Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Canggung


__ADS_3

Ace berdiam diri di pintu, memandangi wajah sendu Rain dengan tatapan rindunya. Ace merasa bahagia namun juga sedih, sedih melihat wajah yang ia rindukan itu kini penuh dengan lebam. Ia yakin, masih ada banyak luka yang tak kalah seriusnya di balik pakaian yang dikenakan Rain.


"Ace." Panggilan Intan membuyarkan lamunannya dan membuatnya sadar. Ace menatap ibunya sekilas dan segera berjalan menghampiri orang-orang di ruangan itu. Bukan hanya ada Hastini dan Arka, namun juga masih ada Kana dan tiga orang teman Rain yang datang membesuk.


Ace menyalami mereka satu persatu, tak lupa pula adiknya. Namun Kana memasang wajah yang kusut, tapi Ace tidak memperdulikan hal itu dan tetap menyalami Kana.


Ace menarik tangan Kana agar mau bersalaman dengannya. "Kakaknya datang itu disambut, jangan cemberut. " Ucapan Ace membuat orang-orang di sana tersenyum, termasuk Hastini yang mengetahui bagaimana hubungan mereka.


Hastini mengira hubungan Kana dan Ace masih seperti dulu, hingga ia tertegun saat Ace menatap anaknya dengan lekat, begitu pula yang dilakukan Rain.


Kana yang awalnya ceria berubah menjadi kesal, apalagi melihat tatapan Ace pada Rain yang dibalas Rain dengan tatapan yang sama, sungguh hatinya merasa kesal bukan main.


"Rain, bagaimana kabarmu? " tanya Ace dengan lembut. Degup jantungnya sudah tidak lagi normal. Kana berdecih tak senang, namun tidak ada yang memperhatikan sikapnya.


"Sudah lebih baik. Kamu sendiri? " tanya Rain tak kalah lembut sampai suaranya terdengar merdu. Tatapan nya tidak beralih sama sekali.


"Aku baik. "


Ace dan Rain saling menatap tanpa suara. Tatapan mereka seolah menceritakan bagaimana perasaan mereka saat ini. Rain dan Ace tidak sadar dengan tatapan orang-orang di ruangan itu, mereka masih saja saling menatap dalam diam.


"Ekhem! " Deheman Intan yang disengaja membuat Ace dan Rain sadar dan mengalihkan tatapan mereka. Dua insan itu tersenyum malu.


Rain menunduk malu sambil menahan senyum. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini. Sementara Ace tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Teman-teman Rain yang kebetulan dua diantara nya perempuan, mereka saling menggenggam tangan dengan keras. Mereka menahan diri untuk tidak berteriak saking senangnya melihat tatapan Ace dan Rain.


Mereka tak bisa menahan senyum, bahkan rasa hati mereka ingin jingkrak-jingkrak kegirangan karena melihat teman tomboy mereka akhirnya ada kemajuan. Teman Rain yang satunya hanya melihat mereka sambil menggelengkan kepala. Dirinya juga ikut senang namun masih bisa menahan diri, tidak seperti kedua teman perempuan nya. Dia senang kalau memang benar Ace dan Rain memiliki hubungan.


Kana yang sudah sangat kesal merasa muak melihat semua itu. Kana memutuskan untuk pergi dan berpamitan pada orang-orang di ruangan itu. Intan melihat itu dan menghembuskan nafas panjang dan pergi untuk menyusul Kana, berniat untuk menenangkan anak bungsunya itu.


Rain yang tau dengan sikap Kana merasa tak enak hati. Lagi-lagi, pikiran buruk kembali melintas di kepalanya. "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. "


Rain merasa bersalah namun ia juga tak bisa menghindari perasaan nya pada Ace. "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘒𝘢𝘯𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘶. "


Ace berdiri dengan canggung dan menatap ketiga teman Rain. Ingin bicara tapi merasa tak enak. Ketiga teman Rain akhirnya pamit pulang karena merasa kalau suasana di ruangan itu sudah tidak sesantai tadi. Mereka sadar kalau Ace butuh ruang untuk bicara. Akhirnya mereka pergi.

