
.
.
Berminggu-minggu telah berlalu. Rain sudah kembali bekerja di resto seperti biasanya. Teman-temannya ikut berduka setelah tau kabar yang menimpa keluarganya. Mereka terus menyemangati Rain.
Rain senang mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Zee pun sudah aktif kembali dengan sekolahnya. Walaupun sebelumnya dia sering murung dan jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran.
Rain terus menyemangatinya dan mengingatkan kalau ayahnya akan sedih dan tersiksa karena keadaan Zee yang seperti itu. Zee mendengarkan Rain dan mencoba bangkit dari kesedihannya.
Zee pun mendapatkan dukungan dari teman-teman sekolahnya. Walaupun tidak seceria dulu, tapi keadaannya sudah lebih baik.
Arka sudah terlihat lebih baik daripada saat dia masih dirawat, walaupun kondisi tubuhnya sekarang belum bisa dikatakan sehat. Dia sudah tidak terlalu banyak pikiran. Dia tidak ingin lebih membebani keluarganya dengan kondisi yang tidak stabil itu.
Saat ini, hanya Rain lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Tabungan yang disimpan Pak Djaja sudah dipakai untuk membayar tanah. Bahkan itu belum cukup.
Untuk membayar biaya operasi Arka, tabungan Arka lah yang dipakai. Padahal, beberapa bulan lagi dia akan melangsungkan pernikahan dengan tunangannya. Tapi melihat keadaannya sekarang, niat itu terpaksa dikesampingkan dulu.
Rain merasa sedih karena keadaan Arka yang seperti ini, calon mertuanya malah melarang anaknya untuk menemui Arka.
Rain merasa marah dengan sikap orang tua itu. Tapi Arka tampak baik-baik saja. Arka berpikir, kalau memang jodoh, pastilah takkan kemana. Entah bagaimana pun kondisinya, pasti jodoh itu takkan pergi. Arka tidak ingin memaksakan semua itu. Dia tidak ingin menjadikannya beban pikiran.
Hampir setiap hari Rain pergi ke resto. Dia sudah jarang pergi ke tempat karate. Orang-orang terdekatnya sudah tau bagaimana kondisi keluarganya. Mereka memaklumi dan mendukung apa yang akan dilakukan Rain.
.
.
Sore ini Rain sedang duduk di taman bersama Arza. Mereka hanya diam tanpa ada obrolan dan tanpa ada pergerakan. Rain duduk bersandar di kursi. Matanya menatap kosong langit sore yang masih cerah. Tatapannya sayu memandang awan-awan yang beriringan itu.
"Loe gak berangkat? Kita udah sejam di sini. " Akhirnya Arza bersuara.
Rain menghela nafas dan membuangnya perlahan. "Gue masih pengen di sini. "
Arza mengerti dengan keadaan Rain. Walaupun dari luar dia tampak terlihat kuat, tapi hatinya sangatlah lemah. Rain kerap kali menangis ketika bersama Arza, tapi Rain tidak pernah memperlihatkan itu pada keluarganya.
"Gue masih belum bisa temuin pelaku yang sebenarnya. Dua pengendara itu sudah tewas beberapa hari setelah kejadian."
Rain menarik nafas dalam. "Loe udah bilang itu berapa kali? Kecelakaan yang dialami bapak, mungkin memang murni kecelakaan. Loe gak usah cari tau lagi. Gue udah ikhlas. Loe juga punya banyak kerjaan, jadi gak usah repot-repot lagi. "
Mereka terdiam. Rain tampak tak tenang.
"Gue tau loe masih belum terima dengan kepergian bapak loe. Loe bebas teriak, nangis atau apapun itu dihadapan gue, asalkan loe tenang. "
Rain menatap sendu Arza yang sedang menatapnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Rain memalingkan wajahnya dan menangis.
Arza menarik kepala Rain dan membuatnya bersandar di bahunya. Rain menangis terisak dan menyembunyikan wajahnya di bahu Arza.
Arza mengusap-usap rambut Rain untuk membuatnya lebih tenang, membiarkan Rain mengeluarkan sedikit demi sedikit rasa yang mengganjal di hatinya.
Beberapa orang yang berlalu tampak melihat mereka dengan tatapan aneh, tapi Arza tidak menghiraukannya dan tetap merangkul Rain.
Rain sudah lebih tenang. Rain duduk dan merapikan rambutnya. "Gue mau berangkat. " Ucapnya lalu mengambil helm dan memakainya.
"Ya. Gue juga mau pulang. "
"Makasih, ya. Maaf, baju loe jadi basah, " Ucapnya dengan senyuman kecil.
Arza tersenyum. "Biarpun baju gue kayak kena banjir juga gue siap."
__ADS_1
Rain meninju bahu Arza pelan. Arza terkekeh.
"Udah, gue berangkat dulu. Bye. " Rain naik ke motornya dan mulai melajukannya. Arza terus menatap kepergian Rain sampai tubuh itu tak terlihat lagi.
"Apapun buat loe, pasti gue lakuin. " Ucap Arza lirih.
.
.
\=\=\=\=\=\=
.
.
Rain bekerja seperti biasanya. Dia tetap fokus dan profesional dalam bekerja walaupun dengan kesedihan yang masih dirasakannya. Rain selalu mencoba menyibukkan diri agar dirinya tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Rain yang sedang sibuk memasak, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan bosnya ke dapur untuk mencarinya.
