Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Berdamai


__ADS_3

.


.


.


" Hei! Loe sendiri cari masalah. "


"Bukan gue tapi loe! "


"Loe! "


"Loe, bukan gue! "


"Pokoknya loe! Titik! " Ucapku yang tidak sadar entah sejak kapan aku berada tepat di depan wajahnya.


Angin dingin bertiup dari kedua lubang hidungnya. Menabrak keras tepat di wajahku. Sepertinya hal itupun sama denganku. Karena aku bisa melihat rambut depannya yang bergerak naik turun. Untunglah penghuni lubang itu tidak ikut keluar.


"Ekhem! " Deheman Kana membuatku sepenuhnya sadar dan sepertinya Ace juga begitu. Karena dia terlihat salah tingkah.


"Jadi berapa hitungan dari kalian? " Tanya Kana tanpa basa-basi lagi.


Aku dan Ace menjawab bersamaan.


Aku. "22!"


Ace. "21! "


Seketika aku menatap Ace dan senyuman kemenangan terukir di wajahku. "Sudah ku bilang, kan. Aku yang menang. " Ace mendengus sebal.


Aku membanggakan diriku, mungkin ini terlalu sombong. Tapi aku senang karena aku menang darinya.


"Jadi, apa yang kamu inginkan? " Tanya Kana sambil menatapku lekat. Aku sebenarnya sedikit heran dengannya. Apakah dia benar-benar cemburu? Padaku?


Kenapa sikapnya tenang sekali? Apa dia tidak takut tersakiti lagi? Entah kenapa aku ingin tertawa dengan pertanyaan di benakku ini. Tapi bukankah tadi dia menangis karena aku? Lalu kenapa dia seolah ingin berdamai denganku. Andai saja dia tidak mengungkit hal ini, aku pun tak akan mempermasalahkannya. Walaupun aku yang menang.


"Hei..." Kana mengguncangkan tubuhku.


"Eh? Em... Mungkin sebaiknya kita berdamai. Apa permintaan itu sulit untuk kalian? " Jujur aku sebenarnya tidak ingin ribut dengan mereka. Jadi tidak salahkan kalau aku ingin berdamai?


Ace mendengus. "Kalau bukan karena memenuhi janji ku, tak mau aku berdamai denganmu! " Aku hanya mengangkat sebelah alisku. Apakah itu artinya dia setuju?


"Jadi, apa boleh? " Tanyaku pada Kana.


"Tentu saja. " Dia tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum pula. Tiba-tiba sebuah tangan besar menimpa tangan kami yang masih bertaut. Tangan itu ikut menggenggam tanganku.


Aku menatap pemiliknya datar. Ace menghembuskan nafas pelan. "Ini karena janjiku. Kamu jangan kepedean. " Lalu dia pergi meninggalkan kami. Aku mengedikkan bahu tidak peduli dengan sikapnya itu.


Kana masih tersenyum menatapku. Aku melihatnya sedikit aneh.


"Aku mau turun dulu. Selamat malam. " Ucapnya lalu pergi.


"Malam... " Ucapku lirih.


Aku seakan mematung dengan sikapnya. Apakah berlebihan kalau aku merasa dia itu sedikit aneh. Atau dia terlalu baik?


Aku menghampiri tempat dudukku tadi. Duduk dan meneguk habis susu yang kini sudah dingin. Aku mengangkat kursi untuk kubawa turun. Sebaiknya aku tidur.


Aku beranjak turun tapi saat langkahku pada anak tangga terakhir, bu Intan datang dan membuatku terkejut. Aku tidak melihat siapa-siapa tadi. Mungkin karena aku sedikit melamun.

__ADS_1


"Rain... Tadi kamu dari atas? "


"Iya, bu. Ada apa? "


"Apa kamu tau kenapa Azz berteriak tadi? "


Aku menggaruk kepalaku bingung karena aku yang membuatnya berteriak tadi. "I-itu, bu. Em... Tadi dia keinjek kaki saya, bu. " Aku tersenyum kikuk.


Bu Intan melongo. "Kok bisa? "


Ya bisa lah. Dia aja nyebelin.


Aku hanya tersenyum tak berniat menjelaskan apa yang sudah terjadi di atas tadi.


"Ibu tadi khawatir, takutnya Kana kenapa-kenapa. Ibu kira Azz teriak karena terkejut melihat Kana. Soalnya ibu gak pasang CCTV di balkon. Makanya ibu gak tau tadi Ace teriak kenapa. Tadi ibu mau naik, tapi ibu masih sibuk. " Dia bahkan seolah tak peduli kalau aku menginjak kaki anaknya.


Tapi ngomong-ngomong, kenapa jadi Kana?


"Dia itu sangat khawatir sama Kana. Makanya waktu dia kerja kemarin dia buru-buru pulang karena di CCTV dia melihat Kana masuk ruangan gym. Kana itu tingkat keseimbangannya sangat kecil. " Bu Intan menghela nafas.


Owh... Jadi itu alasannya dia pulang. Pasti dia khawatir aku akan mencelakai Kana.


Kata-kata bu Intan ini menjawab semua unek-unekku. Dia seolah tau kalau aku ingin mendengar tentang hal ini.


Pantas saja mereka melakukan 'itu' di atas. Pasti karena bu Intan tidak akan tau kelakuan mereka. Cih!


