Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
AceRain...


__ADS_3

.


.


.


Dalam sebuah lorong dengan cahaya redup, seorang gadis sedang berjalan gontai. Langkahnya pelan dan terseok-seok. Beberapa saat dia terdiam lalu kembali berjalan lagi. Sesekali tubuhnya terbentur pelan ke dinding.


Dia berjalan pelan sampai kakinya tersandung kakinya yang lain, membuat tubuh gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh.


Namun, tangan kekar seseorang menangkap dengan sigap tubuhnya. Menahannya agar tidak jatuh ke lantai. Gadis itu memandanginya dengan mata kecilnya. Mencoba melihat dengan jelas wajah orang itu.


"Ace? "


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku? " Gadis itu menatap sekeliling. Lalu dia tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Ace.


"Sepertinya aku tidak sadar ketika berjalan kemari, " ucapnya meringis.


"Apa kamu haus?"


Dia mengangguk.


"Kenapa kamu tidak membawa air minum ke kamarmu? "


"Aku selalu membawanya. Tapi entah kenapa aku sering berjalan keluar dari kamarku tanpa sadar. "


"Kalau begitu kembalilah ke kamarmu. "


Gadis itu tersenyum. "Baik. Terima kasih, Ace."


"Untuk? "


"Karena menyadarkanku. "


Ace menatapnya dengan ekspresi aneh.


"Tapi ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Kenapa belum tidur?"


"Ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Aku berniat ke dapur untuk mengambil air. Tapi aku malah melihat gadis dengan tampilan berantakan berjalan ke dapur. Untung aku tidak berteriak ketakutan," candanya lalu tertawa pelan.


"Huh! Memangnya aku hantu? "


"Memang bukan, tapi mirip."


Gadis itu melotot dan segera pergi meninggalkan Ace dengan kesal.


"Rain... "


Gadis itu berhenti dan menoleh. "Apa? " Lalu membalikkan tubuhnya.


Ace berjalan menghampirinya dengan tatapan lekat. Jantung Rain seperti berlomba dibuatnya. Ace bediri tepat di hadapannya. Tersenyum penuh makna.


"A-apa? Kamu mau apa? Apa kamu butuh sesuatu? " tanya Rain dengan gugup.


Ace tidak menjawab tapi malah mendekatkan wajahnya. Berhenti saat hidungnya menyentuh pipi Rain. Nafas Rain seolah sesak dibuatnya. Dia tak berani berkata-kata. Bahkan tak berani untuk menatap wajahnya.


Ace mengecup pipi itu lalu melihat wajah gadis yang mematung di depannya. Tubuhnya terasa panas. Jantungnya berdetak kencang, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya dengan hanya tersenyum.


Rain tersadar dan menatap Ace yang masih tersenyum. Mata kecilnya kini sudah membulat sempurna.


Ace memiringkan kepalanya. Senyumnya tak juga pudar. Nafas hangatnya berhembus dengan keras ke wajah Rain. Membuat pikiran gadis itu melayang kemana-mana.


"Tidurlah."


"Em ... Baik. "


"Jangan lupa minum lalu baca do'a. "


Rain tersenyum sampai matanya menyipit. "Hem... Baiklah. Kamu juga tidur. Jangan terlalu lelah. Selamat malam. "


Ace hanya tersenyum.


Rain berjalan ke kamarnya sambil mengatur nafasnya. 𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢? 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢? 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮-𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮... 𝘐𝘴𝘩....


Namun dirinya merasa ada yang aneh. Rain masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Dia berbalik untuk menutup pintu dan seketika itu dia terkejut saat melihat Ace yang sudah berdiri di pintu kamarnya.


"Ada apa lagi? " tanya Rain jelas keheranan.


"Aku hanya ingin memastikan kamu benar-benar masuk ke kamarmu. "


Rain mengernyit. "Aku sadar sepenuhnya. Aku tak akan salah masuk kamar. "

__ADS_1


Ace mengedikkan bahu.


"Kamu pergilah. "


"Aku ingin melihatmu minum. "


Rain yang merasa aneh menyandarkan tubuhnya ke pintu. "Apa kamu benar-benar Ace? " Ace mengerutkan keningnya.


"Kenapa rasanya sikapmu aneh sekali? Dan lagi ... Kamu barusan berjalan tapi tidak ada suaranya." Rain mengerjapkan matanya, merasa takut sendiri.


Ace tertawa. "Kamu takut kalau aku adalah hantu? "


"Tidak juga. "


"Lalu ekspresi apa itu? "


"Ini hanya ekspresi ekspektasi," jawabnya datar.


Ace tertawa lagi. "Kamu membayangkan kalau aku adalah hantu? "


Rain berdecak sebal." Pergilah, aku mau tidur."


Ace bergeming dan menatapnya dengan tatapan yang membuatnya melayang. Rain mengalihkan pandangannya.


"Sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini, " ucap Ace dengan lirih.


Rain masih diam. Matanya menatap sekeliling kamarnya. Gadis itu terlihat salah tingkah.


"Itu... Kamu berdo'a saja agar bisa tidur, " ucap Rain sambil menggaruk telinganya yang tak gatal. Matanya masih tak menatap Ace.


Ace mendekatkan wajahnya kembali dan itu membuat Rain spontan menatapnya dengan mata yang lebar.


