
.
.
Aku tersadar dari keterkejutan ku. Aku segera pergi dari sana meninggalkan bu Intan yang masih menangis. Dia masih mengucapkan kata yang sama dan memanggil nama bayi itu.
Aku duduk menunggu. Orang-orang yang istirahat tadi sudah pergi.Tak lama kemudian, bu Intan keluar dari sana dengan wajah yang sayu. Matanya sembab, kulit wajahnya memerah. Terdengar isakan kecil dari mulutnya yang tertutup rapat.
"Ayo kita pulang. " Ucapnya tanpa menoleh pada ku.
.
.
.
.
.
Author POV
Rain sedang menghidangkan menu untuk sarapan dibantu dengan Sari yang sudah datang sejak pagi. Kini Sari tidak datang sendiri. Temannya Sari yang bernama Tuti juga sudah masuk kerja.
Perempuan berusia 40 tahun tidak seperti Sari. Dia lebih pendiam dan tampak tidak terlalu bersahabat. Apalagi ketika dia melihat Rain. Tatapannya seolah tak suka melihat anak gadis itu. Rain tau tapi dia tidak memperdulikan hal itu.
Beberapa menu sudah tersaji di meja makan dan di meja dapur. Karena para pekerja itu terbiasa makan di dapur. Tapi Rain tidak diperbolehkan oleh Intan untuk makan di sana.
Kini Rain lah yang memasak untuk keluarga Intan dan juga teman-teman kerjanya itu. Biasanya dia selalu dibantu oleh Intan. Tapi pagi ini Rain memasak sendiri. Rain merasa heran kenapa Intan belum juga turun padahal hari sudah tidak bisa dibilang pagi.
Rain merasa khawatir. Apakah yang terjadi dengan majikannya itu? Apakah dia sehat?
Saat Rain termenung sendiri, Intan turun bersama kedua anaknya. Rain tidak tau kalau Intan sudah berada di tangga. Dia masih saja diam berdiri di dekat meja makan.
Intan dan kedua anaknya menuju ruang makan. Tapi langkah Intan terhenti saat melihat Rain yang tampak murung. Intan menatap kedua anaknya seolah bertanya. Ace hanya mengedikkan bahu karena dia juga tidak tau.
"Rain... " Intan memanggilnya seraya berjalan.
Rain menoleh dengan lemah. "Iya, bu? " Rain meneliti wajah Intan.
"Kamu kenapa? "
Bukannya menjawab, Rain malah bertanya balik. "Ibu sehat, kan? "
Intan mengerutkan keningnya. "Iya. Ini gak pa-pa. Memangnya ada apa? "
"Gak pa-pa, bu. Cuma saya agak kepikiran aja sama ibu. Dari kemarin malam saya gak lihat ibu. "
Intan tersenyum merasa tersentuh dengan kata-kata anak itu.
"Iya. Ibu sehat kok. Ayo kita sarapan dulu. Nanti kita bicara. Ada yang mau ibu sampaikan. "
Mereka duduk dan memulai memakan sarapannya.
.
.
.
Setelah selesai sarapan dan membersihkan meja makan, Intan mengajak Rain untuk duduk di ruang tamu. Rain mengikuti langkah Intan.
"Ibu mengundang beberapa teman ibu untuk hadir di acara nanti. Ibu minta kamu memasak untuk acara nanti. Hanya beberapa saja. Untuk memperkenalkan rasa masakan kamu pada mereka. " Ucap Intan setelah mereka duduk. Rain mengangguk.
"Kita masaknya di rumah saja. Biar nanti ibu sama teman-temanmu membantu. Nanti kita berangkat setelah ashar. Acaranya dimulai sekitar jam setengah empat. Kamu hubungi keluargamu. Ajak mereka ke sini. Nanti biar pak Hendra jemput mereka. Mereka pasti senang."
Rain tersenyum. "Iya. Nanti saya hubungi mereka. Makasih ya, bu. " Intan membalas senyumannya dan terlihat senang.
Tak lama setelah itu, Intan meninggalkan Rain. Rain menghubungi keluarganya untuk mengundang mereka. Tapi ibu dan kakaknya tidak bisa hadir.
" Ibu kayaknya gak bisa datang. Abangmu demam dari tadi malam. Zee juga sudah pergi karena ada kegiatan sama teman-temannya. Tapi coba aja kamu hubungi dia. Siapa tau nanti sore dia bisa hadir. "
Rain mendesah pelan. "Terus kondisi bang Arka gimana sekarang? Dia udah dibawa ke rumah sakit belum? "
__ADS_1
"Udah. Kamu gak usah khawatir, kondisi abangmu sudah lebih baik. Dia sekarang lagi istirahat. Gak pa-pa kan kalo kita gak datang? "
"Iya, bu. Semoga bang Arka cepat sembuh. "
"Ya sudah. Semoga acaranya lancar. Ibu do'akan semoga kerjaan kamu sukses. "
"Makasih, bu. Saya tutup dulu. Assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam."
Kini Rain menghubungi adiknya. Tapi adiknya pun sama tak bisa hadir. Rain tampak sedih. Padahal ia ingin acara ini dihadiri oleh keluarganya.
"Tugasku mungkin selesainya sekitar jam lima, kak. Kan mumpung ini hari libur. " Ucap Zee merasa tak enak.
"Iya, gak pa-pa. Ya udah. Kakak mau lanjutin lagi kerjaannya kakak. Kamu baik-baik, ya. "
"Hu'um."
Rain hendak menutup teleponnya.
"Eh tunggu, kak! "
"Apa? "
"Nanti kalo pas acara, kakak vicall aku, ya. Aku mau lihat acaranya berlangsung. "
"Mau lihat acaranya apa yang lain? " Goda Rain.
