
Rain Pov
Masalah...
Setiap orang pasti pernah bersangkutan dengan hal itu. Entah itu sepele ataupun rumit. Tapi, setiap orang memiliki cara tersendiri agar berpisah dengan hal itu. Entah sesuatu itu selesai dengan baik ataupun berujung dengan tidak baik. Ataupun bahkan menambahkan masalah lain ke dalamnya.
Harapan ku, aku bisa berpisah dengan masalah dengan cara yang baik dan berakhir baik juga. Aku tidak tau seperti apa orang akan menilai masalah yang menimpa ku ini, yang pasti aku merasa ini adalah hal yang sulit.
Jujur aku takut. Perasaan itu terus saja menghantuiku dan membuatku tidak tenang. Pikiran ku selalu terpusat pada masalah-masalah itu. Jadi, aku ingin memberanikan diri untuk menyelesaikan masalah itu. Walaupun mungkin saja mereka akan kecewa padaku.
🍁🍁🍁🍁
Aku berjalan dengan lesu di sepanjang jalan menuju kelasku. Tatapan heran dan iba orang-orang tak bisa ku hindari. Sebagian dari mereka mungkin sudah tau dengan masalah yang menimpaku beberapa hari yang lalu. Tentunya tidak dengan masalah yang sesungguhnya.
Mereka menghampiri ku dan menanyakan kondisi ku. Aku melihat mereka khawatir. Mungkin karena wajahku masih terlihat tidak baik-baik saja. Dan lagi, aku tidak se- semangat biasanya.
Tapi sebenarnya, aku merasa kondisi tubuhku jauh lebih baik dari pada pikiran ku saat ini. Aku lebih terbebani oleh pikiran yang tidak bisa tenang ini. Rasa sakit di sekujur tubuhku seolah kalah oleh perasaan ku yang tidak tenang.
"Rain, " sapa salah satu temanku saat aku memasuki kelas. Aku hanya menatapnya dengan lesu lalu menempelkan pipiku di meja. Dia menatapku keheranan.
"Biasanya, seberat apapun masalahmu, kamu gak se-lesu ini. Berarti ini masalahnya lebih berat dari biasanya dong. " Aku menatapnya menelisik, Apakah dia tau tentang masalahku? walaupun itu tidak mungkin.
"Bener, ya? " Tanyanya yang nampak lebih penasaran. Aku hanya mengangkat bahuku. Untuk menjawabnya saja rasanya aku lelah.
"Lemes rasanya Licy..." Akhirnya aku membuka suara setelah beberapa saat dia menunggu.
"Kali ini lawanmu banyak banget ya? "
Aku berdecak dan mengangkat kepalaku dari meja. "Kali ini kok kamu tumben cerewet ya? " Dia gantian berdecak.
"Udah sana ke kelasmu. Ngapain juga lama-lama disini, " usirku dengan suara yang halus sambil mengibaskan tanganku.
"Gak mau cerita ya udah, gak usah ngusir juga. Orang ditungguin berhari-hari juga. " Dia berdiri sambil cemberut.
"Kenapa nunggu? Kenapa gak mau jenguk ke rumah sakit? "
Dia duduk lagi di kursi di sebelah ku. "Aku kena hukum gara-gara ketahuan main balapan. "
Aku tertawa. Junior yang satu ini memang unik. Kehidupannya benar-benar menarik, menurut ku.
"Kok ketawa? " tanyanya keheranan tapi raut wajahnya sangat datar.
"Karena kamu unik, " jawabku jujur.
"Apanya yang unik. Ngebosenin iya. "
"Udah lah. Kapan-kapan aku cerita. Bentar lagi pak dosen masuk loh. " Dia memicingkan matanya sebelum berdiri dan pergi dari ruangan ini.
__ADS_1
Dan kapan-kapan, aku juga akan menceritakan tentang Licy.
.
.
.
.
.
Hari berlalu tanpa terasa. Entah karena pikiran ku yang tidak fokus atau karena apa. Aku tidak ambil pusing. Aku hanya membiarkan hari-hari berlalu seperti biasa. Tapi juga dengan rasa takutku.
Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Kondisi tubuh ku sudah benar-benar pulih. Aku bekerja seperti biasanya, walaupun pikiran ku selalu saja terpusat pada keluarga ku. Aku masih belum berani berkata jujur pada mereka. Entah sebagian orang menganggap itu perlu ataupun tidak. Tapi aku terus saja merasa bersalah atas kejadian-kejadian yang telah lalu.
