Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
14 tentang Kana


__ADS_3

Rain POV


"Sepertinya kalian bisa akur. " Ucap bu Intan tiba-tiba saat kami masih makan.


Aku hanya menautkan alis bingung.


"Rain baik, ma. Aku senang kalau aku bisa berteman sama dia. Iya kan, Rain? "


Kana tersenyum ke arahku, aku mengerjapkan mataku, salah tingkah.


"Eu, heheh. Iya, bu. Kami bisa akur. " Ya tentu saja akur, memangnya kenapa? masa iya aku mau main hajar-hajaran sama dia?


Aku akan membalas baik sikap orang yang baik padaku, kalau dia tersenyum ya aku balas senyum. Kalau dia maunya tegang, ya siap. Aku akan layani, sama seperti Ace.


Aku lebih senang menyebutnya es, tuan es, si es. Pokoknya yang cocok dengan sikap batu bekunya itu.


Eh? Apa es batu?


Haiih! terserahlah, pokoknya aku merasa kesal dengan sikapnya.


Lagipula kenapa coba sikapnya sinis begitu padaku? padahal kami baru sekali ini bertemu secara langsung.


"Hei! kok kamu malah melamun? ayo habiskan makanannya, nanti saya ajak keliling. " Ucap bu Intan yang seketika membuatku sadar.


"Eh! Iya, bu. " Aku lanjut makan.


.


.


.


.


Seperti kata bu Intan tadi, dia benar-benar mengajakku berkeliling, berkeliling rumahnya tepatnya.


Aku diajak melihat kolam yang tenyata berada lima meter di balik ruang keluarga. Aku tidak melihat apapun dari balik jendela tadi.


Mungkin karena aku tidak terlalu memperhatikan.


Kolam itu membentang memisahkan antara ruang tamu dan sebuah kamar berukuran sedang. Jadi, kalau di ruang tamu itu bagian belakangnya diberi jendela, maka akan terlihat langsung kolam beserta kamar itu.


Aku dan bu Intan berhenti di pinggir kolam, aku melihat juga beberapa macam bunga yang tertanam beberapa meter dari kolam. Indah.


"Kamu suka berenang?" Tanya bu Intan.


Aku nyengir. "Enggak, bu. Dulu saya belajar berenang, malah saya tenggelam. Kapok saya gak berani lagi belajar. Jadinya saya gak bisa berenang."


"Loh... kan kalo belajar terus pasti bisa. "


"Tapi tidak dengan saya, bu. Saya gak bisa-bisa. Terakhir kali saya belajar, waktu saya kelas 2 SMP. Saya tenggelam dan saat itu hampir tidak terselamatkan.


Karena kalau saya belajar saya merepotkan banyak orang, jadi ya begini saja sudah. Gak apa-apa lah gak bisa berenang. "


Bu Intan mengangguk mengerti.


Kami duduk di kursi di dekat kolam.


Kana datang dengan wajah yang berbinar.


"Ma." Panggilannya pada ibunya. Dia masih terlihat seperti anak kecil.


"Ya. Ada apa, sayang? " Jawab bu Intan lembut.


"Aku sama kakak mau jalan-jalan ke taman, boleh? " Aku menatap bu Intan sama seperti Kana.


"Ehm, kamu lihat gak awannya mendung sekali? mama khawatir kalian akan terjebak hujan nanti. " Jawab bu Intan. Aku memandangi langit. Ya, benar juga. Langitnya mulai gelap.


Kenapa aku baru sadar?


Lalu bagaimana aku pulang?


Kana menangguk. Nampak jelas kekecewaan di wajahnya. Lalu dia berlalu entah kemana.


"Kamu tunggu aja dulu sampai langitnya terang. Ibu khawatir kamu juga terjebak hujan."


Bu Intan berucap seolah tau kegelisahanku.


Tapi tunggu, apa tadi yang aku rasakan saat dia bilang 'Ibu' dan kekhawatirannya padaku?


Hatiku terasa hangat.

__ADS_1


"Ya. Saya tunggu saja sampai kira-kira langitnya terang. "


"Kalau sampai sore ternyata malah hujan deras, Ibu akan hubungi pak Broto. " Ucapnya tersenyum lembut padaku. Aku hanya mengangguk.


Pasrah saja lah. Apalagi kalau hujan turun.


Aku merasa takut saat hujan baru turun. Aku tidak tau kenapa aku takut.


Lama kami terdiam. Bu Intan termenung dengan wajah yang sayu. Tatapannya sendu.


Aku merasa iba melihatnya. Ingin rasanya ku memeluknya. Tapi siapa aku?


"Mereka anak yang baik. Mereka bahkan tidak pernah menentang Ibu, tapi masalah yang satu ini, malah Ibu tidak bisa meluruskannya." Ucap bu Intan tiba-tiba.


