
.
.
Rain sedang bersiap dengan barang-barangnya. Intan sedang mengobrol dengan Hastini. Intan juga berkenalan dengan Arka yang baru kali ini ditemuinya.
Sementara Zee tampak cemberut karena akan ditinggalkan kakaknya. Rain ingin sekali mencubit pipi adiknya yang menggembung itu.
Rain dan Intan sudah akan berangkat. Rain berpamitan pada keluarganya.
"Hati-hati di sana ya, sayang. Jaga diri kamu. Ibu sekarang bisa lebih tenang kalau kamu bersama bu Iin. Jangan merepotkan mereka. " Hastini tersenyum menatap anaknya. Rain mencium tangannya walaupun dia agak heran dengan kata-kata ibunya.
Rain meraih tangan abangnya untuk menciumnya juga. "Hati-hati ya, dek. Jangan suka ngelindur di rumahnya orang, bikin malu." Rain mengerucutkan bibirnya dan mendengus.
Zee menubruk tubuh Rain karena kesal juga sedih karena akan ditinggalkan. "Kakak sering-sering pulang, ya. Kakak harus kabari aku setiap hari. Gak mau tau! Kalo nggak, aku gak mau ketemu kakak lagi! " Zee masih memeluknya dengan air mata yang menggenang.
Rain melepaskan pelukannya. Dia ingin tertawa melihat wajah adiknya, tapi ia tahan. "Kakak cuma pergi ke Jakarta. Kok kayak kakak pergi ke Sumatra aja."
"Iya, tapi kan intinya kakak udah gak tinggal di rumah ini lagi. "
"Jakarta itu dekat loh, dek. Ya udah... Nanti kakak kabari tiap hari deh. Tapi kalo masalah pulang, kakak gak bisa janji. Kan kakak di sana mau kerja. " Zee bertambah cemberut.
"Kamu baik-baik di rumah. Di sekolah jangan nakal. Gak boleh berantem lagi. Bantuin abang sama ibu di rumah. "
Zee mengangguk sambil menarik masuk ingusnya. Rain yang tidak tahan pun akhirnya tertawa.
Zee bertambah cemberut dan merengek sambil menghentakkan kakinya. Ekspresi wajahnya jauh dari kata baik.
"Ya ampun... Itu bibir mau dibawa balapan kemana? Hahaha.... " Rain tertawa terpingkal-pingkal. Orang-orang yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
Ekspresi Zee sudah tidak bisa dijelaskan lagi.
\=\=\=\=\=\=\=
Intan dan Rain duduk tenang di dalam mobil. Pemandangan yang mereka lihat adalah hal yang sudah setiap hari dilihatnya. Rain sering melalui jalan itu kalau pergi kuliah.
Tiba-tiba Rain merasa mengantuk. Entah kenapa matanya terasa berat.
"Bu. Saya mau tidur sebentar, ya. Kok mata saya berat begini. "
Intan tersenyum. "Ya, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai, ibu akan bangunkan. "
Rain pun memejamkan matanya.
.
.
.
Rain POV
.
.
"Kakak! "
"Nanti kakak berkunjung ke rumahku, ya. Aku tunggu! "
Suara seorang perempuan yang terdengar di telingaku. Aku tidak melihat siapapun.
Itu bukanlah suara Zee. Tapi kenapa dia memanggilku kakak?
Aku duduk menatap langit, tapi saat aku menurunkan pandanganku, aku melihat anak gadis seusia Zee dan perempuan lanjut usia.
Mereka menatapku.
"Kakak... " Anak gadis itu memanggilku?
Jadi yang tadi itu suaranya? Perempuan lanjut usia itu hanya tersenyum padaku.
"Aku ingin sekali kakak mengunjungi rumahku. Aku rindu kakak. " Ucap gadis itu dengan senyum lembut.
"Aku bukan kakakmu. " Ucapku datar.
__ADS_1
Dia terlihat ingin menangis. Begitupun perempuan di sebelahnya.
"Kamu adalah kakakku!! " Ucapnya keras dengan tatapan mata yang tajam.
Aku terkejut. Jantungku terasa sakit seolah ada yang menusuknya.
Pandanganku redup dan kepalaku berdenyut.
"Sakit... "
"Rain... Kamu kenapa? "
Aku mencoba menyesuaikan penglihatanku.
Saat ku buka mataku, ku lihat bu Intan menatapku khawatir.
"Bu... "
"Kamu kenapa? "
"Gak tau, bu. Kepalaku tiba-tiba sakit. "
"Kamu tahan dulu, ya. Sebentar lagi kita sampai. "
Aku hanya mengangguk lemah.
.
.
Kami sampai di rumah bu Intan. Aku turun dengan lemas. Bu Intan memapahku masuk ke rumahnya. Sementara barang-barangku diturunkan oleh pak supir.
Kami masuk dan aku duduk di ruang tamu.
"Kamu tunggu di sini dulu. Ibu ambilkan minum sama obat. Kamu udah makan belum tadi? "
"Udah, bu. " Jawabku lemah. Bu Intan pun berlalu.