"Ada apa ya, pak? " Tanya Rain sedikit bingung.
"Di depan ada yang mencari kamu. Hari ini, cukup di sini saja dulu. Kamu segera lah ke depan. "
Rain yang bingung mengikuti arahan bosnya. Rain berjalan perlahan dan mengedarkan pandangannya mencoba mencari orang yang kira-kira sedang menunggunya, karena bosnya sama sekali tidak memberitahunya siapa orang yang mencarinya itu.
Tatapannya berhenti pada seorang perempuan yang sangat dia rindukan. Rain tersenyum tapi kemudian matanya berkaca-kaca.
"Bu Intan... " Panggilnya.
Intan menatap orang yang memanggilnya kemudian dia bangkit dari duduknya.
Rain menghampiri Intan dan mereka berpelukan dengan erat.
"Apa kabarmu, sayang? " Tanya Intan lembut. Rain terisak di pelukannya dan tak bisa menjawab.
"Bu... Bapakku, bu... Hiks.. " Ucap Rain setelah lama dengan suara bergetar. Entah kenapa Rain ingin mengadukan apa yang dialaminya. Seperti anak yang mengadu pada ibunya.
Padahal dia tidak pernah mengadukan apapun tentang kehidupannya dan apa yang dirasakannya pada siapapun, kecuali Arza.
"Iya, sayang. Ibu sudah tau. Kamu yang sabar ya, nak... " Intan mengusap-usap punggung Rain sambil menangis. Rain semakin terisak dengan keras.
"Maaf ibu gak bisa datang. Ibu baru tau tentang kejadiannya dari Pak Broto tadi. "
"Iya, bu. Saya ngerti kok. "
Mereka melepas pelukannya dan saling memandang. Intan mengusap lembut rambut Rain dan tersenyum memandangnya. Rain menatap Intan sayu.
Mereka pun duduk dan saling mengobrol. Menceritakan hal yang dialami masing-masing selama mereka berpisah.
"Jadi dua hari lagi acara empat puluh harinya bapak kamu? "
"Iya, bu. "
"Kalau begitu, ibu akan datang ke rumah kamu."
"Iya. Makasih ya, bu. " Rain tersenyum senang walau dengan air mata yang masih menggenang.
Tak terasa hari pun semakin larut. Resto sudah sepi dan para pegawai resto bersiap untuk pulang.
Intan masih menemani Rain. Rain meminta izin pada bosnya, kalau selama tiga hari ini dia akan libur.
__ADS_1
.
.
\=\=\=\=\=\=\=
.
.
Sore hari di sebuah pemakaman, nampak dua perempuan berbeda usia, berjongkok di dekat makam yang masih basah. Mereka adalah Intan dan Rain. Intan memang berniat mengunjungi makam Pak Djaja.
Setelah selesai berdo'a, Intan memandangi nisan itu sambil merenung. Perlahan, tangannya terulur menyentuh nisan itu.
"Raya Widjaja? " Ucapnya lebih pada dirinya sendiri. Rain hanya diam.
Entah kenapa aku merasa dekat sekali dengan orang ini? Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Batin Intan.
Rain yang merasa heran dengan keterdiaman Intan pun bertanya, " Ada apa, bu? "
Intan mengerjap. "Nggak pa-pa. Hanya saja, ibu teringat seseorang ketika melihat nisan ini. Entah kenapa perasaan ini sangat familiar untuk ibu. Orang itu juga sudah meninggal. Tapi dia meninggal sudah sangat lama. "
Rain yang tidak mengerti pun hanya terdiam.
Mereka kembali ke rumah Rain karena hari juga sudah semakin sore. Intan datang ke rumah Rain untuk membantu persiapan acara empat puluh harinya Pak Djaja. Intan hari itu menginap di rumah Rain karena dia merasa enggan untuk pulang.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=
.
.
Hari-hari berlalu begitu saja. Kini Rain sudah terlihat lebih segar dan tidak sekurus beberapa minggu terakhir. Walaupun pekerjaannya membuatnya kelelahan, tapi dengan pikiran yang tenang, dia bisa melewati semua itu tanpa beban.
Kehidupan keluarganya berjalan normal. Walaupun Arka masih belum pulih, tapi kini dia sudah bisa sedikit membantu ibunya di rumah.
Kebun milik Pak Djaja kini dirawat oleh tetangganya. Karena Hastini tidak bisa mengendarai motor sendiri, jadi dia tidak bisa pergi kesana. Rain yang sibuk tak mungkin harus disuruh untuk mengantar jemputnya setiap hari.
Pagi hari Rain akan mengantarkan adiknya sekolah. Walaupun saat pulang Zee sudah tidak di jemputnya, tapi Rain akan langsung ke resto bila pulang dari kuliahnya.
Semenjak Zee dan kedua temannya dibully didepan sekolah, orang tua Vanya memerintahkan supirnya agar siap ditempat sebelum anak-anak sekolah pulang.
Zee dan Rasty selalu pulang bersama Vanya dan diantarkan sampai rumah masing-masing.
Rain sangat berterima kasih pada orang tua Vanya. Mereka sangat baik. Terlebih lagi papanya Vanya. Mereka memperbolehkan supirnya mengantar Zee dan Rasty pulang yang jarak rumahnya sangat jauh dari rumah Vanya.
.
.
.
.
bersambung....
salam dari yuya 😊😊
__ADS_1