Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Dimana Zee?


__ADS_3

(Waktu dan kejadian berada di lokasi yang berbeda)


Di sebuah gedung tua yang jauh dari pemukiman, nampak banyak sekali orang berkumpul. Mereka tampak serius mendiskusikan sesuatu.


"Miss, lalu bagaimana sekarang? mereka sudah tau tentang markas kita. Apa kita langsung menyerang mereka?"


"Jangan. Saat ini Rain dalam perlindungan berbagai pihak. Kalau kita menyerang salah satu dari pihak itu, malah akan menimbulkan banyak masalah untuk kita."


"Lalu bagaimana? Apa kita menghindar dulu?"


"Iya. Lagipula, Rain dilindungi oleh orang-orang yang kuat. Lebih baik kita berpencar dulu. Kembali pada posisi kalian masing-masing dalam penyamaran. Biar aku lihat-lihat dulu untuk kedepannya. Ketika ada saat mereka lengah, aku sendiri yang akan maju untuk mengambil Rain dari mereka. "


"Lalu bagaimana dengan bisnis kita? "


Perempuan itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku akan memeberikannya pada kalian. Terserah kalian mau apa dengan semua itu. Karena setelah aku mengambil Rain, aku akan menyudahi semuanya. "


Dia tersenyum jahat. "Jadi kalian harus bertahan sampai waktu itu tiba kalau kalian ingin bebas. Mengerti? "


Orang-orang itu hanya bisa mengangguk. Setuju ataupun tidak, mereka tetap harus mengikuti perintah perempuan itu.


#


.


.


#


"Za, orang-orang itu sepertinya sudah pergi. Sepertinya ada pihak lain yang tau dengan tempat itu dan membuat mereka curiga. "


Arza terlihat geram. "Dasar orang-orang tidak berguna. Tidak bisa menyelesaikan masalah tapi malah sok ikut campur. "


"Jadi bagaimana? "


" Mau bagaimana, kita cari tau lagi dimana mereka sekarang. Aku tidak ingin gadisku dalam bahaya. "


"Baiklah."


"Kamu tetap memberi penjagaan untuk keluarganya, kan? "


"Keluarga gadismu dalam zona aman. Sepertinya ada pihak lain yang ikut melindungi mereka. "


"Cih! Sekali keluarga penjahat tetap saja jahat. Sampai kapan Rain akan terus bersama mereka? "


"Tapi yang jahat kan Nyonya Atmawati. Bukan anaknya, Nyonya Atmarani."


Arza menatap temannya dengan tajam. Temannya diam menunduk.


"Karena keluarganya lah ayahku meninggal. Kalau dia baik, dia tidak akan membiarkan ayahku begitu saja. "


Arza menatap kosong ke depan. "𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘈𝘺𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘢𝘳𝘢. 𝘕𝘺𝘰𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘵𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯𝘪, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶𝘮𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘉𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘓𝘢𝘨𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢."


#


.


.


#


📲"Nyonya Atmarani, markas itu sudah kosong, " ucap seseorang di seberang telpon. Yang ditelpon masih diam.


📲"Mungkin mereka sudah curiga dengan pergerakan kita," ucapnya lagi.


Perempuan itu menghela nafas. "Biarkan saja mereka pergi. Sekarang kalian bertahanlah di lingkungan keluarga Rain. Pantau juga setiap Rain pergi kemana pun. Awasi juga kalau keluarganya pergi ke luar. Aku tidak ingin saat kita merasa tenang tapi malah mereka datang menyerang. "


📲"Baiklah, Nyonya. " Orang itu menutup sambungan teleponnya.


Perempuan itu diam tanpa ekspresi. Dia tidak tau di belakangnya ada sepasang kaki yang berjalan ke arahnya.


"Bu Intan," sapa seseorang.


Perempuan itu menoleh. "Ya. Ada apa, Rain?"

__ADS_1


Rain tersenyum. "Ini pesanan ibu. "


Intan menerima sebuah bingkisan yang dibawa oleh Rain. Mereka lalu mengobrol ringan di ruangan itu.


🍁🍁🍁


.


.


Sore hari yang sibuk bagi pegawai cafe. Akhir pekan yang ramai membuat para pegawai tampak kewalahan melayani pelanggannya.


Rain sampai kelimpungan memenuhi pesanan mereka. Hingga dia tidak sadar dengan ponselnya yang berdering sejak tadi.


Salah satu temannya mengingatkan dia dengan hal itu. Tapi Rain masih sibuk. Temannya yang seorang pelayan akhirnya menyempatkan diri untuk mengambil benda itu dari nakas tempat menyimpan benda-benda milik karyawan.


Orang itu sendiri yang menjawab teleponnya. "Halo, selamat sore. " Orang itu diam mendengarkan.


Tak lama dia membawakan benda itu pada pemiliknya. Rain menjawab sambil masih memasak. Temannya dengan sabar memegangi ponsel itu.


📲"Rain, apa adikmu datang kesitu? "


"Tidak, Bu. Memangnya kenapa? "


📲"Dia belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Vanya dan Rasty juga sama. Orang tua mereka juga tidak tau mereka ada dimana. Supir yang mengantar mereka juga tidak bisa dihubungi. Padahal teman-temannya sudah pulang sejak jam tiga sore. "


Rain terdiam. Pikirannya sudah tidak fokus lagi. "Zee tidak ada disini, Bu, " jawabnya sambil menatap lurus ke depan.


Temannya melihat itu dan mengambil alih pekerjaannya. "Sudah, kamu ke dalam saja dulu, " ucapnya sambil memasak.