Aku menyandarkan kepalaku di sofa. Kenapa kepalaku tiba-tiba sesakit ini?
Ku dengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa datang menghampiriku. Aku membuka mataku dan kulihat bu Intan berjalan dengan segelas air di tangannya.
Dia duduk di sampingku. "Ini kamu minum dulu. Habis itu istirahat. "
Aku meminum obat itu dan kembali ku sandarkan kepalaku. "Maaf, ya, bu. Baru datang saja saya sudah buat ibu repot. " Ucapku lemah.
"Gak pa-pa. Kamu jangan berpikiran kamu merepotkan ibu. Ini sudah tanggung jawab ibu. Kamu istirahat dulu di sini. Nanti kalau kepalamu sudah gak terlalu sakit, kamu pindah ke kamar. " Dia tersenyum dan aku hanya mengangguk.
.
.
.
Aku terbangun dengan perasaan yang lebih baik. Kepalaku tidak sakit lagi.
Tapi ada dimana aku?
Ini kamar siapa?
Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Aku melihat sekeliling, ini rumah bu Intan.
Siapa yang memindahkan aku ke kamar ini? Apa aku berjalan sendiri? Sambil tidur?
Membayangkannya saja sudah membuat wajahku panas.
Aku berjalan ke ruang keluarga. Melewati kolam. Hanya itu jalan yang aku tau.
Aku melihat bu Intan sedang duduk santai bersama kedua anaknya.
Aku menjadi bingung saat melihat mereka.
"Bu... " Panggilku sambil berjalan mendekatinya.
Mereka menoleh menatapku. Bu Intan tersenyum, tapi kedua anaknya tak berbeda dengan dulu. Wajah mereka dingin menatapku.
__ADS_1
Terserah lah.
"Kamu sudah baikan? Kemarilah, duduk bersama ibu. " Dia tersenyum. Aku pun duduk di sebelahnya. Perasaan bingung tadi menguap sudah. Rasanya aku nyaman duduk bersamanya.
"Sudah tidak ada yang sakit lagi, bu. "
"Bagus kalau begitu. Nanti sore kamu ikut ibu, ya. Kita jalan-jalan. "
Aku menatapnya dan mengangguk. "Iya. "
.
.
.
Kami bersiap-siap. Aku sudah rapi, menurutku. Dengan jenis pakaian yang biasa aku pakai.
Kamar tadi bisa menjadi kamarku. Bu Intan bertanya terlebih dulu padaku. Tentu saja aku mau. Aku sangat menyukai tinggal di kamar itu. Aku bisa melihat kolam dan taman dari dalam kamar.
Aku tidak bertanya siapa yang sudah memindahkanku ke kamar itu. Aku tidak siap dengan kebenarannya.
.
.
.
Kami sampai di sebuah area permakaman. Aku dan bu Intan keluar dari mobil yang sama. Sementara Ace dan Kana memakai mobil lain.
Aku sedikit heran, kenapa kemari? Apa ini yang dibilang bu Intan jalan-jalan tadi?
Bu Intan berhenti di depan sebuah makam. Dia berjongkok di depan makam itu diikuti Ace dan Kana. Aku pun mengikuti mereka. Kami berdo'a.
Aku tidak tau siapa yang aku do'akan ini. Aku melihat nama yang terukir di batu nisan itu 'Risma Atmawati Sutedja'. Sepertinya dia sudah meninggal sangat lama. Apakah ini makam ibunya bu Intan?
Lalu pandanganku beralih pada makam kecil di samping makam ini. Nama 'Kania Kartika' tertulis di sana.
Kami selesai berdo'a. Bu Intan menaburkan bunga di atas makan ini. Dia berjalan ke arah makam kecil itu dan melakukan hal yang sama. Kana dan Ace masih di dekat makam pertama tadi.
Pandanganku teralihkan pada dua makam yang tak jauh dari sana. Hanya terpisah dengan jarak kira-kira tiga meter.
Satu makam yang besar dan satu makam yang kecil. Nama di nisan makam yang besar itu membuatku sedikit tertegun. Rafendra Widjaja.
Entah kenapa aku teringat bapakku. Aku melihat makam kecil di sampingnya. Rara Kartika.
Ada apa dengan perasaanku?
"Mereka adalah orang terdekat ibu. Mereka orang yang spesial buat ibu. " Ucap bu Intan tiba-tiba. Seakan tau dengan arti tatapanku.
"Mereka meninggal karena kecelakaan. " Ucapnya lagi dengan wajah yang sendu.
Aku menatap kedua nisan itu. Mereka meninggal di tanggal yang sama. Sepertinya yang kecil masih bayi. Dilihat dari tanggal itu, sepertinya bayi itu berusia delapan bulan saat meninggal.
"Kakak! "
Suara itu mengejutkanku. Aku terkesiap dan mengedarkan pandanganku, berharap bisa melihat orang yang memanggilku.
.
..
.
bersambung...
.
.
.
maaf ya kalo bikin bingung...
salam dari yuya😊
__ADS_1