.


.


\=\=\=***\=\=\=


.


.


Bu Intan lah yang memegang kendali. Walaupun dia hanya memantau dari jauh, karena bu Intan sendiri memiliki pekerjaan yang lebih membutuhkan fokusnya.


Aku bekerja bersama beberapa teman lamaku. Mereka tinggal bersama di sebuah kost dengan kamar yang berbeda tentunya. Tapi ada beberapa pula orang baru yang dipercaya oleh bu Intan. Kami semua bisa bekerja sama. Tidak pernah terjadi masalah apapun selama sebulan lebih kami bekerja.


Yang membuat hari-hariku berbeda adalah, adanya Kana di setiap kegiatanku. Tidak selalu semuanya sih karena aku juga butuh privasi Hanya saja dia selalu mengikutiku ketika aku di cafe. Tidak pernah sehari pun dia absen untuk mengikutiku bekerja. Ketika di cafe, dimana ada aku, di situlah ada dia. Mungkin saat di kamar mandi saja dia tidak mengikutiku.


Dia beralasan ingin mencari hiburan dan pengalaman. Dia juga sangat ingin mengenal teman-temanku. Kana dan teman-temanku bisa berteman dengan baik. Malah teman-temanku menyukai Kana yang tidak sombong walaupun dia adalah anak pemilik cafe ini.


Aku tidak pernah keberatan dengan apa yang dilakukannya. Aku senang dia bisa terbuka pada orang lain. Tidak menutup diri dan tidak lemah di depan orang lain. Walaupun sifat gemulainya masih melekat padanya. Tapi teman-temanku juga tidak pernah mempermasalahkan sikapnya itu.


.


.


.


.


Hari ini aku mengumumkan pada teman-temanku kalau besok cafe akan tutup. Alasannya adalah bu Intan memintaku untuk di rumah menyambut tamu spesialnya. Aku tidak tau siapa itu. Dia hanya bilang akan ada orang yang ingin bertemu denganku. Aku diminta pula olehnya untuk memasak.


Aku biasa saja menanggapi hal itu. Tapi tidak dengan Kana. Dia sangat senang mendengar kabar dari bu Intan itu. Mungkin dia sudah tau siapa yang akan datang.


Pulang pergi cafe, aku selalu mengendarai motorku membawa serta Kana di belakangku. Dia tidak ingin di antar oleh supirnya. Padahal dia tidak terbiasa naik motor.

__ADS_1


Saat dalam perjalanan pulang, aku bisa mendengar Kana bersenandung ria di belakangku. Aku hanya tersenyum mendengar nyanyiannya. Suaranya enak juga didengar.


.


.


Kami sampai di rumah ketika jam sudah menunjukkan angka sembilan. Cafe buka sampai jam setengah sembilan. Tidak pernah lebih dari itu.


Pada hari-hari biasa, cafe akan buka mulai jam tujuh pagi. Tapi kalau hari sabtu dan minggu, cafe akan buka mulai jam delapan pagi.


Saat hari-hari biasa, aku berangkat setelah pulang kuliah. Tapi saat hari sabtu dan minggu, aku berangkat lebih pagi dari yang lain.


Kembali pada Kana. Dia masih saja terlihat senang bahkan saat kami sudah memasuki rumah.


"Besok kita joging bareng, yuk! " Ajaknya dengan senyuman yang merekah tanpa menghentikan langkahnya.


"Em... Boleh saja. Tapi apa kamu boleh? "


"Siapa yang melarang? Lagipula aku hanya ingin joging besok pagi. Sepertinya itu tidak sulit. "


"Baiklah."


"Kalau begitu, sampai jumpa besok pagi, " Ucapnya lalu berlari kecil menaikki tangga. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya. Seperti tidak tinggal serumah saja.


.


.


.


Keesokan paginya Kana sudah bersiap padahal hari masihlah gelap. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat dia yang sesekali melakukan pemanasan.


Bu Intan yang membantuku memasak pun ikut tersenyum melihat tingkahnya. "Coba kamu bantu dulu, sayang. Daripada kamu cuma goyang kanan kiri gak jelas gitu. "


"Aku lagi pemanasan loh, ma. Kok dibilang gak jelas? "


"Kan biar kerjaan Rain cepat selesai, terus nanti dia bisa cepat pergi temani kamu. "


Kana mengerucutkan bibirnya. "Ya udah deh."


Bu Intan menggelengkan kepalanya. "Orang kalo gak ditegur dulu kok gak gerak. " Tapi sepertinya Kana tidak mendengar itu. Karena dia tidak merespon sama sekali.


Aku dan bu Intan menyelesaikan pekerjaan dapur lebih cepat karena kami hanya membuat bubur yang sederhana dan merapikan dapur yang tidak terlalu berantakan. Lagipula Kana banyak membantu walaupun dia sedikit terlambat.


Sehabis menemani Kana nanti aku akan masak lagi dalam jumlah yang besar dan akan dibantu oleh yang lainnya. Tentu saja karena rumah ini akan kedatangan tamu spesial.


Aku yang penasaran bertanya pada Kana, tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman.


.


.


.


bersambung....


.


.

__ADS_1


.


salam dari yuya 🥰🥰🥰


__ADS_2