Aku tau yang dimaksudnya adalah kedua anaknya.


"Kana adalah anak yang rapuh. Meskipun dia laki-laki, tapi dia sangat lemah. Azz selalu ada di sampingnya. Azz selalu melindunginya dari orang-orang yang berbuat buruk padanya.


Sejak kecil Kana selau di bully. Entah kenapa orang-orang tidak menyukainya. Padahal dia anak yang baik. Kasih sayang Azz pada Kana sangatlah besar. Hingga semakin lama kasih sayang itu menjadi salah. Entah sejak kapan mereka seperti itu.


Ibu tidak pernah curiga karena Azz memang selalu berada di sampingnya. Tapi mungkin itulah kesalahan Ibu. Membiarkan mereka terlalu dekat. Tapi siapa yang menyangka kalau mereka akan saling menyukai satu sama lain dengan artian yang salah? bukan sebagai adik dan kakak." Bu Intan terisak.


Aku menatapnya serius. Aku mengingat kejadian di ruang keluarga tadi. Aku merinding mengingat mereka cipika-cipiki. Iiih! geli rasanya aku melihat mereka.


Sebenarnya sangat aneh. Mengingat mereka adalah sama-sama laki-laki dan juga mereka adik kakak, sudah pasti mereka bersama dari kecil. Kok bisa perasaan seperti itu muncul di antara mereka?


"Mungkin karena kesibukan kami sebagai orang tua. Kami tidak mengetahui detail kejadiannya. Ibu sudah percaya pada Azz. Ibu percaya dia bisa menjaga adiknya. Tapi kenapa malah jadi seperti ini? " Bulir air mata jatuh dengan deras di pipi bu Intan.


Mataku mulai berkaca-kaca. Apa yang harus ku ucapkan? aku tidak ingin berkata terlalu jauh tentang kehidupan keluarganya.


Bu Intan terisak cukup lama. Aku mencoba menenangkannya dengan mengelus pundaknya.


Lama kemudian hujan pun turun. Aku memandangi buliran air hujan yang jatuh. Aku tidak takut? ah, mungkin karena suasana sedih ini.


Tangisan bu Intan sudah reda. Dia ikut memandangi hujan.


"Ibu takut akan kemurkaan Allah atas apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka tidak berbuat sampai melewati batas, tapi perbuatan dan perasaan mereka juga akan dipertanggung jawabkan. " Ucapnya datar.


Benar. Sebuah perasaan juga akan di pertanggung jawabkan. Karena perasaan berasal dari hati. Walaupun aku bukan orang yang ahli dalam ilmu agama, setidaknya aku tau kalau yang mereka lakukan adalah kesalahan besar.


Apa mereka tidak kasihan pada kedua orang tuanya? tapi aku mengingat lagi, sesuatu yang kita anggap benar, belum tentu orang lain bisa menerima dan menerapkan kebenaran itu dalam kehidupannya.


Aku tidak tau cerita yang lebih jelasnya. Rasanya ini masih mengganjal. Salahkah aku kalau ingin tau lebih banyak?


"Ayo ikut Ibu keliling ke tempat yang lain. " Ajak bu Intan sambil tersenyum.


Aku membalas senyumannya, merasa senang karena dia terlihat lebih tenang.


.


.


.


.


Kami masuk di sebuah ruangan yang cukup lebar. Aku tidak ingat ruangan mana saja yang kami lalui tadi karena rumah ini sangat luas.


Aku takjub dengan banyaknya foto di ruangan ini.


Terlihat beberapa foto anak-anak yang terpajang di dinding dan banyak pula di meja.


Mereka tersenyum sangat manis. Mungkin usianya sekitaran 10 dan 5 tahun.


Bu Intan duduk di kursi besar dan mengambil sebuah buku dari dalam lemari di samping kursi itu.


Aku masih berdiri, meneliti banyaknya foto yang menakjubkan.


"Kemarilah. " Perintah bu Intan dengan lembut.


Aku berjalan menghampirinya. Setelah sampai, aku duduk di sampingnya.


"Ini adalah foto kami sekeluarga. " Ucapnya sambil mengusap lembut buku di pangkuannya.


Bu Intan membuka lembaran pertama buku itu. Aku menatap setiap gambar yang ada di sana.


Beberapa ada yang sama dengan yang terpajang di dinding.


Aku mengkerut saat ku perhatikan, ternyata Kana memiliki wajah yang berbeda dari kedua orang tuanya. Dia tidak mirip Ibu ataupun ayahnya. Bahkan dengan Ace pun tak ada miripnya sama sekali.


"Wajah Kana kecil sangat manis bukan? " Ucap bu Intan tersenyum sambil mengelus foto anak kecil.