Pikiran ku semakin runyam dengan adanya pertanyaan Ace beberapa hari yang lalu. Apakah aku akan menerima lamarannya dalam waktu dekat ini? Sedangkan aku masih ada hal yang penting yang harus aku katakan pada keluarga ku. Sementara, dia juga menunggu kepastian dariku.
Aku ingin menyelesaikan semuanya, barulah urusan aku dan Ace dilaksanakan setelah itu. Tapi, aku juga bingung, seperti apakah reaksi keluarga ku jika aku menceritakan kebenarannya? Apakah mereka masih bisa menerima ku seperti dulu?
🍃🍃🍃
Aku berjalan pelan di teras rumah yang sudah lebih dari satu tahun ini aku tempati. Melihat ke sekeliling rumah itu dari luar. Mungkin kegiatan ku ini konyol. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa seperti akan meninggalkan rumah ini. Rasanya berat. Entahlah, aku bingung harus menjelaskan bagaimana dengan kata-kata.
Aku sudah sampai di depan pintu dan hendak mengetuk pintu yang besar ini. Namun, seseorang telah membukanya dan menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti. Aku hanya menatapnya sekilas dan mengucap salam lalu berlalu dari hadapannya.
Belum sampai aku ke kamarku, Ace sudah menghentikan langkahku dengan menarik tanganku. Awalnya aku terkejut. Tapi setelah melihat raut wajahnya, aku jadi merasa sedih. Apakah dia tertekan?
"Tumben udah pulang jam segini? " tanyanya dengan senyum manis yang tidak bisa menutupi ekspresi sedihnya.
Aku tersenyum sebelum menjawab, "Iya. Lagi pengen cepet pulang. Badanku pegel banget. Cafe juga lagi sepi. "
Dia mengangguk lalu melepaskan tanganku. "Bisa kita bicara? " Pertanyaan ini seolah sudah aku mengerti, tapi aku tidak bisa menghindar.
"Iya, bisa kok. "
Aku berjalan mendahuluinya menuju kolam. Jam segini belum ada penjaga berkeliaran dan bu Intan masih bisa melihat kami disini. Jadi kami bisa leluasa bicara tapi dengan pantauan orang tua. Mungkin ada yang lucu dengan dua hal itu?
Aku duduk di tepi kolam sambil memasukkan kedua kakiku ke dalam air, tentunya aku tidak membiarkan celanaku basah. Aku menunggu Ace yang masih saja berdiri. Ku tepuk lantai di sebelahku agar dia duduk. Namun sepertinya dia enggan.
"Kenapa gak mau duduk? "
Dia menggeleng lalu segera duduk di samping ku, sangat dekat sampai kami menempel. Aku menatapnya datar karena tingkahnya. Sementara dia menatapku tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa sih kok liatnya gitu amat? "
"Geser dikit napa? "
__ADS_1
"Dingin tau. "
"Kalo dingin, kenapa pake baju sama celana pendek? "
"Tadi panas. "
Aku semakin gemas dibuatnya. "Oke. Asalkan gak ada lainnya selain duduk ngobrol disini. "
"Emang kan kita selama ini cuma duduk ngobrol doang, " ucapnya dengan wajah yang dibuat se polos mungkin. Aku menatapnya bertambah gemas sekaligus kesal. Memangnya dia tidak ingat seperti apa dia biasanya?
Ya walaupun setelah aku pulang dari rumah sakit dia memang tidak pernah aneh-aneh. Tapi pertanyaan yang dia ajukan malah membuatku kelimpungan.
"Jadi gimana? Kapan kiranya aku datang ke rumah kamu? "
Tuh kan...
Aku membuang nafas panjang sambil menatap lurus ke arah kolam. Sepertinya harus aku ceritakan yang sebenarnya pada dia agar dia mengerti bagaimana perasaan ku saat ini.
"Kenapa? Apa kamu keberatan kalau aku datang ke rumah mu? " tanyanya dengan sedih. Entah seperti apa pikiran nya sampai wajahnya terlihat sesedih itu.
"Bukan begitu. "
"Lalu? " Aku terdiam menunduk.
"Apakah perasaan mu tidak seserius aku? " Spontan aku menatapnya terkejut karena pertanyaannya. Kenapa dia berpikir begitu?
"Apa karena itu kamu terus menunda? Apa kamu belum yakin padaku? Atau kamu merasa takut karena masalalu ku? "
Ya Tuhan...
Dia benar-benar terlihat kacau.
"Bukan begitu. Kenapa kamu berpikir begitu?"
.
.
.
.
bersambung...
.
.
__ADS_1
salam dari Yuya😉😉