Rain berlalu tanpa menjawab. Rain melanjutkan kembali obrolannya dengan ibunya. Rain berusaha menenangkan ibunya dan akan mencari Zee segera.


"Kemana anak ini? " tanya Rain pada dirinya sendiri dengan khawatir.


.


.


.


"Apa kamu sedang mencari adikmu? "


Rain mengerutkan keningnya. "Darimana loe tau? "


"Tenang, sayang. Aku kan selalu mengawasi keluargamu. Itukan yang kamu minta dulu?"


"Zee ada dimana? Apa loe nyulik mereka? Gue gak akan maafin loe, Za, kalo sampe dia kenapa-kenapa. " Rain sudah emosi.


"Gue bukan penculik, cerewet. Gue cuma tau mereka ada dimana. Itu juga baru gue tau. Tapi gue gak bisa kesana sendiri. Loe tau sendiri kan kalo gue gak jago kayak loe. "


Rain menghela nafas untuk menenangkan diri. "Dimana dia sekarang? "


"Satu kecupan."


"Gue tanya, mereka ada dimana sekarang?! Kenapa loe berbelit-belit?! "


"Loe gak tau terima kasih banget sih! Gue bakalan kasih tau dimana mereka sekarang, tapi loe harus kasih gue imbalan. "


" ... "


"Halo? Rain? Loe masih disitu,kan? "


"Loe bakalan mati kalo gak kasih tau sekarang juga. "


"Eeh... Santai. "


"Jawab gue! Dimana mereka?! "


"Ok ok. Gue kirim sekarang lokasinya. " Arza segera menutup panggilannya karena merasa suasana hati Rain jauh dari kata baik.


Rain segera pergi ke lokasi itu. Pamit pada teman-temannya dan meningggalkan pekerjaannya. Tak lupa, dia juga mengabari Intan akan hal ini.


Intan turut mengambil tindakan. Segera ia hubungi orang-orang kepercayaannya. Menceritakan pada mereka dengan apa yang terjadi. Tapi setelahnya orang-orang itu mendapat omelan darinya. "Dasar ceroboh!Kenapa sampai kehilangan jejak anak itu?! "

__ADS_1


"Maafkan kami, Nyonya. Sepertinya mereka diculik oleh orang lain. "


"Tetap saja, kalian ceroboh! Aku menyuruh kalian untuk mengawasi keluarganya, bukan hanya dari orang-orang itu tapi juga menjaga mereka dari bahaya yang lain."


"Kami akan segera mencarinya. "


"Tidak perlu. Ada pihak lain yang sudah tau mereka dimana. Kalian ikuti saja Rain. Jangan membuatku kecewa lagi, faham?"


"Baik, Nyonya. "


Intan terdiam dengan pikiran tak tentu arah. "Siapa lagi orang ini? Apakah ini musuh Rain juga? "


.


.


.


⚔️


Rain dan beberapa orang suruhan Intan sampai ke lokasi yang diinformasikan oleh Arza. Terlihat Arza sedang menunggu mereka bersama tiga orang temannya.


"Mereka ada disana. " Arza menunjuk ke sebuah rumah tua yang jauh dari pemukiman. Tampak cahaya remang-remang dari rumah tua itu. Suasana sekitarnya sangatlah gelap.


"Sorry kalo gue gak langsung kesana. Tempat itu adalah markas anak-anak geng motor. Kalaupun gue maju, gue yakin gue gak akan menang. "


"Ya udah. Kita maju sekarang. "


Mereka segera menyergap tempat itu. Penghuni rumah yang tidak tau akan penyergapan itupun tampak kewalahan.


Rain menerobos masuk ke dalam. Menggeledah sembarang ruangan untuk mencari adiknya. Sedangkan yang lainnya masih mengurusi anak-anak geng motor itu.


Brak!!


Rain mendobrak sebuah pintu yang terkunci. Dalam dua kali tendangan, pintu itu pun terbuka. Beberapa pasang mata melihat dengan terkejut ke arahnya.


"Kakak!! "


"Zee!! "


Seorang laki-laki yang memakai seragam yang sama dengan Zee, menatapnya dengan marah.


"Siapa loe?! Berani loe masuk markas gue?!"


Rain tidak menghiraukan nya dan masih melihat ke arah Zee. Berjalan mendekat walaupun laki-laki itu memakinya.


Bruk


Rain tersungkur saat laki-laki itu menerjangnya. Zee terkejut begitupun Rain yang kini sadar akan kehadiran laki-laki itu.


Laki-laki itu menepuk tangan lalu mendekatlah lima orang yang sedari tadi menunggunya di sudut ruangan.


"Singkirkan perempuan ini," perintahnya pada mereka. Namun belum mereka bergerak, mereka dikejutkan dengan suara keributan dari luar.


"Ada apa lagi itu? "


Salah satu dari lima orang itu melihat ke luar. Rain tersenyum sinis. "Kalianlah yang akan disingkirkan."


Laki-laki itu mendekati Zee dengan cepat dan menempelkan pisau -yang entah dari mana didapatnya- ke leher Zee. Zee sudah sangat ketakutan. Rain terbelalak melihatnya.


"Kalo loe berani, silahkan maju. Tapi saat loe maju, pisau ini juga akan dengan cepat menggorok lehernya. " Senyuman jahat terukir di bibir laki-laki itu.


.


.


.


bersambung...


🌈


salam dari Yuya😉

__ADS_1


__ADS_2