"Ace... " panggilnya dengan suara yang hampir hilang. "Jangan membuatku takut. "


Ace menatapnya bingung. "Kamu takut? Padaku? "


"Em... Tentu, " jawabnya dengan perasaan yang sudah tak karuan. Wajahnya terasa panas. Gadis itu menggigit bibirnya karena gugup.


"Minumlah."


"Hah? " Rain melongo.


"Aku ingin melihatmu minum lalu aku akan pergi. "


Ace masuk dan mengambil segelas air minum diatas nakas. Rain terkejut dengan perbuatannya dan menarik Ace agar keluar dari kamarnya.


"Kamu ini apa-apaan sih? Kamu jangan masuk kamarku sembarangan. Aku bisa mengambilnya sendiri."


Ace menatapnya lalu menyodorkan segelas air minum yang sudah diambilnya. Rain duduk di kursi dan meminum air itu. Ace terus menatapnya.


Rain menaruh gelas itu di meja dan melihat Ace yang sedang menatapnya. "Aku sudah meminumnya. Sekarang kamu bisa pergi, kan? " ucapnya seraya berdiri.


Ace hanya diam dengan tatapan tertuju pada leher Rain. Leher dengan tanda merah yang tak disadari pemiliknya. Rain sedikit takut dengan tatapan Ace. Apalagi laki-laki itu tak bicara apapun.


"Hei! " sapa Rain lirih sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Ace. Ace menatapnya tajam. Rain menelan ludahnya karena takut. "𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢?"


"Apa yang mereka lakukan padamu? " Pertanyaan Ace terdengar menakutkan.


"Mereka? Oh... Para penculik itu? "


".... "


"Mereka baku hantam denganku," jawab Rain dengan bangganya.


Rain tersenyum namun seketika senyumnya hilang saat tangan Ace terulur ke lehernya. Memegang lehernya dengan satu tangan. Mengusap-usap tanda merah itu dengan ibu jarinya.


"𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶? "


"Kenapa? "


" Apa lagi yang mereka lakukan padamu ?"


Rain mengingat-ingat. "Seseorang dari mereka mencekikku. "


"Mencekikmu?"


"Hu'um."


"𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶?"


Rain mengerutkan keningnya. Mereka saling bertatapan dalam diam. Rain bingung dan merasa takut dengan sikap Ace.


"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘮𝘶."

__ADS_1


"Hei... Ada apa? " Rain kebingungan dengan sikapnya.


Ace menatapnya tajam. Rain yang merasa takut, mundur perlahan. "Kamu ini kenapa? "


"Aku tidak suka. "


"Hah? Tidak suka apa? "


Ace perlahan mendekatinya dan Rain mundur sedikit demi sedikit. Jantungnya sudah berdetak tak karuan dan tubuhnya rasanya sudah lemas.


Rain meremas ujung bajunya karena gugup. Tangannya gemetar dan dingin. Entah kenapa perbuatan Ace tak bisa membuatnya marah.


Rain menguatkan dirinya sendiri. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵... "


"Ibumu akan marah jika dia tau akan hal ini."


"Marah? Memangnya apa yang aku lakukan padamu? "


Rain tidak bisa mundur lagi. Kakinya sudah menempel di pinggiran ranjang. Rain terduduk dan mendongak menatap Ace yang tampak menakutkan.


"Aku akan berteriak. "


Ace menaikkan sebelah alisnya. "Silahkan."


Rain tampak kesal. Ace mencondongkan tubuhnya. "Berteriaklah. Lalu ibuku akan menikahkan kita."


"Apa mak- "


Cup


Ace menciumnya sebelum Rain menyelesaikan kata-katanya. Rain mematung. Ace menatapnya dan tersenyum.


"Ace!!! "


Cup


Gadis itu menegang.


"Jangan berteriak. "


"Aku akan memukulmu. "


"Silahkan. "


Rain malah terdiam melihat Ace yang mendekatkan wajahnya bersiap untuk dipukul. Melihat lelaki itu tersenyum tanpa dosa, gadis itu merasa ingin terbang dan berteriak, kenapa kamu tampan sekali?!


"Pukullah. Aku akan menerimanya."


Rain menarik kerah bajunya. Ace diam karena mengira Rain akan benar-benar memukulnya. Namun gadis itu malah memegang pipinya. Hal yang tak pernah ia kira. Kini Ace yang mematung dibuatnya.


"Aku tidak ingin menyakitimu, Ace. Jadi kumohon jangan memancing ku. Kamu tidak pernah tau bagaimana sifatku. Lagipula, tidak baik kita melakukan ini. Tolong hargai aku. Aku sudah berusaha menjaga diriku. Jangan membuat usahaku sia-sia, " ucap Rain setenang mungkin. Menahan diri untuk tidak memeluk laki-laki itu.


Ace diam mencerna kata-katanya. Memandanginya masih dengan posisi yang sama.


"Keluarlah. Sebelum ibu atau adikmu melihatmu di kamarku. "


"Baiklah."


Rain tersenyum dan mengira kalau Ace akan pergi begitu saja. Namun dia terkejut saat mereka berdiri, Ace menariknya ke dalam pelukannya.


Rain yang sudah gugup dari tadi kini merasa kakinya sudah seperti jelly. "𝘖𝘰𝘩𝘩𝘩... 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘨𝘰yah. "


Ace tersenyum senang. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘮𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘶. "


"I love you, Rain... "


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari Yuya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2