
.
.
"Aku tau kamu merindukan mereka,tapi tak seharusnya kamu membuatnya tinggal bersamamu. "
Mata Intan berkaca-kaca. "Tapi aku benar-benar menyayangi Rain. Aku akan berusaha melindunginya seperti melindungi anakku sendiri, walaupun dulu aku gagal. "
Rendra menatapnya tak percaya. "Jadi kamu masih akan mempertahankan anak itu di rumah ini? "
"Aku tidak akan membiarkan dia pergi. "
"Kamu egois! Akan melindunginya katamu? Sekarang saja bahunya tertusuk kamu tidak tau, lalu apalagi selanjutnya? Bahkan mungkin saja yang menusuknya adalah salah satu dari orang-orang itu. "
Intan menunduk dengan sedih. Mereka terdiam cukup lama.
"Jangan membuat anak itu dalam masalah, Intan. Sudah cukup sepupu dan keponakanku yang pergi. Jangan sampai anak yang tidak tau apa-apa ikut dalam masalah keluargamu. "
Intan menatapnya tak senang. "Keluargaku? Kamu memang selalu menyalahkan ibuku. Tapi ibuku sudah meninggal. Kalaupun dia masih hidup, aku yakin dia tidak akan mengganggu Rain. "
Rendra tersenyum sinis. "Ibumu memang pantas disalahkan. Dia yang menyebabkan Rafendra pergi. Walaupun dia ibumu, tapi seharusnya tidak membuatmu buta dengan apa yang terjadi. "
"Cukup Rendra! Ibuku memang egois, tapi aku yakin dia tidak sekejam itu hingga melenyapkan cucunya sendiri. "
Rendra tertawa sumbang. "Ya ya... Aku memang salah karena menyalahkan ibumu."
Rendra berdiri dengan tidak sabaran. "Sepertinya percuma aku memberi kabar ini dan berdebat dengamu kalau reaksimu tetap sama, lebih baik aku pergi. Aku harap kamu benar-benar bisa menjaga anak itu, walaupun aku tidak yakin kamu bisa melakukannya."
Rendra pergi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Menerobos hujan yang cukup deras hingga sampai di mobilnya.
Intan menangis tersedu setelah Rendra benar-benar pergi. Menangis sendirian di ruang tamu, berusaha menghilangkan rasa sesak yang menyiksanya batinnya.
"Rara... Tolong kamu jangan marah sama Mama. Mama tidak berniat menggantikan kamu, justru Mama sangat merindukan kamu. Mama tidak salah kan kalau sayang sama Rain? " Intan kembali menangis.
" Bukannya aku tidak tau kalau ibuku memang kejam, Rendra. Tapi keadaan tak bisa membuatku memilih antara ibu atau anakku, " Intan mengingat ucapan Rendra, setelah tenang beberapa saat.
.
.
.
Rendra mengemudi sambil menangis. Berkali-kali air mata menutupi pandangannya saat mengingat jasad dua orang keluarganya yang hampir tak dikenali. Tak ingin percaya bahwa itu adalah mereka, tapi bukti yang kuat menunjukkan bahwa jasad itu benar-benar mereka.
"Rafendra... Apa dirimu benar-benar sudah pergi? Aku dulu tidak ingin mempercayai itu, tapi setelah aku menerimanya sekarang, kenapa malah hadir anak perempuan yang sangat mirip denganmu? "
"Aku tidak salahkan kalau aku mencurigai ibu mertuamu? Bukankah dia memang kejam terhadapmu? Yang membuatku tak habis pikir, kenapa dia juga kejam pada anakmu yang tak lain adalah cucunya sendiri? Kenapa dia ingin sekali menyingkirkanmu? Aku tidak mengerti, Rafendra, seperti apa kehidupan yang kamu lalui selama ini."
.
__ADS_1
.
.
" Selamat pagi Kana... Ini aku buatkan bubur untukmu." Rain melenggang masuk ke kamar Kana sambil membawa nampan, dengan senyum merekah terukir di bibirnya.
Kana menoleh dengan lemah, tersenyum melihat Rain.
Rain meletakkan nampan lalu duduk di ranjang di samping Kana. "Bagaimana keadaanmu? " Terlihat khawatir di wajahnya.
"Aku sudah lebih baik, apalagi setelah melihatmu. "
Rain tersenyum menanggapi itu, tanpa ada pemikiran aneh sedikitpun.
