
🌺🌺🌺
"Akulah yang membantu Anih untuk mencelakai mu, " ucap Ammar dengan tenang dan tampak tidak terbebani sedikitpun. Seolah makna dari ucapannya hanyalah hal yang biasa. Jelas saja ucapan dan sikapnya membuatku marah.
"Tapi aku juga yang membantumu untuk lepas darinya, " ucapnya lagi seolah tau dengan pikiran ku. Aku sedikit mengerutkan kening ku karena ucapannya. Tapi aku masih diam dan tentu saja perasaan kesal dan marahku belum hilang.
"Apa kamu tidak ingin bertanya? " tanyanya karena memang aku hanya diam.
"Lalu kenapa kamu masih saja bebas berkeliaran sementara Anih dan teman-temannya sudah ditahan? Aku yakin, kamu memiliki posisi yang berpengaruh dalam kelompok yang dibuat oleh Anih. "
Dia tertawa pelan. "Tentu saja aku penting. Makanya dia sangat percaya padaku sehingga dia tidak mengira kalau aku bisa menghianati nya. Dan kamu bertanya kenapa aku masih bebas? " Aku menatapnya tajam tanpa menjawab.
"Karena aku sudah membantumu. Aku juga membantu pihak kepolisian untuk menangkap Anih. Ditambah lagi, aku tidak terbukti bersalah. Karena aku beraksi di balik layar. Aku tidak akan membiarkan tanganku ini kotor, Rain. Aku juga membantu polisi untuk menangani beberapa kasus sebelum dan setelah proses penangkapan Anih dilakukan. Walaupun aku terlibat, mereka akan berpikir dua kali untuk menahan ku. Apalagi kalau kurangnya bukti seperti ini. Kehadiranku sangat berpengaruh dalam beberapa kasus. Tak mungkin kan kalau orang seperti ku akan dilepas begitu saja dan dijebloskan ke penjara? Bukankah lebih baik kalau mereka mengambil keuntungan dariku?" Jelasnya panjang lebar lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia melipat tangannya di dada sambil tersenyum dengan angkuh ke arah ku.
"Apakah tujuanmu duduk denganku adalah untuk menyombongkan diri? Kenapa kamu bangga sekali telah berbuat salah? Apakah suatu kebanggaan untukmu karena telah membantu Anih untuk mencelakai ku? " Aku tersenyum sinis.
"Apapun itu, intinya aku juga telah membantumu, " jawabnya datar.
"Lalu, apakah aku harus berterima kasih? "
Dia mengedikkan bahu. "Aku tidak memaksa. "
Aku mengalihkan tatapan ku darinya dan membuang nafasku kasar. Aku sangat sedih dan marah kalau teringat dengan kecelakaan yang dialami oleh bapak.
"Sebenarnya apa tujuanmu bicara dengan ku? Kamu meminta maaf tapi kenapa kamu seolah bangga dengan perbuatanmu pada keluargaku. Apakah kamu benar-benar ingin meminta maaf atau ingin memulai peperangan denganku?" Tanyaku dengan tatapan yang tajam.
"Aku ingin meminta maaf," jawabnya sambil menundukkan pandangannya.
"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?"
"Bukankah kalau kita berniat meminta maaf, kita seharusnya mengatakan apa kesalahan kita? Barulah kita meminta maaf. Kalau aku tidak mengatakan ini, bagaimana kamu bisa tau apa kesalahanku? Sementara kamu sendiri tidak tau apa-apa tentangku dan bahkan tidak mengenaliku." Dia menatapku, mencari pembenaran atas kata-katanya.
__ADS_1
"Apakah harus seperti ini? Dengan mengorek lagi luka lamaku?"
"Aku tidak berniat menyakitimu lagi. "
"Kamu sudah tau, dengan mengatakan hal ini dan dengan cara bicara mu yang seperti ini, itu akan melukai perasaan ku. Kamu tau. Kamu sendiri lebih tau tentang apa yang terjadi pada keluargaku. Tapi kenapa caramu meminta maaf malah seperti ini? Apa kamu benar-benar tulus ingin meminta maaf, atau ada hal lain dibalik tujuanmu ini?" Aku menatapnya tajam. Begitu pula yang saat ini dia lakukan.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih dengan tatapan yang melunak. Setelah beberapa saat sebelumnya dia hanya menatapku.