__ADS_1


Anak itu terlihat seperti anak Jepang. Apa aku berlebihan mengira seperti itu? Tapi kalau di lihat-lihat, Kana yang sekarang pun memang terlihat seperti orang Jepang.


Aku bingung dan tidak menjawab pertanyaan bu Intan. Bu Intan tersenyum melihat kebingunganku.


"Saya hanya pernah merasakan satu kali melahirkan. " Ucapnya. Lagi-lagi membuat aku bingung.


Maksudnya Ace dan Kana kembar kah? Tapi kalau dilihat, Ace sepertinya lebih tua dariku. Lagipula di foto ini jelas terlihat perbedaan usia mereka.


Lalu?


Aku menatap bu Intan bingung. Tak tau lagi apa yang bisa ku perkirakan.


"Kami bertemu Kana saat usianya kurang lebih 4 tahun. " Ucap bu Intan.


"eu.. " Aku masih bingung.


"Kana bukan anak kandung Ibu. " Ucapnya tanpa beban.


Hah!? Jelas ini kejutan untukku. Aku merinding.


"Dulu, Azz sangat ingin sekali mempunyai adik. Ibu pun hamil ketika dia berusia 8 tahun. Tapi saat kandungan Ibu berusia 6 bulan, Ibu mengalami keguguran. " Bu Intan diam sejenak.


"Saat itu dia sangat sedih. Ibu juga merasakan kesedihan dan kehilangan. 2 tahun kemudian Ibu mencoba untuk hamil lagi. Tapi saat Ibu konsultasikan, ternyata Ibu sudah tidak bisa hamil lagi. Kalau Ibu hamil, resikonya sangat besar, itu bisa menyebabkan anak yang Ibu kandung tidak lahir selamat. Kami pun menyerah.


Akhirnya pada suatu hari. Salah satu orang kepercayaan Ibu mengusulkan agar Ibu mengadopsi anak. Ace sudah girang duluan mendengar kabar itu. Dia sangat ingin punya adik laki-laki.


Ibu tersenyum senang melihat reaksinya. Kami pun di bawa oleh orang kepercayaan Ibu menuju sebuah panti.


Di sana kami melihat beberapa anak yang riang dan ceria. Mereka menyambut kami antusias. Tapi pandangan Ibu teralihkan pada seorang anak kecil yang hanya diam tertunduk, dia seperti ketakutan.


Ibu bertanya pada pengasuh, mereka bilang anak itu memang seperti itu. Dia selalu diam dan tampak murung kalau ada orang asing.


Padahal anak itu terlihat masih sangat kecil.


Ibu menghampiri anak itu dan mengajaknya mengobrol. Jujur, Ibu sangat senang bisa bertemu dengannya. Ibu sudah jatuh hati padanya.


Azz yang melihat kami mengobrol pun ikut bergabung. Azz tampak senang dengan anak kecil itu. Azz ingin agar anak itu ikut bersamanya.


Kami pun mendatangi pemilik panti dan meminta ijin agar anak itu bisa ikut bersama kami.


Sesuatu yang dikatakan pemilik panti cukup membuat ibu bingung. Dia bilang "Anak ini memiliki sedikit kelainan. Kami harap Anda sekeluarga bisa selalu menjaganya. " Pemilik panti itu terdiam sejenak.


"Saya sebenarnya khawatir kalau harus menyerahkan dia pada keluarga barunya. Anak ini butuh perlindungan khusus."


"Kami akan selalu menjaganya. "


Pemilik panti itu terlihat ragu. Tapi pada akhirnya mereka menyerahkan anak itu pada kami.


"Siapa nama anak ini? " Ibu bertanya pada pemilik panti.


"Kana, Kanata. Itu nama yang kami tau. Anda bisa menambahkan nama untuknya."


"Terdengar seperti-"


"Ya. Anak ini sepertinya keturunan orang sana. Ini ada beberapa keterangan yang bisa menjelaskan tentang anak ini. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena penjelasan saya tidak akan cukup. " Pemilik panti itu memberikan sebuah map yang cukup tebal.


Pemilik panti itu berucap dengan dingin ketika membahas tentang Kana. Berbeda dengan ketika kami datang dan berinteraksi dengan anak yang lain.


Ibu menjadi semakin heran. Siapa anak ini sebenarnya? Tapi pertanyaan dalam benak Ibu bisa terjawab dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu.


Hingga akhirnya kami bisa melindunginya sampai sekarang.


.


.


.


.


bersambung......


Hai...


siapa pun yang membaca, semoga suka dengan cerita ini.


cerita yang masih awur-awuran.


bikin gak ngerti karena saya masih pemula.


jadi saya minta maaf ya☺☺

__ADS_1


salam dari yuya 😉


__ADS_2