"Makanlah dulu, aku sudah membuatkan bubur spesial untukmu. "
"Aku mau makan, tapi aku ingin kamu menyuapi ku, boleh? "
Rain tersenyum. "Tentu saja boleh. "
Rain menyuapi Kana dengan telaten. Kana menatap Rain tanpa henti. Rain tidak risih mendapat tatapan seperti itu darinya. Lebih tepatnya tidak merasakan apa-apa.
Rain membantu Kana meminum obatnya. Mereka terdiam cukup lama lalu Rain menatap Kana serius.
"Kana... Soal Ace kemarin..." Rain ragu untuk melanjutkan, apalagi wajah Kana berubah sedih.
Kana menatap Rain heran. "Maksudmu? "
"Kamu tak perlu menutupinya. Walaupun sebagai teman, aku ingin kamu berubah, tapi bukan berarti aku senang melihatmu tersiksa. Aku tau kamu masih merasa tak nyaman melihat Ace seperti itu.Walaupun aku tidak pernah pacaran, tapi aku tau bagaimana rasanya cemburu. Itu rasanya tidak nyaman. " Rain tersenyum canggung.
Kana masih diam dengan kening yang mengkerut.
"Aku tidak ingin memaksamu. Kamu tentu sudah tau mana yang benar. Suatu saat nanti kamu akan sadar sendiri, maaf karena aku mengatakan ini dan seolah menyudutkanmu. " Rain menjeda kata-katanya dan mengambil nafas.
"Aku rasa Ace hanya ingin membuatmu marah saja karena akhir-akhir ini kamu selalu dekat denganku. Aku harap kamu tidak menganggapnya serius. " Rain menunduk.
"𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘈𝘤𝘦 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘏𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘱. 𝘈𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."
Kana mencoba mengartikan kata-kata Rain. "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘤𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘤𝘦 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪? "
Kana berpikir. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘓𝘢𝘭𝘶... 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘈𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢?" Kana tersenyum. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘙𝘢𝘪𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘤𝘦. "
"Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri? Apa kamu demam lagi? " Rain menempelkan punggung tangannya di dahi Kana.
Kana terkesiap. Tiba-tiba dia menjadi gugup, apalagi tangan Rain kini tak hanya menyentuh dahinya tapi beberapa bagian di tubuhnya.
"Sepertinya aku merasa tak nyaman di sini." Kana menunjuk dadanya dengan tatapan sendu.
Rain melihat ke arah itu dan berpikir sesuatu yang membuatnya merasa bersalah. "Maaf. " Rain menarik tangannya dan menunduk.
__ADS_1
Kana tersenyum. "Aku akan memaafkan mu, tapi kamu harus melakukan sesuatu. "
Rain menatapnya lekat. "Apa? "
"Menjauhlah dari Ace dan dekatlah selalu denganku agar aku bisa belajar menjadi lebih baik."
Rain tampak berpikir.
"Aku akan berusaha. Apa kamu tidak mau membantuku? "
"Tentu saja aku mau. Tapi... " Rain merasa tak siap dengan keinginan Kana.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang. Kana dan Rain melihat Intan yang berjalan masuk.
Intan menatap Kana. "Bagaimana? Apa sudah lebih baik? "
Kana mengangguk dan tersenyum. Intan menghela nafas lega. Sebenarnya karena tak terjadi apa-apa saat Rain bersama Kana. Anak bungsunya ini tak sekeras kepala kakaknya. Kana lebih bisa dinasehati.
Mengingat bebeberapa saat sebelumnya, Intan menasehati Ace dan anak sulungnya itu malah pergi begitu saja.
"Mama mau bicara sama Rain, kamu ditinggal dulu bisa ya? Lagian Rain juga mau kuliah nanti. "
Kana tersenyum. "Iya, ma. Aku juga mau istirahat. Makasih ya, Rain."
Rain hanya tersenyum dan berjalan keluar bersama Intan. Intan mengajaknya duduk di ruang tamu.
"Ibu kenapa? " Rain khawatir melihat mata Intan yang sedikit bengkak.
Intan tersenyum. "Ibu gak pa-pa. Tadi malam ibu ada banyak kerjaan, jadi gak bisa tidur cepat. " Intan jelas berbohong.
Semalaman Intan menangis dan dia bahkan tak berani menampakkan diri dihadapan anak-anaknya.
Ace pun heran saat melihatnya ketika mereka sarapan, tapi karena mendengar omelan ibunya, Ace memilih pergi tanpa ingin tau apa yang terjadi.
.
.
.
bersambung....
.
.
.
salam dari Yuya😘😘
__ADS_1