"Kenapa kamu meminta maaf? "
"Karena aku salah."
"Hanya karena kamu merasa bersalah? "
Dia menatapku tak suka. "Apa kamu berniat mempersulit ku?"
Aku hanya tertawa pelan. Mengalihkan pandangan ku darinya. "Haah... Bukankah orang seperti mu pantas untuk dipersulit? Tujuanmu yang sebenarnya saja aku tidak tau. Ditambah lagi dengan sikapmu yang seperti ini. Apa aku harus percaya dan bahkan memaafkan mu?"
Kini aku menatapnya untuk mendengarkan apa yang akan dia ucapkan. Tapi dia hanya diam sambil menatapku bahkan tidak berkedip. Bosan aku melihatnya yang terdiam dan akhirnya aku menatap ke sekeliling cafe.
"Aku ingin mengajukan bantuan sebagai bukti permintaan maaf ku."
Aku melihatnya dan tertawa. "Apa orang seperti mu bisa aku percaya? Yang ada masalahku akan semakin sulit jika kamu ikut membantuku."
Aku sudah merasa jengah dan kurasa tak ada gunanya meladeni dia. Aku berniat untuk pergi namun dia memanggilku dan itu berhasil menghentikan pergerakan ku. "Aku benar-benar ingin membantumu."
Aku yang sudah berdiri hanya melihatnya dengan malas. Tidak tertarik dengan maksud yang diucapkannya. "Apa lagi tujuanmu kali ini? Kamu saja terang-terangan berkata telah mengkhianati Anih yang sudah sangat percaya padamu. Lalu aku harus percaya seperti Anih dan akhirnya kamu khianati juga? "
"Kamu bisa percaya padaku dengan hal ini," ucapnya tegas dengan tatapan yang terlihat serius.
"Maaf, aku tidak tertarik untuk membagi masalahku denganmu. Aku rasa pertemuan kita cukup disini saja. Aku juga tidak ingin melanjutkan obrolan dengan mu. Kalau nada bicara mu masih saja angkuh, meminta maaf pun kamu tidak terlihat bersungguh-sungguh dan juga kamu tidak berniat untuk jujur dengan tujuanmu, aku rasa kesalahanmu akan menjadi dendam untuk ayahku... Yang sudah meninggal." Aku menatapnya beberapa saat sebelum aku berbalik. Ammar terlihat terkejut. Aku tidak tau apakah dia takut dengan ucapanku tentang dendam ayahku. Biarlah kalau dia merasa takut dengan hal seperti itu.
__ADS_1
"Rain!" Ammar memanggilku yang sudah berjalan menjauhinya. Aku tidak berniat berbalik dan tetap melanjutkan langkahku. Tiba-tiba, sebuah tangan menggenggam erat tangan ku dan akhirnya menghentikan langkahku.
Aku menatap tangan itu dengan geram. Aku sudah tau siapa pemilik tangan itu. Aku menghempaskan nya tapi tangan itu masih saja tidak terlepas dari tangan ku. "Lepaskan aku, Ammar! Atau kamu ingin aku melakukan hal yang lebih kasar?"
"Aku tidak akan melepasnya. Terserah kalau kamu ingin dilihat banyak orang karena berbuat kasar padaku. Paling juga kamu membuat malu orang-orang terdekatmu karena sampai berurusan dengan polisi, karena berbuat kasar padaku."
Aku memutar tubuhku dan menatapnya dengan kesal. "Apa lagi? "
"Aku belum selesai. "
"Tapi aku sudah."
"Kembalilah duduk, " pintanya lirih sambil melihat pada beberapa orang yang melihat kami dengan berbagai ekspresi. Sebagian dari mereka ada yang tersenyum sambil berbisik-bisik. Aku bertambah kesal melihat itu. Aku berjalan mendahului Ammar menuju kursi tempat kami duduk tadi.
"Tidak mudah lepas begitu saja kalau kamu sudah berurusan dengan ku," ucap Ammar seraya duduk di kursi.
"Apa tidak terbalik? Aku tidak mencari masalah dengan mu, tapi kamu yang memulai masalah ini," ucapku ketus sambil melipat kedua tanganku di dada.
"Aku akan bersikap lebih baik kali ini." Ucapan Ammar terdengar lebih halus kali ini.
"Itu harus."
.
.
.
bersambung...
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya😘😘