tentu saja. Aduh! Aw... Ini sakit. " Dia meringis. Aku menatapnya datar. Barusan dia diam saja. Huh!
"Aku akan ambilkan salep. Kalian tunggu di sini." Ucapku seraya berdiri.
Aku melepaskan ikatan rambutku. Gerah sekali. Rambutku menempel pada leherku karena berkeringat.
Aku mengibaskan rambutku dan menyisirnya sebentar dengan tangan. Tiba-tiba aku merasa aura di ruangan ini berubah.
Aku menatap Ace dan Kana sambil mengikat rambutku. Mereka diam mendongak menatapku. Ada apa?
Wajah kalian aneh sekali tau. Aku tidak menghiraukan mereka dan berlalu pergi dari ruangan itu.
.
.
Aku kembali ke ruangan itu sambil membawa salep. Aku memberikannya pada Kana supaya dia yang mengoleskannya pada Ace.
"Ini. Oles sedikit saja. Kalau banyak takutnya nanti panas. " Kana menatapku dan salep itu bergantian.
Dia mengambil salep itu dan aku pergi meninggalkan mereka.
.
.
.
.
Aku sedang duduk di kursi di dekat kolam. Walaupun panas, tapi kalau duduk di sini rasanya sejuk.
__ADS_1
Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Sudah mandi dan sholat pula. Aku tidak terbiasa tidur siang. Karena kalau aku tidur, aku malah akan semakin mengantuk.
Ku dengar suara mobil bu Intan memasuki pekarangan rumah. Tumben bu Intan pulang jam segini. Padahal ini baru jam 2 siang.
Eh!
Tapi tadi kenapa Ace pulang cepat juga? Bahkan termasuk masih pagi. Aku tadi tidak memperhatikan itu.
Aku pergi ke ruang tamu, berniat menyambut bu Intan. Tapi saat aku masih di ruang keluarga, dia tiba-tiba berteriak memanggil Ace.
"Azz... Dimana kamu? Azz... "
Bu Intan menatapku. "Kamu lihat Azz? Tadi dia pulang, kan? "
"Iya, bu. Tapi saya tidak tau dia dimana sekarang. "
"Oh.. Ya sudah. "
Bu Intan pergi meninggalkanku. Wajahnya tampak kesal.
.
.
.
Aku sedang berada di dapur bersama mbak Sari. Dia berniat menunggu bu Intan pulang, barulah dia pulang ke rumahnya.
Bu Intan datang menghampiri kami.
"Rain... "
Aku yang sedang mencuci piring berbalik menatapnya. "Iya, bu? "
"Ayo ikut ibu, kita belanja. Besok adalah hari peresmian cafe . Ibu ingin mengadakan acara kecil-kecilan. "
"Oh... Iya. Baik, bu. Ini sebentar lagi selesai."
"Ini biar mbak aja yang selesaikan. Kamu segera siap-siap. " Mbak Sari sudah mengambil alih pekerjaanku.
"Nanti mbak kalo mau pulang, pulang aja. Bawa lauk buat anaknya mbak, ya. "
.
.
.
.
Aku dan bu Intan sedang dalam perjalanan pulang dari mall. Aku tidak mengira kalau bu Intan akan membelikanku baju. Dia ingin aku memakai baju itu besok. Aku sebenarnya senang melihat baju itu. Hanya saja, apakah baju itu akan cocok jika aku yang memakainya?
Aku dan bu Intan mengendarai motor maticku. Aku tidak tau kenapa dia tidak ingin memakai mobil. Padahal belanjaan tadi lumayan banyak. Bu Intan malah meminta supirnya untuk mengantar barang itu ke rumah.
.
.
.
"Nanti kita mampir ke permakaman dulu, ya. Ibu ada perlu. " Ucap bu Intan yang duduk di belakangku. Aku mengiyakan dengan keras. Takut suaraku tidak terdengar karena kami masih di jalan.
Aku hanya menebak, mungkin bu Intan ingin ke makam ibunya.
.
.
Sesampai kami di area permakam, bu Intan memintaku untuk menunggu di dekat jalan masuk. Di sana ada sebuah rumah kecil yang biasa digunakan orang-orang untuk beristirahat. Ada beberapa orang yang duduk di sana. Aku tidak tau kenapa bu Intan memintaku untuk menunggu di sana.
Aku bergabung dengan orang-orang itu, membiarkan bu Intan masuk sendiri ke sana.
Tapi entah kenapa perasaanku mendorongku untuk mengikuti bu Intan. Rasanya kakiku seperti bergerak sendiri tanpa perintah dari otakku.
Aku berjalan hingga aku melihat bu Intan, walau dari kejauhan. Dia terlihat seperti menangis. Hatiku terasa sakit melihat dia menangis sambil bersimpuh di dekat sebuah kuburan kecil.
Aku berjalan perlahan mendekatinya. Tapi, tempatnya bersimpuh membuatku tertegun. Aku diam di tempat.
__ADS_1
Bukankah kuburannya Kania ada di sebelah kuburan neneknya? Lalu bu Intan menangis di atas kuburannya siapa?
Aku berjalan pelan.
Itu...
Bukankah itu kuburan bayi yang mengalami kecelakaan?
Bu Intan menangis pilu. "Mama sangat merindukan kamu, sayang. "
Bulu di tubuhku meremang.
Mama?
Apakah bayi itu anaknya bu Intan?
Bu Intan menangis tersedu sampai seluruh tubuhnya bergetar. Aku semakin terdiam seolah tubuhku kaku.
Bu Intan tidak menangis bahkan tidak terlalu memperhatikan kuburan itu saat ada Ace dan Kana. Bahkan sekarang pun bu Intan tak ingin aku mengikutinya. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin orang lain tau.
Saat kebingungan melandaku, tiba-tiba angin dingin menyapu kulitku. Seluruh tubuhku merinding. Bulu kudukku meremang.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬.... "
Suara gadis itu terdengar lagi dan lebih menakutkan dari waktu itu. Tubuhku seketika tegang.
"Si-siapa? " Aku ingin menoleh tapi sebuah tangan yang pucat terlihat menempel di bahuku.
Glek
Aku hanya bisa menelan ludahku saat melihat tangan itu. Jujur aku takut.
Kepalaku tiba-tiba pusing. Pandanganku kabur...
"Pergilah... Ku mohon pergi. Jangan ganggu aku... "
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬... "
"Aku tidak punya adik selain Zee. Kamu siapa?" Ucapku sambil menutup mataku.
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘮𝘶... "
Tubuhku bergetar.
"Tidak... Pergilah... Kamu makhluk jahat. Jangan menggangguku. "
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘬..."
Suaranya terdengar memilukan.
Apakah makhluk sepertinya bisa bersedih?
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬..."
Aku membuka mataku. Samar-samar aku melihat perempuan seusia Zee menatapku lekat. Dia gadis yang ada dalam mimpiku.
Air matanya mengalir di pipinya. Perlahan tubuhnya pergi menghilang disertai keadaan tubuhku yang kembali normal.
Aku diam mematung dengan mata yang terbelalak lebar. Nafas dan detak jantungku masih memburu.
Apa maksud semua ini?
Dia hanya bilang kalau dia adikku. Tapi siapa dia?
.
.
.
.
bersambung...
.
.
__ADS_1
salam dari yuya😊😊