"Ya... Heheh. Mau lihat pemandangannya juga dong. Boleh ya... "
"Iya. Ya udah kakak tutup dulu. Assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam. "
.
.
.
Mereka masuk ke dalam cafe itu. Di sana sudah tersaji beberapa jenis makanan yang sudah dipesan Intan. Makanan dari rumahnya pun sudah di atur oleh pekerjanya.
Cafe terlihat indah dengan berbagai jenis dekorasi. Ukuran cafe itu memang tidak terlalu luas. Tapi suasana dan pemandangan di sana sangat membuat nyaman.
Rain baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. Dia sampai terkagum-kagum melihat pemandangan di cafe itu. Halamannya luas. Ada beberapa jenis bunga yang tertanam di kanan dan kiri cafe itu.
Ketika di dalam pun rasa kagumnya tak juga pudar. Walaupun jelas pemandangan di luar lebih indah daripada di dalam. Tapi berada di ruangan itu membuatnya merasa nyaman. Kesibukan beberapa orang tak juga membuat rasa nyamannya hilang.
.
.
Intan membawa Rain ke sebuah ruangan. Intan menjadikan ruangan itu khusus untuk Rain beristirahat. Ada pula beberapa ruangan yang lain yang Intan belum menjelaskan ruangan apa saja itu.
Intan memanggil seseorang. Rain mengernyitkan dahinya ketika orang itu masuk. Karena dia sama sekali tidak mengenali orang itu. Seorang wanita yang cantik dan elegan menurutnya. Wanita itu terlihat lebih tua dari Rain.
Intan tersenyum dengan ekspresi Rain.
"Ini adalah penata rias kenalan ibu. Ibu ingin dia merias kamu. Ibu ingin membuat kamu terlihat berbeda di acara ini. Kamu gak keberatan, kan?"
Rain menggaruk kepalanya terlihat ragu. "I-iya. Gak pa-pa. Cuma... "
"Kenapa? " Tanya Intan.
"Em... Mungkin orang lain yang didandani akan terlihat seperti model. Tapi kalau saya mungkin akan terlihat seperti ondel-ondel. " Ucap Rain sedikit bengong.
Intan dan penata rias itu tertawa keras. Rain hanya menatap mereka datar.
"Penata rias ini adalah orang yang handal. Dia bahkan bisa membuat ondel-ondel berubah menjadi model. Kamu gak usah minder gitu. "
"Iya, deh... Silahkan rias saya. " Rain berucap sambil membungkukkan badannya dengan tangan di dada. Lalu dia duduk dengan lemas.
Penata rias itu terkekeh sebelum memulai pekerjaannya.
__ADS_1
"Ibu tinggal dulu, ya. "
Rain dan penata rias itu mengangguk mengiyakan.
Penata rias itu adalah orang yang ramah. Dia banyak bercerita pada Rain. Rain merasa nyaman dengan orang itu. Saking nyamannya mereka malah lupa untuk memperkenalkan diri.
.
.
Penata rias itu selesai dengan pekerjaannya. Rain tampak takjub dan merasa tidak percaya dengan yang dilihatnya di cermin.
"Bagaimana? Apa ini terlihat seperti ondel-ondel? "
"Enggak, kak. Cantik... Heheh... Saya jadi kepedean jadinya. "
"Kamu sebenarnya memang cantik. Hanya saja kamu tidak percaya diri. "
"Saya lebih percaya diri dengan saya yang biasanya. Tapi mungkin kalau saya sendiri yang merias, tentu saja hasilnya tidak akan sebagus ini. " Penata rias itu hanya tersenyum.
Dari ruangan depan sudah terdengar keramaian. Sepertinya para tamu sudah datang. Tak lama kemudian, Intan masuk ke ruangan itu dan dia tampak takjub saat melihat Rain.
Rain merasa malu diperhatikan oleh Intan seperti itu.
"Kamu cantik banget, sayang. " Ucap Intan seraya berjalan ke arah Rain. Rain tersenyum kikuk. "Ini berkat kakak ini. " Rain menatap penata rias itu.
"Eh! Nama kakak siapa? Aku lupa gak kenalan."
Penata rias itu mengulurkan tangannya. "Sofia."
"Rain." Ucap Rain sambil menerima uluran tangan itu.
Setelah sedikit berbincang-bincang, mereka akhirnya keluar dari ruangan itu. Rain sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya. Dia berjalan perlahan keluar dari ruangan itu.
Suara riuh beberapa orang tiba-tiba saja berhenti saat Intan keluar dengan Rain dan Sofia dibelakangnya. Orang-orang itu tampak tertegun. Beberapa orang bertanya-tanya, siapakah gadis itu? Karena mereka sudah tau siapa Sofia. Tapi tidak dengan Rain. Mereka jelas baru pertama kali melihat Rain.
Rain merasa malu, seolah dirinya ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu. Kakinya terasa lemas. Tangannya berkeringat.
"Perkenalkan, ini Rain. Orang yang akan menjadi koki di cafe ini. " Ucap Intan di tengah-tengah ruangan. Dia tidak melihat Rain yang tertinggal beberapa langkah darinya.
Intan menoleh pada Rain dan terkejut karena gadis itu tidak berada di belakangnya.
"Sini... " Intan tersenyum kaku pada para tamu.
Rain berjalan dengan gugup ke arah Intan. Tatapan orang-orang itu mengikuti pergerakan Rain.
Ace yang tadinya asyik berbincang dengan temannya pun ikutan tertegun dan mengikuti pergerakan Rain.
Berbeda dengan Ace, Kana tampak diam tak suka karena Ace menatap Rain dengan takjub.
.
.
.
.
bersambung...
.
.
salam dari Yuya 😘😘
.
__ADS_1