__ADS_1


Ace mendekati Hastini dengan gugup, ingin meminta izin tapi merasa takut. Ia takut kalau Hastini dan Arka mengira Ace mengusir mereka. Ace akhirnya bertanya-tanya tentang kabar mereka dan mereka pun akhirnya mengobrol.


Intan kembali masuk dengan wajah lesu. Wajahnya sedikit ditekuk dan tampak lelah.


"Mama kenapa? " tanya Ace yang menyadari ekspresi wajah ibunya yang tidak baik-baik saja.


"Capek, " jawabnya sambil membuang nafas.


"Emang mama abis ngapain? "


"Abis ngejar adek kamu tuh. Kabur pulang sendiri, mobilnya dibawa. Mama tahan gak mau, ngambek dia. "


"Dia udah bisa nyetir? "


"Udah. Beberapa bulan ini belajar. Mama masih khawatir kalo dia bawa mobil sendiri malam-malam gini. "


"Terus gimana?"


"Pak Hendra udah nyusul dia pake taxi. "


Intan mengangkat bahu. "Gimana nanti aja, " jawabnya lalu duduk di samping Rain.


"Ini kan udah malem, ma. "


"Iya emang udah malem, terus? Emang kamu mau nginep? " tanya Intan sedikit kesal.


"Eh? " Ace jadi salah tingkah. Ditatap nya Rain dan keluarganya. Mereka balas menatapnya namun dengan tatapan biasa saja, hanya melihat.


Ace membuang nafas panjang dengan pelan. "Enggak kok. Nanti mama pulang bareng aku."


"Nah, gitu dong. Emang maunya gimana? " Intan berucap dengan lirih seolah hanya bicara pada dirinya sendiri.


Intan mengajak mereka mengobrol dan suasana pun tidak se canggung tadi.


Hastini merasa lega, seolah mendapatkan jawaban dari sikap perhatiannya Intan pada Rain. Hastini pun bisa merestui jika memang Intan menginginkan Rain menjadi anaknya. Walaupun Hastini tau seperti apa Ace dulu. Tapi setidaknya Ace kini sudah berubah. Hastini tidak menyangka kalau anak gadisnya yang seperti laki-laki, bisa mengubah Ace yang menyukai laki-laki.

__ADS_1


Hanya saja, kini ia khawatir kalau membiarkan mereka masih tinggal serumah. Lagipula, apa kata orang nanti?


Ace merasa gelisah sendiri sementara yang lainnya asyik mengobrol. Jujur, dirinya ingin sekali bicara berdua dengan Rain. Tapi ibunya yang saat ia masuk, menyuruhnya untuk meminta izin pada Hastini, justru tidak membantunya dan memberi kesempatan untuk nya bicara.


Ace berulang kali membuang nafas dengan keras. Intan hanya tersenyum. Sebenarnya dia hanya menjahili Ace dan menguji anaknya, apakah anaknya itu berani untuk berhadapan dan bicara pada keluarga Rain. Bicara untuk meminta izin seperti yang ia sarankan.


"Kamu capek, ya? Pasti capek sih, dari sana kamu pasti gak istirahat terus langsung kesini. Iya kan?" tanya Intan pada Ace, Ace hanya diam.


"Ya udah, kita pulang aja yuk! " ajak Intan lalu berdiri bersiap untuk pergi.


"Ma... " panggil Ace. Ace rasanya ingin merengek pada ibunya. Dilihatnya wajah ibunya dengan wajah yang memelas.


"Kenapa? "


"Aku boleh gak bicara dulu sama Rain? "


"Ohh... Tapi kan mama bukan ibunya. Minta izin sama ibunya dong. "


Ace merasa kalau ibunya benar-benar ingin mengerjai nya. Dilihatnya Hastini dan Arka, lalu dengan gugup ia beranikan diri untuk bicara. "Bu, Bang, boleh gak saya bicara bentar aja sama Rain? "


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari Yuya..

__ADS_1


__ADS_2